November 29, 2023

THE JOURNEY IV

Sore itu, meskipun sudah waktu Ashar, matahari masih terik. Aku bergegas mandi. “Le, mau kemana kok tumben jam segini sudah mau mandi?” sapa Nenek, mungkin agak heran karena biasa aku mandi ketika menjelang maghrib. “Mau ke rumah teman Nek”…. Aku memang tinggal dengan Nenek, sementara Ibu tinggal dengan adik-adikku yang masih kecil . Nenek meskipun cerewet dan kalau sudah marah susah berenti mulutnya, tetapi sesungguhnya baik dan loma, suka memberi uang saku dan makanan kalau pergi ke pasar. Nenek Cuma ditemani anak angkat yang sekaligus bantu masak dan beres-beres rumah. Rumah Nenek berada dipinggir jalan raya, jadi lebih mudah transportasi dan lebih dekat ke kota. Selain itu rumah nenek yang cukup besar itu ada beberapa kamar kosong, sementara kalau saya masih di rumah Ibu hrs se kamar dengan adikku, yang tidurnya suka malang melintang. Kalau malam tahu-tahu kakinya sudah mampir di muka. Dengan baju yang aku rasa paling bagus aku punya, aku bergegas ke rumah Rani. Karena hari masih cukup panas, aku pun naik angkot. Kalau naik sepeda, keringetan..bertemu Rani kan malu… Angkot siang ini perasaan berjalan lebih lambat dari biasanya, dan lebih sering berenti pula.. “Aahhhh ini ibu-ibu juga lambat naik turunnya..” gerutu saya dalam hati. AAhhhh...akhirnya sampai rumah Rani juga. Aku selalu betah kalau di duduk di teras rumah Rani, selain karena faktor tuan rumah. Halamannya asri, hijau penuh tanaman dan bunga. Jadi terasa adem, apalagi kalau di temani Rani. Baru saja kupencet bel , Rani sudah keluar dan senyum tipis. Dengan kaos shirt dan jeans yang modis. Di mataku Rani sudah bak model-gadis sampul majalah GADIS. …”hmmmm senyummu Raan…” “To kita ngobrol di Baso CIPTO ya”..ajak Rani. “Hmmmmmm………kenapa gak di sini saja.” Aku ragu sambil garuk-garuk kepala. “Ak yang traktir Too……” ahhhhh tertebak isi kepalaku. Tapi aku senang, wajah Rani sudah kembali, tampak lebih riang daripada tadi siang. Hmmm mudah-mudahan masalahnya tidak terlalu serius. “Oke lah”….aku mengiyakan berasa sedikit maluu. Warong bakso Cipto memang paling enak, kenyal bakso nya pas gurih kuahnya maknyus, gak enek. Minumnya es campur, tidak kalah nikmatnya, buah, es , santan dan susu menjadi minuman yang segar dan kaya rasa, manis pas; seperti senyum Rani hehehehehe... Sesampai di Bakso Cipto, kami pesan dua menu favorit itu. Setelah terdiam lama, sambil menikmati gurihnya bakso. Rani pun membuka suara; “To, kayaknya saya diguna-guna” “Hhhhaahh!! Di guna-guunaa?... aku pun tersedak karena saking kagetnya. Rani mengangguk pelan, mengiyakan. “Bagaimana kamu tahu, kalau diguna-guna Ran?”...aku masih kurang yakin dan berharap tidak benar. “Kemaren ada barang-barang aneh ditaruh di bawah jendela kamarku”..Rani menjelaskan dengan suara pelan. “Barang apa Ran?”... “Ada kelapa muda, di luar tertulis namaku, lengkap lagi; Suci Maharani, selain itu ada tulisan dengan huruf Jawa pula”.... “Terus,..ada apa lagi?..tanyaku penasaran dan perasaankupun mulai tak nyaman. “Ya kelapa itu , aja, Tetapi ada isinya macam-macam”...jelas Rani. “ Apa itu?... “Macam-macam bunga dan daun-daun gitu”. Jelas Rani “Dan seremnya di dalamnya ada katak mati”..jelas Rani, wajah Rani pun terlihat tegang seolah sedang melihat buah kelapa itu. “Ayahmu tahu?”.. “Justru Ayah yang menemukannya lebih dulu, aku pun tahu juga dari Ayah” ..jelas Rani, muka Rani kembali murung seperti tadi pagi. Sisa bakso yang gurih itu menjadi tidak mengundang selera lagi. “Waduuuhhhh”..aku setengah bergumam.. “Ya itulah To, masalahnya....”...Rani menjawab dengan menghela nafas, dan memegang tanganku; “To, maafin aku ya”...... “Maaf kenapa Ran?... tanyaku gugup dan tak mengerti. “Eeehhm....Ayah mengira kamu yang mengirimi barang-barang itu To....” terang Rani pelan. Dyuaarrrrrrrrrr..!!....terasa petir menyambar di kepalaku, dan tiba-tiba dunia terasa berputar. Rani sepertinya memahami kekagetan dan kegundahanku, genggaman tangannya makin erat. “Tapi aku sudah bilang ke Ayah kalau kamu tidak mungkin melakukan itu” hibur Rani. Aku bingung , kalut dan galau. Aku pikir masalah Rani tidak ada hubungannya denganku. Aku dan Rani terdiam, dengan jalan pikiran masing-masing. Dengan kekalutan masing-masing. Dan tangan Rani masih menggenggam erat tanganku. “Raniiiii.......!!!...suara berat itu tiba-tiba mengagetkan ku, dan juga Rani, Rani pun cepat-cepat melepaskan tanganku. Hahhh!, ayah Rani tiba-tiba sudah ada di dekat kami duduk. “Ngapain kalian di sini!” “Rani cepat pulang!!... Rani pun cepat-cepat ke kasir dan cepat berjalan ke arah kami. “Rani naik ke mobil Papa!” perintah Ayah Rani. Rani pun tertunduk, dan berjalan ikuti saja apa yang diperintah ayahnya. Aku masih bengong dan tidak mengerti harus bernuat apa, dan tambah kaget ketika Ayah Rani, menghardikku; “Kamu ikut naik!”....., aku masih bengong, melihat mereka buru-buru naik ke mobil. “Cepat, kamu naik..”, hardik ayah Rani tidak sabar melihat kebengonganku. Aku seperti orang linglung berjalan cepat ke arah mobil. Rani dan Ayahnya duduk di depan, aku di belakang. Aku gugup dan takut, berpegangan erat , karena Ayah Rani mengemudikan mobil dengan kencang. Kami bertiga diam. Aku dan Rani dengan wajah gugup dan takut. Ayah Rani dengan muka marah, merah padam. Akhirnya mobil sampai di pekarangan rumah Rani yang asri. Biasanya aku merasa adem di sini, tapi kali ini terasa gerah. Kami bertiga turun dari mobil. “Kalian masuk ke rumah” ..Ayah Rani membuka suara, sesudah kami berdiam selama perjalanan. Aku pun masuk ke ruang tamu, hmmmmm ternyata ruang tamunya pun adem, furniture dekorasi tertata rapi. Selama ini aku cuma bertamu dan duduk di terasnya saja. Ayah Rani masuk ke ruangan di sebelah ruang tamu, seperti kamar luas, tetapi di tata layaknya ruang kantor. Ayah Rani langsung duduk di kursi kerja nya, dan langsung memberi perintah ; “ Kamu ke sini.” Ayah Rani mukanya menoleh ke saya dan menunjuk kursi di depan meja kerjanya dan siap menerima apapun. “Bb..baik Oom....” wah kenapa lagi ini. Hari ini benar-benar hari yang penuh kejutan dan menjadi hari yang panjang. Akupun segera duduk dikursi depan meja Ayah Rani “Rani tunggu di luar” Ayah Rani masih menjadi boss yang memberikan perintah. “ Dengar baik-baik ya, saya akan memberikan beberapa pertanyaan dan tolong jawab dengan jujur” ..Ayah Rani bersuara lebih ‘kalem’ daripada tadi, tetapi tetap tegas..dan saya cuma mengangguk pelan. Ayah Rani terdiam , akupun menunggu ucapannya dengan cemas. “Kamu suka sama Rani kan?”, tanya Ayah Rani mengagetkanku. “Dan kamu tahu juga kan, Rani putriku satu-satunya?” Aku terdiam dan bingung mau menjawab apa. Rani memang anak perempuan satu-satunya. Kakak lakinya sekolah di luar negeri , dan adek lakinya di pesantren kan, karena sangat bandel luar biasa. “Hei jawab!, jangan diam saja..” “Iyyyaaa ,.Oom.” “Jadi benar kan kamu suka sama Rani dan ingin jadi pacarmu?” “Iya Om....” aku menjawab pelan. “Terus karena takut Rani menolakmu, dan kamu mengguna-guna Rani?!!.....Ayah Rani suaranya meninggi lagi. “Tidak Om, sama sekali tidak Om..”..saya menjawab sambil geleng-geleng kepala ingin meyakinkan ayah Rani. “Jangan Bohong!!..suara ayah Rani berteriak. “Bb..benar Om,...saya sama sekali tidak melakukan itu”..aku pun bersuara agak keras karena ingin meyakinkan dan sedikit emosi karena dituduh yang bukan-bukan. “Berani sumpah?!!” “Iya Om sumpah dengan Qur’an pun saya bersedia”... Ayah Rani lalu terdiam lama, dan menengadahkan kepala sambil menghela nafas. Terlihat betapa gusar dan pusingnya. “Baik, saya percaya omongan kamu, karena Rani pun bilang kamu tidak mungkin melakukan itu”..Ayah Rani membuka suara dengan lebih pelan. “Tapi kamu harus berjanji ke saya” “Iya Om, apa itu Om”..aku pun sudah berangsur tenang. “Rani, sekarang kamu masuk juga”...ayah Rani meminta Rani untuk masuk ke kamar, dan langsung duduk di kursi sebelahku. Ayah Rani tampak melihat tak suka, tapi memang kursi itu yang tersisa. “Pertama aku tidak ijinkan kamu memacari Rani, dan memang aku tidak ijinkan pacaran selama Rani masih sekolah”....jelas ayah Rani. “Kedua kamu harus bantu kami, untuk mencari pelaku guna-guna itu”... “Baik Om....” aku memang tidak punya jawaban lain, selain mengiyakan. “Nah, kau pegang janji itu baik-baik, kalau kamu ingkar, saya tak segan=segan mengeluarkanmu dari sekolah”....ancam ayah Rani. “Iya Om....” saya juga tahu Ayah Rani bisa mewujudkan ancamannya. “Sekarang kamu pulang, dan sebaiknya jangan datang lagi ke rumah ini.....” Akupun beranjak pulang dengan perasaan kacau, lelah dan pusing tak terkir. Kali ini bukan saja pusing kepala, tapi seluruh badan terasa panas dingin tiba-tiba. Seperti kena demam malaria afrika dan habis kesetrum pula. Kaki pun terasa lemah untuk sekedar berjalan. “Ahhh apalagi ini” “Benarkah Rani diguna-guna?” “Lalu siapa yang mengguna-guna Rani?” Pram, yang memang suka belajar hal-hal yang gaib? Atau Adri yang pendiam itu? Hari yang badung itu, atau Danang putra perwira polisi yang sombong itu? Aku harus bisa tahu siapa yang melakukannya, dan kenapa. Bukan sekedar untuk membantu ayah Rani, tetapi demi Rani, sehingga keriangan Rani, senyum renyah Rani pun bisa kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar