Mei 23, 2014

JOKOWI (LAGI)

Jokowi Sebenarnya sampai sekarang saya belum punya pilihan capres yang ideal. Kalau dari kacamat positif, semua capres baik, pasti banyak kelebihan dibanding orang kebanyakan, makanya menjadi capres. Dari kacamata negatif, semua capres apabila dari track recordnya pasti ada kelemahannya, namanya juga manusia. Tetapi dalam hal ini saya akan coba mengkritisi capres: Jokowi. Hal ini karena Jokowi lah yang selalu diunggulkan dalam survey dan media. Bahkan ada yang mengatakan dipasangkan dengan sandal jepit pun menang (itu sebelum pileg), sehingga PDI-P pun yakin, bahwa dengan Pen capres an Jokowi akan mengangkat suara PDI-P. Tetapi ternyata perolehan suara PDI-P, relatif “biasa-biasa saja”. Di sini pun terbukti bahwa “kesaktian Jokowi”, tidak se hebat yang dikesankan selama ini. Kalau para pengamat sangat yakin bahwa Jokowi, dengan cawapres siapapun pasti menang dalam Pilpres, sekarang sebagian mulai berubah opini, sehingga mulai ada yang berpendapat, kalau tidak bisa memilih pasangan yang tepat , maka Jokowi bisa kalah. Ada satu hal yang sering “mengganggu”, yaitu gaya Jokowi yang “nyante”, maaf agak “slengekan”...kalau sebagai kepala daerah, saya maklum, karena masih bisa diterima secara “bahasa/budaya lokal”. Tetapi kalau benar sebagai Presiden???...dia harus berubah “style” nya , karena akan sering kurang tepat. Kita ingat figur sebesar Gus Dur saja, pada saat jadi presiden dan dia tidak berubah “style” maka akan menjadi “menganggu”. Hal lain lagi adalah sikapnya yang terkesan kurang tegas dan sangat “tergantung partai (baca: Mega). Hal ini tercermin pada langkah-langkah kampanye nya dan pemilihan Cawapres. Padahal ini hal yang sangat penting kalau memang dia berniat menjadi presiden dan berniat membawa perubahan. Barangkali pesan Syafi’i Maarif sebagai salah satu tokoh besar patut dicamkan oleh Jokowi: Syafi'i menegaskan bangsa ini perlu pemimpin yang siuman alias sadar. Sebab menurutnya Indonesia sudah terlalu lama terlelap dan harus segera dibangunkan sebelum semakin jauh tertinggal. "Kita butuh orang yang siuman. Kita butuh pemimpin yang benar-benar kuat dan mampu mengelola pluralisme. Saya takut kita nanti sama saja seperti menggali kubur sendiri," imbuhnya. Pria yang mengenakan kemeja berwarna biru lengan panjang ini menaruh harapan kelak kalau capres PDIP Jokowi menang dapat menanggalkan mindset seperti itu. "Kita harus selamatkan negeri ini. Masa enggak ada pemimpin yang siuman menyelamatkan. Kalau Jokowi menang harus hati-hati harus didampingi oleh orang yang profesional dan patrionalis. Kalau sudah terpilih ke kabinet, tinggalkan partai agar APBN tetap terjaga semua," kata Syafi'i berapi-api. Tetapi memang jadi tanda tanya besar; mampukah Jokowi melepaskan diri dari cengkeraman Partai dan kepentingan politik orang disekelilingnya??????...Let See...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar