November 29, 2023

THE JOURNEY X

Sudah sebulan aku tak bertemu dan ngobrol sama Rani. Hanya melihat sesekali, itupun dari kejauhan dan tak sempat bertegur sapa. Kami menjadi makin berjarak, Rani sibuk dan focus belajar. Kangen ku yang makin menumpuk pun menjadi terserak begitu saja. Ah itu dia, baru saja dibenakku, orang muncul. Rani gegap berjalan cepat ke arahku. “To, ke samping yuk. Ada yang mau aku omongin sama kamu” Akupun ikut saja tanpa bertanya apapun, karena mukanya terlihat serius sekali. Setelah di samping sekolah, akupun duduk di bangku yang ada. “Ada apa Ran?” tanyaku. Rani tidak menjawab, mukanya pun terlihat serius, malah seperti sedang marah. “To, kamu kok susah dibilangin sih”..Rani memulai bicara dengan nada sedkit marah. “Bilangin apa Ran, ini soal apa sih?”..jawabku tak mengerti. “Kamu sekarang makin deket sama Bu Wita kan?”..tanya Rani. “Deket gimana Ran. "Biasa saja kok”.. Jawabku. “Biasa gimana? Kamu sekarang lebih sering ke rumah Bu Wita kok”..suara Rani menaik. Aku terdiam karena tidak tahu mau bilang apa. “Tahu gak To, kamu sama Bu Wita sudah jadi gossip. Tidak saja di sekolah, tapi dilingkungan Kost Bu Wita juga ”.. muka Rani terlihat marah. Aku masih diam saja. “To, jangan diam saja. Kamu tahu kan apa yang aku bilang?”… “Iya tahu Ran, tapi memang aku gak ada apa-apa”.. “Kalau gak ada apa-apa, ya sudah jangan ke rumah Bu Wita lagi”.. potong Rani. “Aku hanya diminta tolong untuk bantu Bu Wita sedang siapkan antologi puisinya”… “Ah itu alas an saja”…sergah Rani. “Bener Ran, aku memang Cuma mau bantu”… “Kalau gitu berarti Bu Wita yang gunakan untuk alasan” .. Rani makin tampak makin marah. “Ran, kamu kok tega sampai nuduh Bu Wita sih" keluhku. ”… “ Ya bisa saja To, Bu Wita kan masih muda. Lajang”.. “Memang menurutmu gak bisa suka sama kamu?”….tanya Rani retoris. “Bukan gitu Ran. Wong Bu Wita sikapnya biasa saja kok”.. “Ahh perasaanmu kan memang gak peka. Bolot”..Rani makin marah. “Saya tahu Ran, tapi Bu Witan menurutku juga tahu jaga posisi dia”… “Ahh kamu malah belain dia sih To”.. “Bukan belain Ran”.. “Kayaknya Bu Wita lagi deket atau suka sama orang initialnya MT”..jelasku. “Kamu tahu darimana?” “Iya ada salah satu puisinya tertulis, buat MT”.. “Ohh gitu..” Rani menggumam.. “Ehh tapi bisa saja, MT itu Mas Taufan”…..tukas Rani. “Ahh masa’ Bu Wita panggil aku mas Taufan, ada-ada saja kamu Ran”,..aku tepis kecurigaan Rani. “Yah Namanya juga puisi, bisa saja kan”….terang Rani. “Gaklah Ran, sejauh ini gak ada yang macem-macem kok”.. “Gini saja lah To, aku minta kamu tidak lagi ke rumah Bu Wita” “Lho, aku mesti bilang apa ke Bu Wita, kalau pas diminta ke rumahnya” “Ya, bilang saja gak bisa. Simple”…. “Duh Rani, ya gak bisa gitu Ran”.. “Kamu, gak bisa atau gak mau?”..Suara Rani menaik, sepertinya makin marah. Aku pun makin bingung. “To, aku tak mau bertele-tele. Aku minta kamu tidak lagi ke rumah Bu Wita. Titik”..lanjut Rani. “Kalau masih ke rumah Bu Wita, ya berarti kamu mengabaikan aku, dan sepertinya memang ada apa-apa dengan Bu Wita”…Rani bilang begitu langsung meninggalkanku. Aku pun terbengong-bengong, dan baru tersadar oleh bunyi bel sekolah, tanda harus kembali masuk kelas. Aku bergegas ke sekolah, takut gerbang sekolah ditutup. Tapi baru masuk pagar, Pram menghentikan langkahku. “To, bentar aku aku bicara!” “Duh Pram, ini sudah bel Pram" "Lain kali saja”.. “Bentar saja, lagian pelajaran Sejarah kan, saya yakin Pak Syawal gak akan marah”..tukas Pram sambil berdiri di depanku. “Ok, 1 menit saja ya”.. “ "Hmmm, Rani sudah bilang sama kamu kan?”…. “Ehhmm… bilang apa?” aku tak mengerti. “Bilang kalau kamu jangan datang ke rumah Bu Wita lagi”…Pram menjelaskan. “Lalu apa hubungannya sama kamu Pram?” ..aku sedikit tersinggung. “Kamu jangan pura-pura bego To. Kamu tahu kan kalau aku suka sama Bu Wita?”..suara Pram menaik. “Rani juga bilang kalau dia khawatir tentang hubunganmu sama Bu Wita”… Duuhh, kenapa Rani bawa-bawa Pram dalam persoalan Bu Rani ya. Aku jadi merasa kecewa dengan Rani. Karena Rani kan tahu gimana perangai Pram. “Aku tuh gak ada apa-apa Pram”..aku menjelaskan. “Whatever To, kamu kan tahu aku sedang mendekati Bu Wita” “Jadi sebaiknya kamu menjauh dari Bu Wita”.. “ya sudah lah Pram, aku masuk kelas dulu”. “Ehh ingat ya To, kamu jangan kesana lagi. “Aku juga sudah minta sama sama Ketua Karang Taruna untuk ngawasin rumah Bu Wita. Jadi kamu harus hati-hati juga”…Pram sedikit mengancam. Aku tidak peduli lagi apa kata-kata Pram, aku begegas masuk kelas. Aku juga menjadi tidak mengerti dengan sikap Rani. Rani sudah terlalu jauh dan berlebihan. Aku merasa bingung dan merasa marah sama Rani. Kenapa dia malah “bersekongkol” dengan Pram. Aku pun menjadi tidak bisa focus dengan pelajaran pak Syawal. "Ahhh wes mbuhlah….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar