Dalam kehidupan panjang, yang sekejap. Dalam riuhnya hidup, yang sepi. Dalam gemerlapnya cinta, yang redup. Ada cerita yang terangkai, Ada puisi yang terurai. Biru langit, biru kehidupan. Birunya hidup, birunya cinta. Aku tenggelam dalam biru yang mengharu biru. Biru nya hidup, biru nya puisiku.
Desember 17, 2013
RINDU
Bayangmu tiba-tiba hadir tanpa permisi. Rindu pun merimbun jadi semak dendam. Bayangmu selalu hadir, tapi sosokmu jauh di ujung sunyi. Aku pun cuma termangu, ketka bayang melintas bersama semilir angin, lalu lenyap dalam gelap. Akupun terpuruk dalam sepi yang makin dalam.
November 26, 2013
HUJAN
Hujan adalah rasa galau yang basah,
dan luka jadi memerah.
Hujan adalah tumbuhnya tunas kerinduan,
dan rimbun kenangan makin merekah.
Hujan adalah, tenggelam dalam sepi yang menggenang.
dan luka jadi memerah.
Hujan adalah tumbuhnya tunas kerinduan,
dan rimbun kenangan makin merekah.
Hujan adalah, tenggelam dalam sepi yang menggenang.
November 15, 2013
GERIMIS
Gerimis,
dingin pun menyebar perlahan,
sepi pun merayap jelang,
langit kelabu, pelan menghitam,
menjadi kelam,
dingin dan sepi menggumpal beku.
dingin pun menyebar perlahan,
sepi pun merayap jelang,
langit kelabu, pelan menghitam,
menjadi kelam,
dingin dan sepi menggumpal beku.
November 13, 2013
SEPI V
Hening,
Larut beringsut pagi.
Jemari ketik rangkaian kata, chatting.
di timpa suara gerimis pelanting.
Hening,
di tengah canda dunia maya,
hati tetap terasa sepa,
laksana berjalan di lorong-lorong kosong.
meski sibuk mengetik kata,
namun tak mampu mengusir sepi dan luka
Larut beringsut pagi.
Jemari ketik rangkaian kata, chatting.
di timpa suara gerimis pelanting.
Hening,
di tengah canda dunia maya,
hati tetap terasa sepa,
laksana berjalan di lorong-lorong kosong.
meski sibuk mengetik kata,
namun tak mampu mengusir sepi dan luka
November 08, 2013
HUJAN
HMMMM..
Tercium bau tanah basah…
Tercium bau cerita lama..
ketika hujan menjadi latar nyanyian sedih
ketika hujan berbaur air mata luka.
Hmmmmmm..
Hujan menyiramkan dingin,
Teringat kisah,
Ketika dingin dan sepi menjadi cerita sehari-hari,
Ketika hujan dan dingin menjadi pelengkap kesendirian.
HMMMMMMM…..
Maret 04, 2013
Merokok; dan perilaku
Teman-teman kantor sering bertanya pada saya, kenapa begitu tidak suka (benci) pada perokok. Sebenarnya tidak terlalu benci, karena saya juga pernah merokok, juga sebagian besar keluarga saya. Namun yang menjadi masalah, adalah perilaku ikutannya yang sangat mengganggu dan merugikan lingkungannya, di antaranya;
1. Egois, Tidak peduli pada orang lain. Perokok biasanya tidak peduli pada akibat yang ditimbulkan pada orang lain. Sering saya temui di resto (jelas tertulis no smokung area!!!), orang mengepulkan asap "seenak udel"nya, tidak peduli disebelahnya ada ibu yang mengandung, anak balita yang pasti sangat terganggu dan berakibat pada kesehatannya.
2. Jorok. Perokok biasanya suka membuang puntung rokok sembarangan, tanpa melihat dulu asbak dan tempat pembuangan seharusnya. Yang paling menyedihkan, perokok (berdasarkan pengamatan saya) biasanya suka meludah sembarangan. Jorok dan menjijikkan.
3. Boros. Orang merokok biasanya juga pemboros. Karena dia lebih suka beli rokok daripada kebutuhan lain yang penting. Jadi meskipun beras di rumah abis, dia lebih ingat beli rokok daripada beras. Padahal (maaf), sebagain besar perokok adalah kelas menengah ke bawah. Jadi sebuah ironi memang, selain adahal kebutuhan pokok yang lebih mendesak, mereka malah merusak diri sendiri untuk menjadi rentan penyakit.
Maka tidak heran teman saya ada yang bilang, perokok lebih jahat dari pemabuk. Karena Pemabuk hanya merugikan diri sendiri, sementara perokok akan selalu menganggu dan menyebarkan "kerugian" pada lingkungannya.
1. Egois, Tidak peduli pada orang lain. Perokok biasanya tidak peduli pada akibat yang ditimbulkan pada orang lain. Sering saya temui di resto (jelas tertulis no smokung area!!!), orang mengepulkan asap "seenak udel"nya, tidak peduli disebelahnya ada ibu yang mengandung, anak balita yang pasti sangat terganggu dan berakibat pada kesehatannya.
2. Jorok. Perokok biasanya suka membuang puntung rokok sembarangan, tanpa melihat dulu asbak dan tempat pembuangan seharusnya. Yang paling menyedihkan, perokok (berdasarkan pengamatan saya) biasanya suka meludah sembarangan. Jorok dan menjijikkan.
3. Boros. Orang merokok biasanya juga pemboros. Karena dia lebih suka beli rokok daripada kebutuhan lain yang penting. Jadi meskipun beras di rumah abis, dia lebih ingat beli rokok daripada beras. Padahal (maaf), sebagain besar perokok adalah kelas menengah ke bawah. Jadi sebuah ironi memang, selain adahal kebutuhan pokok yang lebih mendesak, mereka malah merusak diri sendiri untuk menjadi rentan penyakit.
Maka tidak heran teman saya ada yang bilang, perokok lebih jahat dari pemabuk. Karena Pemabuk hanya merugikan diri sendiri, sementara perokok akan selalu menganggu dan menyebarkan "kerugian" pada lingkungannya.
Januari 29, 2013
BANJIR, SEBUAH CATATAN
Banjir telah meluluhlantakan kota yang begitu angkuh dan
tampak “sangar”. Jakarta menjadi tampak tak berdaya. Jalanan yang biasanya
macet dengan deretan mobil mewah, menjadi
lautan air bah. Banjir telah mengajarkan pada kita , bahwa manusia
sesungguhnya “kecil” dan merupakan bagian partikel dari alam semesta. Tetapi
kita sering lupa, dan menganggap dirinya berkuasa dan serakah; ingin mengambil
semuanya. Selama ini kita hanya mau mengambil.
Alam dilihat sebagai sumber exploitasi dari keserakahan . Dan kita lebih sering merusak daripada
memelihara.
Lihatlah kelakuan keseharian kita. Dari hal kecil, membuang
sampah sembarangan, sampai pada merusak bukit dan gunung demi pertimbangan
ekonomi (uang) semata.
Hal lain yang terlihat pada peristiwa banjir adalah sikap kurang
mawas diri (tahu diri). Ada beberapa
kali pengungsi yang menjawab penuh nada protes pada saat ditanya oleh
jurnalis;..'apa keluhan di pengungsian.."Jawabnya ketus:…..” bantuan tidak merata”, ..”makan tidak teratur”……., pembagian
selimut yang kurang merata…. dll. Bukankah memang keadaan dalam musibah, yang
tentu saja jauh dari ideal. Belum lagi
kebanyakan mereka memang tinggal di area yang secara legal bisa dipertanyakan, di pinggiran sungai,
yang secara tidak langsung berkontribusi atas timbulnya banjir.
Kita makin kekanak-kanakan.
Sikap kita sama dengan anak balita, yang berada pada masa “egosentris”.
Melihat segala sesuatu hanya pada diri sendiri. Tak pernah memikirkan orang
lain, apalagi lingkungan kita.
Saatnya lah kita meulai bersikap dewasa. Melihat,
memperhatikan dan memelihara lingkungan kita.
Kita tidak bisa mengabaikan apa yang ada di sekitar kita, jika kita
ingin hidup lebih baik.Karena kita hanya sebagian kecil dari alam semesta, maka
kita harus menyesuaikan dengan hukum alam> dalam bahasa sederhana;… kita
harus bersahabat dengan alam...
Januari 02, 2013
CATATAN KECIL AWAL TAHUN
Pergantian tahun, adalah putaran waktu. Sama dengan
bergantinya bulan, hari, jam dan detik.
Tidak salah seandainya berpesta ria
untuk merayakan tanda berganti kalender.
Tidak salah kita begadang menunggu saat
bergantinya hari (tahun). Tetapi yang
tidak boleh dilupakan adalah bahwa kita semakin tua, bahwa waktu kehidupan kita
terus berkurang. Menjadi salah kaprah
kalau kita membelanjakan secara membabi buta tanpa melihat kemampuan kita,
karena esok hari tetaplah harus
meneruskan hidup dengan segala kebutuhan kita. Tanpa perubahan sikap, tindakan, sesungguh hari-hari
yang kita lewati sesungguhnya tidak berbeda. Dan tidak keliru pula
seandainya, dimulai dengan resolusi, tekad untuk mendapatkan sesuatu atau
memulai sesuatu. Tetapi jangan dilupakan pula, bahwa semua tergantung pada
kesungguhan dan tindakan kita, tergantung pada kemampuan dan keadaan kita. Resolusi harus bermuatan positif dan tetap
realistis. Dan akan lebih bernilai bahwa semua harus didasari atas niat; bahwa
kita harus selalu menjadi lebih baik; kita harus lebih positif dalam tindak dan
perilaku, kita lebih bermanfaat bagi lingkungan sekitar kita. Karena kata orang
bijak; “Sebaik-baik manusia, adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya”.
Langganan:
Postingan (Atom)