Dalam kehidupan panjang, yang sekejap. Dalam riuhnya hidup, yang sepi. Dalam gemerlapnya cinta, yang redup. Ada cerita yang terangkai, Ada puisi yang terurai. Biru langit, biru kehidupan. Birunya hidup, birunya cinta. Aku tenggelam dalam biru yang mengharu biru. Biru nya hidup, biru nya puisiku.
Januari 09, 2024
The Journey XVIII
Sudah seminggu sejak ibunya Pram berkunjung,aku belum memenuhi janji untuk bertemu Pak Hasan untuk menyampaikan masalah Pram. Aku masih bingung harus mulai dari mana.
Mungkin Pak Hasan juga akan menanyakan; kalau Pram ada masalah kenapa bukan keluarganya datang.
Kalau aku menyampaikan tentang hubungannya dengan Bu Wita, mungkin Pak Hasan malah lebih “confused”
lagi, apa hubungannya dengan mereka? Bahkan menurut informasi beberapa teman, Pak Hasan sebenarnya menaruh hati dengan Bu Wita. Jadi Pak Hasan bisa salah paham.
Pak Hasan berumur hampir kepala empat, tapi masih melajang.
Sebenarnya aku sudah 2 kali datang ke ruang Pak Hasan, tetapi begitu di depan pintunya, aku ragu dan tak jadi.
Kali ini harus aku samp aikan, mungkin tentang keluhan orang tua Pram tentang masalah belajar dan disiplin Pram saja.
Cerita tentang hubungannya dengan Bu Wita, ke sekolah suka bawa pisau, biar orang lain yang cerita atau nanti pihak sekolah menemukan fakta sendiri.
Tapi sampai depan ruang Pak Hasan, aku ragu. Ahhh bagaimana aku ceritanya ya.
Kalau masalah belajar Pram, kenapa aku yang harus sampaikan ke Pak Hasan…
“Eehh To, ada apa To?” suara Pak Hasan mengagetkanku.
“Eehhmmm..gak Pak, gak ada apa-apa”..aku beranjak meninggalkan depan ruang Pak Hasan.
“Ehh,..masuk saja To. Bapak ada yang mau bicarakan sama kamu”..
“Masalah apa ya Pak”..aku tidak mengerti dan jadi deg-degan.
“Masuk dulu, nanti kita ngobrol di dalam”….Pak Hasan mempersilahkan masuk, lihat dari roman mukanya sih sepertinya tidak ada yang terlalu serius.
“Bbaaik Pak”…aku pun masuk ke ruang Pak Hasan, dan dipersilahkan duduk di sofa.
Ruang Pak Hasan memang terbilang nyaman dan lumayan mewah dibanding ruang guru lain.
Mungkin agar yang datang konsultasi merasa nyaman dan rileks.
Setelah duduk Pak Hasan pun memberiku se botol air mineral. Wah tumben nih, ada apa ya.
“To, kamu cukup deket sam Pram kan?”..
Aku pun kaget, kenapa Pak Hasan menanyakan Pram, apa ibu Pram sudah datang ya?….
“Ya gak terlalu deket juga sih pak, memang kenapa pak?” aku bertanya hati-hati.
“Dengan Bu Wita kamu dekat juga kan?”..
“Hmmm ya bisa dibilang cukup dekat pak, tapi ada apa ya pak?” aku tambah bingung. Aku gak mugkin bilang gak deket, karena semua orang di sekolah tahu, aku cukup dekat dengan Bu Wita.
“ Kamu tahu sebabnya Bu Wita keluar dari sekolah kita?”..
“Wah gak tahu Pak” aku jawab asal saja untuk menghindari pertanyaan lebih banyak.
“Ah, masa sih kamu gak tahu To?” Pak Hasan tidak menyerah begitu saja. Aku menggeleng.
Benar Pak, saya sungguh tidak tahu"
“Menurut kamu kenapa To?”
“Bapak tanya pendapatmu saja, bukan tanya tahu apa nggak”..Pak Hasan mendesak.
“Hmmmm..mungkin sudah gak nyaman pak”..aku jawab apa yang ada melintas di kepalaku.
“Gak nyaman? Memang kenapa?” Pak Hasan masih terus mengejar.
“Ya pak, gak nyaman karena banyak issue yang beredar tentang Bu Wita”
“Lho itu kan issue sudah lama To. Dan sejauh ini Bu Wita sepertinya bisa menghadapi dan tidak terlalu peduli”..Pak Hasan membantah alasanku, atau tepatnya memancing lebih dalam.
“Wah itu saya gak tahu Pak”..aku tetap menghindar untuk bicara lebih jauh.
“Apa bukan karena Pram?”..Degggg..wah Pak Hasan mulai to the point.
"Karena Pram?" maksudnya bagaimana Pak.
“Ya salah satunya Bu Wita mungkin ingin menghindar dari Pram" jelas Pak Hasan.
"Maksudnya Bu Wita ingin putus degan Pram" tanyaku.
“Putus, memang menurut kamu Bu Wita pacaran sama Pram?”..tukas Pak Hasan, mukanya memperlihatkan ketidaksukaannya.
“Ya ..kata teman-teman sih begitu Pak”..
“Gak To, Bu Wita cerita sendiri sama saya, Bu Wita tidak pacaran. Pram saja yang ke GR an”…Pak Hasan tampak kesal.
“Jadi menurut Bapak , karena apa?”…aku mencoba tanya, ingin tahu Pak Hasan tahu se jauh mana,=.
“Ahh kamuu To, saya cari info dari kamu, kok kamu malah nanya balik ke saya”…
Kamu pun terdiam, dengan jalan pikiran kami masing-masing. Yang pasti kami ingin tahu alasan Bu Wita mengundurkan diri.
“Ehh To, beberapa bulan lalu sebelum Bu Wita pergi, katanya Pram peluk bu Wita di depan anak-anak?”…Pak Hasan menyelidik.
“Saya tidak melihat Pak, tapi kata teman-teman begitu. Dan saya lihat bu Wita terlihat sangat marah”
“Lho katanya kamu tidak melihat”..tukas Pak Hasan.
“Iya pak, saya keluar kelas setelah kejadian, dan melihat Bu Wita tampak marah dan menangis. Mungkin merasa malu dan merasa di kurang ajari Pram"
“Ahh anak itu..memang brengsek” Pak Hasan setengah bergumam.
“Jadi peristiwa itu benar terjadi ya To?”..
“Sepertinya begitu pak, teman-teman yang bilang waktu itu”…
“Terus yang lihat langsung siapa?”
“Kayaknya Haris lihat langsung pak”..
“Ahh kemaren saya tanya Haris katanya tidak tahu apa-apa”..keluh Pak Hasan.
Ah Haris berbohong, mungkin Haris tidak mau ribet dan jadi terbawa-bawa persoalan.
Kami pun terdiam lagi, dengan pikiran masing-masing.
Akupun mengira-ngira, apa ya yang akan dilakukan Pak Hasan? bertanya langsung ke Pram? Apa dia tahu keberadaan Bu Wita? Apa dia ada komunikasi dengan Bu Wita? Aku bertanya-tanya dalam hati.
“Kamu tahu gak kabar Bu Wita To?” tanya Pak Hasan.
“Saya gak tahu Pak. Saya tanya Ibu Kostnya juga tidak ada informasi apa-apa”.
“Hmmmmmm..siapa yang tahu ya?....Pak Hasan seperti bicara dengan diri sendiri.
"Pak Hasan tidak tahu keberadaan Bu Wita?" tanyaku ingin menegaskan.
"Nggak To" jawab Pak Hasan sambil menggeleng.
“Mungkin teman guru ada yang tahu Pak”
“Nggak To, saya sudah tanya ke semua guru, teman-temannya, mereka tidak ada yang tahu”..
“Begitu ya pak?. Saya juga tidak dengar kabar apapun Pak”….
“Iya To, Bu Wita tidak bicara apa-apa pun sebelum pergi”..keluh Pak Hasan.
“Oke lah To. Terima kasih waktunya”...
“Sama-sama Pak”...
Akupun keluar ruang Pak Hasan dengan sedikit lega. Cuma ada yang masih mengganjal,
Aku belum sempat menyampaikan keluhan Ibu Pram...Ahh biar nanti saja.
____
Sudah minggu ke dua aku belum siap juga menyampaikan keluhan ibunya Pram.
Sejujurnya aku malas berurusan dengan Pram. Bisa dipastikan kalau dia tahu, pasti akan salah paham dan marah. Belum lagi persoalan Bu Wita yang ditanyakan Pak Hasan.
Tapi aku kasihan juga dengan ibunya Pram. Beliau sangat berharap banyak sama Pram.Tapi juga juga ada kesalahan ibunya Pram, yang “overprotective" dan memanjakan Pram.
Saya tidak tahu apakah karena kakaknya yang putus sekolah dan kawin muda, atau hal lain. Tetapi ibunya Pram terlihat pilih kasih dan cenderung menganakemaskan Pram.
Saya sering ibunya marah dan berucap kasar pada kakaknya, tetapi saya belum pernah melihat ibunya marah sama Pram. Mungkin itu yang membuat Pram menjadi tidak dewasa dan cenderung semaunya.
Dan saya mengerti ibunya sangat sedih dengan keadaan Pram sekarang yang sperti tidak peduli pada masa depannya sendiri.
Atau aku harus cerita juga tentang sikap ibunya Pram yang terlalu memanjakan Pram pada Pak Hasan? Ahhh bukannya nanti malah tambah rumit dan membuat aku terlibat terlalu jauh? Ahhh entahlah……
Aahh kapan ya? Atau aku berterus terang saja ke ibunya Pram, aku tidak bisa menolongnya. Atau dengan sedikit berbohong, kalau Pak Hasan meminta beliau datang sendiri.. HHmmm bagimana ya………………………..
“Hai, bangsaaat” ..suara teriakan mengagetkanku.
Aku pun menoleh ke arah suara itu, ternyata Pram dengan muka marah. Wah kenapa lagi.
“Hai Loe ke sini”…Pram sepertinya menunjuk ke arahku.
“Kamu panggil aku?” aku sedikit beteriak ke Pram.
“iyaaaa…….kamu To!!”…
“Ya tadi kan kamu panggil bangsat, bukan nama” aku menjawab sambal mendekat ke arah Pram.
“Kamuuu tuh ya” teriak Pram, tanpa ba bi bu tiba dia mencengkram krah leherku.
“Prraaamm,, apa app...apaan sih”…aku kesulitan
bersuara, antara kaget dan takuut.
“Ngapain kamu lapor ke Pak Hasan?”..
“Aku tidak lapoor Praam”..tangan Pram masih di krah leherku..
Aku pun makin sesak napas.
“Kalau gitu siapa yang ngasih tahu, kamu kan…”
“Praam, lepas dulu tanganmu, baru aku jelasin”..
“Nggak, kamu harus bilang dulu, bagaimana Pak Hasan tahu tentang kejadian beberapa bulan lalu”..Tangan Pram masih pegang krahku, meskipun tidak se ketat tadi.
“Tentang itu, aku gak bilang apa-apa. Mungkin saja ibu mu sudah menghadap Pak Hasan”..
“Ibu ku,..apa urusannya dengan Ibuku ?” tanya Pram kaget, dan dia pun melepaskan cengkramannya.
“Iya, beberapa hari yang lalu, ibumu ke rumahku . Minta tolong menyampaikan masalahmu ke Pak Hasan.”..
"Masalah apa?"
"Ya intinya, Ibumu cerita kalau kamu sekarang tidak fokus belajar"
“Lalu kamu bilang apa?”….Pram masih mencurigaiku.
" Ya aku bilang, aku tidak tahu masalahnya dan menyarankan untuk konsultasi dengan Pak Hasan" aku sedikit berbohong. karena aku bilang apa adanya, pasti makin marah padaku.
"Terus kamu melapor ke Pak Hasan?"
“Tidak, aku tidak melaporkan apa-apa”….jawabku.
“Kok ada yang bilang kalau kamu beberapa hari lalu melihatmu di ruang Pak Hasan?”..
“Iya , beberapa hari lalu. Saya dipanggil, tanya tentang kamu dan Bu Wita, tapi saya bilang gak tahu”….
Kami pun terdiam, aku yakin Pram tidak mengira kalau ibunya ke rumahku dan menceritakan masalah Pram. Kalau ibunya Pram tidak ke rumah, aku pasti tidak mau terbawa-bawa urusan Pram. Aku jadi merasa kesal.
“Kalau begitu sampaikan ke ibumu sekalian Pram, aku tidak bisa menolongnya”…keluhku kesal, sambil meninggalkan Pram yang masih bingung.
Aku berharap setelah Pram tahu bahwa ibunya minta tolong ke aku, mudah-mudahan Pram menyadari kesalahannya, dan bisa memperbaiki diri, tanpa harus melibatkan guru BP.
Biar urusan tidak tambah panjang, dan aku pun jadi ikut pusing…
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar