Desember 21, 2023

THE JOURNEY XIV

Ternyata cerita Rani benar. Bu Wita memang sedang dekat dengan Pram. Saya melihat sendiri kedekatan mereka, waktu itu Bu Wita terlihat berboncengan dengan Pram. Saya menjadi makin kasihan dengan Bu Wita. Tentu saja apa yang dilihat oleh para muridnya dan rekan gurunya, sebagai sesuatu yang “tak elok”. Gossip mengenai Bu Wita dan Pram sepertinya lebih parah dari gossip mengenai aku tertangkap di rumah Bu Wita. Kalau aku hanya berita dari mulut ke mulut. Kalau ini mereka melihat langsung kedekatan antara Pram dengan Bu Wita. Mereka terlihat sering bersama-sama pulang. Pram sering menunggu usai jam sekolah, bahkan ketika Bu Wita pulang sore. Pram sepertinya malah bangga dan seolah mengexpose sedemikian rupa. Aku sampai sekarang belum sepenuhnya percaya, apakah Bu Wita sungguh-sungguh berhubungan dekat dengan Pram. Aku merasa ada yang aneh. Dari dulu Bu Wita tidak pernah dekat dengan Pram. Antara aku, Adri, dan Rani, Bu Wita justru lebih dekat dengan Rani dan aku. Pram tidak pernah ke rumah Bu Wita kecuali bersama salah satu dari kami. Saya masih berpikir mungkin karena guna-guna. Aku menjadi penasaran dan ingin tahu ada apa gerangan. Aku ingin menanyakan langsung kle Bu Wita. Tetapi aku sudah berjanji ke Rani, saya tidak akan ke tempat Bu Wita, setidaknya jangan sendirian; begitu pesan Rani. Saya harus mengajak Rani, mudah-mudahan Rani mau menemaniku. Siang itu aku nunggu di depan kelas Rani. Nunggunya lumayan lama, rupanya pelajaran Fisika, Pak Nurdin memang suka molor jatah jamnya, apalagi kalau pas jam terakhir. Akhirnya Rani keluar juga. Hmmm wajahnya terlihat agak lelah, tapi tetap ceria. “Ehhh To, ada apa?” “Ran, temenin aku ke rumah Bu Wita yuk”.. “Memang mau ngapain To?... “Yuk kita sambil jalan saja ngobrolnya”.. Aku pun mengangguk setuju sambil terus berjalan. “Kayaknya kita perlu klarifikasi ke Bu Wita soal hubungannya dengan Pram”.. “Ahhh gak mau ah, lagian ngapain kita ikut urusan orang”…tolak Rani. “Ran, Bu Wita bukan orang lain Ran”.. “Aku merasa ada yang janggal soal hubungan mereka” “Ya, tapi kan bukan urusan kita To, mereka sudah dewasa”.. “Salah-salah nanti Pram malah ngamuk sama kita”..Rani masih berkukuh menolak. “Ran, kalau ternyata ada sesuatu yang kurang wajar, kamu mau biarkan Bu Wita jadi korban Pram?”… “Maksudnya gak wajar gimana Pram, Bu Wita kena guna-guna?”… “Ya salah satu kemungkinannya”…. “Serius kamu To, kamu berpikir ke sana?.. “Ya gak tahu, makanya kita harus memastikannya Ran”.. “Ok lah, kalau gitu lusa aja ya, hari Jum’at. Jadi agak nyante”.. Meskipun menurutku bisa sore ini atau besok, tapi aku pun mengangguk setuju saja. Jum’at sore aku pun ke tempat Bu Wita. Rani sudah sampai dulu an, karena memang rumahnya tak terlalu jauh juga. Sambil menikmati teh yang dihidangkan Bu Wita, dan rempeyek renyah favorite ku, kami ngobrol dan bercanda. “Btw tumben nih, kalian datang berdua. Takut ada gossip ya?”. Bu Wita sepertinya tahu ada yang akan kami sampaikan. Aku berpandangan dengan Rani. Saling menunggu siapa yang mulai bicara. “Begini Bu, gossip tentang Bu Wita sama Pram , apa itu benar?”..aku mulai bertanya. “Ya bisa bener , bisa nggak” Jawab Bu Wita santai. Jawaban Bu Wita makin membingungkan aku dan Rani. “Maksudnya gimana Bu, jadi Ibu bener pacaran sama Pram?” tukas Rani. “Sebenarnya bukan pacaran juga. Saya memang dekat dengan Pram, tapi bukan pacaran”. Jawaban Bu Wita makin membingungkan. “Ahh, kami gak ngerti Bu”..aku terdiam, sambil menerka-nerka apa maksud Bu Rani. Melihat kami terdiam kebingungan, Bu Wita mencoba menjelaskan. “Gini lho, Ibu lagi mencoba jadi dokternya Pram” “Dokter? Memang Pram sakit? Tanya Rani. “Tentu saja bukan sakit fisik. Tapi sepertinya Pram ada penyimpangan Mental Disorder”. “Penyimpangan gimana Bu? Ibu tahu dari mana?..aku penasaran. “Pram bukan sekedar suka, atau kagum sama Ibu, tapi lebih kompleks dari itu”.. “Sikapnya kekanak-kanakan, cenderung Sosiopat. Egosentris” “Masa’ sih Bu, saya lihat Pram normal saja kecuali memang temperamental” aku masih gak yakin dengan anlisa Bu Wita. “Penyimpangan perilaku, penyakit kejiwaan memang tidak mudah terlihat, bahkan kadang untuk orang tertentu cenderung disembunyikan” Jelas Bu Wita. “Kalian tahu, Pram pernah tidur di emperan situ, gara-gara saya tidak menemuinya”..Cerita Bu Wita sambil menunjuk kea rah depan pintu. “Oh ya? Segitunya Bu?”..aku makin penasaran. “Bukan itu saja, ternyata Pram sering menginap di rumah tetangga sini, demi memata-matai Ibu”…cerita Bu Wita. “Jadi , sebelum Ibu jadi gossip di sekolah, Ibu sudah jadi artis di kampung ini” Kami pun tercengang dengan cerit a Bu Wita. Tak menyangka Pram sejauh itu. “Makanya Ibu coba deket sama Pram, supaya Pram tidak bikin ulahaneh-aneh lagi” “Siapa tahu Ibu, pelan-pelan bisa merubah perilakunya , yang cenderung agak menyimpang itu”.. Bu Wita menerangkan alasannya. “Tapi apa harus segitunya Bu?” Tanya Rani. “Ya itu pilihan Ibu yang anggap terbaik dari yang buruk. Karena kita tidak tahu apa yang sudah dilakukan dan diomongkan Pram di luar sana”.. “Sekarang minimal Pram, tidak lagi berkeliaran di sekitar rumah Ibu. Ibu sekarang juga lebih bisa memonitor apa yang dilakukan Pram” jelas Bu Wita. “Tapi nama Ibu di sekolah kan jadi kurang baik “ jelasku. “Iya saya tahu To, saya juga sudah jelaskan juga kok ke pak Kepala Sekolah” “Pak Wandi bisa mengerti?” tanyaku. “Ibu gak tahu juga. Beliau cuma pesan agar hati-hati dan jaga nama baik Ibu sebagai guru” “Mudah-mudahan Ibu segera bisa cari jalan keluar yang lebih baik” “Dengan berkomunikasi dan mengamati langsung Pram, siapa tahu juga Ibu bisa nulis buku tentang perilaku” terang Bu Wita, sambil menghela nafas. Seperti mecoba membuang beban didadanya. Tampaknya Bu Wita berusaha menghibur diri, atau cari pembenaran? Aku tidak tahu. Yang pasti Bu Wita terlihat berat, sesuatu yang menyesakkan ketika cerita tentang Pram. Seperti yang sudah kuduga hubungan Bu Wita dan Pram tidak seperti yang terlihat , kalau Bu Wita pacaran dengan Pram. Ketika Bu Wita cerita aku lebih banyak mendengar. Sebenarnya saya ingin menyampaikan ketidaksetujuan ku pada pilihan Bu Wita, tapi aku menahan diri. Selain aku tidak yakin tanggapan Bu Wita, aku juga takut kalau Rani malah jadi salah paham. Aku tetap tidak setuju dan makin merasa kasihan dengan Bu Wita. Waktu tak terasa menjelang maghrib, kami pun pamitan pulang. _________________ Saya mencoba memahami apa yang dijelaskan sama Bu Wita tentang hubungannya dengan Pram, dan berharap gosipnya mereda. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Gosip makin kencang. Hal itu juga diperparah sama kelakuan Pram yang secara demonstratif memperlihatkan kedekatannya dengan Bu Wita. Seolah ingin mengumumkan pada seluruh guru,siswa bahkan ke semua orang; Bu Wita milik Pram. Sore itu pada saat sebagian siswa melakukan kegiatan extrakurikuler dibuat heboh, Pram tiba-tiba memeluk Bu Wita ketika dia selesai mengajar drama. Aku tidak melihat langsung karena sedang asyik membaca naskah. Aku Cuma dengar teriakan Bu Wita: “Pram ..kamu jangan ngacau , ini di sekolah!” Akupun bergegas keluar, dan aku lihat muka Bu Wita pucat dan tegang, sepertinya antara takut dan marah. Atau mungkin sedih , kaget, galau campur aduk. Sementara aku melihat Pram malah tersenyum-senyum, seolah malah berbangga diri. Pram memang Eddduunn….. Aku sebenarnya pengen tanya atau menghibur Bu Wita. Tapi kulihat Rani seolah memberi kode untuk tidak ikut campur dan meninggalkan tempat. Kalau bukan karena merasa tidak enak sama Ran pasti aku sudah dekatin Bu Wita. Aku ingin menghibur Bu Wita yang nampak malu dan terluka. Pram sepertinya tidak sadar telah melukai perasaan dan harga diri Bu Wita. Bu Wita orang yang lembut. Siapapun yang dekat dengannya akan merasa nyaman. Bahkan ketika marah tak sekalipun ngomong kasar atau membentak siswanya. Aku juga heran kenapa dia belum punya pacar, padahal cantik, cerdas dan “care” sama orang. Pokoknya saya yakin siapapun yang jadi suaminya akan dimanjakan dan dilayani dengan baik olehnya. Pram? Semoga bukan Pram yang jadi suaminya, begitu aku membatin. Sementara Pram orang yang berangasan, egois dan sangat bangga dengan gender kelakiannya. Pram bilang suka sama Bu Wita, tetapi sepertinya tidak pernah peduli Bu Wita. Pram tidak berusaha menjaga perasaan dan posisi Bu Wita. Kasihan Bu Wita. Benar perkiraan saya. Setelah insiden pelukan Pram gossip mengenai Bu Wita makin kencang. Bu Wita terpojok sendirian. Sementara Pram bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Bahkan aku mendengar kalau teman-teman guru Bu Wita pun ikut mencibir dan menjauhi Bu Wita. Padahal Bu Wita sejatinya korban. Masyarakat sosial kita terkadang memang tidak adil terhadap perempuan. Bu Wita yang biasa rajin muncul dan menyapa anak-anak beberapa hari ini tidak terlihat. Bu Wita juga sudah absen mengajar tiga hari ini. Kemana ya? Mungkin Bu Wita sibuk menulis? Atau stress, tertekan dengan gossip yang makin menjadi-jadi? Aku menduga-duga. Aku ingin tahu tapi tidak tahu bertanya pada siapa. Rasanya mau segera datang ke rumahnya dan mendengan cerita dari Bu Wita. Tapi aku tidak bisa datang sendiri. Akupun harus mengajak Rani. Sore itu se usai jam sekolah , aku samperin ke kelas Rani. “Rani, kamu tahu Bu Wita sudah beberapa hari ini gak ngajar?” tanyaku. “Iya To, kelas Bahasa kemaren kosong” “Kamu tahu Bu Wita kemana?” “Ya gaklah To, memang Bu Wita kalau gak masuk harus ijin ke aku?” “Bukan gitu Ran, kamu kan tahu kejadian kemaren dan gossip yang menimpa Bu Wita” “Iya To, gak ada yang tahu. Saya tanya Rusti yang rumahnya dekat Bu Wita pun tidak tahu” “Kita ke rumahnya yuk” ajakku ke Rani. “Jangan To, kita gak perlu terlalu campur urusan Bu Wita, dan belum tentu juga Bu Wita berkenan”… “Siapa tahu dia memang lagi perlu waktu untuk sendiri” ..,jelas Rani “Hmmmmm gitu Ran… “Iyalah To, kenapa sih kamu pengen tahu Bu Wita kemana…. “Iya Ran, kamu kan tahu gimana cerita nya dia sama Pram”.. “Iya, tapi kayaknya itu konsekuensi pilihan Bu Wita” jelas Rani “Maksudmu Ran?.... “Iya , harusnya Bu Wita tidak menerima Pram sebagai pacarnya. Apapun alasannya”… “Tapi kita kan sudah dengar penjelasan Bu Wita Ran..” “Ya justru itu, aku malah merasa ada sikap oportunis dari Bu Wita”….. “Oportunis ? maksudmu bu Wita ambil kesempatan?....aku gak mengerti ucapan Rani. “Bukan dalam artian ambil kesempatan To. Tapi Bu Wita seperti mencari tantangan, entah alas an experiment kejiwaan atau memang merasa tertantang ingin menaklukkan Pram”… “Ah, masa sih Ran. Aku gak mengerti”….Rani memang sering punya pemikiran yang berbeda. “Iya To, kamu pernah baca kan. Kalau ada beberapa wanita, yang mungkin rasa keibuannya terlalu dominan, malah suka dekat dengan “Bad Boy”… “Ah masa sejauh itu sih Ran”…..aku paham tapi agak kurang sepakat dengan analisa Rani. “Jadi kamu gak mau nih?...aku tanya Rani lagi. “Gak To, kita tunggu kabarnya saja To” Terpaksa aku pun menurut sama Rani, untuk bersabar menunggu kabar dari Bu Wita. Mungkin ada benarnya, memberi kesempatan Bu Wita merenung, berpikir dan mencari jalan keluar sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar