Februari 19, 2024

The Journey XXI

Pada minggu berikutnya kiriman lembaran terror Pram mereda. Mungkin Pram bosan karena tidak aku tanggapi, ketika ketemu pun aku tidak berkata apapaun, seperti orang yang tidak kenal, meskipun dalam hati suka was-was dan jantung dag dig dug. Mudah-mudahan dengan kesibukan bimbungan test, persiapan ujian akhir Pram bisa melupakan sakit hati dan cemburu butanya. Sore itu habis mandi, terasa segaaar. Sesegar udara sore ini yang cukup sejuk. Tiba-tiba terdengar suara Nenek berteriak-teriak: “Toooo…!!! Topan kamu cepetan ke siniiiiiiiiii!!....... Aku tergopoh-gopoh , aku masih pakai handuk saja. Mencari arah suara Nenek. Rupanya Nenek ada di pekarangan samping rumah. Aku lihat wajahnya pucat. “Ada apa Nek?.... “Kamu lihat To” Nenek sambal menunjuk ke arah pohon mlanding (petai cina) yang belum tidak terlalu tinggi. “Astagfirullah”.. aku kaget bukan kepalang. Disitu “Si Bundel” kucing kesayangan Nenek tergantung mati. Aku tidak bisa bayangkan kesedihan dan rasa masygul Nenek, aku lihat mata Nenek berlinang. Si Bundel lah yang menemani Nenek tiap hari. Menemani Nenek makan, menunggu nenek memberi tulang ayam atau ikan. Menemani Nenek sholat, Si Bundel “duduk manis” di belakang Nenek, menyaksikan Nenek sujud dan ruku”. Hampir seluruh kegiatan Nenek di damping Si Bundel. Nenek memberi nama Si Bundel, karena ekornya yang tertekuk, ekornya seperti dibundel. “AAhh siapa yang tega membunuh Si Bundel seperti ini?”..akupun jadi ikut sedih melihat Nenek yang tampak terpukul. Aku ambil Si Bundel dari pohon mlanding. Nenek minta dikafani dan di kubur dibelakang rumah. “Kubur yang rapi ya To”….suara Nenek lemah. Akupun mengubur Si Bundel di belakang rumah, untuk menyenangkan Nenek aku buat nisan dari tumpukan bata dan batu, saya buat sebagus mungkin, tidak lupa saya kasih taburan bunga. Setelah beberapa hari libur dari “lembaran terror” dari Pram, ternyata hari ini aku dikirimin lagi, dan isinya buat aku merinding’ antara takut dan marah yang sangat. “KALAU ELO TIDAK MAU SE NASIB DENGAN KUCING BELANG LO, KASIH TAHU ALAMAT BU ROSWITA. KALAU ELO KASIH ALAMATNYA MAKA URUSAN KITA, SAYA ANGGAP SELESAI. Hmmmm… benar dugaan saya, pelaku pembunuh Si Bundel, kucing kesayangan Nenek ternyata Pram. Aku tak mungkin kasih alamat Bu Wita, karena Bu Wita mungkin akan marah dan tidak memaafkan saya. Belum lagi alamatnya belum tentu masih sama , karena surat terakhir untuk mengucapkan terima kasih sampai sekarang tidak dibalas. Kalau itu yang terjadi Pram akan ngamuk dikira aku kasih alamat palsu. Aku sungguh bingung. Malamnya aku sangat gelisah, aku tidak bisa tidur memikirkan ancaman Pram. Benar apa yang Bu Wita bilang; Pram memang “sakit”, sehingga tindakannya pun tidak bisa diduga. Kali ini aku tidak boleh mengabaikan begitu saja, apalagi sudah menganggu Nenek juga. Aku tak bisa menghadapi sendiri, aku mesti bicara sama Ibu. Meskipun kami tinggal terpisah, aku tetap merasa dekat dengan Ibu. Kalau ada apa-apa saya selalu diskusi dengan Ibu. Ibu terkadang malah seperti teman bagiku, karena kalau ibu ada masalah , Ibu juga selalu diskusi denganku. Meskipun pendidikan ibu tidak tinggi, tetapi cara pandangnya cukup moderat dan bahkan “terlalu maju” untuk orang pada jamannya. Pagi buta akupun mengayuh sepeda ke tempat ibu. Nenekpun sempat heran,tapi aku bilang aku kangen sama Ibu karena sudah lama tidak bertemu. Sesampainya di tempat Ibu, aku langsung diminta sarapan. Kebetulan Ibu sedang menyiapkan sarapan. Sambil sarapan aku pun cerita tentang yang aku alami, tentu saja tidak sampai detil ceritakan semuanya. “Terus rencana kamu gimana?” Tanya Ibu setelah aku selesai bercerita. “Aku mau pindah sekolah Bu?” jawabku. “Pindah sekolah? Kemana?”.. Ibu bertanya kaget. “Yang pasti di luar kota yang jauh dari sini”…jawabku. “Mau kemana, Jogja? Jakarta? Lagian waktunya nanggung To, sebentar lagi mau ujian” Ibu tak setuju. “Ya tapi terpaksa Bu, keadaannya gawat”..jawabku. “Gawat gimana, maksudmu ancaman Pram bukan sekedar gertak doang?”….tanya Ibu. Akhirnya akupun cerita lebih banyak ke Ibu, termasuk nasib Si Bundel. “Hahhh! Si Bundel dibunuh? Nenekmu pasti sedih.”..Ibupun kaget dan tak mengira tindakan Pram bisa sejauh itu. Setelah aku cerita lebih banyak, Ibu pun terpaksa menyetujui rencanaku. “Kalau memang begitu, ya terserah kamu. Yang penting kamu harus pikirkan baik-baik. Sekolah yang kamu pilih dan mau tinggal di mana..” Ibu menasehatiku. “Ya Bu, rencanaku pindah ke SMA di Jakarta, dan aku tinggal di tempat Bude Kampung Melayu”…jelasku. “Kamu yakin? Kamu kan tahu gimana sifat BuDe mu itu”…Ibu mengingatkan. “Ya Bu, sudah aku pikirkan kok Bu”…..jawabku. Bu De ku memang terkenal temperamental dan sangat keras. Semua saudaraku sudah tahu. Status tamu apabila tinggal 1 atau 2 hari, jadi masih dihormati dan dijamu dengan baik. Begitu tinggal di rumahnya lebih dari seminggu, maka statusnya menjadi bagian dari “keluarga”, yang artinya harus siap-siap jadi sasaran kemarahan alias menerima sumpah serapah dari mulut Bude. Setelah aku menyampaikan alasan-alasan kenapa aku harus pindah ke luar kota, akhirnya Ibu setuju. Ibu pun beranjak ke dalam kamar, dan keluar membawa kalung kesayangannya. “Pan, ini kalung kamu jual untuk bekal kamu ke Jakarta” “Ahh Ibu, memang harus jual kalung? mungkin aku Cuma perlu transport dengan uang saku aja Bu”, aku merasa merasa tidak enak kalau Ibu sampai menjual kalungnya. “Tidak To, jual saja”..ibu menjawab yakin. “Sekali kamu ambil keputusan, kamu harus yakin dan tidak boleh mundur” Ibu meyakinkan dan menasehatiku. “Ibu tidak mau, karena alasan uang habis, kamu belum apa-apa pulang lagi”. Jadi apapun yang terjadi gunakan uang itu sebaik mungkin untuk bekalmu di Jakarta”..jelas Ibuku. “oh ya Bu, saya sekalian mau beli kucing juga ya Bu”… “Kucing Nenek kan mati Bu, kasihan kalau tidak ada peggantinya” “Pak Lek Hari punya kucing lebih dari satu, coba kamu minta sama dia”…saran Ibu. “Minta Bu? Gak enak lah Bu..” tanyaku. “Ya nanti kamu kasih uang sebagai pengganti makanan selama ini. Setahu Ibu jual beli kucing kan gak boleh To”..jelas Ibuku. “Baik Bu, nanti saya mampir ke rumah Pak Lek. Aku pamit dulu ya Bu”…aku pun pamit dan “salim” ke Ibu. “Iya . Hati-hati bawa kalungnya, dan sebaiknya kamu cepat jual, jangan simpan lama-lama”.. “kalau kamu jual ke Toko Mawar yang di jalan Pahlawan itu, harga belinya lumayan bagus “ saran Ibu. Akupun segera mengayuh sepeda, ke tempat Pak Lek untuk memilih kucing pengganti Si Bundel, baru kemudian pergi ke Toko Emas Mawar. Tiba-tiba waktuku menjadi terasa sempit, serasa menjadi manusia sibuk yang dikejar waktu. Sesampainya di tempat Pak Lek Hari, tidak ambil waktu Panjang, setelah sedikit berbasa-basi, aku ijin untuk meminta kucingnya. Ternyata Pak Lek ku punya labih dari 10 ekor kucing. Aku pun dipersilahkan memilih. Sayangnya di antara kucing-kucing itu tidak ada satupun yang ber buntut bundel. Setelah menimbang-nimbang akupun memilih kucing putih berbelang cokelat, tampak paling bersih, cantik dan lucu. Mudah-mudahan Nenek bisa jatuh hati sama Si Belang ini dan bisa menggantikan Si Bundel. Hanya itu yang bisa saya lakukan untuk Nenek sebelum aku pamit ke Jakarta. Kepala ku pun sudah penuh dengan rencana (persisnya tandatanya) bagaimana nanti se tiba di Jakarta, apa yang aku lakukan di Jakarta dan sebagainya. Ahhh tiba-tiba muncul wajah-wajah yang kelak bikin aku kangen…..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar