Pagi itu masih gerimis, sisa hujan se malam, membuat jadi “mager”. Hari itu memang tidak ada yang urgent ataupun jadwal meeting dengan partner ataupun bertemu klien.
“Mungkin berangkat siang saja, sesudah gerimis mereda”. …aku membathin..
Oh ya, tp minggu depan aku harus presentasi hukum ketenagakerjaan di perusahaan telekomunikasi. Aku harus menyiapkan materi presentasi.
Aku ambil notebook . Sambil cari inspirasi untuk menyusun kata per kata, kalimat per kalimat menjadi narasi materi.
The telah habis setengah cangkir, tapi ketikan baru beberapa paragraf, hmmmm apa ya topik dan materi diskusi yang menarik.
Hmmmmmm..lama aku menengadah kepala, tapi belum ada materi yang nyangkut juga.
“Ohhh ya, ..dulu pernah ada kasus PHK yang complicated dan cukup menarik sebagai bahan diskusi”, ….pikirku.
Aku pun beranjak ke lemari buku dan berkas, awalnya ingin jadi perpustakaan, tetapi karena kalau ada barang cetakan aku tarok disitu , wujudnya lebih terlihat sebagai gudang.
Aku bongkar semua tumpukan berkas dan buku berdebu, ….”aahh aku harus pakai masker”.
Tetapi ketika aku mau beranjak dari jongkok , mataku tertuju pada buku merah yang tergeletak di antara tumpukan yang saya bongkar tadi.
“Hmmmmmmm…..buku merah yang penuh catatan kehidupanku di masa lalu”….
Ya buku merah itu merupakan catatan harian (diary) ku, yang menuliskan peristiwa berkesan, kadang dalam bentuk narasi kadang dalam bentuk puisi.
Aku buka lembar pertama, dengan dan jantungku berdetak lebih cepat, teringat cerita indah masa lalu, dan aku pun terbang jauh ke dunia masa lalu;
SALAMKU UNTUK RANI,
Tiap senja ,
Aku titipkan salam pada angina yang berlalu,
Adakah dia sempat menyapamu atau berbalik malu.
Sekian kali akau titipkan,
Tapi masih saja belum tersampaikan cerita,
Bahwa di kepala dan dadaku telah penuh gambarmu,
Dengan senyum renyahmu ,
Ceriwis bibirmu yang menari ketika berkata-kata.
18 Mei tahun xxxx
Hmmmmm tergambar jelas, wajah Rani yang selalu ceria dengan tawanya.
Selalu menyapa manis ke siapa saja.
Dia memang gadis yang supel, lincah dan luwes bergaul dengan siapa saja.
Aku cukup dekat dengannya karena sama-sama bergabung dalam satu kegiatan teater sekolah.
Ahh Rani, aku ingat ketika betapa dadaku deg-degan tak tak terkira, ketika mengenggam tangan halusmu. (hmmmm jangan salah persepsi, itu bukan scene pacaran yang romantic, tetapi penggalan adegan sebuah latihan drama, di mana aku jadi kekasih yang harus pindah sekolah)…
Aku ingat ketika dia malah berteriak;
”…Ehhh tanganmu kok dingin banget sih? Anggap saja aku pacarmu beneran”…
Ya Gusti …aku pun makin berdebar dan mungkin wajahku pun memerah udang rebus di warung fast food depan sekolah.
Rani memang paling pintar menggoda teman-temannya, begitu lepas, ceria.
Baginya mungkin tidak ada musim hujan atau mendung, tiap hari adalah hari yang cerah penuh warna…..
Hmmmmm.. Rani di manakah engkau sekarang?
(To be continued; kalau ada waktu senggang)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar