Dalam kehidupan panjang, yang sekejap. Dalam riuhnya hidup, yang sepi. Dalam gemerlapnya cinta, yang redup. Ada cerita yang terangkai, Ada puisi yang terurai. Biru langit, biru kehidupan. Birunya hidup, birunya cinta. Aku tenggelam dalam biru yang mengharu biru. Biru nya hidup, biru nya puisiku.
Mei 23, 2014
CATATAN PILPRES
PENDUKUNG CAPRES
Saya bukan pendukung fanatik capres tertentu, jadi agak merasa aneh, dan risih pada sat membaca ,koment yang kasar dan memfitnah. Saya malah lebih setuju pada status teman saya : “Siapapunpresidennya, toh nasib saya tidak berubah....”Atau kata teman saya yang religius : ..Buat apa menyampaikan puja-puji Capres yang disuka, seraya menghina orang atau kelompok lain, toh kita bukan saudaranya atau akan mendapatkan apapun, dan belum tentu juga apa yang kita kira baik, memang baik adanya, sebaiknya Isthkarah/merenung sebelum menentukan pilhan, mudah-mudahan pilihannya berkah....”. Anda boleh mendewakan idola anda, anda tinggal blow up kelebihannya, jangan memfitnah, menghina capres lain atau pendukung capres lain ;karena justru bisa mengesankan; pendukung capres tertentu kebanyakan kurang pendidikan, dan dapat merugikan Capres yang didukung. Mungkin saya bisa share langkah untuk menjadi pendukung yang baik:
1. Ceritakan kelebihan Capres yang Anda dukung, anda bisa cerita apapun tentang kelebihan dari Capres yang Anda dukung. Dalam hal cerita kelebihannya, anda boleh “ngarang”, karena biarpun bohong tidak akan kena sanksi pidana. Atau kalau mau sedikit lebih “obyektif”. Anda bisa share artikel, copy paste tentang prestasi atau kelebihan Capres anda.
2. Ceritakan kekurangan lawan capres anda. Dalam hal ini harus hati-hati. Anda jangan sampai ngarang apalagi menjurus fitnah. Karena salah-salah anda bisa dikenai sanksi pidana. Yang aman adalah anda tinggal copy paste artikel atau tulisan orang lain tentang hal tersebut. Agar aman anda harus menuliskan sumbernya.
3. Jangan terjebak pada SARA, apalagi menyangkut agama. Hindari juga menggunakan kata-kata umpatan, karena hanya menunjukan pribadi anda yang “kurang berpendidikan” dan memiliki masalah mental.
Mudah-mudahan kita menjadi pemilih yang cerdas. Memilih orang bukan karena pengaruh media ataupun pengaruh lain yang belum tentu benar. Kalau misalnya minim informasi, gunakan suara hati. Leet see.
JOKOWI (LAGI)
Jokowi
Sebenarnya sampai sekarang saya belum punya pilihan capres yang ideal. Kalau dari kacamat positif, semua capres baik, pasti banyak kelebihan dibanding orang kebanyakan, makanya menjadi capres. Dari kacamata negatif, semua capres apabila dari track recordnya pasti ada kelemahannya, namanya juga manusia. Tetapi dalam hal ini saya akan coba mengkritisi capres: Jokowi. Hal ini karena Jokowi lah yang selalu diunggulkan dalam survey dan media. Bahkan ada yang mengatakan dipasangkan dengan sandal jepit pun menang (itu sebelum pileg), sehingga PDI-P pun yakin, bahwa dengan Pen capres an Jokowi akan mengangkat suara PDI-P. Tetapi ternyata perolehan suara PDI-P, relatif “biasa-biasa saja”. Di sini pun terbukti bahwa “kesaktian Jokowi”, tidak se hebat yang dikesankan selama ini. Kalau para pengamat sangat yakin bahwa Jokowi, dengan cawapres siapapun pasti menang dalam Pilpres, sekarang sebagian mulai berubah opini, sehingga mulai ada yang berpendapat, kalau tidak bisa memilih pasangan yang tepat , maka Jokowi bisa kalah.
Ada satu hal yang sering “mengganggu”, yaitu gaya Jokowi yang “nyante”, maaf agak “slengekan”...kalau sebagai kepala daerah, saya maklum, karena masih bisa diterima secara “bahasa/budaya lokal”. Tetapi kalau benar sebagai Presiden???...dia harus berubah “style” nya , karena akan sering kurang tepat. Kita ingat figur sebesar Gus Dur saja, pada saat jadi presiden dan dia tidak berubah “style” maka akan menjadi “menganggu”.
Hal lain lagi adalah sikapnya yang terkesan kurang tegas dan sangat “tergantung partai (baca: Mega). Hal ini tercermin pada langkah-langkah kampanye nya dan pemilihan Cawapres. Padahal ini hal yang sangat penting kalau memang dia berniat menjadi presiden dan berniat membawa perubahan. Barangkali pesan Syafi’i Maarif sebagai salah satu tokoh besar patut dicamkan oleh Jokowi:
Syafi'i menegaskan bangsa ini perlu pemimpin yang siuman alias sadar. Sebab menurutnya Indonesia sudah terlalu lama terlelap dan harus segera dibangunkan sebelum semakin jauh tertinggal.
"Kita butuh orang yang siuman. Kita butuh pemimpin yang benar-benar kuat dan mampu mengelola pluralisme. Saya takut kita nanti sama saja seperti menggali kubur sendiri," imbuhnya.
Pria yang mengenakan kemeja berwarna biru lengan panjang ini menaruh harapan kelak kalau capres PDIP Jokowi menang dapat menanggalkan mindset seperti itu.
"Kita harus selamatkan negeri ini. Masa enggak ada pemimpin yang siuman menyelamatkan. Kalau Jokowi menang harus hati-hati harus didampingi oleh orang yang profesional dan patrionalis. Kalau sudah terpilih ke kabinet, tinggalkan partai agar APBN tetap terjaga semua," kata Syafi'i berapi-api.
Tetapi memang jadi tanda tanya besar; mampukah Jokowi melepaskan diri dari cengkeraman Partai dan kepentingan politik orang disekelilingnya??????...Let See...
Langganan:
Postingan (Atom)