Hari kemarin, masih terngiang ketawa ngakaknya,
Lagunnya ”tak gendong” beredar kemana-mana.
Televisi ngantri untuk wawancara,
Tapi hari ini tiba-tiba dia pergi,
”Mbah Surip” berhenti mengelana,
Menghadap Yang Kuasa.
Itulah Kehidupan,
Antara tertawa dan tangis, jaraknya tipis.
Antara kehidupan dan kematian, cuma sekilan.
Kita semua menggendong takdir,
Dan suatu saat menggendong kita ke hadapanNya.
Dalam kehidupan panjang, yang sekejap. Dalam riuhnya hidup, yang sepi. Dalam gemerlapnya cinta, yang redup. Ada cerita yang terangkai, Ada puisi yang terurai. Biru langit, biru kehidupan. Birunya hidup, birunya cinta. Aku tenggelam dalam biru yang mengharu biru. Biru nya hidup, biru nya puisiku.
Agustus 05, 2009
Juli 22, 2009
BOM JUM'AT PAGI 17/07/09
BOM JUM’AT PAGI
Jum’at pagi terasa panas dan pengap,
Tiba-tiba ada tersebar berita,
Jakarta meledak.
Asap mengepul hitam,
Berpuluh jasad berwarna legam,
Menjadi hiasan berita layar kaca.
Tragedi terulang,
Dan semua linglung terhenyak,
Tak percaya tragedi begitu saja terjadi,
Mengusik ketenangan Jum’at pagi.
Siang makin panas, orang-orang menghela nafas,
Seribu tanya menjadi beban, menunggu jawab yang jelas,
Yang terjadi masyarakat makin bingung dengan pidato yang tak cerdas,
Yang membuat fakta semakin kabur dan bias.
Semua terjadi,
mungkin karena kepongahan kemegahan dan pameran kemewahan,
Sementara berjuta orang yang merasa terpinggirkan.
atau sekelompok orang frustasi yang menyaksikan,
Ketidakadilan politik atau penindasan sosial bertopeng demokrasi,
Atau orang lelah berteriak, ketika makin lapar sekedar dihibur BLT basa-basi.
Makin bertebaranlah,
Drakula politik,
Drakula kapitalis,
Drakula angkara,
Yang melahirkan anak drakula teror,
Drakula makelar,
Yang menghisap darah dan keringat awam,
Dan mereka makin bodoh tak berdaya.
Dan kembali disuapi janji dan basa-basi.
Jum’at pagi terasa panas dan pengap,
Tiba-tiba ada tersebar berita,
Jakarta meledak.
Asap mengepul hitam,
Berpuluh jasad berwarna legam,
Menjadi hiasan berita layar kaca.
Tragedi terulang,
Dan semua linglung terhenyak,
Tak percaya tragedi begitu saja terjadi,
Mengusik ketenangan Jum’at pagi.
Siang makin panas, orang-orang menghela nafas,
Seribu tanya menjadi beban, menunggu jawab yang jelas,
Yang terjadi masyarakat makin bingung dengan pidato yang tak cerdas,
Yang membuat fakta semakin kabur dan bias.
Semua terjadi,
mungkin karena kepongahan kemegahan dan pameran kemewahan,
Sementara berjuta orang yang merasa terpinggirkan.
atau sekelompok orang frustasi yang menyaksikan,
Ketidakadilan politik atau penindasan sosial bertopeng demokrasi,
Atau orang lelah berteriak, ketika makin lapar sekedar dihibur BLT basa-basi.
Makin bertebaranlah,
Drakula politik,
Drakula kapitalis,
Drakula angkara,
Yang melahirkan anak drakula teror,
Drakula makelar,
Yang menghisap darah dan keringat awam,
Dan mereka makin bodoh tak berdaya.
Dan kembali disuapi janji dan basa-basi.
Juli 10, 2009
KEMENANGAN?
Hari ini semua televisi memetakan pesta kemenangan, Dan pencari berita pun mencari sensasi, memancing kata dari yang kalah, padahal yang terjadi bukan sekedar pesta demokrasi, tapi pilihan dan pertaruhan nasib dan masa depan negeri.
Beberapa orang bersikap seolah telah membeli masa depan, dan semua menjadi cemerlang dengan hasil angka pilihan. Padahal telah menunggu beribu masalah dan beban di pundak sang terpilih. Mestinya kemenangan dilihat sebagai amanah, dipandang sebagai penunjukan tangungjawab. Bukan semata anugrah apalagi rejeki. Dimana rakyat yang memilih berarti mencatat sejuta janji dan memberikan kewajiban yang harus ditunaikan. Janji bukan sekedar slogan kampanye untuk menarik simpati, program bukan sekedar penghias iklan yang menarik hati, tapi semua harus dibayar, semua harus diwujudkan. Karena, ketika janji diciderai,ketika kata sekedar penghias slogan,ketika program sekedar deretan rencana,
Mungkin bencana kadang merupakan pengingat yang Kuasa.
Negeri ini telah berkali didera ujian dan cobaan, namun tak juga sadar, begitu cepat lupa dan kembali alpa. Kalau tak waspada negeri surga bisa menjadi neraka, yang penuh durjana dan kuasa angkara.
Tuhan bisikan kebenaran, kepada mereka yang diberi kekuasaan, berikan cahaya pada yang memiliki wahyu sang Raja.
Tuhan selamatkan negeri dari bencana dan malapetaka.
Beberapa orang bersikap seolah telah membeli masa depan, dan semua menjadi cemerlang dengan hasil angka pilihan. Padahal telah menunggu beribu masalah dan beban di pundak sang terpilih. Mestinya kemenangan dilihat sebagai amanah, dipandang sebagai penunjukan tangungjawab. Bukan semata anugrah apalagi rejeki. Dimana rakyat yang memilih berarti mencatat sejuta janji dan memberikan kewajiban yang harus ditunaikan. Janji bukan sekedar slogan kampanye untuk menarik simpati, program bukan sekedar penghias iklan yang menarik hati, tapi semua harus dibayar, semua harus diwujudkan. Karena, ketika janji diciderai,ketika kata sekedar penghias slogan,ketika program sekedar deretan rencana,
Mungkin bencana kadang merupakan pengingat yang Kuasa.
Negeri ini telah berkali didera ujian dan cobaan, namun tak juga sadar, begitu cepat lupa dan kembali alpa. Kalau tak waspada negeri surga bisa menjadi neraka, yang penuh durjana dan kuasa angkara.
Tuhan bisikan kebenaran, kepada mereka yang diberi kekuasaan, berikan cahaya pada yang memiliki wahyu sang Raja.
Tuhan selamatkan negeri dari bencana dan malapetaka.
Juli 03, 2009
Sesungguhnya negara Indonesia adalah negara yang kaya raya, hampir semua komodoti, mineral, emas semua kita punya. Tetapi sungguh menyedihkan bahwa penduduknya, rakyat yang lahir dan tinggal di pangkuan ibu pertiwi, miskin dan nista.
Sumber alam, Negara lain yang mengexplorasi, Kekayaan yang ada, bangsa lain yang menikmati. Sungguh suatu Ironi. Semua terjadi karena,antara lain:
1. masyarakat kehilangan spirit, etos kerja karena program untuk mengatasi kemiskinan dilaksanakan secara partial, incidental dan “suap” (bantuan langsung tunai).
2. masyarakat kehilangan kreatifitas ini diperparah karena pengambil keputusan terjebak pada ‘konsep salah kaprah’ bahwa sejahtera diwujudkan dengan semua serba murah, bukan peningkatan daya beli.
3. tidak pernah ada program pemberdayaan yang memadai.
4. belum ada keberpihakan pada masyarakat miskin dan masyarakat desa.
5. belum ada program perekonomian atau industri yang berbasis pertanian yang memadai.
6. belum ada penyebaran pembangunan.
7. belum ada program pembangunan yang berdasarkan welfare state-keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia.
Untuk mengentaskan kemiskinan harus dilakukan pembenahan total, dimana antara stabilitas, pembangunan ekonomi dan demokrasi harus dilaksanakan secara berimbang dan untuk itu hanya bisa dilakukan oleh pemimpin yang tegas namun bijak, yang lugas namun tetap demokratis, suatu hal yang memang tidak mudah kita laksanakan.
Sumber alam, Negara lain yang mengexplorasi, Kekayaan yang ada, bangsa lain yang menikmati. Sungguh suatu Ironi. Semua terjadi karena,antara lain:
1. masyarakat kehilangan spirit, etos kerja karena program untuk mengatasi kemiskinan dilaksanakan secara partial, incidental dan “suap” (bantuan langsung tunai).
2. masyarakat kehilangan kreatifitas ini diperparah karena pengambil keputusan terjebak pada ‘konsep salah kaprah’ bahwa sejahtera diwujudkan dengan semua serba murah, bukan peningkatan daya beli.
3. tidak pernah ada program pemberdayaan yang memadai.
4. belum ada keberpihakan pada masyarakat miskin dan masyarakat desa.
5. belum ada program perekonomian atau industri yang berbasis pertanian yang memadai.
6. belum ada penyebaran pembangunan.
7. belum ada program pembangunan yang berdasarkan welfare state-keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia.
Untuk mengentaskan kemiskinan harus dilakukan pembenahan total, dimana antara stabilitas, pembangunan ekonomi dan demokrasi harus dilaksanakan secara berimbang dan untuk itu hanya bisa dilakukan oleh pemimpin yang tegas namun bijak, yang lugas namun tetap demokratis, suatu hal yang memang tidak mudah kita laksanakan.
YOGYAKARTA
Antara Tugu – Kaliurang,
Tercecer banyak kisah,
Begitu banyak mimpi, begitu banyak angan,
Begitu banyak syair dan episode tergubah
Yang sempat membuat tidur gelisah.
Antara Tugu-Kaliurang,
Di mana kucoba rangkai masa depan,
Di mana kucoba menggapai hati dewi,
Di mana kucoba kurangkai mimpi,
Meski akhirnya terjaga,
dan kecewa.
Yogyakarta,
Di mana kusimpan mimpi,
Lewat jalan Malioboro, Solo dan Baciro,
Beribu episode cerita,
Beribu scene-adegan tercipta,
Lewat peran Bi Pariyem, Non Ani dan Sisca,
Terangkai cerita roman dan drama kehidupan.
Yogyakarta kota beribu cerita.
Tercecer banyak kisah,
Begitu banyak mimpi, begitu banyak angan,
Begitu banyak syair dan episode tergubah
Yang sempat membuat tidur gelisah.
Antara Tugu-Kaliurang,
Di mana kucoba rangkai masa depan,
Di mana kucoba menggapai hati dewi,
Di mana kucoba kurangkai mimpi,
Meski akhirnya terjaga,
dan kecewa.
Yogyakarta,
Di mana kusimpan mimpi,
Lewat jalan Malioboro, Solo dan Baciro,
Beribu episode cerita,
Beribu scene-adegan tercipta,
Lewat peran Bi Pariyem, Non Ani dan Sisca,
Terangkai cerita roman dan drama kehidupan.
Yogyakarta kota beribu cerita.
Juni 30, 2009
TENGAH MALAM (setelah kerusuhan)
Dalam kesenyapan
kutemukan bening.
Segalanya menjadi jernih dan hening.
Kemarin, semua berteriak lantang
kali ini terdiam.
Dalam kesenyapan,
kutemukan makna
Tak ada pesta tak berakhir,
tak ada kekerasan yang tak cair.
Ada saatnya semua meleleh,
Melebur dalam fana.
Kesenyapan adalah bagian dari kehidupan yang riuh.
Dendam yang kemarin merah padam.
hari ini luruh jadi kelabu.
Kesenyapan,
membuat nyata akan kuasa Nya.
Batang-batang semak bergeming,
Diantara tugu-tugu bisu yang menghitam
Semua yang nyala terbakar dendam.
Akhirnya tetaplah debu yang terserak.
kutemukan bening.
Segalanya menjadi jernih dan hening.
Kemarin, semua berteriak lantang
kali ini terdiam.
Dalam kesenyapan,
kutemukan makna
Tak ada pesta tak berakhir,
tak ada kekerasan yang tak cair.
Ada saatnya semua meleleh,
Melebur dalam fana.
Kesenyapan adalah bagian dari kehidupan yang riuh.
Dendam yang kemarin merah padam.
hari ini luruh jadi kelabu.
Kesenyapan,
membuat nyata akan kuasa Nya.
Batang-batang semak bergeming,
Diantara tugu-tugu bisu yang menghitam
Semua yang nyala terbakar dendam.
Akhirnya tetaplah debu yang terserak.
Juni 25, 2009
NOSTALGIA
Secuil kemesraan yang sempat
kita buat
ternyata melekat
menjadi lumut kenangan
yang mungkin terus menghijau
dan basah
aku sering tidak mengerti
yang dengan teliti aku rangkai
Ternyata tidak selalu menjadi kisah,
Tak jua episode seri mimpi.
kita buat
ternyata melekat
menjadi lumut kenangan
yang mungkin terus menghijau
dan basah
aku sering tidak mengerti
yang dengan teliti aku rangkai
Ternyata tidak selalu menjadi kisah,
Tak jua episode seri mimpi.
PAGI
Pagi masih kelabu,
Aku termangu,
Semua terasa dingin membeku,
Semua kisah lalu, jelas membekas,
Goreskan kisah cinta, luka dan dosa.
Pagi masih sunyi,
Aku termangu,
Beribu wajah berlalu,
Tegores segala kisah yang mengharu biru.
Pagi masih bisu,
Aku termangu,
Menyesali dosa yang telah terjadi kemarin,
Hidup begitu cepat berlalu,
Dari detik, jam,hari dan tahun cepat terlewat.
Pagi masih bisu,
Beribu wajah telah menghias kisah,
Luka, tertawa, hitam, kelabu,..
Berbaur debu,
Kelabu
Aku termangu,
Semua terasa dingin membeku,
Semua kisah lalu, jelas membekas,
Goreskan kisah cinta, luka dan dosa.
Pagi masih sunyi,
Aku termangu,
Beribu wajah berlalu,
Tegores segala kisah yang mengharu biru.
Pagi masih bisu,
Aku termangu,
Menyesali dosa yang telah terjadi kemarin,
Hidup begitu cepat berlalu,
Dari detik, jam,hari dan tahun cepat terlewat.
Pagi masih bisu,
Beribu wajah telah menghias kisah,
Luka, tertawa, hitam, kelabu,..
Berbaur debu,
Kelabu
Mei 29, 2009
BASA BASI
Bumi sudah sumpek,
Penuh tumpukan sampah basa-basi,
Ribuan onggok pisau besi,
Ribuan bungkus iri dan dengki,
menyimpan rapi,
segala dendam dan benci.
Lautpun sudah penuh berbuih limbah kata,
Yang mengaburkan kebohongan dan dusta,
Dibalik debur semu biru
tersimpan bau amis penghianatan,
tak peduli mengglepar ribuan korban.
Langit sudah penuh pendar warna slogan,
mengemas rapi,
keculasan dan kebusukan,
Kelicikan dan akal bulus jadi strategi
Bumi, laut dan langit penuh warna kemunafikan.
Penuh tumpukan sampah basa-basi,
Ribuan onggok pisau besi,
Ribuan bungkus iri dan dengki,
menyimpan rapi,
segala dendam dan benci.
Lautpun sudah penuh berbuih limbah kata,
Yang mengaburkan kebohongan dan dusta,
Dibalik debur semu biru
tersimpan bau amis penghianatan,
tak peduli mengglepar ribuan korban.
Langit sudah penuh pendar warna slogan,
mengemas rapi,
keculasan dan kebusukan,
Kelicikan dan akal bulus jadi strategi
Bumi, laut dan langit penuh warna kemunafikan.
Mei 04, 2009
PRIA DAN COWOK
CERITA SEORANG PRIA DI TEMPAT DUGEM
Sebut saja Budi, seorang executive muda yang aku sering aku jumpai di ”wahana dugem”. Sepertinya tiap aku ke tempat dugem selalu bertemu dia dengan beberapa wanita temen akrabnya, Sepertinya dia ”orang gaul” dan banyak temen. Selalu ceria dan bercanda. Tapi benarkah begitu? Aku pun mencoba ngobrol dengannya, dan ternyata dia telah berumah tangga dengan 2 orang anak yang lucu. Dan dia pernah bilang bahwa sebenarnya, tempat terindah adalah di rumah, rumah adalah istananya, istri dan anaknya adalah bidadari dan malaikatnya. Lalu mengapa dia sering berada di cafe, bar dan tempat dugem sejenisnya? Ternyata sederhana jawabnya; Istrinya tidak pernah ’dapat memahami dia’...” Maksudnya gimana?”, aku pun minta penjelasannya, karena jangan-jangan cuma pembenarannya.
Dia pun menjelaskan dengan panjang lebar:
Istriku justru menjadi ’orang lain’ pada saat beberapa tahun sesudah married, terutama setelah memiliki anak, ”Dia yang dulu manis dan penuh perhatian, sekarang menjadi cuek dan kurang perhatian, Dia yang dulu selalu sabar melayani, sekarang menjadi acuh, dan melayani sekedar memenuhi kewajiban, Dia dulu yang selalu berusaha tampil cantik dan mempesona untuk menyambutnya, sekarang menjadi tampil ”apa adanya” bahkan kadang terlihat lusuh. Dia menjadi sibuk dengan pekerjaannya, seolah dia ingin menunjukkan bahwa dia ”ibu rumah tangga yang baik”, bahwa dia mampu membereskan semua yang ada di rumah. Dia pun terlihat ”apek”dan seolah lupa bagaimana cara tersenyum dan menyapa mesra suaminya. Dia seperti lupa cara ber ’make up’ seperti pada saat Budi ’ngapel” ke rumah nya...........Dia menjadi dingin dan bahkan cenderung bawel......apalagi kalau rumah terlihat ”tidak beres” di matanya.
Padahal seberapapun matangnya pria, dia tetap seorang cowok yang butuh perhatian,
Seberapa dewasanya pria , dia tetap memilki sifat bocah, yang ingin dimanja dan diusap kepalanya dengan mesra untuk menunjukkan perhatian.
Seberapapun tangguhnya pria, didalamnya masih ada jiwa kekanakan, pada saat gundah akan mencari belaian mesra dan pelukan yang meneduhkan.
Seberapapun kalemnya seorang pria, dia tetap seorang cowok nakal yang senang digoda dan di rayu, maka tak salah juga kalau ada pendapat extreme : Dalam urusan ranjang, seorang istri kadangkala perlu jadi pelacur bagi suaminya....maksudnya harus profesional dan berusaha semaksimal mungkin bagaimana ’menyenangkan’ suaminya.
Tetapi kebanyakan wanita lebih senang jadi ibu rumahtangga, daripada kekasih suaminya. Lebih senang dilihat banyak orang, daripada terlihat cantik di mata suaminya. Lebih senang bercanda dengan anak-anaknya, darpada berpeluk mesra dengan suaminya...tetapi anehnya masih saja bertanya: Kenapa suamiku sekarang jadi kurang perhatian ya????? Wanita selalu lupa : Pria tetaplah seorang Cowok (yang kadang kekanak-kanakan) yang dulu dikenal, meski telah terlihat dewasa. Bahkan tua sekalipun. Wanita menggumam: ”Lho, masa’ aku yang kasih perhatian terus?”... Nah...Wanita lupa lagi, bahwa cinta adalah memberi tanpa berharap...dan wanita dikarunia cinta yang begitu besar, untuk menyayangi, mengasihi dan melayani, dengan kecantikan dan kelembutannya.
Sebut saja Budi, seorang executive muda yang aku sering aku jumpai di ”wahana dugem”. Sepertinya tiap aku ke tempat dugem selalu bertemu dia dengan beberapa wanita temen akrabnya, Sepertinya dia ”orang gaul” dan banyak temen. Selalu ceria dan bercanda. Tapi benarkah begitu? Aku pun mencoba ngobrol dengannya, dan ternyata dia telah berumah tangga dengan 2 orang anak yang lucu. Dan dia pernah bilang bahwa sebenarnya, tempat terindah adalah di rumah, rumah adalah istananya, istri dan anaknya adalah bidadari dan malaikatnya. Lalu mengapa dia sering berada di cafe, bar dan tempat dugem sejenisnya? Ternyata sederhana jawabnya; Istrinya tidak pernah ’dapat memahami dia’...” Maksudnya gimana?”, aku pun minta penjelasannya, karena jangan-jangan cuma pembenarannya.
Dia pun menjelaskan dengan panjang lebar:
Istriku justru menjadi ’orang lain’ pada saat beberapa tahun sesudah married, terutama setelah memiliki anak, ”Dia yang dulu manis dan penuh perhatian, sekarang menjadi cuek dan kurang perhatian, Dia yang dulu selalu sabar melayani, sekarang menjadi acuh, dan melayani sekedar memenuhi kewajiban, Dia dulu yang selalu berusaha tampil cantik dan mempesona untuk menyambutnya, sekarang menjadi tampil ”apa adanya” bahkan kadang terlihat lusuh. Dia menjadi sibuk dengan pekerjaannya, seolah dia ingin menunjukkan bahwa dia ”ibu rumah tangga yang baik”, bahwa dia mampu membereskan semua yang ada di rumah. Dia pun terlihat ”apek”dan seolah lupa bagaimana cara tersenyum dan menyapa mesra suaminya. Dia seperti lupa cara ber ’make up’ seperti pada saat Budi ’ngapel” ke rumah nya...........Dia menjadi dingin dan bahkan cenderung bawel......apalagi kalau rumah terlihat ”tidak beres” di matanya.
Padahal seberapapun matangnya pria, dia tetap seorang cowok yang butuh perhatian,
Seberapa dewasanya pria , dia tetap memilki sifat bocah, yang ingin dimanja dan diusap kepalanya dengan mesra untuk menunjukkan perhatian.
Seberapapun tangguhnya pria, didalamnya masih ada jiwa kekanakan, pada saat gundah akan mencari belaian mesra dan pelukan yang meneduhkan.
Seberapapun kalemnya seorang pria, dia tetap seorang cowok nakal yang senang digoda dan di rayu, maka tak salah juga kalau ada pendapat extreme : Dalam urusan ranjang, seorang istri kadangkala perlu jadi pelacur bagi suaminya....maksudnya harus profesional dan berusaha semaksimal mungkin bagaimana ’menyenangkan’ suaminya.
Tetapi kebanyakan wanita lebih senang jadi ibu rumahtangga, daripada kekasih suaminya. Lebih senang dilihat banyak orang, daripada terlihat cantik di mata suaminya. Lebih senang bercanda dengan anak-anaknya, darpada berpeluk mesra dengan suaminya...tetapi anehnya masih saja bertanya: Kenapa suamiku sekarang jadi kurang perhatian ya????? Wanita selalu lupa : Pria tetaplah seorang Cowok (yang kadang kekanak-kanakan) yang dulu dikenal, meski telah terlihat dewasa. Bahkan tua sekalipun. Wanita menggumam: ”Lho, masa’ aku yang kasih perhatian terus?”... Nah...Wanita lupa lagi, bahwa cinta adalah memberi tanpa berharap...dan wanita dikarunia cinta yang begitu besar, untuk menyayangi, mengasihi dan melayani, dengan kecantikan dan kelembutannya.
Februari 17, 2009
SELAMAT JALAN PAK BAKIR
(4 Feb 2009)
Pagi-pagi aku terima berita,
Pak Bakir telah pergi menghadapNya.
Tertegun,
Rasanya baru kemarin bercerita,
Tentang pekerjaan, keluarga atau apa saja.
Ah, begitu cepat waktu lewat,
Begitu cepat semua berlalu,
Usia dan waktu berpacu,
Bersama deru dan debu.
Selamat jalan Pak bakir,
Dirimu telah memberi teladan yang baik,
Untuk menjadi guru,
Yang tak pernah ragu berbagi ilmu.
Dan kita telah belajar bersama,
Betapa teman dan kerabat tiba-tiba menjadi berkhianat,
Bahwa saudara pun telah jadi lupa, dan gelap mata.
Karena materi dan posisi semata.
Tapi Pak bakir bisa melewati semua dengan lapang dada.
Selamat jalan Pak Bakir,
Banyak yunior mu yang mengantar kepergianmu dengan sendu.
Pak Bakir telah menjadi Paman, Orang Tua dan guru bagi mereka
Selamat jalan Pak Bakir,
Damai dan Tentramlah di alam sana.
Pagi-pagi aku terima berita,
Pak Bakir telah pergi menghadapNya.
Tertegun,
Rasanya baru kemarin bercerita,
Tentang pekerjaan, keluarga atau apa saja.
Ah, begitu cepat waktu lewat,
Begitu cepat semua berlalu,
Usia dan waktu berpacu,
Bersama deru dan debu.
Selamat jalan Pak bakir,
Dirimu telah memberi teladan yang baik,
Untuk menjadi guru,
Yang tak pernah ragu berbagi ilmu.
Dan kita telah belajar bersama,
Betapa teman dan kerabat tiba-tiba menjadi berkhianat,
Bahwa saudara pun telah jadi lupa, dan gelap mata.
Karena materi dan posisi semata.
Tapi Pak bakir bisa melewati semua dengan lapang dada.
Selamat jalan Pak Bakir,
Banyak yunior mu yang mengantar kepergianmu dengan sendu.
Pak Bakir telah menjadi Paman, Orang Tua dan guru bagi mereka
Selamat jalan Pak Bakir,
Damai dan Tentramlah di alam sana.
Januari 31, 2009
KISAH DI TENGAH KEMACETAN
Pagi aku mengemudi di tengah kemacetan,
Tiba-tiba suara menderum dari samping kiri, motor besar melaju,
Bermanuver, serobot kiri, serobot kanan bergaya raja jalanan.
Ah, aku lihat di depan dia meludah sambil memaki yang dianggap merintang jalan.
Aku masih melaju pelan,
Di depan macet lama, karena ada kerumunan,
Pada saat kulewati kerumunan,
Aku lihat si jagoan jalanan terkapar bersimbah darah,
Aku masih melaju pelan,
Dan tercenung,
Begitu dekat jarak keangkuhan dan ketidakberdayaan,
Begitu dekat jarak kehebatan dan kelemahan,
Begitu dekat jarak hidup dan kematian.
Jalan kehidupan begitu dekat dengan jalan kematian.
Tiba-tiba suara menderum dari samping kiri, motor besar melaju,
Bermanuver, serobot kiri, serobot kanan bergaya raja jalanan.
Ah, aku lihat di depan dia meludah sambil memaki yang dianggap merintang jalan.
Aku masih melaju pelan,
Di depan macet lama, karena ada kerumunan,
Pada saat kulewati kerumunan,
Aku lihat si jagoan jalanan terkapar bersimbah darah,
Aku masih melaju pelan,
Dan tercenung,
Begitu dekat jarak keangkuhan dan ketidakberdayaan,
Begitu dekat jarak kehebatan dan kelemahan,
Begitu dekat jarak hidup dan kematian.
Jalan kehidupan begitu dekat dengan jalan kematian.
Januari 27, 2009
ELEGI PAGI
Aku terbangun tersapu panas mentari yang menerobos kisi jendela kamar,
Sinarnya makin panas dan nanar.
Bumi makin tua, makin renta
Waktu terus mengalir,
Jaman terus bergulir,
Kisah manusia dan nafasnya makin bau anyir.
Aku termenung, menghitung usia yang makin tua.
Meneliti kembali jalan yang telah terlewati
Begitu banyak peristiwa terjadi,
Manis, getir..
Tawa canda, tangis pahit
Cinta, dosa
Sinarnya makin panas dan nanar.
Bumi makin tua, makin renta
Waktu terus mengalir,
Jaman terus bergulir,
Kisah manusia dan nafasnya makin bau anyir.
Aku termenung, menghitung usia yang makin tua.
Meneliti kembali jalan yang telah terlewati
Begitu banyak peristiwa terjadi,
Manis, getir..
Tawa canda, tangis pahit
Cinta, dosa
Januari 16, 2009
PERPISAHAN
Saat kulepas kepergianmu,
kusadar ternyata namamu telah begitu dalam terpatri dihatiku,
Saat aku mencoba tersenyum mengiring kepergianmu,
Malah menjadi luka yang paling perih.
Aku sadar,
Kamu terlalu merah untuk kusimpan dalam warna kelabu,
Kamu terlalu rimbun, untuk kutanam di tanah gersang.
Hidup bukan rangkaian cerita cerpen,
Hidup bukan pula cerita telenovela,
Dan cinta bukan sekedar seribu nyanyian puisi,
Hidup dan cinta
Terkadang jadi pahit dan hitam.
Dan ternyata aku sadar,
Hatiku begitu mudah terluka,
Jiwaku begitu mudah larut,
Dalam haru biru warna kehidupan,
Dan untuk kesekian kalinya
Aku kebali merasa kalah,
Dan jatuh dalam jurang kesepian,
Yang dalam dan kosong.
kusadar ternyata namamu telah begitu dalam terpatri dihatiku,
Saat aku mencoba tersenyum mengiring kepergianmu,
Malah menjadi luka yang paling perih.
Aku sadar,
Kamu terlalu merah untuk kusimpan dalam warna kelabu,
Kamu terlalu rimbun, untuk kutanam di tanah gersang.
Hidup bukan rangkaian cerita cerpen,
Hidup bukan pula cerita telenovela,
Dan cinta bukan sekedar seribu nyanyian puisi,
Hidup dan cinta
Terkadang jadi pahit dan hitam.
Dan ternyata aku sadar,
Hatiku begitu mudah terluka,
Jiwaku begitu mudah larut,
Dalam haru biru warna kehidupan,
Dan untuk kesekian kalinya
Aku kebali merasa kalah,
Dan jatuh dalam jurang kesepian,
Yang dalam dan kosong.
Langganan:
Postingan (Atom)