Dalam kehidupan panjang, yang sekejap. Dalam riuhnya hidup, yang sepi. Dalam gemerlapnya cinta, yang redup. Ada cerita yang terangkai, Ada puisi yang terurai. Biru langit, biru kehidupan. Birunya hidup, birunya cinta. Aku tenggelam dalam biru yang mengharu biru. Biru nya hidup, biru nya puisiku.
Januari 04, 2024
THE JOURNEY XVI
Sudah beberapa bulan tak ada kabar lagi dari Bu Wita. Kabar dan gossip tentang Bu Wita di mana, kenapa dan cerita hubungannya dengan Pram pun mereda, dan senyap begitu saja.
Orang kadang masih membicarakan Pram, tetapi mengenai perilakunya yang makin aneh. Pram seperti "topo bisu". Jarang sekali bersuara. Mukanya selalu tegang, bahkan gelap. Tanpa senyum tanpa keramahan sama sekali. Mukanya sudah seprti robot. Sepanjang yang terlihat muka seperti marah dan menyimpan dendam. Entah sama siapa…
Rusti, Adri , Rani punya cerita sama tentang Pram. Haris bilang Pram kelakuan sekarang “kayak wong gemblung” (seperti orang gila).
Awalnya aku teman-teman cuek saja, karena itu urusan Pram sendiri. Tetapi kita mnjadi was-was ketika tahu Pram sekarang keman-mana bawa pisau belati. Aku pun berusaha menghindar dari Pram.
Seperti siang itu sepulang sekolah aku berpapasan dengan Pram.
Meskipun agak males, mau tak mau aku tegur Pram…
“”Pram, ..gimana kabar?” aku berbasa-basi.
“Jelek!!....tanya kabar kayak orang baru ketemu aja”…jawab Pram ketus.
“Ya namanya juga teman, ya tanya kabar lah, mosok tanya ramalan”..aku berusaha menanggapi dengan canda.
Kali aja kamu bisa ngramal Pan. Bisa ramal gak, nih pisau akan masuk ke perut siapa?...Pram masih tetap ketus.
Deg Plaasss..gila Pram malah keluarin pisau, aku pun jadi terkejut dan merasa ketakutan.
“Hehh Pram ,eehh ngapain bawa-bawa pisau?..aku masih terkejut..
“Buat nusuk orang yang bikin aku susah!!.....Jawab Pram dengan ketus.
Darpiada repot dan bikin urusan panjang, aku menghindar secepatnya, aku pun berpisah jalan dengan Pram. Benar teman-teman bilang, Pram makin ngacau dan gila.
Mungkin Pram bingung , kacau frustasi karena tidak tahu Bu Wita kemana dan tidak tahu kabarnya.
Aku pun menjadi kepikiran, siapa yang dimaksud Pram menyusahkan hidupnya. Pram akan menusuknya. Jangan-jangan aku termasuk orang yang dimaksudkan Pram? Hmmmm serem juga.
Ahh…..aku jadi was-was juga. Setiap bertemu Pram aku menjadi tidak tenang. Mau ngobrol in hal ini ke Adri atau Rani jangan-jangan malah di ketawain atau dianggap ber;ebihan.
Akupun memndam rasa was-was ini sendiri. Aku jadi tidak tenang. Ketika masuik sekolah ataupun pulang sekolah aku selalu toleh kiri kanan, waspada.
Setiap melihat Pram malah semakin deg-deg an.
Seperti siang itu, aku melihat Pram melangkah gontai keluar dari kelas. Dan dia melihatku juga.
“Pannnn…. “…aku kaget Pram memanggilku sambal melambai tangan minta aku mendekat.
Ahh ada apa ini.
Akupun berjalan mengarah ke Pram.
“Pan, ada yang mau aku tanyain”..
“Ya mau tanya tentang apa Pram?”..
“Kita ke kantin aja , kita ngobrol di sana aja jam segini bisanya sepi”
Aku pun mengangguk meng iya kan dan mengikuti langkah Pram.
Sesampainya di kantin aku pesen es teh manis dengan beberapa potong bakwan goreng.
Kebetulan cuaca sangat panas, segelas es teh cukup melegakan tenggorokan yang kering.
“Pram, kamu mau tanya soal apa?” aku memulai pembicaraan karena kami terdiam lama.
“Kamu tahu Bu Wita di mana Pan? Tanya Pram.
“ Aku gak tahu Pram” jawabku.
“Serius, kamu gak tahu Pan. Kalau kamu tahu harus bilang, jangan bohong”..Pram bertanya dengan suara lebih keras.
“ Serius Pram, sumpah demi Tuhan aku gak tahu Bu Wita di mana”…aku meyakinkan Pram.
Sepertinya Pram percaya. Pram hanya diam, sambil meremas-remas tangannya.
Kemudian dengan suara lemah, dan dengan mata berkaca-kaca iya berucap;
Iya, Pan, aku sudah mencari kemana-mana tapi tidak tahu juga dia dimana"
“Bu Wita gak pernah bilang apa-apa? Misalnya tentang aku?”..Pram mendesak.
“Gak Pram, Bu Wita gak bilang apa-apa tentang kamu”.aku merasa tidak nyaman karena berbohong. Faktanya Bu Wita cerita tentang Pram, dan salah satu alasan kepergian Bu Wita adalah Pram.
Pram lama tertunduk diam, dan kulihat air matanya menetes.
Hmmm, ternyata orang sekeras Pram bisa menangis juga. Tampak lemah dan frustrasi.
Apakah Pram sungguh-sungguh mencintai Bu Wita? atau hanya perasaan ter obsesi, ketergantungan yang akut pada Bu Wita? Hanya Pram dan Tuhan yang tahu.
Sepertinya aku harus cerita dan ngobrol sama Rani tentang kondisi Pram dan keberadaan Bu Wita.
Esok harinya aku pun nyamperin ke kelas Rani. Aku tunggu kelas usai.
Tapi sampai semua siswa keluar semua Rani tak terlihat. Aku tengok kelasnya sudah kosong. Aku pun tanya Sigit, teman sekelasnya.
“Git, Rani gak masuk?...
“Iya To, dari kemaren Rani gak masuk sekolah”..
Wah ada apa ya, setahu saya Rani termasuk siswa paling rajin. Setahu aku, selama ini tidak pernah absen,
bahkan ketika flu batuk pun masih masuk sekolah.
Ahh Rani kenapa ya? Aku pun buru-buru langsung ke rumah Rani.
Sesampainya di rumah Rani, keadaan sangat sepi.
Pintu pun tertutup. Hanya jendela yang terbuka, berarti ada orang.
“Assalamu’alaikum “,..aku mengucap salam.
“Waalaikum salam”…..aahh sepertinya suara Rani.
Benar Rani pun keluar. Dengan celana pendek dan T-shirt putih kostum favoritnya ketika di rumah.
Rani tampak sehat-sehat saja dan wajah tampat charming seperti biasanya. Syukurlah Rani tak sakit.
“Ehh Topan, langsung dari sekolah ya?”…sapa Rani sambil melihat aku masih pakai seragam putih abu-abu.
“Iya Ran, kamu kok gak masuk kenapa?”..
“Iya To, masuk dulu. Nanti aku certain Pan”..
“Ehhmm Bapakmu belum pulang kan?”..jam segini memang ayah Rani belum pulang, tapi aku ingin memastikan saja.
“Belum, To. Memang kenapa, takut? Memang Ayahku makan orang apa?...canda Rani.
Aku pun duduk di ruang tamu. Aku jarang sekali masuk ke ruang tamu, biasanya cuma di teras.
Selang aku duduk beberapa menit Rani masih diam saja.
Sepertinya Rani mau ngomongin hal yang cukup serius. Hmm Rani mau ngomong in apa ya?
Aku pun buka suara.
“Ran, mau cerita apa Ran?”….
“Too,..”…Rani memanggilku. Setelah itu terdiam lagi..
“Ya Ran…” aku harap-harap cemas apa yang Rani akan sampaikan.
“Kita kayaknya harus berjauhan To..” Rani memulai bicara pelan.
“Maksudnya gimana Ran?” aku masih kurang mengerti apa yang dimaksud Rani.
“Ayahku dinasnya pindah ke Yogya. Dan aku diminta pindah sekolah”….lanjut Rani pelan.
“Maksudmu kamu akan sekolah di Yogya?”….tanyaku kaget. Rani cuma mengangguk.
Kami pun terdiam. Aku membayangkan aku akan jauh dengan Rani.
“Hmmm, bukannya waktunya nanggung Ran, kan satu semester lagi kita semua juga kan selesai”…aku masih gak mengerti dengan keputusan ayah Rani.
Apakah ini trik agar aku jauh dengan Rani.
“Apa Ayahmu memutuskan ini agar kita berjauhan Ran?”..tanyaku.
“Sepertinya bukan To, karena selama ini tidak pernah menyinggung soal kita. Tetapi katanya agar aku segera bisa menyesuaikan dengan kota di mana aku kuliah. Ayah memang ingin aku bisa kuliah di perguruan tinggi terbaik di Yogya”…jelas Rani.
“Terus kita gimana Ran?...tanyaku bingung.
“Ya masih seperti biasanya lah To. Kita kan masih bisa saling kirim surat To”….
“Ya ambil hikmahnya saja, kita kan perlu konsentrasi belajar untuk ujian”
“Lagian kalau kamu kangen, kamu bisa kirim in aku puisi.”…Rani mencoba becanda.
Aku diam saja tak menanggapi candaan Rani.
Ahh kenapa mendadak begini. Orang-orang dekat pergi ke luar kota meninggalkanku.
Kemaren belum lama Bu Wita, sekarang Rani.
Langit sore pun terlihat gelap, mendung tebal.
Segelap dan se kelabu perasaanku. Tiba-tiba aku merasa sangat sepi. Merasa
sendiri . Dan aku pun pamit pulang dengan langkah gontai dan perasaan galau.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar