Dalam kehidupan panjang, yang sekejap. Dalam riuhnya hidup, yang sepi. Dalam gemerlapnya cinta, yang redup. Ada cerita yang terangkai, Ada puisi yang terurai. Biru langit, biru kehidupan. Birunya hidup, birunya cinta. Aku tenggelam dalam biru yang mengharu biru. Biru nya hidup, biru nya puisiku.
November 29, 2023
THE JOURNEY VII
Aku laporkan tugas “hasil kunjungan” ke Adri. Dan kusampaikan juga bahwa Adri tidak ada “hard feeling” sama Rani, Rani pun terlihat lega.
Dan cerita tentang pelaku guna-guna pun mereda.
Terlebih kami kemudian disibukan oleh kegiatan belajar untuk menghadapi ujian semester an. Aku dan Rani pun sementara jarang ketemu, hanya sesekali jajan bareng di kantin sekolah..
Ulangan semester lewat, dan hari-hari kami pun menjadi santai karena lepas dari “tekanan” pelajaran sekolah. Kami hanya disibukan oleh “class meeting”, aku tidak tahu istilah darimana, lebih tepatnya pertandingan olah raga antar kelas.
Tiba-tiba kami dihebohkan oleh berita; “Hari dipanggil ayah Danang”.
Kalau Adri, Tono atau teman lain dipanggil mungkin tidak akan jadi berita.
Dan menjadi heboh karena Hari adalah anak Pak Pramono seorang perwira TNI.
Menurut informasi Hari menolak datang atas perintah ayahnya.
Ayah Hari bukanlah orang tua yang memabi buta membela kesalahan anaknya, kami tahu ayah Hari termasukorang tua yang cukup fair.
Kami ingat ketika “Kasus Kemah” antara Hari dan Endang. Kami sebut kasus karena ceritanya waktu itu menghebohkan sekolah. Gara-gara Hari menghilang bersama Endang pada waktu kemah, dan baru kembali keesokan harinya. Kami juga tidak tahu mereka “menghilang” kemana. Berita spekulasi pun bermunculan.
Ketika itu orang tua Endang datang ke rumah Hari. Dan kasus itu bisa diselesaikan oleh ayah Hari.
Kami pun tidak tahu bagaimana penyelesaian antara orang tua Hari dan orang tua Endang.
Kami dapat informasi kalau Hari dihajar ayahnya samapai babak belur, dan katanya bahkan sempat ditempeleng di depan orang tua Endang.
Dari cerita itu kami tahu, bahwa ayah Hari orang yang cukup fair dan menutup mata ketika anaknya memang bersalah.
Kali ini sepertinya ayah Hari merasa bahwa tindakan ayah Danang sudah terlalu jauh, makanya menyarankan Hari untuk menolak datang.
Sepertinya telah terjadi “ketegangan tingkat tinggi”.
Hal itu merembet pada hubungan antara Hari dan Danang yang menjadi tegang pula.
Pada acara sesudah class meeting Danang hampir berkelahi. Hari memaki Danang dan menyebutnya; anak orang tidak tahu aturan.
“Hai pengecut, bilang sama bapakmu, jangan sok kuasa dan tidak tahu aturan; main panggil orang seenak udelnya”...
Danang pun tidak terima, “Jangan bawa-bawa urusan orang tua ke sekolah”
“Gimana gak bawa-bawa urusan ini, yang dipanggil tuh gueeee”..serang Hari tambah emosi.
Untung teman-teman segera melerai, Pak Gatot guru olah raga pun membawa mereka ke ruang guru.
Kepala Sekolahpun turun tangan. Setelah menginterogasi mereka, Kepala Sekolah menjadi tahu duduk permasalahannya.
Dan beberapa hari kemudian, Kepala Sekolah memanggil orang Hari dan orang tua Danang. Kami pun tidak tahu bagaimana prosesnya. Urusannya sudah “diambil alih” oleh para orang tua.
Kami dapat “berita tidak resmi” dari Pak Hasan, si tukang kebun katanya, masalahnya sudah diselesaikan secara “adat”. Kepala Sekolah berhasil mendamaikan orang tua Hari dan orang tua Danang.
Dan berita tentang guna-guna Rani pun ikut “menghilang”, apalagi tak lama dari peristiwa itu, tiba saat libur sekolah.
Masing-masing dari kami pun sibuk dengan acara liburan. Ada yang keluar kota, ada yang di rumah saja seperti aku.
Akupun tidak bisa bertemu Rani. Keluarga Rani berlibur ke Australia, mungkin ayah Rani bermaksud sekalian menenangkan Rani.
Libur sekolah terasa panjang dan membosankan. Teman-teman kebanyakan punya acara masing-masing bersama keluarganya. Sementara aku lebih banyak berdiam diri di rumah, atau ketika bosan, pergi memancing sendirian, sambil menikmati alam terbuka.
“Ah..seandainya Rani menemaniku”..lamunanku melambung membayangkan senyum Rani.
Tengah melamun, tiba-tiba Kakak mrembuyarkan lamunanku;
“To, tadi Pram mencarimu, minta kamu ke rumahnya, katanya ada yang penting”
“Ah penting apa, paling mau curhat lagi pedekate cewek, atau minta dibuatkan surat cinta”....begitu aku membathin.
Ya, Pram memang sering minta dibuatkan surat untuk dikirim ke cewek yang lagi disukainya. Rani pernah memarahiku, ketika tahu aku menuliskan surat buat Pram.
“To, ngapain kamu bikin surat buat orang lain?”
“Itu sama saja kamu membantu orang dalam kebohongan”...
“Kok?..waktu itu aku protes.
“Iyalah, karena orang yang kamu buatkan surat, tidak menjadi diri sendiri, menipu; dan kamu terlibat dalam kebohongan itu”...hhmmm benar juga kata Rani.
Saya pun berniat untuk menolak Pram, atau orang lain yang meminta untuk dibuatkan surat cinta. Kepada orang lain saya bisa menolak, tetapi entah mengapa saya susah sekali mengelak dari “paksaan” Pram, termasuk kali ini; untuk datang ke rumahnya.
Sebenarnya malas, tetapi aku pun berangkat juga.
Menjelang Maghrib aku sampai di rumah Pram. Ibunya ada di depan sedang menjaga toko sembakonya.
“Assalamu’alaikum Bu. Pa kabar?” sapaku pada ibunya Pram.
“Eeeh Nak Taufan, lama gak kelihatan kemana aja?”
“Gak kemana-mana Bu, karena kemaren pas ujian semesteran Bu. Jadi gak main”..
“Ooh iya, kamu kan anak rajin ya, silahkan masuk aja. Kayaknya Pram ada di kamarnya”..ibunya Pram mempersilahkan ku.
Aku memang sudah dekat dengan keluarga Pram, dan sesekali diminta menginap sama ibunya. Ia
Kata ibunya Pram ketika minta aku menginap;
“Nak Taufan nginep saja di sini, sekalian temanin Pram biar semangat belajar”..
Pram memang pemalas dan kurang berprestasi di sekolah, banyak nilainya di bawah rata-rata. Pram pun malas belajar, dia malah lebih rajin baca buku Primbon, Ilmu Klenik dibanding baca buku pelajaran.
Akupun langsung masuk ke kamar Pram. Pram sepertinya sedang mandi karena terdengar suara cebar-cebur suara gayung beradu dengan air bak.
Saya pun langsung duduk di dipan yang ada di kamar Pram, sambil lihat buku koleksi Pram, tentu saja hampir semua tentang primbon dan klenik.
Buku-buku itu berserakan saja di tempat tidurnya, beberapa malah bertebaran di lantai.
Judulnya pun aneh-aneh; KARAKTER MANUSIA BERDASAR HARI PASARAN, KECOCOKAN PASANGAN MENURUT PRIMBON, hmmmm ada yang menarik pada salah satu buku yang tergeletak di lantai; “MANTERA DAN AJIAN PEMIKAT WANITA”....akupun berjongkok untuk mengambil buku itu.
“Heeh!..ada benda yang menarik perhatianku, ya kelapa muda bertuliskan nama dan huruf Jawa!”......
“Haahh jadi selama ini pelaku guna-guna yang aku cari, Pram lah orangnya”. ….
Dengan gemetar aku pun pegang kelapa muda itu, dan aku makin kaget dengan nama yang tertulis di kelapa muda itu; ..”Roswitaa!”.....apakah maksudnya Bu Roswita guru Bahasa Indonesia kita?...dadaku makin gemuruh, perasaan gugup, marah, bingung campur aduk.
Dan tiba-tiba suara Pram mengejutkanku:
“Eh lu To, dah lama ?”....
Aku masih gugup dan bingung, dan tak menjawab pertanyaannya.
“Eh Topaan kenapa malah bengong, kayak lihat setan aja”...
“Ya aku memang lihat setan di mukamu”. ..jawabku dalam hati.
Salah satu orang yang aku curigai memang Pram, sesuai dugaan Adri.
Tetapi tetap saja fakta itu tetap membuat aku shock, hampir pingsan.
Setelah berusaha menenangkan diri, akupun bertanya ke Pram;
“Itu benda yang ada di kolong, apa maksudnya Pram?”..
“Benda apa To?”..jawab Pram dengan muka nyante.
Saya tidak mengerti sikap Pram belagak bego atau memang benar- benar tidak tahu maksud pertanyaanku.
“Ii tuu.. kelapa muda yang ada di kolong”...tanyaku masih gugup.
Duh kenapa aku malah yang gugup dan nervous, bukannya semestinya Pram yang harus merasa gugup. Dia yang bersalah, bukan aku.
“Oohh itu, ...kamu gak perlu tahu, dan jangan ikut campur ya To”...Pram masih menjawab dengan tenang, meskipun nada bicaranya sedikit berubah, tidak se santai tadi.
Kami pun terdiam beberapa lama. Dengan jalan pikiran masing-masing. Aku masih bingung. Saya yakin Pramlah yang juga mengguna-guna Rani, tapi kenapa?
Karena setahu saya Pram bersikap biasa saja terhadap Rani dengan guna-guna? Dan tidak pernah terlihat kalau Pram suka dengan Rani.
Kalau benar Pram suka sama Rani, kenapa harus dengan guna-guna?
Dan selama kehebohan soal Rani di antara teman-teman, Pram selama ini tenang-tenang saja, seolah dia tidak ada hubungannya guna-guna Rani? Luar biasa.
Atau ada orang yang satu ilmu dengan Pram? Dan sekarang Pram akan mengguna-guna Bu Wita? Seribu tanya berkecamuk di kepala dan membuatku makin linglung.
Kami terdiam cukup lama, dan pecah keheningan oleh sapaan ibu Pram;
“Kalian sholat dulu, habis itu makan”...
“Eh..iiyaa Bu”..jawabku agak tergagap kaget.
“To, kamu sholat dulu, ntar kita terusin ngobrol abis makan”
Saya pun beranjak untuk berwudlu, dan sholat di mushola samping rumahnya.
Sementara Pram masih berada di kamar tidak tahu apa yang dikerjakannya.
Seusai sholat aku pun berpikir keras. Aku harus memastikan Pram sebagai pelaku guna-guna Rani dan memastikan juga apa maksud Pram terhadap Bu Wita, dengan kelapa muda itu.
Pulang dari mushola aku dan Pram pun makan malam. Kami makan dengan diam, tidak seperti biasanya yang selalu makan sambil ngobrol.
Meskipun tidak mengurangi enaknya masakan ibunya Pram. Ibunya Pram memang jago masak, meskipun mungkin hanya tumis kangkung, tempe goreng dan sambel bawang; tetapi kalau ibunya Pram yang masak rasanya menjadi berbeda.
Seusai makan kami pun kmbali masuk kamar, masih dengan diam.
Tetapi aku sudah bertekad; harus mendapat klarifikasi tentang cerita di balik kelapa muda itu.
“Pram aku mau tanya, dan tolong jawab dengan jujur”...aku membuka percakapan.
“Silahkan, kalau sekedar ingin tahu, tapi seperti yang aku bilang lu jangan ikut campur”..tegas Pram. .
“Nama yang tertulis di kelapa muda itu, Bu Wita guru kita?”…aku bertanya hati-hati.
“Iya, benar memang Bu Wita guru bahasa Indonesia”...jawab Pram dengan tenang.
“Maksudnya kamu suka sama Bu Wita? Atau ada maksud lain?...jujur aku masih belum percaya dengan apa yang aku dengar.
“Iya, memang aku suka sama Bu Wita. Memang salah?”....tanya Pram dengan suara meninggi.
“Aku laki-laki dan dia perempuan, dan sama-sama lajang pula”....Pram menjawab defensif.
“Lalu kamu minta aku kesini untuk apa?” agar aku tahu kamu suka sama Bu Wita?....tanyaku.
“Tadinya aku mau minta bikinin surat sama puisi untuk Bu Wita, tapi saya tahu sekarang, kamu pasti menolak lah”...rupanya Pram paham ketidaksetujuanku...
Aku pun terdiam, sambil berpikir untuk memilih kalimat yang tepat untuk menanyakan tentang guna-guna ke Rani.
“Lalu, yang tarok kelapa muda di tempat Rani kamu juga?..tanyaku to the point saja.
“Iya....” Jawab Pram pendek.
“Maksudnya kamu suka Rani juga?.lalu sekarang bu Wita?...tanyaku sambil berusaha menahan emosi.
“Aku tidak jatuh cinta sama Rani, jadi kamu tenang saja”..rupanya Pram tahu juga kalau aku suka sama Rani.
“Maksudmu kirim guna-guna iseng saja?”..aku pun tambah emosi melihat sikapnya yang seenaknya.
“Bukan gitu To,..waktu aku itu aku lagi emosi sama Rani, karena dia terlalu ikut campur masalahku”...terang Pram, mungkin dia membaca wajah saya yang mulai emosi.
“Ikut campur masalah apa-apa?” ..aku makin tak mengerti.
“Soal aku suka sama Bu Wita, Rani orang yang pertama tahu. Sepertinya Bu Wita cerita ke Rani tentang perasaanku”.....Pram terlihat mulai serius.
“Lalu Rani ikut campur bagaimana?”...tanyaku penasaran.
“Begitu tahu saya lagi pendekatan ke Bu Wita, Rani marah ke saya, bahkan maki-maki”...terang Pram.
“Rani bilang saya merusak masa depan Bu Wita lah, saya dibilang Oedipus Complex lah, saya dibilang sakit lah”...kamu tahu kan kalau Rani sudah ngomel.
Aku pun mengangguk , mengakuinya.
“Tapi kan gak harus sejauh itu Pram”....aku berusaha bersabar.
“Iya waktu aku emosi sekali, jadi aku merasa agar Rani merasakan bagaimana rasanya tergila-gila sama orang, saya ingin membalas Rani”.....jelas Pram dengan emosi.
“Astaghfirullah..Pram, Pram.....” aku geleng-geleng kepala tak percaya.
“Ya aku minta maaf To, aku tahu kamu suka sama Rani”...ucap Pram dengan pelan.
“Toh guna-guna ku gak ngefek kan?....Pram bertanya.
“Maksudnya gak ngefek gimana Pram, guna-guna itu gak berakibat apa-apa?”...aku ingin dengar penjelasan Pram.
“Sepertinya kelapa itu sudah dilangkahi orang lain, bukan Rani”....
“Jadi tidak berakibat apa-apa ke Rani”…jelas Pram
“Terus keadaan orang yang melangkahi bagaimana?”..aku makin penasaran.
“Kalau dia wanita ya dia jadi suka sama aku”..jelas Pram.
“Kalau laki-laki?” tanyaku.
“Ya efek guna-guna nya akan hilang begitu saja, apalagi kalau kebetulan yang melangkahi orang yang cukup alim. Begitu guruku bilang”.....terang Pram.
“Hmmmmm..mungkin Ayah yang lebih dulu melangkahi kelapa itu?..hhmmm entahlah..” ...aku membathin saja.
“Tetapi kenapa kamu harus pakai guna-guna ke Bu Wita?”....tanyaku lagi.
“Aku sudah beberapa kali menyatakan perasaanku ke Bu Wita, tetapi tidak menjawab, bahkan cenderung menolakku”....jelas Pram.
“Ya kamu kan bisa bersabar, atau lebih baik menunggu kita tamat sekolah”…
“Ahh ntar keburu Wita, dilamar orang”..Pram bahkan cuma menyebut nama Bu Wita, seolah sudah jadi pacarnya saja.
“Tetapi menurutku batalkan saja Pram”...saranku pada Pram.
“Gak semudah itu To, aku sudah tirakat segala untuk mempersiapkan ini”.....Pram menolak saranku.
Pram memang sering tirakat. Ada tirakat MUTIH; cuma makan nasi dan air putih saja.
Ada “NGEBLENG, berdiam diri di kamar, dalam gelap sehari semalam.
Pernah juga PUASA BISU; selama beberapa hari Pram tak bicara. Cuma menangguk dan menggeleng. Tirakat sebenarnya bagus-bagus saja, tetapi ketika dengan niat kurang baik, menjadi kurang baik juga, begitu kata mendiang Ayahku
Aku berusaha membujuk Pram untuk membatalkan guna-guna ke Bu Wita, tapi sia-sia.
Pram tak bergeming, dia bilang harus mendapatkan Wita bagaimana pun caranya; begitu katanya. Pram memang egois dank eras kepala, susah sekali mendapat masukan dari orang lain.
Aku pun merasa tak berguna lama-lama di tempat Pram, aku pun pamit sama ibu Pram seolah tak terjadi apa-apa.
Ahhh...di dunia ini memang banyak orang aneh, dan salah satunya Pram temanku.
Aku pun tambah pusing.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar