November 29, 2023

THE JOUNEY VIII

Aku menjadi tidak sabar untuk bertemu Rani. Selain memang sudah kangen berat, akupun segera ingin bercerita tentang perkembangan cerita guna-guna. Memberi tahu siapa yang mengirim guna-guna ke Rani dan tentang guna-guna ke Bu Roswita. Aku mereka-reka , kalimat apa yang aku sampaikan ke Rani. Aku harus bisa menyampaikan secara hati-hati, agar Rani tidak emosi dan meledak-ledak. “Tapi apa mungkin ya, Rani bisa tenang?”..aku berpikir keras. Soal siapa yang mengirim guna-guna ke Rani, mungkin biar aku saja yang tahu. Toh keadaannya sudah tenang, dan sepertinya tidak ada efek apa-apa ke Rani. Tapi soal bu Wita?, sepertinya tidak mungkin aku biarkan. Kasihan Bu Wita, seandainya guna-guna itu berakibat kurang baik kepada Bu Wita. Bu Wita hidup seorang diri di kota ini, dan tidak pernah tahu ada familinya atau temannya berkunjung ke kostnya. Setahu saya yang mengunjungi kostnya, ya hanya kami-kami para siswa yang dekat dengannya. Aku, Adri dan Rani mungkin siswa yang paling dekat dengan Bu Wita. Di luar jam sekolah, kami bisa ngobrol apa saja, bercanda, saling ledek selayaknya teman. Aku bolak-balik gak bisa tidur memikirkan hal tersebut. “Ah, ada baiknya aku minta pertimbangan Adri”…. Esoknya akupun ke rumah Adri. Kebetulan Adri sedang nongkrong , main gitar depan rumah. “EEhh To, dari mana aja”….. “Dari rumah aja, masuk yuk Dri, ada yang penting”..aku menarik tangan Adri mengajak masuk. “Eh ada apa tho, ini rumah gue kok kamu yang ngajak masuk”..Adri meledekku. “Aku serius Dri.., aku tak menanggapi candanya. Melihat mukaku yang serius, Adri pun berhenti main gitar dan mengikutiku ke kamar Adri. “Hmmm..memang ada apa To?”..tanya Adri begitu kami duduk di tempat tidur Adri. “Dri, kamu tahu siapa yang ngirim guna-guna ke Rani?”.. “Gak tahu , memang siapa?”…Tanya Adri. “Tahu gak? Ternyata Pram Dri”…..saya menceritakan dengan agak tegang, karena memang tidak mengira.. “oooh Pram, kirain siapa?”…komentar Adri datar saja. Justru saya yang kaget dengan ketenangan Adri. “Lho , memang kamu sudah tahu?”.. tanyaku ke Adri. “Belum sih, tapi saya sudah menduga.”…jawab Adrimasih kalem. “Tapi kamu tahu, sekarang siapa yang mau di guna-guna?”…tanyaku. “Heh, Pram masih cari sasaran lain?”..Adri sedikit terkejut dan kepo. Aku pun diam. Sambil berpikir apa Adri perlu diberitahu. “Siapa To?..tanya Adri penasaran. Terlebih dengan sikap saya yang diam. “Rusti? “….tebak Adri sebut nama anak 2 IPS 1 yang manis , anak ketua DPRD. Aku menggeleng. Adri makin penasaran. “Ayo lah To, jangan bikin penasaran. Anak kelas berapa?”… “Kali ini bukan teman kita Dri”..aku masih ragu sebut nama. “Maksud kamu anak sekolah lain atau gimana”..tanya Adri s mendekat , menghadap mukaku, seolah sangat menunggu ucapan yang keluar dari mulutku. “Bu Roswita, Dri..aku sebut saja. “Hahh!!!!...teriak Adri kaget hampir meloncat, dan menggeleng-geleng tak percaya. “Pram, gemblung!...komen Adri, memaki Pram. Kami lalu terdiam sesaat. Dan aku masih belum dapat jawaban bagaimana memberitahu ke Bu Wita. “Dri, aku ke sini untuk minta pertimbangan ke kamu, bagaimana memberitahu ke Bu Wita”….. “Hmmmm.. gimana ya?”..Adri pun menjawab bingung. “Kalau menurut aku sih gak perlu dikasih tahu, nanti akibatnya bisa kemana-mana.”.. Adri memberi pertimbangan. Aku pun diam, memikirkan jawaban Adri. “Hmmmm…benar juga, pasti akan membuat kehebohan baru”….pikirku. “Jadi mau kita biarkan Pram mengguna-guna Bu Wita?”… “Ya gak juga sih, tapi sementara kita cooling down dulu, sambil cari cara terbaik”.. terang Adri bijak. Aku pun setuju, tetapi tidak mungkin membiarkannya. Aku pun pulang tanpa mendapat keputusan apa-apa. Aku masih berpikir bagaimana menyampaikan ke Bu Wita. Hari itu semua tampak semangat masuk ke sekolah, maklum hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang. Seperti biasanya, hari ini belum ada pelajara Teman-teman ngobrol seru, menceritakan kisah liburannya. Saya hanya duduk saja di kelas sambil corat-coret di buku merah yang sering aku bawa dalam tas. “Ah..mau nulis apa ya, mau nulis puisi pun otakku buntu”....ahh aku masih memikirkan Bu Roswita, bagiamana keadaannya, apakah baik-baik saja. “To, ngelamunin apa tho?”..sapa Bu Wita mengagetkanku. “Bb baik Bu”....orang yang aku pikirkan terlihat baik-baik saja, terlihat segar malah. Terlihat cantik dengan setelan blous biru putihnya. Berarti liburannya menyenangkan. “Gimana liburanmu To?”.... “Saya di rumah saja Bu, sesekali mancing aja”.. “Wah asyik tuh, mancing perhatian cewek atau mancing beneran?”..Bu Wita menggod\aku. “Mancing beneran lah Bu”.....jawabku. “Kok gak ngajak-ngajak, saya juga di rumah aja lho”...canda Bu Wita. “Oooh di rumah saja”....jawabku asal saja. Aku berpikir gimana kasih tahunya ya. “Tapi Ibu baik-baik saja kan?”..aku keceplosan. “Iya, saya baik-baik saja, ....” jawab Bu Wita sedikit heran dengan pertanyaan saya. Aku pun terdiam, bingung mau ngomong apa. “Memang ada apa To, kenapa kamu khawatirkan Ibu?”...Bu Wita pun ikut bingung. “Eehhh..gak ada apa-apa Bu” jawabku asal saja. “To, kamu kalau ada apa-apa harus cerita sama Ibu To...” Bu Wita sedikit memaksa. Aku pun terdiam. Makin bingung dengan sikap Bu Wita yang seperti bingung dan penasaran. “Lho, kok malah diam To, berarti memang ada apa-apa, dan kamu sembunyikan ya To?”.. “Ayolah ceritakan saja ke Ibu To”....desak Bu Wita. “Bu Wita, saya belum bisa cerita sekarang Bu, besok kalau saya sudah siap saya cerita ke Ibu”.. “Ahh Taufan, kamu malah bikin Ibu bingung, ayolah To..” desak Bu Wita. Akupun kaget karena Bu Wita sambil pegang tanganku, ahhh gimana ini. “Eehh maaf Bu”...aku gugup dan mencoba melepaskan tangan dari genggaman Bu Wita. Ahhh aku makin gugup dan bingung. Aku mencoba menenangkan diri. “Begini Bu”....aku sambil mencari kalimat yang tepat. “Ya , apa To ceritakan saja”..wajah Bu Wita terlihat cemas. “Bu, sepertinya ada orang yang bermaksud kurang baik terhadap Ibu”.... “Maksudnya gimana To?”...Bu Wita makin terlihat cemas. “Saya belum bisa cerita detilnya Bu...” “Tetapi ibu sebaiknya Ibu harus rajin sholat dan banyak dzikir Bu”.. “Aduh ...Ibu makin bingung, ini ada apa?”.....Bu Wita makin bingung. “Saya belum yakin juga Bu, tapi untuk jaga-jaga saja Bu. Supaya Ibu terjaga dari sesuatu yang jahat Bu”...aku berusaha menenangkan Bu Wita dan “ngeles” juga. “Ahhh...jangan mutar-mutar To, bikin Ibu pusing saja.” “Iyau Bu, tenang saja. Saya janji kalau semua sudah jelas pasti saya ceritakan semua pada Ibu”...aku pun keceplosan berjanji, karena melihat kecemasan Bu Wita. “Iya, Bu.....” saya menangguk memastikannya. “Cie..Cie Taufan pacaran sama Bu Wita”..celetuk Hari mengagetkanku, masuk bersama beberapa teman yang lain. “Eh Hari jangan ngawur kamu”..tegur Bu Wita. “Ibu lagi memberi advis ke Taufan, supaya lebih semangat, jangan suka menyepi dan melamun”...Bu Wita memang pintar untuk kembali menguasai suasana. “Dan kamu ya To, ingat janji kamu” kata Bu Wita sambil meninggalkan kelas. “Tuuhh kan ada janji-janji segala,janji apa nih Bu”..goda Hari. Bu Wita tak menjawab dan berlalu meninggalkan kelas. Aku pun termangu, tambah bingung. Dan saya sudah berjanji ke Bu Wita untuk menceritakan semua. ------------------- Hari itu sudah dimulai lagi aktif belajar. Dan pelajaran pertama adalah pelajarannya Bu Wita, Bahasa Indonesia. Sudah 15 menit tidak muncul juga, padahal biasanya Bu Wita tidak pernah terlambat. Saya baru mau keluar kelas untuk melihat ke ruang guru, masuk Pak Prio. Namanya Priambodo, tapi biasa dipanggil Pak Prio. “Anak-anak hari ini saya diminta menggantikan Bu Wita yang sedang sakit”… “Terakhir Bu Wita menyampaikan hal apa?”..tanya Pak Prio. Bu Wita sakit. Saki apa ya? Jangan-jangan……pikiranku melantur , apakah sakitnya karena guna-guna Pram?..aahhh Pram kan mengirim guna-guna pengasihan, pellet. Bukan agar Bu Wita sakit. Aku jadi khawatir... Apa aku harus menengoknya ya? Tetapi aku masih punya hutang, untuk menceritakan tentang guna-guna Pram, dan aku belum siap. Ahh , gimana ini….Bu Wita sakit apa ya?,… Mudah-mudahan cuma tidak enak badan aja, dan besok bisa masuk mengajar. Keesokan harinya, aku cek ke kelas lain, ternyata Bu Wita belum masuk juga. Sakit apa ya? Berarti sakitnya serius, bukan sekedar tidak enak badan atau ke capek an. Aku pun kembali ke kelas, sambil terus berpikir tentang keadaan Bu Wita. Tiba-tiba Rani berdiri di depanku dan mengagetkanku; “Kamu cari Bu Wita kan?” “Iiyaa, kok tahu Ran?”.. “Tahu lah, kemaren Bu Wita telp ke rumah ku, titip pesan ke kamu, agar ke rumahnya”.. “Kok kemaren kamu gak kasih tahu aku?”.. “Aku lupa!”..jawab Rani sedikit ketus. Aku heran dengan sikapnya. “Kamu sudah tengok?”, atau mau bareng aku?..tanyaku. “Gampang, aku nanti aja. Kamu buruan kesana, sudah ditungguin kemaren”..jawab Rani datar. Akupun heran, kenapa dengan Rani. “Kamu ada apa Ran?”….aku masih heran dengan sikapnya yang dingin. “Gak apa-apa, daah ya To”..dia berlalu begitu saja. Aku bengong, dan bertanya-tanya; kenapa dengan Rani.. Sore harinya aku ke tempat kost Bu Roswita, suasana nya sangat sepi. Sepertinya kosong. “Assalamu’alaiku”…aku menyapa tuan rumah. Aku ulang beberapa kali tidak ada yang menyahut. Baru yang kelima ada yang menjawab lirih , suara perempuan; sepertinya suara Bu Wita. “Bentaar…. Benar dugaan ku Bu Wita, keluar dengan langkah lemah dan pucat. “Ehhm Taufan, maaf tadi lama ya? Saya tadi tidur”.. “Iya Bu. Gak apa-apa”.. “Silahkan duduk To,…” Aku pun duduk di ruang tamu. Bu Wita duduk bersender masih lemas, tanpa make up, dan masih pakai baju tidur. Baru kali ini aku melihat Bu Wita apa adanya, tanpa polesan make up dengan baju seadanya. Hmmm..ternyata malah terlihat lebih cantik. “Kenapa To, liatin begitu? Kelihatan kurus ya?”…. “Iya, kurusan dikit,..aku jawab sekenanya. “Iya To, aku tuh mudah turun berat badan, tapi susah naiknya”..hmmm tumben Bu Wita ber aku-aku .. “Maaf ya To, Ibu tidak sempat ganti baju, jadi terlihat berantakan dan keliahatan asli jeleknya”..Bu Wita bercanda.. “Hmmm..Bu Wita tetap cantik kok…” uups aku keceplosan, tapi memang begitu adanya. “Bisa aja kamu To, ntar ada yang marah lho, kamu puji-puji Ibu”… “Ahh siapa yang cemburu”..jawabku sedikit malu. “Kamu pura-pura gak tahu, atau memang gak tahu?”…Bu Wita meledekku. “Bener Bu, saya gak tahu”.. “Emang ada yang cemburu sama kau Bu?”...tanyaku mulai Ge eR “Hmmmm…kasih tahu gak ya”…Bu Wita makin jadi meledekku. “Kemaren Rani marah-marah sama Ibu”..celetuk Bu Wita.. “Hah?.yang bener Bu. Memang kenapa Bu, dia marah?”… “Kemaren saya telpon ke rumah Rani, mau titip pesan Taufan untuk pimpin latihan drama minggu ini”..Bu Wita memulai cerita. “Rani malah lebih banyak bertanya tentang Ibu ke kelas waktu Senin pagi itu”.. Iya aku ingat waktu teman menggodaku pacaran dengan Bu Wita di kelas. “Rani sepertinya cemburu sama Ibu To”... Ahh Rani kenapa harus marah-marah sama Bu Wita. Aku jadi kesal. Dan tiba-tiba rasa kagumku, rasa suka ku ke Rani menyusut cepat. Rani memang emosional, tetapi kenapa begitu mudah terprovokasi teman-teman, dan tidak menanyakan ke aku lebih dulu. Setelah ngobrol dengan Bu Wita cukup lama, dan memastikan Bu Wita demam biasa bukan karena guna-guna saya pun menjadi tenang. Siang usai jam sekolah, aku lihat Rani jalan terburu-buru. “Ran….”..panggilku. “Ada apa To?”..sahut Rani cuek. “Ran, kamu kenapa sih?”..tanyaku. “Aku gak apa-apa kok, memang menurutmu kenapa?”..jawab Rani masih ketus. “Ran, kita harus bicara Ran…..desakku. “Ok, ntar sore di bakso Karso ya”…Rani menjawab sambil berlalu begitu saja. ____ Sore itu Baso Karso tidak se ramai biasanya. Aku menunggu tidak lama, Cuma beberapa menit, Rani datang. Rani meskipun dengan muka tanpa senyum, tetap terlihat cantik dengan dress code favoritnya; T-shirt putih dan Jeans nya. Rani pun lalu duduk disebelahku dan pesan 2 mangkok baso dan es teh manis. Kami masih diam. Aku pun bingunng mulai darimana. Rani mendahului buka suara. “Kemaren jadi ke rumah Bu Wita?”.. “Iya jadi, Bu Wita sakit lumayan serius” jawabku. “Kamu suka sama Bu Wita ya To?”..tanya Rani mengejutkanku. “Kok kamu Tanya begitu Ran?”.. “Iya temen2 nggosip in kamu, katanya kamu deket sama Bu Wita”.. “Teman2 lihat kamu pegangan tangan sama Bu Wita”.. “Aduh, kamu kok percaya gossip sih Ran”… “Waktu di kelas itu Bu Wita minta aku untuk cerita sama Bu Wita”..jelasku. “Cerita apaan To?”….. Aduh, aku keceplosan, aku mesti cerita apa nih. Kepala ku tiba-tiba terasa gatal. “Gini Ran, ada anak yang suka sama Bu Wita; dia titip untuk menyampaikan ke Bu Wita”… “Lhoh ya sampe in aja To, .atau kamu gak rela Bu Wita ada yang suka?”.. Adduhh, Rani ke situ lagi. “Bukan gitu Ran, saya takutnya anak itu ditolak, dan dia marah sama aku”..aku jawab sekenanya. Karena tudak mungkin juga cerita tentang Pram yang mengguna-guna Bu Wita. Bisa-bisa makin melebar kemana-mana. “Lho, kamu kan gak tahu, kalau belum disampe in”… “Iyaaa, nanti aku sampein”…aku iya in saja, biar Rani lega. “Ehhm, To..btw kami mau ngomong apa yak e aku?”… Ahh iya, aku kan mesti klarifikasi soal Rani marah sama Bu Wita…tp darimana ya?.... “Ran….., lalu aku bingung. “Ya To, kamu mau ngomong apa?”… “Mau bilang kamu suka sama aku? Itu aku udah tahu”…..ledek Rani. Rani memang suka ceplas-ceplos, dan kali ini tetap saja bikin aku mati kutu. “Ahh ..kamu Ran”… “Ya, habisnya dari tadi diam saja, sok cerita atau tanya apa saja, hamba siap mendengarkan”..ledek Rani. “Ran, benar kamu marah sama Bu Wita?”…tanyaku. Muka Rani, mendadak berubah dan diam. “Bener Ran?”..desakku. “Iya. Lagian ngapain sih kamu pegang-pegangan tangan sama Bu Wita di kelas?” “Aku gak suka juga, denger teman-teman heboh gosipin kamu”….Rani nyerocos begitu saja. Aku diam, karena memang gak tahu harus bilang apa. “Aku tuh tidak apa-apa sama Bu Wita” jelasku. “Aku bukan murid kurang ajar, yang nglunjak sama gurunya”..aku meyakinkan Rani. “Bener kamu gak ada apa-apa? Gak ada perasaan suka sedikit pun?...tanya Rani seperti menginterogasi. Aku menggeleng. “Tapi menurutmu menarik, cantik kan?”…..tanya Rani gak tahu arahnya kemana. Aku pun diam saja. “Kok diam saja. Bu Wita cantik kan?..Rani seperti mendesak. “Iya cantik”..aku jawab asal saja. “Berarti Taufan suka dong”…Rani menyimpulkan sendiri. “Cowok tertarik sama cewek bukan karena cantik saja Ran”…aku mecoba memotong pembicaraan Rani yang terus kemana-mana. “Berarti aku gak cantik?”…Rani menyela. Haddehhh, bicara dengan perempuan memang harus lapang dada. “Bukan begitu Ran, kamu cantik, cerdas dan aku suka”..terang aku sedikit kesal. “Hmmm..gitu dong To, kalau suka bilang suka. Jangan cuma pakai bahasa perasaan” …goda Rani dengan senyum lebarnya. “Ran, kemaren kamu bener marahin Bu Wita?”..aku berani tanyakan hal itu lagi , melihat Rani yang sudah tersenyum renyah lagi. “Iya To, aku gak suka kamu jadi gossip. Dan gak suka juga kalau kamu dekat sama Bu Wita”…jelas Rani. “Kenapa Ran?”…aku ingin tahu. “Duuhh , kamu bodoh atau pura-pura gak tahu nih?”..tanya Rani, sambil mencubit gemas pinggangku. “Duuh Ran,.. aku mau tahu Ran”….jawabku sambil mengaduh, karena sakit bercampur geli. “Tadi kamu bilang suka sama aku kan?”..tanya Rani. Aku mengangguk. “Aku juga sama kamu, sayangnya kamu suka bolot”..Rani sedikit bersungut. “Bolot, maksudnya aku bodoh?” “Iya bolot perasaan, gak peka”….Rani masih sedikit bersungut. “Aku juga suka sama kamu To”, dan aku batasi diri untuk dekat dengan siapa saja”..Rani nyerocos.. “Ya, maaf Ran, aku gak tahu tentang perasaanmu”..aku tidak bisa berkata lain. “Itulah makanya , aku bilang hati mu bolot”…..balas Rani. “Berarti kamu jadi pacar aku?”..aku menegaskan. “Lho, menurutmu?”….Rani balik tanya. “Atau kamu gak mau?”..goda Rani. “Ahh kamu Ran..”..aku acak-acak rambut Rani, gemes. “Jadi kita hari ini mulai jadian?”..tanyaku menggoda Rani. Rani mengangguk. “Terus ayah kamu gimana?”..tanyaku ragu. “Ya elaahh To, memang kamu mau melamar aku sekarang?”.. “..Ya kita jalani saja”… “Dan kita musti bersikap biasa saja, jangan terlalu kelihatan”…jelas Rani. “Gak kelihatan gimana Ran?... “Terus apa bedanya dengan sebelumnya?” ..tanyaku penasaran. “Gini lho To..” Rani berkata sambil hela nafas. “Bedanya sekarang kamu tahu, kalau aku suka sama kamu juga”.. “Yang penting kan perasaan kita nyambung. Memangnya mau kamu yang gimana?”.. Aku cuma mengangkat bahu dan tersenyum, tidak tahu mau menjawab apa.] “Niih, tandanya….”..tiba-tiba Rani mencium pipiku. Tentu saja aku kaget, dan kelimpungan toleh kiri kanan, malu kalau ada yang melihatnya. Rani orangnya memang suka spontan dan kadang tak terduga. “Sudah mau maghrib To, pulang yuk”..ajak Rani. Setelah dari kasir, kami pun pulang. Aku merasa sore ini udara terasa lebih segar dan sejuk dari biasanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar