Januari 10, 2024

The Journey XIX

Sejak kasus “Ngamuknya Pram” , aku lama tak bertemu dengannya . Aku juga gak tahu, apakah dia sudah ngobrol dengan ibunya. Tetapi mudah-mudahan Pram sadar, bahwa Pak Hasan lah yang menanyaiku, bukan aku yang mengadu, dan dia memang ber ” masalah”. Apalagi aku disibukkan dengan belajar untuk ujian, sekaligus seleksi masuk PTN. Teman-teman bahkan ada yang sudah mulai dengan bimbingan test sejak awal semester, begitu menginjak ke kelas tiga. Ibu juga menyarankan ke aku untuk ikut salah satu lembaga bimbingan tes, tapi aku merasa sayang untuk mengeluarkan biayanya. Jadi aku bilang ke Ibu, bisa belajar sendiri saja. Menurutku yang penting kan mengenal dan latihan soal. Itu bisa dipelajari sendiri. Untuk itu aku pun berniat pergi ke Jogja untuk mencari berbagai contoh soal masuk PTN. Dan tidak lain, “Shoping” lah tempat yang paling pas untuk cari buku. Itu tempat yang tidak jauh dari Keraton dan terkenal dengan pusat loak buku. Dari buku bografi, contoh soal dan skripsi. Dan aku berpikir; eh siapa tahu aku bisa ketemu Rani, ahhh rinduku jadi bertunas dan tumbuh kembali. Di Shoping Center ternyata ramai sekali. Sepertinya banyak orang luar kota, sepertiku. Mereka semua sibuk memilih-milih buku. Akupun mencoba mendatangi kios buku yang tidak terlalu ramai. Koleksinya cukup lengkap, untuk buku soal pun banyak sekali jenisnya; dari yang tipis sampai yang hampir setebal koper ada. Aku sedang menimbang-nimbang buku mana yang harus aku beli. Aku bingung memilih mana yang lebih bagus dan pas sesuai kebutuhanku. Tentunya pas dengan kantong juga. Sedang asyik-asyik menimbang, terdengar suara perempuan di belakangku; “Sudah ambil yang itu saja Mas” ….aku pun menoleh. “Degggggg…. Bu Wita!!” …..aku pun bengong dan campur kaget, melihat Bu Wita tersenyum, berdiri di belakangku, terlihat lebih gemukan, putih dan cantik. “Apa kabarnya To? Kok bengong begitu.” Bu Wita meledekku. Aku memang masih kaget tiba-tiba bertemu Bu Wita di sini. “Bbaik Bu, ..Bu Wita apa kabar?..aku menjawab tergagap. “Seperti yang kamu lihat, aku baik dan sehat”… "Iya Bu, terlihat lebih gemukan dan cantik" kataku menggoda Bu Wita. "Wah, sekarang dah pintar merayu ya".....canda Bu Wita. Aku pun cuma nyengir aja. “Oh ya Pak, berapa harga buku itu Pak”..tanya Bu Wita pada pemilik kios buku. “Lima belas Ribu Mbak”…. Bu Wita pun membayar buku yang aku pilih itu. “EEhhh kok jadi Ibu yang bayar?”.. “Sudah To, hari ini kau jadi adekku, jadi biarkan Mbak yang bayar” “ Dan kamu bukan siswaku lagi, jadi kamu jangan panggil Ibu. Panggil saja Mbak” tegas Bu Wita. Aku pun Cuma tersenyum saja lihat sikap, gaya bicara Bu Wita yang berubah sama sekali, beda dengan Bu Wita yang saya kenal waktu mengajar di sekolahku. “Eh kamu belum makan kan To, kita cari makan yuk”…ajak Bu Wita. Mau cari makan di mana Bu? “Ehh kok panggil Bu, selama di sini kamu harus panggil Mbak!...Bu Wita membentak, bercanda. “Iiyaa Mbaakkkk Wita”…. “Nah gitu dong..kan enak” “Iyaa Bu, tapi aku masih kagok”….jawabku terus terang. “Ntar juga terbiasa, ayok naik becak aja, kita cari gudeg paling enak di Wijilan” ajak Bu Wita ehh Mbak Wita. Kami pun naik becak menuju Wijilan. Sepanjang jalan Bu Wita , eeh mbak Wita tak berenti cerita. Awalnya tanya kabar teman-teman, tapi malah tak bertanya soal Pram. Selanjutnya bercerita bagaimana dia berjuang dan memulai perjuangan di Jogja. Tentang pekerjaannya sekarang, mengajar di tempat bimbingan belajar dan sesekali menjadi Guide turis asing. Sesampainya di Warung Gudeg Bu Lis kami pun pesen gudeg komplit dan wedang beras kencur. Gudegnya memang “buket” (enak, gurih dan maknyus) walau sedikit terasa manis. Sambil makan Mbak Wita masih terus asyik bercerita. Tampaknya dia sekarang lebih happy, ceria, confident, dan tentu saja tambah cantik. “Rencana mau berapa hari di Jogja?” tanya Bu Wita. “Sore ini saya pulang Bu..ehh mbak” jawabku. “Lho kok cepet, mbok nginep aja. Nanti aku ajak muter-muter menikmati kota Jogja”.. “Nggak Mbak, buku sudah aku dapat dan aku tidak bilang kalau mau nginep”. “Ahhh sudah gede ini, kalau cuma 1, 2 hari mosok dicariin”… “Dah kamu nginep saja, satu dua hari ini. Kamu gak kangen sama Mbakmu ini ?... “Urusan nginep dan makan biar mbak yang urus ,gak usah khawatir”…..Bu Wita terus nyerocos meyakinku. Aku pun terdiam, aku ragu. Kemaren aku tidak bilang mau nginep sama Nenek. Tapi menolak Bu Wita tidak enak juga. “Mikir lagiiii, udahlah To, nanti biar Mbak yang telpon keluarga kamu , kalau kamu nginep di Jogja” Aku pun diam saja, masih bingung. “Udah yok kita ke kost-an ku dulu. Kamu mandi dulu, ganti baju. Habis itu kita cari penginapan”..ujar Bu Wita sambal menarik tanganku. Ahh Bu Wita aku jadi tak bisa menolaknya. Kita pun naik angkotan kota kearah Nggayam, tempat kost Bu Wita. Sampai lah di rumah kost Bu Wita. Tempatnya tenang dan asri. Bu Wita memang pintar memilih tempat. Akupun dikenalkan dengan ibu kost sebagai adiknya. “Bu ini adek saya, mau numpang mandi bentar” “Oh iya, silahkan nak. Keluarga Bu Wita cakep-cakep ya. Sing wedok ayu, sing lanang bagus” Bu Wita Cuma tersenyum, aku pun jadi Ge Er. Sesudah selesai mandi, aku minum teh wangi melati yang dibuatkan Bu Wita. Hmmmmm …sedap dan wanginya menyegarkan….. “To, sebelum ke sore an kita ke daerah Sosrowijayan, di situ banyak losmen atau hotel murah”.. Kamipun bergegas cari bus ke Malioboro. Kamipun turun di halte depan Hotel Garuda. “To, kita jalan-jalan dulu ya”.. ajak Bu Wita. Akupun mengangguk saja. Sore itu Malioboro, untuk jalan pun harus berdesak-desakan. Langkahku pun sering ketinggalan dari Bu Wita yang berjalan cepat, dan mungkin juga karena terbiasa. “Ahhh To, kamu ketinggalan melulu. Sini biar gak ketinggalan”…ujar Bu Wita, dan akupun kaget karena Bu Wita tiba-tiba menggamit lengan dan menggenggam tanganku. Aku memandang heran ke Bu Wita. “Sudah jangan bengong gitu ah. Aku kan kakakmu, jadi gak apa-apa menggandeng tanganmu” ..ujar Bu Wita sambil tersenyum. Akupun diam saja, meskipun sungguh merasa kagok dan canggung. Tapi ada rasa bangga juga digandeng orang cantik..he.he..he... Aku pun ditarik masuk ke toko baju yang rame karena lagi Super Sale alias Obral Besar, tertulis diskon 30% - 70%. Aku ikut saja, Bu Wita langsung menuju counter pakaian pria. Aku pun heran dan bertanya: “Kok ke sini Mbak, mau beli baju buat siapa Mbak?”.. “Ya buat adekku lah”… “Adek Bu Wita, bukannya dulu cerita adek Bu Wita perempuan?.... “Iya To, adeku yang cakep ini”..jawab Bu Wita sambal cubit hidungku, aku pun jadi malu dan rishi karena dilihatin orang. “Ahh gak usah mbak”….aku merasa gak enak juga. Sudah ditraktir makan, disiapin penginapan, dibeliin baju pula" “Kamu kan gak bawa baju ganti kan?.......kamu cari yang cocok 2-3 baju To”… “Satu kaos aja cukup Mbak”…aku menyela. “Udah ..nurut Mbak aja, lagi an mumpung lagi sale”…… Akupun menurut saja dan diam saja. Bu Wita pun memilih-milihkan baju dan kaos untukku. Dia ambil 1 baju kotak- kotak dan 2 kaos warna biru, warna kesukaanku. “Ini Mbak pilihin , gimana To? Ukuran mu M kan Atau mau milih yang lain? . “Gak Mbak, itu bagus. Saya suka”…. “Mau dicoba?” Aku menggeleng, karena saya lihat kamar pas pun ngantri, lagian aku merasa sudah pas. Bu Wita pun ke kasir dan membayar baju itu. “Oke To, sekarang kita cari penginapan ya. Kita jalan kaki saja, deket kok”.. Akupun mengangguk saja. Aku sebenarnya meras tidak nyaman, tapi aku kan sudah meng iya kan untuk menginap di Yogyakarta. Setelah berjalan sekitar 10 menit kami pun sampai di hotel RAPI, hotel melati tapi memang rapi sesuai namanya dan bersih. Bu Wita pun langsung ke receptionist. “Eehh mbak Wita , apa kabar? Ada yang bias dibantu Mbak?..sapa receptionist yang bertugas. Staff yang lain pun terlihat mengangguk menyapa Bu Wita. Rupanya front office hotel tersebut sudah mengenal Bu Wita. “Oh ya Mbak Endang, saya pesen kamar standard buat adikku ini , untuk 2 malam ya” ujar Bu Wita. “Bu…kok 2 hari Bu?...tanyaku berbisik sama Bu Wita. “EEhh.. kok Ibu lagi sih. Udah kamu nurut saja, hari ini kan kita belum sempat jalan-jalan. Besok kita seharian jalan-jalan” terang Bu Wita. Setelah beres urusan di reseption, kami pun di antar oleh petugas menuju kamar . Kamarnya ber nuansa krem dan putih, sehingga terkesan bersih. Bu Wita pun langsung cek ini itu; lemari bajunya, toiletnya, perlengkapan mandinya dll dah kayak emak-emak ehh mbak ku beneran saja. “Cukup nyaman kan To, mudah-mudahan kamu betah dan nyaman. Besok kamu bisa sarapan di bawah deket reseptionis tadi. Kalau ingin yang lain, di sekitar sini banyak yang jualan gudeg, pecel dll”.. “Iya Bu, terima kasih ya Bu” “Lho, ibu lagi. Kamu gak boleh panggil aku ibu lagi. Aku kan bukan ibumu dan bukan guru mu lagi”….ujar Bu Wita. "Iya Mbak" jawabku. Setelah mengobrol beberapa saat, aku pun mulai menguap beberapa kali, mengantuk mungkin karena ke capek an. “Wah, kamu dah ngantuk To, ya sudah Mbak pulang dulu. Besok agak siangan saya ke sini lagi. Jadi jangan lupa mandi pagi dan sarapan, setelah itu kita jalan-jalan”…. Bu Wita pun pamit pulang. Karena sudah ngantuk aku pun segera terlelap tidur. _________________ Jam 6 saya baru terbangun. Ah subuh kesiangan, harus mandi keramas lagi. Mungkin karena terlalu nyenyak atau kemaren banyak makan bergizi, malam ini aku “mimpi’. Aku mimpi "bercumbu" dengan Bu Wita, hmmm mungkin karena tadi banyak melihat dia yang makin cantik dan "berisi." hmmmmmmm Aku pun buru-buru mandi , jam 6.30 aku bergegas sarapan . Selesai sarapan aku buat teh dan aku nikmati sendiri, sambil lihat lalu Lalang orang jalan pagi lewat jendela. Belum habis tehku, terdengan ketokan di pintu. Sepertinya Bu Wita. Benar, Bu Wita dengan jeans ber kaos putih. Bu Wita terlihat segar , dan lebih muda, cantik dan …hhmmm wangiii aroma bunga segar. “ Wah Bu Wita terlihat modis dan cantik” aku tak tahan untuk memuji. “Iya To? Mbak nya siapa duluuuu”…canda Bu Wita sambal tersenyum genit. “Ayo, To kita langsung jalan saja. Kita putar kota saja, Kraton dan Monjali” Aku pun mengangguk saja, karena saya juga tidak terlalu tahu seputaran kota Jogja. Saya hanya tahu Malioboro dan Jalan Solo saja. Seharian kami pun jalan-jalan menikmati kota Yogyakarta. Bu Wita tampak ceria dan ceriwis bercerita sepanjang jalan. Kadang tertawa lepas, aku pun menjadi merasa lebih dekat dan tidak canggung lagi. Aku pun kadang membalas menggoda Bu Wita , dan reaksi Bu Wita spontan, mencubit lenganku. Aku pun meringis dan muka memerah, karena selain sakit, kaget dan jengah juga. Tetapi selanjutnya, lama-lama menjadi biasa saja. Hari itu kami merasa sebagi teman. Jarak sebagai murid dan guru tidak terasa lagi. “To, kamu dengan Rani gimana To?” tanya Bu Wita tiba-tiba. “Gak tahu Mbak, saya malah tidak tahu kabarnya lagi”…. “Lho kok bisa, memang Rani kemana?” “Pindah sekolah Mbak, katanya sih ke Jogja”.. “Alamatnya di mana? Mbak bisa bantu cari”.. “Itulah Mbak, justru aku gak tahu…” “Oooh gitu”.. “Waduh Sorry ya To, kamu jadi sedih gitu”.. “Ya udah kita cerita yang lain saja, jangan sedih gitu dong” ..hibur Bu Wita sambil mengusap-usap kepalaku. Aku pun Cuma menggeleng. “Kalau mbak Wita gimana? Sudah ada pacar di Jogja?”.. “Belum To. Mungkin seperti yang pernah Mbak bilang, saya kurang beruntung dalam hal asmara” keluh Bu Wita sambal menghela nafas. “Nggak lah Mbak. Mbak cantik, pintar dan care, cuma mungkin belum ketemu saja Mbak” aku mencoba menghiburnya. “Iya To. Aamiin”… “Aku gak muluk-muluk kok, kalau ada orang yang kayak kamu, yang se umuran atau lebih tua dari Mbak ,,cukuup”…ujar Bu Wita sambil memandangku. Aku tidak tahu becanda atau serius, makanya aku Cuma diam saja. “ Kok mukanya mendadak serius gitu To? Udah kita jangan ngomongin itu lagi. Sekarang kita cari makan”.. Dalam dua hari di Jogja aku benar-benar jadi adiknya Bu Wita yang dimanja. Kalau mau makan, di tanya mau makan apa. Kalau lihat baju atau souvenir ditanya mau beli atau tidak. Waktu sangat terasa cepat, kami melalui dengan makan, jalan dan bercanda. Dua hari terasa sekejap. Siang itu aku pun pamit pulang. Bu Wita mengantarku ke stasiun Tugu. Biasanya aku naik bus, karena bisa turun depan rumah, tetapi ternyata Bu Wita sudah pesan tiket kereta buatku. Aahh Bu Wita memang orangnya cantik dan baik. Mudah-mudahan mendapat pasangan yang baik pula, bukan seperti Pram , bukan pula pak Hasan yang “kaku” itu. Kalau se-umuran atau lebih muda dari aku,mungkin bisa jadi pacarku.. Ahhh lamunanku mulai ngaco…..kereta pun berjalan, dan wajah cantik Bu Wita lama-lama menjauh dan hilang dari pandangan. Terima kasih Bu Wita, Terima kasih Yogyakarta. Ctt penulis : ‘Shoping : lokasi para penjual buku bekas di Jogja, kalau di Jakarta seperti di pasar Senen atau Kramat deket pertokoan Gunung Agung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar