Hari ini semua televisi memetakan pesta kemenangan, Dan pencari berita pun mencari sensasi, memancing kata dari yang kalah, padahal yang terjadi bukan sekedar pesta demokrasi, tapi pilihan dan pertaruhan nasib dan masa depan negeri.
Beberapa orang bersikap seolah telah membeli masa depan, dan semua menjadi cemerlang dengan hasil angka pilihan. Padahal telah menunggu beribu masalah dan beban di pundak sang terpilih. Mestinya kemenangan dilihat sebagai amanah, dipandang sebagai penunjukan tangungjawab. Bukan semata anugrah apalagi rejeki. Dimana rakyat yang memilih berarti mencatat sejuta janji dan memberikan kewajiban yang harus ditunaikan. Janji bukan sekedar slogan kampanye untuk menarik simpati, program bukan sekedar penghias iklan yang menarik hati, tapi semua harus dibayar, semua harus diwujudkan. Karena, ketika janji diciderai,ketika kata sekedar penghias slogan,ketika program sekedar deretan rencana,
Mungkin bencana kadang merupakan pengingat yang Kuasa.
Negeri ini telah berkali didera ujian dan cobaan, namun tak juga sadar, begitu cepat lupa dan kembali alpa. Kalau tak waspada negeri surga bisa menjadi neraka, yang penuh durjana dan kuasa angkara.
Tuhan bisikan kebenaran, kepada mereka yang diberi kekuasaan, berikan cahaya pada yang memiliki wahyu sang Raja.
Tuhan selamatkan negeri dari bencana dan malapetaka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar