November 29, 2012

SEPATAH KATA

Dirimu bersikap seolah ceritamu lembaran putih belaka, dan ceritaku bernoda. Sementara aku temukan beberapa lembar warnamu berwarna debu. Meski kau berusaha tutup rapat, bau apek tetap menguar keluar. Meski kau cuci keras, warna noda masih berbekas.
Aku sudah bosan bertanya, karena dirimu bergeming tak bersalah. 
Aku sudah bosan bicara, karena seolah tak terjadi apa-apa.
Tak berguna diskusi, kalau aku seperti bicara sendiri.
Sekarang terserah dirimu, 
seandainya masih ingin simpan dalam ceritamu,
seandainya kamu ingin menulis ceritamu sendiri.
Aku siap jalan sendiri, keluar dari cerita kehidupanmu.

November 28, 2012

TANDA TANYA

Aku mencoba pahami, bahwa pot cinta harus kita pupuk bersama.
Tapi sepertinya, kamu tak pernah sungguh-sungguh merawatnya. Kau biarkan menguning, dan akhirnya meranggas kering.  Aku tak tahu masih bisa menghijau kembali atau biarkan menjadi ranting.

Aku mencoba mengerti bahwa perjalanan kadang panjang dan berliku, tapi aku akan bertanya-tanya ketika kamu tiba-tiba berhenti atau menengok ke belakang. Aku tak tahu masihkan kita seiring-sejalan, alih-alih bergandeng tangan.

Aku masih terus bertanya-tanya dan selalu saja jawabnya tak pernah nyata dan terang.
Aku sendiri dalam kegelapan.

November 22, 2012

QUO VADIS

Awalnya saya sekedar memenuhi kewajiban, tugas perusahaan untuk datang ke seminar. Tema nya pun kering; Regulasi Perdagangan Export Import. Tetapi saya surprise ada pembicara yang "unik". Seorang pensiunan tetapi gaya bicaranya menggelitik dan cerdas. Salah satu hal yang membuat saya tergelitik dalah pernyataannya; "kalau generasi muda tidak segera merubah gaya dan cara berpikirnya, maka berpuluh tahun yang akan datang, Indonesia akan sirna".  Yang hadir pun beragam reaksi, ada yang tersenyum, menganggap sekedar intermezzo sebagai selingan ceramah, namun ada yang mengernyitkan kening, berpikir serius. Saya termasuk yang tersenyum, sekaligus serius menanggapi pernyataan tersebut. Dan saya menganggap pernyataan tersebut ada benarnya. Lihat saja, gaya generasi sekarang, yang lebih suka "gaya" daripada " isi". Mereka berlomba mengikuti trend, dan tanpa sadar sekedar menjadi konsumen latah, menjadi pembeli merk, dan menjadi "gila barang luar negeri". Mereka ikut-ikutan secara membabi buta, apa yang menjadi mode di luar sana, tanpa seleksi, apalagi melihat budaya sendiri. Generasi sekarang seperti kehilangan jati diri, boro-boro bicara nasionalisme. Ada beberapa gejala, perilaku yang menunjukkan bahwa generasi sekarang telah mengalami degradasi karakter.

1. Kehilangan Etika, dan attitude minus.
Saya sering menemui anak muda yang bertingkah seenaknya, misal nerobos antrian seeanaknya, tidak menyapa orang yang lebih tua, tidak mengucapkan terima kasih pada saat menerima pertolongan dll.
2. Konsumerisme fanatik
Banyak anak muda selalu berusaha mengikuti trend secara membabi buta, beli barang mahal untuk eksis tanpa melihat latarbelakang orang tua (apakah mampu atau tidak).
3. Tidak mengenal disiplin. Terbiasa melanggar aturan dan tata tertib tanpa merasa bersalah.
4. Kebarat-barat an secara extreem. Bisa dikatakan semua yang dari barat (baca;Amrik) semua dianggap bagus dan hebat. Merk busana, artist, film. Semua diterima tanpa filter.
5. TIdak memiliki ketrampilan produktif untuk bersaing. Mungkin karena sistem pendidikan kita yang tidak merangsang kreatifitas, tetapi yang pasti mereka hanya mengejar "poin, nilai", bukan prestasi atau karya yang subtanstif.

Jadi kalau tidak merubah cara berpikir, gaya hidup, filosofi hidup maka, bukan tidak mungkin Indonesia tinggal sekedar nama. Atau setidaknya menjadi bangsa kerdil yang menjadi "mainan" bangsa lain.

November 20, 2012

RUMIT

Aku di pojok sepi sendiri,
Aku bicara sendiri,
sejuta kata tanpa suara.
Aku berteriak dalam luka dalam.

kamu begitu jauh, sejengkal jarak tapi tak terengkuh,
kita asing dalam dekat,
hati kita berjarak, prasangka dan duga menjadi sekat.

Aku ingin bertanya,
begitu banyak yang aku tak mengerti tentang kamu,
tentang masa lalumu, tentang rahasia malammu.
aku masih tak mengenalmu.
Meski ketika dalam pelukku.