Dalam kehidupan panjang, yang sekejap. Dalam riuhnya hidup, yang sepi. Dalam gemerlapnya cinta, yang redup. Ada cerita yang terangkai, Ada puisi yang terurai. Biru langit, biru kehidupan. Birunya hidup, birunya cinta. Aku tenggelam dalam biru yang mengharu biru. Biru nya hidup, biru nya puisiku.
Desember 21, 2023
THE JOURNEY XIII
Sudah beberapa hari ini aku berusaha bertemu Rani susah sekali. Padahal satu sekolah.
Apa Rani menghindariku ya?.
Tiap aku ke kelas dia, temannya bilang tidak tahu, atau jam sekolah berakhir selalu sudah pulang.
Ya..satu-satunya jalan, aku harus keluar kelas lebih cepat dan menunggu di depan kelasnya.
Hari itu pun aku keluar kelas lebih cepat demi menunggu Rani di depan kelasnya.
Setelah beberapa saat, Rani yang kutunggu-tunggu pun keluar dari kelas.
Dia berjalan cepat dan menunduk, eh kok dia lewat begitu saja, seperti tidak melihatku.
“Ran..Rani….” aku panggil cukup keras, sehingga siswa-siswa lain menoleh padaku.
“Ehh To,ada apa? Aku mau buru-buru pulang To”..Rani menjawab sambil terus berjalan.
“Ran, aku mau bicara Ran”…
“Ehhmm apalagi siih, kayaknya gak ada yang perlu dibicarain deh”…Rani bicara sambil terus berjalan cepat, aku pun setengah berlari mengikutinya.
“Ran, tolong aku kasih waktu ya Ran, Please?...aku memohon.
“Penting?”..Rani menyela.
“Penting banget Ran. Please”…
“Ya sudah kalau gitu besok ya To. Kita ketemu di warung Es Pak Dullah"
Akupun mengganggguk sedkit lega. Rani bersedia mmeberi waktu untuk aku menjelaskan.
Akupun jadi tak sabar menunggu besok. Hari dan jam serasa berjalan lebih lambat.
Aku menunggu dengan gelisah hari itu. Jam sekolah tidak kunjung usai.
Tiap mata pelajaran terasa lama.
Penjelasan Bapak Ibu guru hari itu terasa lebih bertele-tele. Ahh lama sekali.
Akhirnya…..Bel usai sekolah pun berbunyi. Setengah berlari aku menuju warung es campur tidak jauh dari sekolah, sesuai kesepakatan dengan Rani kemarin.
Setelah menunggu beberapa saat, Rani pun datang, dengan muka datar saja.
Tak Nampak keceriaan yang selalu ada di wajahnya.
“Hai Ran, mau pesen apa ?”..
“Air mineral saja To”.
Akupun segera pesankan air mineral dingin.
Rani minum pun minum, siang itu memang cuaca cukup panas dan gerah.
Kami pun terdiam agak cukup lama. Hmmmm ..akupun bingung mau mulai bicara dari mana…
“Hmm gimana To? Mau bicara apa?”..Rani membuka kesunyian kami.
“Hmmm gini Ran, soal gossip aku sama Bu Wita kamu percaya?”..
“ Ya ada percayanya juga sih”..
“Kok gitu Ran, kamu tahu aku kan? Gak mungkinlah aku sampai menjalin hubungan denganyya, aku sangat menghargai Bu Wita”sebagai guru kita" jelasku.
“Iya, tapi aku jadi merasa ragu sama kamu, kenapa kamu tetap ke sana, meski aku larang?”..Rani memberikan alasan.
“Ran, kamu kan tahu. Bu Wita lagi punya proyek nulis buku, dan aku bantu”
“Iya, tapi kamu mestinya hati-hati juga. Bagaimana pun Bu Wita kan perempuan muda yang masih sendiri pula. Dan bener kan jadi menimbulkan masalah”…
“Iya sih Ran, aku juga tidak mengira , akibatnya akan sejauh itu”
“Aku memang salah juga sih, tidak menghiraukan peringatan kamu. Mestinya aku harus berhati-hati, tidak berkunjung sampai malam”.
“Tapi kamu tidak percaya apa yang dikatakan orang-orang kan Ran?”
Aku tetap yakin kalau Rani masih mempercayaiku. Rani lama terdiam.
“Rani..jawab dong”….
Rani masih diam saja.
“Ran…kamu masih percaya sama aku kan ?”..aku ingin dengar jawaban Rani.
“Iya To, aku percaya. Tapi aku gak suka kalau kamu terlalu dekat sama Bu Wita”..
“Iya Ran, aku tahu. Aku minta maaf Ran”..
Rani mengangguk. Aku pun lega, sepertinya Rani memaafkan ku.
“Kamu tahu gimana Bu Wita sekarang Ran?”…
“Tuh kan, Bu Wita lagiiiii”….jawab Rani, tapi melihat wajahnya saya tahu tidak sungguh-sungguh marah.
“Yak an , Bu Wita lah guru yang selama ini dekat sama kita Ran”..
“Iya Too, minggu lalu sempat ketemu, sepertinya sih baik-baik saja”.
“Kamu gak usah khawatir To. Dia kan lebih dewasa dari kita. Profesinya guru lagi, jadi pasti lebih bisa menghadapi masalah lebih dari pada kita-kita”…
“Iya sih, tapi kalau dari fitnah yang beredar itu, aku kan kasihan juga”
“Iya To, mudah-mudahan gossipnya segera hilang”
“Ran, nanti kalau aku mau ke tempat Bu Wita, kamu mau ikut kan?”
“Iya nanti kalau memang perlu To. Kalau sekarang kan belum perlu”
“Iiya….”,…aku meng iya kan saja , takut Rani masih sensi.
“Eh To, kalau misalnya Bu Wita deket sama seseorang, kamu gak masalah?”
Aku diam saja , karena tidak mengerti arah pertanyaan Rani.
“Too, kok gak dijawab?”…
“Hmm…maksudnya gimana Ran?”..aku memang sama sekali tak mengerti.
“Memang kamu gak tahu sekarang Bu Wita deket sama seseorang?”
“Gak tahu Ran, siapa?” aku penasaran.
“Mau tahu aja atau mau tahu banget nih?” goda Rani.
“Ya mau tahu aja sih”….
“Memang siapa Ran, kamu kenal orangnya?”
“Kenal. Kamu juga kenal kok”…jawaban Rani makin bikin penasaran.
“Hmmm ..memang siapa Ran?” aku masih belum bisa menebak siapa yang dimaksud Rani.
“Bu Wita sekarang lagi dekat sama Pram”..tukas Rani.
“Haahhhhhh!!!”…..aku benar-benar terkejut.
“Yang bener Ran?”…..
“Kok respon kamu segitunya To”…Rani malah tersenyum-senyum lihat ekspresi kekagetanku.
“Ni kaget, galau atau cemburu nih?” Rani malah terus menggoda.
“Bukan cemburu Ran, tetapi kamu kan tahu Pram kayak apa”…….
“Serius? Memang kamu tahu darimana?” aku tetap masih tak percaya.
“Ya, pertama denger dari Rusti aku juga gak percaya. Tapi kemaren aku lihat langsung”..
“Lihat langsung?”….
“Iya kemaren Pram nunggu didepan kelasku waktu pelajaran Bu Wita”..
“Pas aku tanya; ngapain Pram? Pram jawan lagi nunggu pacar,.. sambil tunjuk Bu Wita”
“Dan benar, pulangnya Bu Wita mbonceng motor Pram”..Rani menjelaskan.
Ahhh..aku tetap tak percaya. Bagaimana mungkin Bu Wita dekat sama Pram.
"Pulang berdua Pram?" tanyaku masih kurang percaya.
"Iya Toooo, kamu cemburu, gak ikhlas?" tanya Rani.
"Ya nggaklah Ran"...Tapi aku masih kurang percaya"....jawabku.
Aku terangkan ke Rani, bahwa hubungan Bu Wita dan Pram mungkin didasari sesuatu yang kurang wajar. Dan Pram punya moivasi lain, bukan karena suka ataupun cinta. Tapi menurut Rani aku dan Rani tidak boleh ikut campur. Itu urusan mereka; Pram dan Bu Wita. Walau dalam hati aku kurang setuju, tapi aku tak berani membantah. Takut malah Rani jadi marah dan salah faham lagi.
Setelah ngobrol Panjang lebar kami pun pulang. Aku pun lega karena berbaikan kembali dengan Rani.
Tetapi sekarang aku tetap pusing. Aku tak habis pikir, bagaimana Bu Wita bisa dekat sama Pram. Bahkan mungkin mereka pacaran?
Bagaimana mungkin? Apakah karena guna-guna Pram? Kalau karena itu, alangkah kasihan Bu Wita.
Seribu tanya berkecamuk di kepala.
Sore itu aku pulang dengan teka-teki baru. yang belum ada jawabannya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar