Januari 29, 2013

BANJIR, SEBUAH CATATAN


Banjir telah meluluhlantakan kota yang begitu angkuh dan tampak “sangar”. Jakarta menjadi tampak tak berdaya. Jalanan yang biasanya macet dengan deretan mobil mewah, menjadi  lautan air bah. Banjir telah mengajarkan pada kita , bahwa manusia sesungguhnya “kecil” dan merupakan bagian partikel dari alam semesta. Tetapi kita sering lupa, dan menganggap dirinya berkuasa dan serakah; ingin mengambil semuanya.  Selama ini kita hanya mau mengambil. Alam dilihat sebagai sumber exploitasi dari keserakahan .  Dan kita lebih sering merusak daripada memelihara.
Lihatlah kelakuan keseharian kita. Dari hal kecil, membuang sampah sembarangan, sampai pada merusak bukit dan gunung demi pertimbangan ekonomi (uang) semata.
Hal lain yang terlihat pada peristiwa banjir adalah sikap kurang mawas diri (tahu diri).  Ada beberapa kali pengungsi yang menjawab penuh nada protes pada saat ditanya oleh jurnalis;..'apa keluhan di pengungsian.."Jawabnya ketus:…..” bantuan tidak merata”, ..”makan tidak teratur”……., pembagian selimut yang kurang merata…. dll. Bukankah memang keadaan dalam musibah, yang tentu saja jauh dari ideal.  Belum lagi kebanyakan mereka memang tinggal di area yang secara legal bisa dipertanyakan, di pinggiran sungai, yang secara tidak langsung berkontribusi atas timbulnya banjir.
Kita makin kekanak-kanakan.  Sikap kita sama dengan anak balita, yang berada pada masa “egosentris”. Melihat segala sesuatu hanya pada diri sendiri. Tak pernah memikirkan orang lain, apalagi lingkungan kita.
Saatnya lah kita meulai bersikap dewasa. Melihat, memperhatikan dan memelihara lingkungan kita.  Kita tidak bisa mengabaikan apa yang ada di sekitar kita, jika kita ingin hidup lebih baik.Karena kita hanya sebagian kecil dari alam semesta, maka kita harus menyesuaikan dengan hukum alam> dalam bahasa sederhana;… kita harus bersahabat dengan  alam... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar