Tiba-tiba sepi menyapaku,
Dan memelukku erat,
Aku termangu bisu,
Karena sepi,
Selalu akrab datang,
Bersama rindu yang biru.
Aku tercenung,
Dalam sunyi yang menggunung,
Semua diam,
Sediam tugu yang menghitam.
Sunyi, sepi dan rindu.
Telah begitu erat melekat,
Pada hari-hari kosongku.
Dalam kehidupan panjang, yang sekejap. Dalam riuhnya hidup, yang sepi. Dalam gemerlapnya cinta, yang redup. Ada cerita yang terangkai, Ada puisi yang terurai. Biru langit, biru kehidupan. Birunya hidup, birunya cinta. Aku tenggelam dalam biru yang mengharu biru. Biru nya hidup, biru nya puisiku.
Oktober 24, 2008
Oktober 16, 2008
G30S - 1995
Pagi masih kental dan beku,
Tiba-tiba kembali terlintas cerita pahit bretawali,
Tentang penghianatan
Dan seorang penjaga, mencuri kepercayaan,
Tentang pagar yang merobohkan ruang kesucian.
Aku berusaha hapuskan cerita itu,
Tetapi,
makin jelas membekas,
Makin tercium bacin anyir.
Makin menyisakan dendam dan memuakkan.
Tiba-tiba kembali terlintas cerita pahit bretawali,
Tentang penghianatan
Dan seorang penjaga, mencuri kepercayaan,
Tentang pagar yang merobohkan ruang kesucian.
Aku berusaha hapuskan cerita itu,
Tetapi,
makin jelas membekas,
Makin tercium bacin anyir.
Makin menyisakan dendam dan memuakkan.
Langganan:
Postingan (Atom)