Dalam kehidupan panjang, yang sekejap. Dalam riuhnya hidup, yang sepi. Dalam gemerlapnya cinta, yang redup. Ada cerita yang terangkai, Ada puisi yang terurai. Biru langit, biru kehidupan. Birunya hidup, birunya cinta. Aku tenggelam dalam biru yang mengharu biru. Biru nya hidup, biru nya puisiku.
Desember 13, 2023
THE JOURNEY XI
Sejak insiden “kecemburuan Rani” terhadap Bu Wita, komunikasi dengan Rani semakin jarang.
Rani masih marah, akupun merasa sebal, aku anggap Rani berlebihan dan kekanakan. Sebaliknya aku makin
sering main ke rumah Bu Wita, karena antologi puisinya akan segera selesai. Aku bantu edit dan sedikit kasih ide design sampulnya.
Bu Wita oarngnya perfeksionis jadi selalu saja ada yang diubah dan diperbaiki. Dan akupun jadi lebih sering datang ke rumah Bu Wita. Bu Wita bilang sebelum akhir tahun buku antologi
puisinya bisa diterbitkan. Aku pun jadi sering melewati batas jam berkunjung di kost an Bu
Wita. Aturannya cukup ketat, jam 09.30 malam tamu harus sudah pulang. Dengan toleransi
setengah jam, jadinya maksimal jam 10.00 malam. Belakangan aku jadi sering lewat dari jam 10.00 gara-gara ke asyikan ngobrol.
Itu pun biasanya karena tersadar setelah bunyi gorden ditarik ; “sreek, sreeeeekkk, dan sepertinya disengaja ditarik lebih keras sama Bu Darmo, sebagai alert.
Malam itu Ibu induk semang sudah membunyikan alert. Aku pun minta pamit sama Bu Wita;
“Bu sudah malam, saya pulang dulu ya”….
“Bentar lagi To, nanggung. Ini puisi penutup harus beres malam ini”..
“Bentar lagi ya ..” akupun Cuma mengangguk saja. Kami pun meneruskan diskusi dan mengedit beberapa kalimat pengantar dan puisi penutup.
Ahhh..akhirmnya selesai juga. Jam berapa ini. Hahhhh!..sudah hamper jam 12………waduuuhhh..
Belum sempat pamit, tiba-tiba ada suara gaduh dari luar.
Tampaknya banyak orang di luar rumah. Wah ada apa ya?
“Mas, Mbak yang di dalam keluaarrr!!....begitu salah satu dari mereka teriak.
“Bu Wita, ada apa ya? Siapa yang disuruh keluar?”..
“Ya udah, saya antar kamu keluar pulang, sambil lihat ada apa”…Bu Wita pun beranjak dari
tempat duduknya. Dan kami keluar rumah. Ternyata sudah ada puluhan orang berdiri di depan pintu, sebagian di luar pagar rumah.
“Maaf bapak-bapak, ini ada apa ya?...Bu Wita bertanya ke mereka.
“Gini ya Mbak, maaf nama siapa ya?” salah seeorang maju ke depan Bu Wita.
“Saya Roswita, panggil Bu Wita”…jawab Bu Wita berusaha tegas.
Aku yang tadi agak berdiri di belakan Bu Wita, maju ke samping Bu Wita.
“Saya Taufan Pak, kebetulan saya muridnya beliau”…saya ikut mengenalkan diri.
“Oh ya, saya Bambang ketua Karang Taruna kampung ini”..dia pun
mengenalkan diri.
“Gini ya Bu Wita, Mas Taufan , saudara tahu kan di kampung ini ada batas waktu berkunjung?”..
“Udaaah di arak aja!”….teriakan dari sala h seorang pemuda dari balik pagar menimpali pembicaraan kami.
“Begini Pak, kami mohon maaf atas kejadian ini”
“Tapi tolong dimengerti kami ini guru dan murid, yang gak akan melakukan sesuatu yang kurang baik Pak” Bu Wita menjelaskan kepada pemuda bernama Bambang.
“Ya Mas Bambang, saya kebetulan juga mau pulang Mas, jadi mohon maafkan kami dan saya mohon untuk tidak diperpanjang Mas”..saya coba menjelaskan ke Mas Bambang.
“Tidak bisa selesai begitu saja Mas Taufan, nanti mereka akan complain ke saya”..sahut Mas
Bambang sambil menunjuk ke rekan-rekannya.
“Jadi sebaiknya Mas Taufan ikut kami ke kantor RW, kita selesaikan masalahnya di sana”
“Lho, memang kenapa lagi Pak, kok diselesaikan di kantor RW”.. sergah Bu Wita.
“Kok kesannya kami melakukan kesalahan besar saja”..suara Bu Wita menaik.
“Begini Bu Wita, yang ikut kami hanya Mas Taufan saja, dengan Ibu sudah selesai” Mas Bambang mencoba menenangkan Bu Wita.
“Gak bisa, kalau dianggap salah. Saya juga ikut salah”…Bu Wita mencoba mendebat.
“Gak Bu, kami akan selesaikan baik-baik dengan Mas Taufan”..
Aku lihat Bu Wita sudah emosi, aku pun khawatir persoalannya malah jadi berkepanjangan.
Akupun coba menenangkan Bu Wita.
“Sudahlah Bu, biar saya yang ikut mereka ke Kantor RW. Saya yakin bisa diselesaikan dengan baik”…
“Kamu yakin To?”..Bu Wita tampak khawatir.
“Iya Bu, toh kantor RW juga gak jauh dari sini, kalau nanti Ibu khawatir bisa cek langsung” Mas Bambang mencoba meyakinkan Bu Wita.
Akhirnya saya bersama puluhan pemuda menuju kantor RW.
Tempatnya memang tidak jauh dari kost Bu Wita, hanya ratusan meter.
Setelah diinterogasi oleh beberapa orang yang sok jadi reserse, bergaya penyidik polisi yang bikin neg dan menyebalkan
“Apakah benar Saudara pacaran dengan salah satu penghuni kost Gang Mawar? Tanya Bambang ketua Karang taruna.
“Gak Mas, kan tadi saya sudah jelaskan saya murid dan beliau guru saya” jelasku kesal.
“Dalam rangka apa Saudara berkunjung sampai malam-malam”
“Menulis buku pak…nanti kalau sudah selesai kalau perlu saya kirim ke bapak” aku makin kesal karena pertanyaannya banyak hal yang bersifat pribadi.
“Apakah saudara menyukai Bu Wita?...wah pertanyaan macam apa ini.
“Tidak Mas.….aku jawab singkat.
Setelah menjawab pertanyaan yang banyak bersifat pribadi dan bertele-tele, aku diminta tanda tangan surat pernyataan bermeterai yang intinya: saya dilarang berkunjung ke tempat Bu Wita di atas jam Delapan malam.
Meskipun isinya “aneh” aku tandatangani saja, daripada berkepanjangan. Dan aku pun dilepaskan dari “sandera” mereka dan diijinkan pulang.
Ketika aku keluar dari kantor RW dan mau pulang, di ujung jalan aku lihat sepintas Pram yang menstater motornya. Ternyata apa yang dikatakan Pram waktu itu benar; Pram memang benar mengawasi Bu Wita.
Ahh Pram, kelakuanmu makin aneh saja. Apakah harus segitunya?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar