Setiap pagi aku sempatkan waktu untuk baca berita politik,
baik melalui website maupun Koran.
Sebenarnya “jenuh” juga dengan berita
dan sumber berita yang “itu-itu saja”, apalagi kalo baca komentarnya “RP”,
“SB”. Tapi kalau sehari saja tidak baca,
rasanya ada sesuatu yang hilang. Semacam benci tapi rindu kayaknya.
Dunia politik di Indonesia, adalah dunia yang “norak’ banyak
politikus kagetan, yang kemampuan dan wawasannya “minimal” tapi dapat
kesempatan “tampil”. Maka para politikus kagetan tersebut akan menjadi over acting
dan “norak”,“kampungan”.
Dunia politik Indonesia menjadi “hingar-bingar” sejak era
reformasi (Tahun 1998). Tetapi rupanya sebagian
besar masyarakat tidak siap secara psikologis, maupun secara budaya. Panggung perpolitikan di Indonesia menjadi “tidak enak dilihat”, penuh dengan "politik2-an, seperti rekaya cerdas, padahal vulgar dan norak, "ibarat show, pentas
tanpa konsep, sehingga yang terjadi “asal bunyi”, "asal tampil", ibarat pentas musik mungkin lebih
norak dari “pentas dangdut koplo pantura”, yang susah dibedakan mana unsur seni
mana unsur syahwat.
Dalam Suasana perpolitikan yang masih belum dewasa
sesungguhnya diperlukan “leader” yang berwibawa namun bijak. Pemimpin yang
tegas namun tetap santun. Dan sayangnya kita kekurangan, atau bahkan “langka”
tokoh-tokoh seperti itu.
Tapi itu fakta yang ada, dan kita tidak bisa apa-apa. Tetapi
ada sedikit pencerahan manakala membaca “kicauan” di media social yang
menggelitik dan cerdas. Dan saya menjadi diingatkan, bahwa masih ada lapisan
masyarakat kita yang cukup “cerdas” dan “cukup berwawasan”
So, saya tetap membaca berita politik dan mengikuti kicauan
politik di social media, jadi semacam balance. Dan menguarangi ke-muak-an saya pada tokoh
politik semacam “SB”, “RP”, karena terhibur oleh para penulis, kicauan yang
cerdas di social media.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar