November 29, 2023

THE JOURNEY VI

Pagi itu jam belajar terasa lama, dan akupun tidak bias konsentrasi pada pelajaran sekolah. Akhirnya setelah menunggu sangat lama, bel istirahat pun berbunyi. Seperti biasanya aku menuju kantin dan bertemu Rani untuk ngobrol dan jajan. Aku jarang jajan, tetapi sejak dekat Rani jadi sering ke kantin, dan kadang aku agak gak nyaman, selain sering ada teman meledek; pacaran tersu niih yee.,gak enak jg sama Rani; karena Rani yang lebih sering mentraktir. Tetapi Rani rupanya sudah menunggu depan kelasnya dan bergegas setengah berlari ke arahku; “To kita ke taman samping sekolah saja To, ada yang perlu saya sampaikan ke kamu” Wah ada apalagi nih, saya pun mengikuti langkah Rani. Sampai taman kami berdua pun duduk. Rani masih berwajah serius dan tegang. “To, soal guna-guna itu ternyata masih berbuntut panjang “..Rani memulai ceritanya. “Panjang gimana? Ya kan memang belum ketahuan pelakunya”..kataku masih bingung. “Ternyata Ayahku masih penasaran” “Dia minta tolong Ayah Danang untuk menemukan pelakunya”.. “Ya bagus dong, kan di polisi”…aku masih bingung, dengan kegusaran Rani. “Bukan itu Tooo”…Rani malah tambah gusar. “Kamu tahu, siapa yang dipanggil dan diintegorasi ?”….. Aku menggeleng, tambah bingung. “Adri, kemaren minggu dipanggil ayah Danang, bahkan sempat ada kekerasan”…. “Hahh!...kekerasan gimana?..Kok bisa Adri?....aku makin bingung “Ya, Ayah ku memang pernah tanyain nama-nama teman yang deket sama aku” “Aku gak tahu,kalau nama-nama itu itu dijadikan obyek penyelidikan sama ayah Danang”.. Pantesan Adri hari ini gak masuk, tertulis di papan absen sakit. Sakit beneran karena ayah Danang? Masa sih separah itu. Aku bertanya-tanya dalam hati. “Hari ini Adri gak masuk sekolah kan?”..tanya Rani mengagetkanku. “Heh..I iya..gak masuk”.. “Tuh, kan, ntar Topan mesti tengok dia ya, dan cari tahu bagaimana”.. “Iya, ntar sore. Kalau nggak ya bisa besok” jawabku. “Tuh kan Topaan”…sergah Rani. “Kenapa Ran?”… “Kamu sama teman kok gak perhatian” “Jangan nunggu besok, nanti sore kamu harus tengok Adri dan pastikan Adri baik-baik aja”. Ranu mulai cerewet dan bawel. Dan itu salah satu kekurangannya, dibalik senyum renyahnya. Cerewet dan segala sesuatu harus sesuai dengan kemauannya. Hal itu yang harus dirubah, atau mau gak mau ya harus menyesuaikan; kalau kelak Rani jadi istriku….”AAhh jadi kemana-mana lamunanku”.. “Iya Ran, nanti pulang sekolah, aku akan mampir ke rumah Adri”. Sekitar Jam 5 an saya pun samapi rumah Adri. Rumah tampak lengang dan sepi. Adri sebenarnya keluarga besar, 7 bersaudara, tetapi rumah selalu sepi, karena keluarganya punya kesibukan sendiri-sendiri dan jarang di rumah. Ayahnya seorang pengemudi perusahaan kargo, Ibunya pedagang yang sering ke luar kota pula. “Assalamualaikum”..aku menguap salam, tapi tidak ada yang menjawab.. “Adriiii……” aku panggil Adri. Baru panggilan ke lima kalinya , Adri muncul dan astahgfirullah. Mukanya ada lebam di matanya. “Adri, mukamu kenapa?”, meskipun Randi sudah cerita, tapi aku tetap terkejut juga. “Ayo masuk To..”, Adri tidak menjawab pertanyaanku. Kami pun masuk di ruang tengah, Adri tetap diam. Setelah beberapa saat, Adri baru buka suara. “Ada keperluan apa To?”…… “Mau ngobrol Dri, da nada yang salam dari Rani, dia minta maaf”….. “Ohhh, berarti kamu sudah tahu dong ceritanya, kenapa mukaku begini?”.. “Iya Rani cerita sebagian, makanya aku ke sini ingin tahu secara lebih jelas”…. “Ahh..udah lah To, gak usah diperpanjang, aku juga males ceritanya”..Adri tampak kesal. “Bukan begitu Dri, kita harus bisa menemukan pelakunya, dan namamu juga jadi clear”.. “Tapi gimana ceritanya kok ayah Danang, sampai menuduhmu?”.. “Aku juga gak tahu, siang itu Danang menyampaikan pesan ayahnya di sekolah, agar aku datang ke rumahnya.. “Sampai di rumah, langsung di bawa masuk ke ruang pribadinya, dan diberondong pertanyaan tentang guna-guna”… “Kamu jawab apa?” aku penasaran. “ Ya , berpuluh kali bertanya, di bentak-bentak, aku pun jawab gak tahu, sepertinya ayah Danang emosi dan memukulku”..cerita Adri, seperti menahan marah. “Terus kamu mengaku?”…tukasku. “Ya nggaklah, pas habis dipukulpun aku bilang ke ayah Danang; silahkan bunuh saya sekalian Pak, saya memang gak tahu apa-apa”…..cerita Adri menahan marah, seolah di depan ayah Danang. “kalau menurut kamu siapa Dri?”…. “Aku baru tahu kalau ada yang kirim guna-guna setelah dipanggil ayah Danang; jadi saya gak tahu apa-apa dan tidak tahu siapa pelakunya”…. “ya sekarang kan sudah tahu, kalau menurut kamu siapa yang mungkin melakukan”.. “Kalau menurut aku, mungkin Hari atau Pram”… “Alasannya atau apa motifnya?”..aku tertarik perkiraan Adri. “Kalau Hari ya pasti sekedar nakut-nakutin dan iseng”.. Aku jadi ingat dia pernah memasukan bangkai tikus dengan tulisan ancaman ke dalam laci pak Marwanto guru Matematika, karena dia pernah dimarah-marahi ketika tidak mengerjakan PR. Seluruh sekolah heboh, dan Hari pun di panggil kepala sekolah. Tetapi tidak berlanjut ketika ayah Hari, yang perwira TNI datang ke sekolah untuk minta maaf. Dan saya dengar pula, Hari pun di hajar oleh ayahnya di rumah, dan beberapa hari tidak masuk sekolah. “Terus kalau Pram, menurut kamu kenapa Dri?” aku ingin tahu alasan Adri, menyebut nama Pram. “Kamu kan tahu, Pram suka mempelajari ilmu klenik dan perdukunan”,..Adri menjelaskan. Iya ,Pram memang suka mempelajari ilmu mistik, dia mengaku badannya kebal dari pisau bahkan peluru. Tetapi saya tidak tahu benar tidaknya. Dan tidak ada yang mecoba membuktikannya juga. Tetapi memang pernah dia dikeroyok oleh tiga orang, dan dia baik-baik saja, sementara lawanya babak belur. Makanya Pram menjadi sombong, suka membanggakan ilmunya ke teman-teman dan cenderung suka bersikap “aneh”. Setelah bertanya banyak hal tentang kasus interogasi illegal ayah Danang, dan ngobrol ngalor ngidul aku pun pulang. Perkiraan Adri masuka akal juga. Hari memang Bengal, jahil dan bisa jadi jahat ketika merasa tersinggung. Tetapi kemaren dia bilang tidak tahu apa-apa dan rasanya dia jujur. Pram? Mungkin juga, karena memang dia suka yang berbau klenik. Tetapi apa motifnya. Karena selama ini, hubungan pertemanan Pram dan Rani sepertinya wajar-wajar saja. Ahhh teka-teki masih belum terjawab juga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar