Dalam kehidupan panjang, yang sekejap. Dalam riuhnya hidup, yang sepi. Dalam gemerlapnya cinta, yang redup. Ada cerita yang terangkai, Ada puisi yang terurai. Biru langit, biru kehidupan. Birunya hidup, birunya cinta. Aku tenggelam dalam biru yang mengharu biru. Biru nya hidup, biru nya puisiku.
November 29, 2023
THE JOURNEY IX
Tanpa terasa sekolah masuk tahun ajaran baru. Kami sudah kelas III sekarang. Kami harus mempersiapkan diri masuk perguruan tinggi. Kami harus belajar lebih giat. Sebagian ada yang belajar secara mandiri, ada yang masuk bimbel , sebagian malah ada yang les privat di rumahnya.
Ada orang tua yang merasa lebih yakin dengan mengundang guru les ke rumah, seperti orang tua Rani. Makanya aku pun menjadi jarang bertemu dengan Rani.
Aku heran juga, sejak kami memproklamirkan diri dengan status pacaran , justru malah jarang bertemu. Aku pun justru merasa jauh.
Waktu aku complain ke Rani, Rani mengulang lagi “ceramahnya”; pacaran itu soal perasaan, bukan fisik dan tidak harus sering bertemu. Ahh mbuh lah….
--------------------
Sore itu cukup panas. Aku pun bingung tidak tahu apa yang mesti aku kerjakan. Bikin puisi, cerpen atau pun tulisan lain tidak ada ide yang nyantol di kepala.
Oh iya, Bu Wita kemaren bilang kalau sedang menyusun antologi Puisi, dan mungkin sewaktu-waktu perlu diskusi denganku.
Ah jadi Ge E aku. Bagaimana tidak Ge Er, seorang siswa diajak diskusi untuk penulisan bukunya.
Hmmmm….gimana kalau aku ke rumah Bu Wita saja. Aku pun meluncur ke kost an Bu Wita.
Sampai rumah Bu Wita, aku lihat Bu Wita sedang menyirami tanaman. Dan dia menoleh.
“Hai To, tumben sore-sore main ke sini”
“Duduk dulu ya To, aku selesaikan dulu ini”
Aku pun duduk di teras. Rumah ini memang terasa nyaman. Asri dan hijau. Meskipun tidak jauh dari jalan raya, tetapi terasa tenang dan jauh dari kebisingan.
Setelah aku menunggu sekitar 10 menitan, Bu Wita keluar dengan blouse warna putih bermotif bunga.
Hmmm..Bu Wita memang cantik, wajahnya sumringah secerah cuaca sore itu.
“Hmmm..gimana To?”…Bu Wita memulai percakapan.
“Ehh….gimana apanya Bu?” aku tergagap merasa tatapan mataku tertangkap basah.
“Maksud hamba, ada perlu apa gerangan kedatangan Tuan kemari?” Bu Wita meledeku.
“Ehh…bagaimana antologi puisi Ibu, maksudku sudah sampai mana?..aku masih agak gugup, terlebih melihat Bu Wita menatapku dengan senyum-senyum kecil.
“Gak sampai mana-mana To”..Bu Wita masih terus meledeku.
Hmmm…kenapa Bu Wita sore ini terlihat lebih cantic, muda dan fresh ya..
“ Baru beberapa puisi To, masih seperti kemaren terakhir kamu lihat”..Bu Wita melanjutkan.
Iya aku inget judulnya, agak unik; “RASA INI TAK BIASA DAN TAK BISA”
“Sudah kamu baca kan?”
“Atau jangan-jangan kamu langsung buang ketikannya?”..
“Gaklah Bu, aku masih simpan kok.
Begini puisinya:
RASA INI TAK BIASA DAN TAK BISA
Ternyata rasa bisa datang begitu saja,
Tanpa tanda, tanpa gejala.
Tunas tumbuh, lalu merimbun begitu saja.
Tapi aku tahu, rasa itu tak boleh ada.
Ada nilai, koridor norma yang tak boleh dilanggar begitu saja.
Biarlah warna itu membias, menghias jiwa yang sepi,
Biarlah lagu rindu bersenandung dalam diam,
Biarlah sajak-sajak liris dibaca dalam tangis.
Biarlah setiap bintang, menyinari bintang yang lain,
memberikan sinar, berbagi cinta, memaknai masing-masing sinarnya,
Aku hanya bisa berharap aku masih bisa dekat sosokmu,
Sesekali beriring tanpa bisa menggapai genggammu.
Melihat dirimu dari jauh tanpa bisa merengkuh.
Mudah-mudahan dada ringkihku bisa teguh,
Menahan rasa yang terus menggebu.
Aku harap imsonia tak makin menggila, karena bayangmu yang terus menggoda.
Aku hanya berharap kamu tetap tak menjauh jarak,
Seandainya suatu waktu, rahasia hati ini terkuak.
Karena hati dan rasa tak bisa berdusta.
Segala rindu dan rasa aku titipkan purnama,
Dengan harap dan doa; Semoga dirimu mendapat yang terbaik dan selalu terjaga
(Buat MT)
Aku malah sedikit hapal di luar kepala, karena sering aku baca.
“Menurut Topan puisi itu bagaimana?” tanya Bu Wita mengagetkanku.
“Ehh…bagus..” jawabku.
“Ya bagus tuh yang gimana?”…Bu Wita tahu aku sekedar jawab.
“ya bagus, simple tapi isinya dalam”..kataku mencoba kasih komen untuk puisinya.
“hmmm..gitu”..Bu Wita sepertinya ingin komen yang Panjang.
“ Tapi boleh tahu Bu?” tanyaku.
“Boleh, ingin tanya apa?”…
“Itu puisi buat siapa ya? “
“Lho , kan aku tulis juga buat MT”
“ Ya maksudku MT itu siapa?” Bukan Mas Tukiran kan? ..aku meledeknya dengan menyebut nama Penjaga Sekolah kami.
“hahahahahaha, enak aja”…Bu Wita tergelak.
“ Ya pokoknya ada deehh”… Bu Wita makin mebuatku penasaran.
“Penasaran ya?”..Bu Wita meledeku lagi.
“PR buat Topan aja, nanti kalua bisa jawab saya kasih hadiah.
Kami pun asyik ngobrol banyak hal, selain tulisan puisinya.
Saat ngobrol begini kami lupa jarak antara guru dan siswa.
Dan tak terasa hari beranjak malam.
“Eehh.. sudah malam Bu. Aku pamit pulang ya Bu”…
“Iya To, jangan bosen, sering-sering main kesini ya”…Bu Wita basa-basi.
“Beneran Bu? Ntar MT cemburu gimana?”…ledekku.
“Ah kamu bisa aja To, tenang saja To. Dia gak mungkin cemburu sama kamu”…Bu Wita jawab
dengan senyum meledek.
Sambil jalan pun aku bertanya-tanya, siapa MT? ….
Ahhh wes mbuh bukan urusanku juga..tapi tetap penasaran juga…
Siapa ya?....
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar