Dalam kehidupan panjang, yang sekejap. Dalam riuhnya hidup, yang sepi. Dalam gemerlapnya cinta, yang redup. Ada cerita yang terangkai, Ada puisi yang terurai. Biru langit, biru kehidupan. Birunya hidup, birunya cinta. Aku tenggelam dalam biru yang mengharu biru. Biru nya hidup, biru nya puisiku.
Januari 26, 2024
The Journey XX
Ujian akhir semakin dekat. Aku harus makin rajin belajar. Kalau lulus mungkin tidak terlalu khawatir, karena nilai raportku tidak pernah keluar dari lima bersar di kelas. Yang harus ekstra belajar adalah memastikan diterima di peguruan tinggi negeri.
Untungnya buku latihan soal masukl PT sudah lengkap dan edisi terbaik juga. Bu Wita memang the best. Aku pun jadi semangat untuik belajar.
Belakangan aku jarang keluar rumah. Kalaupun istirahat dari belajar, aku punya kegiatan yang menyenangkan; bantu Nenek berkebun di belakang rumah.
Kalau mau tanaman baru Nenek selalu memanggilku, katanya tanganku dingin; apapun yang ditanam bisa tumbuh subur. Saya gak tahu itu trik Nenek untuk memotivasiku atau memang “percaya” sama tanganku. Tetapi semua tanaman Nenek memang tumbuh subur dan berbuah ranum. Di kebun belakang ada buah papaya, sirsak, sawo sampai buah pace.
Sore itu aku lagi asyik menyiangi tanaman ubi jalar, tiba -tiba ada yang menepuk dari belakang;
“Heei, asyik banget nih pak tani”..
“Ehh kamu Pram, tumben ada apa nih?”
Aku sedikit heran karena Pram tampak ceria dan sikapnya bersahabat. Mungkin dia sudah menyadari kekeliruannnya.
“Ya main aja…”
“Eehh kamu punya buku-buku soal kan To?...tanya Pram.
“Ada, kemaren aku beli di Yogya, memang kamu gak ikut Bimbngan Test?..tanyaku.
“Ikut sih, tapi kayaknya masih kurang mantap”..
“Iya, kamu masuk aja dulu. Aku selesain dulu kerjaan ini dan sekalian mandi.
Buku ada di meja kamarku” tukasku.
Selesai menyiangi kebun, akupun mandi.
Pram kenapa tidak ada suaranya, ..oh mungkin lagi asyik baca-baca atau belajar soal-soal.
Aku pun masuk kamar. Aku lihat lagi termenung, buku-buku ada tegeletak dimeja.
Sepertinya Pram tidak menyadari ketika aku masuk kamar. Baru setelah aku tegur;
“Gimana Pram, sudah baca soal-soalnya?.
Pram pun menoleh, tapi dengan mata merah, nyalang penuh kemarahan.
Akupun tercekat ada apa ini?..aku pun terdiam , heran.
“kamu tuh bajingan ya!!!.....Pram tiba-tiba mengumpat.
“Eehhh ini ada apa Pram?..
“Kamu lihat ini? ..tukas Pram sambal menyerahkan selembar kartu.
Kamu ketemu Bu Wita di jogja kan? Knp diam-diam?...Maksud Lu apa ha?...Pram terus nyerocos.
Aku pun pungut kertas biru yang dilempar Pram. Aku pun bingung kenapa selembar kertas itu membuat Pram marah. Aku memang baru lihat.
Rupanya kartu dr Bu Wita;
Adekku Taufan
Selamat belajar ya, semoga sukses.
Jangan lupa pesan Kakakmu ini, jangan pernah kehilangan semangat dan berdoa selalu.
GBU,
Rooswita.
Pram pasti sangat marah. Pram pasti cemburu berat. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana dadanya berkecamuk dendam.
“Le, kalian itu kenapa tho. Kok bisa rebut begitu?”..suara Nenek mengagetkanku.
“Salah paham aja Mbah, mudah-mudahan nanti bisa baik lagi”..jawabku.
“Bukan rebut karena “wedok an” tho? Tanya Nenek.
“Bbu..bukan Mbah? Jawabku agak gugup.
“Wong lanang jangan rebut Cuma karena urusan wedokan, “ora ilok”..Nenek menasehatiku.
Aku pun Cuma mengangguk, sambal berpikir bagaimana caranya aku bisa meredam kemarahan
Pram.
Har-hari selanjutnya sungguh tak nyaman setiap datang ke sekolah, apalagi ketika berpapasan
dengan Pram. Setiap ketemu tatap mata Pram selalu menyiratkan kemarahan, seolah mau
memakan mangsa.
Semakin lama, kemarahan Pram bukannya makin surut, tetapi makin menjadi; seperti pagi itu,
aku temukan kertas ukuran folio bertulis:
TEMPAT DUDUK PENGHIANATT!!!!!...
aku hapal dengan tulisan Pram yang kayak cakar ayam itu.
Dengan begini maka niat ku untuk meminta maaf aku batalkan. Dari awalpun aku enggan, karena akau merasa tak bersalah. Urusan putus dan berjaraknya dia dengan Bu Roswita tidak ada hubungannya denganku.
Menyikapi itu, aku berusaha tenang dan cuek saja. Saya masih berharap Pram masih menghargai pertemanan, bahkan relative dekat, termasuk dengan keluarga masing-masing.
Tetapi Pram tampaknya semakin gencar bikin terror. Setelah ditemukan kalimat makian pertama, esoknya aku temukan tulisan:
BAJINGAN, KELAKUANMU TAK SEPOLOS TAMPANGMU…
Dalam seminggu tiap hari saya mendapat kiriman “surat cinta” dari Pram.
Ada yang agak Panjang, bunyinya seperti ini;
Mestinya sebagai teman harus jujur. Katanya kemaren Elo gak ngerti dan gak ada kabar tentang Wita, ternyata malah janjian di Jogja..Bangsaaatttt. Kalau Elo suka sama Roswita ya terus terang aja . Kenapa main belakang…...Anj….(sensor).
Sebenarnya ada keinginan juga untuk mengklarifikasi dan menjelaskan semuanya pada Pram, tetapi aku gak yakin Pram bisa menerima penjelasan ku.
Jadi sementara akau biarkan menerima banyak lembaran yang berisi segala makian dan umpatan Pram.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar