September 02, 2010

PIDATO

Seandainya saya presiden RI (Pidato Ketegangan RI-Malaysia)


Banyak pihak kecewa dengan pidato Presiden dalam menyikapi Ketegangan RI-Malaysia) termasuk saya. Pidato Presiden terkesan terlalu “lunak” dan lebih “bicara” semata kepentingan ekonomi. Saya pun jadi membayangkan seandainya saya yang berdiri di podium itu, sebagai Presiden tentunya. dengan tempat yang cukup “berwibawa” di Cilangkap , dan di dampingi menteri-menteri, maka saya akan berucap:

“Akhir-akhir ini, di tengah sebagian rakyat menjalankan ibadah puasa, kita semua di uji kesabarannya, yaitu saudara kita, yang bahkan sedang melaksanakan tugas Negara, diperlakukan tidak semestinya, meskipun kita tahu masalahnya tidak sesederhana itu, karena menyangkut klaim batas Negara yang perlu dicek dan disertai bukti tehnis yang cermat, tetapi selaku Kepala Negara dari sebuah bangsa yang besar, saya menyatakan prihatin sekaligus kecewa atas “insiden” tersebut. Karena yang saya pahami hubungan antar Negara yang berdaulat, terlebih negara tetangga, maka semestinya harus dikedepankan sikap saling menghormati dan menghargai.

Dalam kesempatan baik ini saya ingin menyampaikan beberapa hal;

1. Masalah unjuk rasa Anti Malaysia
Secara pribadi saya sangat memahami rasa kecewa, emosi dari sebagian masyarakat yang melakukan unjuk rasa. Bahkan sebagian masyarakat menjadi geram dan mengingatkan pada peristiwa Konfrontasi Malaysia. Kita sama memahami sejarah Indonesia, terangkai oleh peristiwa heroic dan kisah perjuangan, namun di sisi lain sesungguhnya Bangsa kita dikenal Bangsa yang kaya Budaya dan santun dalam bersikap laku. Untuk itu saya menhimbau agar rasa kekecewaan tersebut harus disampaikan secara elegan dan terkendali. Hindari cara-cara provocative dan bahkan menganggu kenyamanan serta kepentingan umum, apalagi sampai merusak asset Negara yang pada hakekatnya milik kita semua.

2. Peningkatan system Pertahanan.
Pada kesempatan ini saya juga perlu sampaikan, bahwa saya telah menyampaikan arahan kepada jajaran Menteri terkait, untuk meningkatkan ketahanan dan keamanan khususnya di wilayah perbatasan, baik sumber daya manusianya maupun perangkatnya. Dengan “insiden” tersebut, merupakan saat yang tepat untuk melakukan koreksi dan introspeksi, untuk membenahi system pertahanan kita. Pertahanan kita harus kuat, perangkat kita harus memadai dan yang terpenting sumber daya manusianya harus profesional, sehingga system pertahanan kita menjadi kuat dan siap menghadapi gangguan dari pihak manapun, yang mencoba mengganggu kedaulatan dan mengusik kehormatan kita sebagai bangsa.

3. Penegasan Sikap.
Selaku Kepala Negara saya perlu menyampaikan sikap kepada seluruh jajaran Pemerintah dan masayarakat bahwa, Pertama sebagai Bangsa yang berdaulat, dimana Kemerdekaan dan kehormatan kita dapat dengan perjuangan, maka saya perlu sampaikan sikap bahwa kita siap mempertahankan kedaulatan dan kehormatan bangsa dan Negara. Kedua, sesuai arah politik kita yang bebas aktif, maka Indonesia siap bekerja sama dengan Bangsa mana pun, sejauh masih didasarkan pada sikap saling menghormat, menghargai dan menjaga kepentingan bersama.Ketiga, dalam hubungan luar negeri, kita selalu bersahabat dengan Negara manapun, selalu mengedepankan diplomasi dalam menyelesaikan permasalahan, namun kalau sudah menyangkut kedaulatan dan kehormatan maka kita tidak ada kata kompromi dan siap mempertahankan dan menjaga keutuhan NKRI.

Pada kesempatan ini pula, saya menghimbau kepada masyarakat untuk menjaga Kesatuan dan persatuan, jangan mudah terprovokasi dan malah ribut, bertikai antara kelompok, berkelahi antar anak bangsa kita sendiri. Kepada masyarakat pekerja Indonesia, termasuk yang ada di Malaysia, untuk selalu bersikap professional dan disiplin,selalu bekerja keras sehingga kita akan mencapai kemajuan dan yamg pada akhirnya akan dihargai oleh Bangsa lain.
Sekian dan Salam Merdeka!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar