HARGA DIRI
Dalam situasi yang sulit, kompetitif kadang menggiring kita kembali pada filsafat jaman prasejarah : Berkelahi untuk bertahan, mengalahkankan yang lain untuk menang. Bahkan sering dengan cara menghalalkan segala cara.
Hanya modus, dan bungkusnya yang berubah. Ada berapa contoh :
- Kita sering mendengar bahwa kita perlu strategi/trik, padahal substansinya bungkus dari perilaku licik.
- Kita sering mendengar bahwa kita perlu siasat, padahal didalamnya terkandung perlaku khianat.
- Kita sering beralasan bahwa kita harus kompromi, padahal sejatinya kita sedang menggadaikan prinsip/harga diri.
Sesungguhnya kalau kita mau mendengar suara hati, kita bisa membedakan antara kalimat pertama dan kedua (beda trik atau licik dst). Karena dalam hati kita tersimpan bisikkan Tuhan yang berorientasi pada KEBENARAN, bukan PEMBENARAN.
Tetapi kita sendiri yang sering menafikkan, menutup telinga kita dari bisikan nurani, dengan alasan kompromi, keadaan dst.
Dan kita memang sudah terbiasa dengan mengedepankan alasan.
Tetapi mestinya kita tidak boleh lupa, bahwa pada saat kita menghadapi pengadilan sejati, yang bicara adalah hati, yang menjawab dengan fakta, data dan bukti. Sedangkan mulut kita yang mungkin sudah terbiasa beralasan untuk membela diri, atau mencari kambing hitam untuk melepas dari tanggungjawab, akan terkunci.
Semua kembali pada diri kita masing-masing, apakah kita mau terus bermain logika (yang sejatinya lebih pada akal-akalan) atau mendengar suara hati, suara kebenaran.
Dan memang pada saatnya nanti kita bertanggungjawab secara pribadi, langsung di depan ILLAHI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar