Januari 05, 2024

THE JOURNEY XVII

Sudah 2 bulan Rani pindah ke Jogya. Tak ada kabar sama sekali dari Rani. Rani seperti menghilang begitu saja. Sementara Aku juga tak tahu bagaimana harus menghubungi Rani. Saya tanya Rusti jugag tidak tahu. Rusti hanya memberikan alamat saudara Rani, tapi aku kirim surat ke alamat tersebut, pun tidak terbalas. Kangenku pada Rani sudah menumpuk dan membebaniku. Aku pun corat-coret sebuah puisi: Aku merasa sangat sepi dan sendiri; Aku di sini makin terpaku dalam bisu dan sepi, Aku nikmati sendiri, Ceritaku,mimpiku dan diamku. Hanya tanganku berteriak lantang, Mencari wajahmu. Yang tergambar di kaca buram, Aku makin tenggelam dalam sepi yang dalam. Siang itu panas sekali, aku pun tidur dan di balai-balai belakang rumah.Di situ agak dingin karena masih banyak pohon. Dari pohon mangga, pace, papaya samapi pisang, pokoknya lengkap. Nenek selalu menjaga pohon-pohon itu. Kalau ada yang di tebang, pasti besoknya nenek minta aku menanam pohon baru sebagai pengganti. Sedang asyik melamun, tiba-tiba ada suara salam, dari pintu depan. “Assalamu’alaikum”…. “Walaikumsalam” aku menyahut sambal berjalan ke depan. Lho, Ibunya Pram,… ada apa ya.. “Ehhh Ibu, tumben Bu. Ada apa nih mampir ke rumah Taufan?”.. “Iya Nak Taufan, apa kabar? Nak Taufan kok gak pernaih main ke rumah”. “Iya Bu, kita lagi sibuk belajar menghadapi EBTANAS”…sahutku. “Silahkan masuk Bu”..akupun mempersilahkan ibunya Pram masuk dan duduk di ruang tamu. Setelah duduk dan memberikan air putih. Ibu Pram terdiam, wajahnya terlihat kusut dan banyak beban. Aku pun bertanya; “ Bagaimana Bu, ada yang bisa saya bantu?”… “Gini Nak Taufan, apa Nak Taufan tahu bagaimana Pram sekarang?.. “ Maksud ibu gimana ya? Saya kebetulan jarang ketemu juga Bu”…. “Nak Taufan tahu kalau Pram pernah dekat dengan Ibu Gurunya?” “Iya , saya tahu Bu, kenapa Bu?”.. “Dari awal saya agak kurang sreg dengan kedekatan mereka, karena kurang elok dan pasti menganggu belajar Pram. Ketika Ibu mengingatkan hal itu ke Pram, Pram beralasan justru akan menjadi penyemangat untuk belajar”…Ibu Pram menjelaskan. Saya pun mendengarkan saja. “Awalnya benar, Pram benar terlihat mau belajar dan baca buku" “Tetapi sesudah itu malah berantakan. Apalagi sekarang setelah Ibu gurunya pindah, Pram seperti tidak peduli dengan sekolahnya”. “Kalau malam lebih sering nongkrong sama anak kampung, pulangnya pagi. Dia jadi sering bolos sekolah. Kadang malah pulangnya mabuk”..Ibu Pram bekeluh kesah. Aku masih diam mendengarkan keluh kesah ibunya Pram. Melihat wajah tua nya yang murung , kasihan juga. “Terus bagaimana Bu?”..aku mencoba menanggapinya. “Saya minta tolong Nak Taufan, selama ini Pram kan cukup dekat dengan Nak Taufan" Dalam hatiku membathin, ah gak terlalu dekat juga. Sifat egois dan temperamental Pram yang membuat saya tidak terlalu nyaman untuk bersahabat dengan Pram. “Minta tolong gimana Bu, saya bisa bantu apa?...aku kurang faham. “Tolong bilangin Pram agar lebih serius sekolahnya. Ajak Pram untuk belajar”.. “Saya ingin Pram bisa sekolah tinggi. Jangan mengulang kesalahan abangnya yang cuma tamat SMA dan kawin muda”…. “Wah sepertinya itu susah Bu, saya ragu Pram mana mau denger omongan saya Bu”.. “Kebetulan sejak dekat sama Bu Wita, kami juga jarang sekali ketemu” aku menjelaskan. “Terus bagaimana dong Nak Taufan. Pram tidak bisa dibiarkan begitu”. Aku terdiam, ibunya Pram pun diam. Kami tidak tahu mesti harus bagaimana. “Ibu mungkin harus bicara sama guru BP”..aku mencoba memberi alternative. “Guru BP? Itu mengajar apa Nak, wali kelas?”. Ibu Pram sepertinya tak mengerti istilah itu. Pada jaman ibunya Pram sekolah mungkin belum ada. “Itu guru Bimbingan dan Penyuluhan, guru yang khusus membantu siswa kalau ada masalah. Tempat siswa berkonsultasi Bu” aku mencoba memberi penjelasan. “Apa Ibu bisa menceritakan masalah Pram juga pada guru itu?Bukannya hanya murid yang bisa konsultasi?…ibunya Pram masih terlihat bingung. “Tidak juga Bu, kalau ada siswa bermasalah kadang guru BP panggil orangtuanya, dan sebaliknya orang tua juga bisa datang kepada guru BP Bu” ..jelasku. “Wah, saya gak paham nak, gimana kalau saya minta tolong Nak Taufan yang bicara sama guru BP?”… “Wah gimana ya Bu? Saya bisa saja sampaikan ke guru BP, tapi saya takutnya Pram malah tersinggung. Karena saya ikut campur urusan Pram”..saya mencoba memberi pengertian ke Bu Pram. “Saya yang tanggungjawab Nak, kalau Pram sampai marah. Bilangin saya yang minta” Ibu Pram tetap keukeuh. Aku pun terdiam, karena saya tahu Pram pasti tidak akan suka kalau aku ikut campur urusannya. “Tolong ya Nak”…ibunya Pram seperti memohon, aku pun tidak tega. “Baiklah Bu, nanti saya pertimbangkan dan cari cara gimana yang terbaik Bu”.. “Terima kasih sebelumnya ya Nak”. Mudah-mudahan Pram bisa berubah”.. Aku pun mengangguk , ya mudah-mudahan Pram bisa berubah.Meskipun saya tahu itu hal yang sulit. Ibunya Pram tampak sedikit lega, dan beliau pun pamit pulang. Pada waktu pulang, Ibu Pram menggenggam tanganku erat: "Tolong Pram ya Nak"...tanmpak matanya berkaca-kaca. Ah sungguh kasihan ibu Pram yang sudah tua ini masih harus banyak memikirkan Pram. Tinggal aku yang bingung, bagaimana saya harus bicara dengan Pak Hasan, guru BP. Tapi aku kasihan juga dengan ibunya Pram. Beliau sangat berharap banyak sama Pram. Mungkin karena terlalu berharap pada Pram, ibunya Pram menjadi “overprotective dan berlebihan”, cenderung memanjakan Pram. Saya tidak tahu apakah karena kakaknya yang putus sekolah dan kawin muda, atau hal lain. Tetapi ibunya Pram terlihat pilih kasih dan cenderung memberikan apapun yang diminta Pram. Apalagi kalau sudah dengan alasan keperluan sekolah. Aku sering ibunya marah dan berucap kasar pada kakaknya, tetapi Aku belum pernah melihat ibunya marah sama Pram. Mungkin itu yang membuat Pram menjadi tidak dewasa dan cenderung semaunya. Dan Aku mengerti ibunya sangat sedih dengan keadaan Pram sekarang yang seperti tidak peduli pada masa depannya sendiri. Atau aku harus cerita juga tentang sikap ibunya Pram yang terlalu memanjakan Pram pada Pak Hasan? Ahhh bukannya nanti malah tambah rumit dan membuat aku terlibat terlalu jauh? Tetapi sepertinya aku harus menolong Ibunya Pram, Ibu Pram sikapnya sangan baik padaku, meskipun mungkin akan menimbulkan kesalahpahaman Pram padaku.Biarlah, prioritasku menolong ibunya Pram.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar