Aku dan Rani cukup dekat, baik karena cocok untuk teman ngobrol (setidaknya untuk aku lah), maupun teman berlatih teater.
Rani anak yang cukup cerdas dan menonjol di sekolah; selain memang cantik tentunya (bagiku malah ratu sekolah, di mataku dia lah yang tercantik di sekolah, bahkan mungkin satu kabupaten).
Meskipun terlihat suka bercanda, sesuai kata yang sering terucap dari bibirnya (hhhmm..bibir itu);..”santai sajalah”…, dia orang yang total dan sangat serius kalau sudah mengerjakan sesuatu.
Pokoknya bagiku cewek idaman lah.
Aku memang naksir berat, tetapi aku tidak pernah berani menyampaikan perasaanku.
Mungkin takut ditolak , kurang percaya diri atau aku memang tak bernyali.
Aku cukup merasa senang, betah berlama-lama ngobrol dengannya.
Dan aku pun tahu dia belum punya pacar. Aku tahu karena beberapa kali aku datang ke rumahnya pada malam minggu, dengan alasan yang sangat formal; menyelesaikan tugas sekolah, kalau di luar itu, dengan alasan “wakuncar”, (hehehehehe yang lahir tahun 80 an mungkin tidak kenal istilah itu; artinya wajib kunjung pacar dan istilah yang cukup populer pada saat itu).
Kadang saking asyiknya ngobrol dengan Rani, tak terasa melewati jam malam; ya jam 10.00 waktu itu adalah batas waktu untuk berkunjung ke rumah lawan jenis.
Aku sadar setelah Bapaknya dengan suara berat memanggil Rani; “..Ran… sdh malam Ran…”.
Yah akupun bergegas pulang dan pamit sama Bapaknya Rani, walaupun ayah Rani selalu menjawab dengan gumaman..”hhhmmmm ya”……
Aku kurang tahu apakah jaga wibawa, atau tidak terlalu menyukaiku.
Ayah Rani adalah pejabat yang cukup disegani, orang-orang di sekitarnya memanggil Pak PS (bukan inisial Capres lho, tetapi Penilik Sekolah , pejabat yang mengawasi sekolah-sekolah ; jabatan yang cukup tinggi di daerah kecil seperti di kota kelahiranku).
Aku juga maklum saja kala ayah Rani tidak berkenan dan khawatir anaknya aku pacarin.
Aku tahu diri saya bukan orang berada, dan dr penampilan mungkin juga kurang meyakinkan; badan kurus, baju yang dipakai pun itu-itu saja.
Sementara anaknya cantik, modis, gaul dan cerdas.
Dengan kulitnya yang putih bersih, sepintas orang pun tahu dia dari kelompok “priyayi”.
Lamunanku makin tenggelam jauh, saat aku buka lembar ke dua Buku Merah itu, tertulis puisi dari “si pengagum rahasia”;
SALAM RINDU (SEPI)
Sunyi tergeletak beku di sudut bilik pengapku,
Tiba-tiba angin dingin lewat jendela menyapa dan bertanya;
“Adakah salam yang dititipkan untuk Rani?”
Aku termangu dan menghitung telah berapa kali salam kutitipkan,
Yang mungkin hanya terlantar di halaman atau terserak di taman,
Karena tak berani mengetuk pintumu dan menyampaikan rasaku ,
Atau hanya menengok diam-diam lewat jendela kamarmu dengan wajah rindu,
Lalu kembali mengembara dari Sepi ke sepi.
(5 Juli…).
Setiap jauh dari Rani, rinduku muncul dan berkata dalam hati, aku harus sampaikan pada Rani tentang perasaanku. Di tolak itu atau diterima aku harus terima.
Eeehh tapi nanti kalau ditolak, mungkin aku malah jadi berjarak, tak lagi bebas menyapa dan bercanda dengan Rani.
Selalu ragu dan buyar lagi keberanianku. Dan setiap melihat senyum renyahnya ketika menyapa, malah makin ambyar keberanianku, dan berkata pada diri sendiri;” ah biarlah kasihku tak tersampaikan, yang penting aku masih bisa melihat senyum renyahnya”….
Duh Gusti… kenapa mulutku selalu terkunci ketika ingin menyampaikan rasaku pada Rani….
Dan untuk berlama-lama menatap wajahnya , menikmati gerak bibirnya ketika cerigis berbicara pun aku cuma lakukan secara sembunyi-sembunyi dan tergagap ketika Rani balik menatap mataku.
Duh Gusti aku tak mampu mengendalikan rasaku sendiri…….
(to be continued, kalau lagi senggang).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar