Desember 22, 2023

THE JOURNEY XV

Hari itu Jum’at ke dua bulan Februari, sudah 2 minggu lewat Bu Wita tidak terlihat batang hidungnya. Seperti menghilang begitu saja. Dan kemaren aku sempat melihat Pram tampak seperti linglung, aku menegur pun tak dijawab. Berita dan gossip antar siswa simpang siur. Ada yang bilang pulang kampung, untuk menenangkan diri. Ada yang bilang pindah mengajar karena sudah tak tahan dengan gossip yang menimpanya. Ada pula yang bilang dipanggil orang tuanya untuk dijodohkan. Mana yang benar aku pun tidak tahu. Saya tanya Adri, tanya Rani, tanya Rusti semua menjawab tidak tahu dan tidak diberi kabar. Kemana dan apa yang terjadi ya, berbagai tanya berkecamuk di kepalaku. Tetapi saya heran juga, tampaknya pihak sekolah; teman-teman guru, kepala sekolah tampaknya tenang-tenang saja. Berarti mereka tahu Bu Wita kemana. Tapi kalau aku bertanya ke teman guru nanti malah jadi janggal. Ahh pasti ada apa-apa. Ah aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. Saya dapat sedikit bocor an dari Pak Riyanto, guru yang cukup dekat dengan Bu Wita, mengatakan bahwa Bu Wita sudah mengajukan pengunduran diri. Ah ada apa gerangan. Pasti ada alasan yang cukup serius kalau sampai Bu Wita memutuskan untuk mengundurkan diri. Selama ini Bu Wita sepertinya nyaman dan menikmati mengajar di sekolah ini. Selain luwes, ramah; Bu Wita juga dekat dengan para siswa. Aku harus mencari tahu apa dengan Bu Wita. Aku pun bergegas ke tempat Bu Wita. Kalau pun Rani marah nanti aku jelaskan belakangan. Sesampainya di rumah Bu Wita, pintu pagar terkunci dan tampak sepi. “Assalamu’alaikum”..aku mengucap salam. Tidak ada yang menyahut. Kamar Bu Wita yang terletak di depan, jendelanya pun tertutup. Tapi jendela tengah tampak terbuka, berarti ada orang di dalam. “Assalamu’alaikum”. Permisiii…aku ulang salam. Aku tunggu beberapa saat, terdengar suara menyahut. “Wa’alaikumsalam, bentar ya” ..sepertinya suara Bu Darmo, ibu induk semang yang menyahut. Ibu Darmo pun keluar. Dan membuka kunci pagar. Aku pun dipersilahkan masuk. “Ya silahkan Nak……”. “Eeehh, ini nak……..murid Bu Wita kaan..?” “iya Bu, saya Topan”… “Bu Wita kemana ya Bu?” “Lho memang Nak Taufan gak tahu, kalau Bu Wita pindah kemana?” “Nggak tahu Bu, memang pindah kemana Bu?”… “Waduh, saya juga gak tahu. Pindahnya mendadak dan tidak memberitahu pindah kemana” “Ehh bentar, kemaren ada titipan surat buat Nak Topan” “Kemaren saya juga bingung, gimana mau menyampaikan surat ini”.. "Untung Nak Topan cepat datang"... Bu Darmo pun masuk ke dalam. Amplop putih tertulis : Dear Taufan pun aku buka, dan aku baca isinya; Buat Taufan yang baik, Mohon maaf saya tidak sempat pamitan , karena semua serba mendadak. Saya mengambil keputusan untuk pergi dari sekolah ini untuk kebaikan semua pihak. Untuk teman-teman guru, murid saya dan juga kamu murid kesayangan Ibu. Saya akan menyepi untuk beberapa waktu dan akan mengabari kamu, apabila saya sudah merasa tenang dan mendapat tempat mengajar lagi. Mungkin kamu juga tahu, selain kabar-kabur itu, saya juga memutuskan untuk menjauh dari Pram. Tadinya Ibu pikir dengan saya mencoba dekat dengannya akan merubah sifatnya, dan bisa membuat lebih dewasa. Ternyata ybs seperti merasa tergantung sama saya, dia malah seperti terobsesi dan menjadikan saya, selain seperti kekasih, kakak bahkan kadang harus seperti ibu yang mengasuhnya. Kalau ada masalah di rumah, selalu saja datang ke rumah jam berapa pun. Tanpa menghiraukan pandangan orang, tanpa melihat situasi Ibu. Ibu menyerah dan tak sanggup menghadapinya, terlebih dengan kejadian terakhir di depan kelas. Kelakuan Pram sepertinya makin menjadi. Selama lima bulan saya menjalin kedekatan dengan Pram terasa menjadi beban, bahkan kadang menyiksa. Atau mungkin nasib Ibu yang memang kurang beruntung dalam masalah hubungan percintaan ya Pan?... Oh ya kamu masih bertanya-tanya tentang MT ya? Suatu waktu mungkin kamu akan tahu, atau bila tidak pun biar saja tetap jadi teka-teki. Karena sepertinya perasaan Ibu tersebut juga seperti misteri. Benar kata orang, perasaan itu pada saat datang , kita tidak dapat mengusirnya, bahkan tidak pula dapat mengabaikannya. Soal apakah perasaan itu wajar, pantas atau tepat tidaknya itu soal lain. Tetapi begitulah Tuhan menciptakan misteri kehidupan yang namanya Cinta. Ehh kok jadi ngelantur ya. Sementara sekian dulu ya To, salam buat teman-teman terutama Adri, Rusti dan Rani. Kamu dan mereka adalah murid-murid kesayangan ibu yang selalu ada di hati Ibu. Salam sukses dan sejahtera selalu. Roswita. Membaca surat itu, dadaku tiba-tiba terasa sakit dan sesak. Tanpa terasa air mata mengalir. Tiba-tiba ada kehilangan yang besar dan merasa kosong. Aku tidak tahu rasa apa itu. Tiba-tiba ada rasa kangen; ingat candanya, ingat ketawanya dan tatapan matanya yang kadang membuatku kikuk, pada saat diskusi bukunya. Bu Darmo mungkin melihat perubahan wajahku dan bertanya; “Memang kenapa nak, dengan Bu Wita? Bu Wita memberitahu kemana kenapa pindah?” “Tidak Bu, Bu Wita tidak memberi tahu. Bu Wita pamit saja dan salam buat teman-teman” “Oh ya Bu, kalau gitu saya pamit. Terima kasih ya Bu”..aku berpamitan. Aku pun bergegas pulang dengan perasaan campur aduk. Rasa kehilangan, kosong, kangen ..ahh entah apalagi. Kenapa Bu Wita pergi begitu saja tanpa pamitan, tanpa ada sepatah kata pun; tanpa memberitahu kemana dan punya rencana apa. . Ahh Bu Wita kemanakah dirimu?????

Tidak ada komentar:

Posting Komentar