Desember 22, 2023

THE JOURNEY XV

Hari itu Jum’at ke dua bulan Februari, sudah 2 minggu lewat Bu Wita tidak terlihat batang hidungnya. Seperti menghilang begitu saja. Dan kemaren aku sempat melihat Pram tampak seperti linglung, aku menegur pun tak dijawab. Berita dan gossip antar siswa simpang siur. Ada yang bilang pulang kampung, untuk menenangkan diri. Ada yang bilang pindah mengajar karena sudah tak tahan dengan gossip yang menimpanya. Ada pula yang bilang dipanggil orang tuanya untuk dijodohkan. Mana yang benar aku pun tidak tahu. Saya tanya Adri, tanya Rani, tanya Rusti semua menjawab tidak tahu dan tidak diberi kabar. Kemana dan apa yang terjadi ya, berbagai tanya berkecamuk di kepalaku. Tetapi saya heran juga, tampaknya pihak sekolah; teman-teman guru, kepala sekolah tampaknya tenang-tenang saja. Berarti mereka tahu Bu Wita kemana. Tapi kalau aku bertanya ke teman guru nanti malah jadi janggal. Ahh pasti ada apa-apa. Ah aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. Saya dapat sedikit bocor an dari Pak Riyanto, guru yang cukup dekat dengan Bu Wita, mengatakan bahwa Bu Wita sudah mengajukan pengunduran diri. Ah ada apa gerangan. Pasti ada alasan yang cukup serius kalau sampai Bu Wita memutuskan untuk mengundurkan diri. Selama ini Bu Wita sepertinya nyaman dan menikmati mengajar di sekolah ini. Selain luwes, ramah; Bu Wita juga dekat dengan para siswa. Aku harus mencari tahu apa dengan Bu Wita. Aku pun bergegas ke tempat Bu Wita. Kalau pun Rani marah nanti aku jelaskan belakangan. Sesampainya di rumah Bu Wita, pintu pagar terkunci dan tampak sepi. “Assalamu’alaikum”..aku mengucap salam. Tidak ada yang menyahut. Kamar Bu Wita yang terletak di depan, jendelanya pun tertutup. Tapi jendela tengah tampak terbuka, berarti ada orang di dalam. “Assalamu’alaikum”. Permisiii…aku ulang salam. Aku tunggu beberapa saat, terdengar suara menyahut. “Wa’alaikumsalam, bentar ya” ..sepertinya suara Bu Darmo, ibu induk semang yang menyahut. Ibu Darmo pun keluar. Dan membuka kunci pagar. Aku pun dipersilahkan masuk. “Ya silahkan Nak……”. “Eeehh, ini nak……..murid Bu Wita kaan..?” “iya Bu, saya Topan”… “Bu Wita kemana ya Bu?” “Lho memang Nak Taufan gak tahu, kalau Bu Wita pindah kemana?” “Nggak tahu Bu, memang pindah kemana Bu?”… “Waduh, saya juga gak tahu. Pindahnya mendadak dan tidak memberitahu pindah kemana” “Ehh bentar, kemaren ada titipan surat buat Nak Topan” “Kemaren saya juga bingung, gimana mau menyampaikan surat ini”.. "Untung Nak Topan cepat datang"... Bu Darmo pun masuk ke dalam. Amplop putih tertulis : Dear Taufan pun aku buka, dan aku baca isinya; Buat Taufan yang baik, Mohon maaf saya tidak sempat pamitan , karena semua serba mendadak. Saya mengambil keputusan untuk pergi dari sekolah ini untuk kebaikan semua pihak. Untuk teman-teman guru, murid saya dan juga kamu murid kesayangan Ibu. Saya akan menyepi untuk beberapa waktu dan akan mengabari kamu, apabila saya sudah merasa tenang dan mendapat tempat mengajar lagi. Mungkin kamu juga tahu, selain kabar-kabur itu, saya juga memutuskan untuk menjauh dari Pram. Tadinya Ibu pikir dengan saya mencoba dekat dengannya akan merubah sifatnya, dan bisa membuat lebih dewasa. Ternyata ybs seperti merasa tergantung sama saya, dia malah seperti terobsesi dan menjadikan saya, selain seperti kekasih, kakak bahkan kadang harus seperti ibu yang mengasuhnya. Kalau ada masalah di rumah, selalu saja datang ke rumah jam berapa pun. Tanpa menghiraukan pandangan orang, tanpa melihat situasi Ibu. Ibu menyerah dan tak sanggup menghadapinya, terlebih dengan kejadian terakhir di depan kelas. Kelakuan Pram sepertinya makin menjadi. Selama lima bulan saya menjalin kedekatan dengan Pram terasa menjadi beban, bahkan kadang menyiksa. Atau mungkin nasib Ibu yang memang kurang beruntung dalam masalah hubungan percintaan ya Pan?... Oh ya kamu masih bertanya-tanya tentang MT ya? Suatu waktu mungkin kamu akan tahu, atau bila tidak pun biar saja tetap jadi teka-teki. Karena sepertinya perasaan Ibu tersebut juga seperti misteri. Benar kata orang, perasaan itu pada saat datang , kita tidak dapat mengusirnya, bahkan tidak pula dapat mengabaikannya. Soal apakah perasaan itu wajar, pantas atau tepat tidaknya itu soal lain. Tetapi begitulah Tuhan menciptakan misteri kehidupan yang namanya Cinta. Ehh kok jadi ngelantur ya. Sementara sekian dulu ya To, salam buat teman-teman terutama Adri, Rusti dan Rani. Kamu dan mereka adalah murid-murid kesayangan ibu yang selalu ada di hati Ibu. Salam sukses dan sejahtera selalu. Roswita. Membaca surat itu, dadaku tiba-tiba terasa sakit dan sesak. Tanpa terasa air mata mengalir. Tiba-tiba ada kehilangan yang besar dan merasa kosong. Aku tidak tahu rasa apa itu. Tiba-tiba ada rasa kangen; ingat candanya, ingat ketawanya dan tatapan matanya yang kadang membuatku kikuk, pada saat diskusi bukunya. Bu Darmo mungkin melihat perubahan wajahku dan bertanya; “Memang kenapa nak, dengan Bu Wita? Bu Wita memberitahu kemana kenapa pindah?” “Tidak Bu, Bu Wita tidak memberi tahu. Bu Wita pamit saja dan salam buat teman-teman” “Oh ya Bu, kalau gitu saya pamit. Terima kasih ya Bu”..aku berpamitan. Aku pun bergegas pulang dengan perasaan campur aduk. Rasa kehilangan, kosong, kangen ..ahh entah apalagi. Kenapa Bu Wita pergi begitu saja tanpa pamitan, tanpa ada sepatah kata pun; tanpa memberitahu kemana dan punya rencana apa. . Ahh Bu Wita kemanakah dirimu?????

Desember 21, 2023

THE JOURNEY XIV

Ternyata cerita Rani benar. Bu Wita memang sedang dekat dengan Pram. Saya melihat sendiri kedekatan mereka, waktu itu Bu Wita terlihat berboncengan dengan Pram. Saya menjadi makin kasihan dengan Bu Wita. Tentu saja apa yang dilihat oleh para muridnya dan rekan gurunya, sebagai sesuatu yang “tak elok”. Gossip mengenai Bu Wita dan Pram sepertinya lebih parah dari gossip mengenai aku tertangkap di rumah Bu Wita. Kalau aku hanya berita dari mulut ke mulut. Kalau ini mereka melihat langsung kedekatan antara Pram dengan Bu Wita. Mereka terlihat sering bersama-sama pulang. Pram sering menunggu usai jam sekolah, bahkan ketika Bu Wita pulang sore. Pram sepertinya malah bangga dan seolah mengexpose sedemikian rupa. Aku sampai sekarang belum sepenuhnya percaya, apakah Bu Wita sungguh-sungguh berhubungan dekat dengan Pram. Aku merasa ada yang aneh. Dari dulu Bu Wita tidak pernah dekat dengan Pram. Antara aku, Adri, dan Rani, Bu Wita justru lebih dekat dengan Rani dan aku. Pram tidak pernah ke rumah Bu Wita kecuali bersama salah satu dari kami. Saya masih berpikir mungkin karena guna-guna. Aku menjadi penasaran dan ingin tahu ada apa gerangan. Aku ingin menanyakan langsung kle Bu Wita. Tetapi aku sudah berjanji ke Rani, saya tidak akan ke tempat Bu Wita, setidaknya jangan sendirian; begitu pesan Rani. Saya harus mengajak Rani, mudah-mudahan Rani mau menemaniku. Siang itu aku nunggu di depan kelas Rani. Nunggunya lumayan lama, rupanya pelajaran Fisika, Pak Nurdin memang suka molor jatah jamnya, apalagi kalau pas jam terakhir. Akhirnya Rani keluar juga. Hmmm wajahnya terlihat agak lelah, tapi tetap ceria. “Ehhh To, ada apa?” “Ran, temenin aku ke rumah Bu Wita yuk”.. “Memang mau ngapain To?... “Yuk kita sambil jalan saja ngobrolnya”.. Aku pun mengangguk setuju sambil terus berjalan. “Kayaknya kita perlu klarifikasi ke Bu Wita soal hubungannya dengan Pram”.. “Ahhh gak mau ah, lagian ngapain kita ikut urusan orang”…tolak Rani. “Ran, Bu Wita bukan orang lain Ran”.. “Aku merasa ada yang janggal soal hubungan mereka” “Ya, tapi kan bukan urusan kita To, mereka sudah dewasa”.. “Salah-salah nanti Pram malah ngamuk sama kita”..Rani masih berkukuh menolak. “Ran, kalau ternyata ada sesuatu yang kurang wajar, kamu mau biarkan Bu Wita jadi korban Pram?”… “Maksudnya gak wajar gimana Pram, Bu Wita kena guna-guna?”… “Ya salah satu kemungkinannya”…. “Serius kamu To, kamu berpikir ke sana?.. “Ya gak tahu, makanya kita harus memastikannya Ran”.. “Ok lah, kalau gitu lusa aja ya, hari Jum’at. Jadi agak nyante”.. Meskipun menurutku bisa sore ini atau besok, tapi aku pun mengangguk setuju saja. Jum’at sore aku pun ke tempat Bu Wita. Rani sudah sampai dulu an, karena memang rumahnya tak terlalu jauh juga. Sambil menikmati teh yang dihidangkan Bu Wita, dan rempeyek renyah favorite ku, kami ngobrol dan bercanda. “Btw tumben nih, kalian datang berdua. Takut ada gossip ya?”. Bu Wita sepertinya tahu ada yang akan kami sampaikan. Aku berpandangan dengan Rani. Saling menunggu siapa yang mulai bicara. “Begini Bu, gossip tentang Bu Wita sama Pram , apa itu benar?”..aku mulai bertanya. “Ya bisa bener , bisa nggak” Jawab Bu Wita santai. Jawaban Bu Wita makin membingungkan aku dan Rani. “Maksudnya gimana Bu, jadi Ibu bener pacaran sama Pram?” tukas Rani. “Sebenarnya bukan pacaran juga. Saya memang dekat dengan Pram, tapi bukan pacaran”. Jawaban Bu Wita makin membingungkan. “Ahh, kami gak ngerti Bu”..aku terdiam, sambil menerka-nerka apa maksud Bu Rani. Melihat kami terdiam kebingungan, Bu Wita mencoba menjelaskan. “Gini lho, Ibu lagi mencoba jadi dokternya Pram” “Dokter? Memang Pram sakit? Tanya Rani. “Tentu saja bukan sakit fisik. Tapi sepertinya Pram ada penyimpangan Mental Disorder”. “Penyimpangan gimana Bu? Ibu tahu dari mana?..aku penasaran. “Pram bukan sekedar suka, atau kagum sama Ibu, tapi lebih kompleks dari itu”.. “Sikapnya kekanak-kanakan, cenderung Sosiopat. Egosentris” “Masa’ sih Bu, saya lihat Pram normal saja kecuali memang temperamental” aku masih gak yakin dengan anlisa Bu Wita. “Penyimpangan perilaku, penyakit kejiwaan memang tidak mudah terlihat, bahkan kadang untuk orang tertentu cenderung disembunyikan” Jelas Bu Wita. “Kalian tahu, Pram pernah tidur di emperan situ, gara-gara saya tidak menemuinya”..Cerita Bu Wita sambil menunjuk kea rah depan pintu. “Oh ya? Segitunya Bu?”..aku makin penasaran. “Bukan itu saja, ternyata Pram sering menginap di rumah tetangga sini, demi memata-matai Ibu”…cerita Bu Wita. “Jadi , sebelum Ibu jadi gossip di sekolah, Ibu sudah jadi artis di kampung ini” Kami pun tercengang dengan cerit a Bu Wita. Tak menyangka Pram sejauh itu. “Makanya Ibu coba deket sama Pram, supaya Pram tidak bikin ulahaneh-aneh lagi” “Siapa tahu Ibu, pelan-pelan bisa merubah perilakunya , yang cenderung agak menyimpang itu”.. Bu Wita menerangkan alasannya. “Tapi apa harus segitunya Bu?” Tanya Rani. “Ya itu pilihan Ibu yang anggap terbaik dari yang buruk. Karena kita tidak tahu apa yang sudah dilakukan dan diomongkan Pram di luar sana”.. “Sekarang minimal Pram, tidak lagi berkeliaran di sekitar rumah Ibu. Ibu sekarang juga lebih bisa memonitor apa yang dilakukan Pram” jelas Bu Wita. “Tapi nama Ibu di sekolah kan jadi kurang baik “ jelasku. “Iya saya tahu To, saya juga sudah jelaskan juga kok ke pak Kepala Sekolah” “Pak Wandi bisa mengerti?” tanyaku. “Ibu gak tahu juga. Beliau cuma pesan agar hati-hati dan jaga nama baik Ibu sebagai guru” “Mudah-mudahan Ibu segera bisa cari jalan keluar yang lebih baik” “Dengan berkomunikasi dan mengamati langsung Pram, siapa tahu juga Ibu bisa nulis buku tentang perilaku” terang Bu Wita, sambil menghela nafas. Seperti mecoba membuang beban didadanya. Tampaknya Bu Wita berusaha menghibur diri, atau cari pembenaran? Aku tidak tahu. Yang pasti Bu Wita terlihat berat, sesuatu yang menyesakkan ketika cerita tentang Pram. Seperti yang sudah kuduga hubungan Bu Wita dan Pram tidak seperti yang terlihat , kalau Bu Wita pacaran dengan Pram. Ketika Bu Wita cerita aku lebih banyak mendengar. Sebenarnya saya ingin menyampaikan ketidaksetujuan ku pada pilihan Bu Wita, tapi aku menahan diri. Selain aku tidak yakin tanggapan Bu Wita, aku juga takut kalau Rani malah jadi salah paham. Aku tetap tidak setuju dan makin merasa kasihan dengan Bu Wita. Waktu tak terasa menjelang maghrib, kami pun pamitan pulang. _________________ Saya mencoba memahami apa yang dijelaskan sama Bu Wita tentang hubungannya dengan Pram, dan berharap gosipnya mereda. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Gosip makin kencang. Hal itu juga diperparah sama kelakuan Pram yang secara demonstratif memperlihatkan kedekatannya dengan Bu Wita. Seolah ingin mengumumkan pada seluruh guru,siswa bahkan ke semua orang; Bu Wita milik Pram. Sore itu pada saat sebagian siswa melakukan kegiatan extrakurikuler dibuat heboh, Pram tiba-tiba memeluk Bu Wita ketika dia selesai mengajar drama. Aku tidak melihat langsung karena sedang asyik membaca naskah. Aku Cuma dengar teriakan Bu Wita: “Pram ..kamu jangan ngacau , ini di sekolah!” Akupun bergegas keluar, dan aku lihat muka Bu Wita pucat dan tegang, sepertinya antara takut dan marah. Atau mungkin sedih , kaget, galau campur aduk. Sementara aku melihat Pram malah tersenyum-senyum, seolah malah berbangga diri. Pram memang Eddduunn….. Aku sebenarnya pengen tanya atau menghibur Bu Wita. Tapi kulihat Rani seolah memberi kode untuk tidak ikut campur dan meninggalkan tempat. Kalau bukan karena merasa tidak enak sama Ran pasti aku sudah dekatin Bu Wita. Aku ingin menghibur Bu Wita yang nampak malu dan terluka. Pram sepertinya tidak sadar telah melukai perasaan dan harga diri Bu Wita. Bu Wita orang yang lembut. Siapapun yang dekat dengannya akan merasa nyaman. Bahkan ketika marah tak sekalipun ngomong kasar atau membentak siswanya. Aku juga heran kenapa dia belum punya pacar, padahal cantik, cerdas dan “care” sama orang. Pokoknya saya yakin siapapun yang jadi suaminya akan dimanjakan dan dilayani dengan baik olehnya. Pram? Semoga bukan Pram yang jadi suaminya, begitu aku membatin. Sementara Pram orang yang berangasan, egois dan sangat bangga dengan gender kelakiannya. Pram bilang suka sama Bu Wita, tetapi sepertinya tidak pernah peduli Bu Wita. Pram tidak berusaha menjaga perasaan dan posisi Bu Wita. Kasihan Bu Wita. Benar perkiraan saya. Setelah insiden pelukan Pram gossip mengenai Bu Wita makin kencang. Bu Wita terpojok sendirian. Sementara Pram bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Bahkan aku mendengar kalau teman-teman guru Bu Wita pun ikut mencibir dan menjauhi Bu Wita. Padahal Bu Wita sejatinya korban. Masyarakat sosial kita terkadang memang tidak adil terhadap perempuan. Bu Wita yang biasa rajin muncul dan menyapa anak-anak beberapa hari ini tidak terlihat. Bu Wita juga sudah absen mengajar tiga hari ini. Kemana ya? Mungkin Bu Wita sibuk menulis? Atau stress, tertekan dengan gossip yang makin menjadi-jadi? Aku menduga-duga. Aku ingin tahu tapi tidak tahu bertanya pada siapa. Rasanya mau segera datang ke rumahnya dan mendengan cerita dari Bu Wita. Tapi aku tidak bisa datang sendiri. Akupun harus mengajak Rani. Sore itu se usai jam sekolah , aku samperin ke kelas Rani. “Rani, kamu tahu Bu Wita sudah beberapa hari ini gak ngajar?” tanyaku. “Iya To, kelas Bahasa kemaren kosong” “Kamu tahu Bu Wita kemana?” “Ya gaklah To, memang Bu Wita kalau gak masuk harus ijin ke aku?” “Bukan gitu Ran, kamu kan tahu kejadian kemaren dan gossip yang menimpa Bu Wita” “Iya To, gak ada yang tahu. Saya tanya Rusti yang rumahnya dekat Bu Wita pun tidak tahu” “Kita ke rumahnya yuk” ajakku ke Rani. “Jangan To, kita gak perlu terlalu campur urusan Bu Wita, dan belum tentu juga Bu Wita berkenan”… “Siapa tahu dia memang lagi perlu waktu untuk sendiri” ..,jelas Rani “Hmmmmm gitu Ran… “Iyalah To, kenapa sih kamu pengen tahu Bu Wita kemana…. “Iya Ran, kamu kan tahu gimana cerita nya dia sama Pram”.. “Iya, tapi kayaknya itu konsekuensi pilihan Bu Wita” jelas Rani “Maksudmu Ran?.... “Iya , harusnya Bu Wita tidak menerima Pram sebagai pacarnya. Apapun alasannya”… “Tapi kita kan sudah dengar penjelasan Bu Wita Ran..” “Ya justru itu, aku malah merasa ada sikap oportunis dari Bu Wita”….. “Oportunis ? maksudmu bu Wita ambil kesempatan?....aku gak mengerti ucapan Rani. “Bukan dalam artian ambil kesempatan To. Tapi Bu Wita seperti mencari tantangan, entah alas an experiment kejiwaan atau memang merasa tertantang ingin menaklukkan Pram”… “Ah, masa sih Ran. Aku gak mengerti”….Rani memang sering punya pemikiran yang berbeda. “Iya To, kamu pernah baca kan. Kalau ada beberapa wanita, yang mungkin rasa keibuannya terlalu dominan, malah suka dekat dengan “Bad Boy”… “Ah masa sejauh itu sih Ran”…..aku paham tapi agak kurang sepakat dengan analisa Rani. “Jadi kamu gak mau nih?...aku tanya Rani lagi. “Gak To, kita tunggu kabarnya saja To” Terpaksa aku pun menurut sama Rani, untuk bersabar menunggu kabar dari Bu Wita. Mungkin ada benarnya, memberi kesempatan Bu Wita merenung, berpikir dan mencari jalan keluar sendiri.

THE JOURNEY XIII

Sudah beberapa hari ini aku berusaha bertemu Rani susah sekali. Padahal satu sekolah. Apa Rani menghindariku ya?. Tiap aku ke kelas dia, temannya bilang tidak tahu, atau jam sekolah berakhir selalu sudah pulang. Ya..satu-satunya jalan, aku harus keluar kelas lebih cepat dan menunggu di depan kelasnya. Hari itu pun aku keluar kelas lebih cepat demi menunggu Rani di depan kelasnya. Setelah beberapa saat, Rani yang kutunggu-tunggu pun keluar dari kelas. Dia berjalan cepat dan menunduk, eh kok dia lewat begitu saja, seperti tidak melihatku. “Ran..Rani….” aku panggil cukup keras, sehingga siswa-siswa lain menoleh padaku. “Ehh To,ada apa? Aku mau buru-buru pulang To”..Rani menjawab sambil terus berjalan. “Ran, aku mau bicara Ran”… “Ehhmm apalagi siih, kayaknya gak ada yang perlu dibicarain deh”…Rani bicara sambil terus berjalan cepat, aku pun setengah berlari mengikutinya. “Ran, tolong aku kasih waktu ya Ran, Please?...aku memohon. “Penting?”..Rani menyela. “Penting banget Ran. Please”… “Ya sudah kalau gitu besok ya To. Kita ketemu di warung Es Pak Dullah" Akupun mengganggguk sedkit lega. Rani bersedia mmeberi waktu untuk aku menjelaskan. Akupun jadi tak sabar menunggu besok. Hari dan jam serasa berjalan lebih lambat. Aku menunggu dengan gelisah hari itu. Jam sekolah tidak kunjung usai. Tiap mata pelajaran terasa lama. Penjelasan Bapak Ibu guru hari itu terasa lebih bertele-tele. Ahh lama sekali. Akhirnya…..Bel usai sekolah pun berbunyi. Setengah berlari aku menuju warung es campur tidak jauh dari sekolah, sesuai kesepakatan dengan Rani kemarin. Setelah menunggu beberapa saat, Rani pun datang, dengan muka datar saja. Tak Nampak keceriaan yang selalu ada di wajahnya. “Hai Ran, mau pesen apa ?”.. “Air mineral saja To”. Akupun segera pesankan air mineral dingin. Rani minum pun minum, siang itu memang cuaca cukup panas dan gerah. Kami pun terdiam agak cukup lama. Hmmmm ..akupun bingung mau mulai bicara dari mana… “Hmm gimana To? Mau bicara apa?”..Rani membuka kesunyian kami. “Hmmm gini Ran, soal gossip aku sama Bu Wita kamu percaya?”.. “ Ya ada percayanya juga sih”.. “Kok gitu Ran, kamu tahu aku kan? Gak mungkinlah aku sampai menjalin hubungan denganyya, aku sangat menghargai Bu Wita”sebagai guru kita" jelasku. “Iya, tapi aku jadi merasa ragu sama kamu, kenapa kamu tetap ke sana, meski aku larang?”..Rani memberikan alasan. “Ran, kamu kan tahu. Bu Wita lagi punya proyek nulis buku, dan aku bantu” “Iya, tapi kamu mestinya hati-hati juga. Bagaimana pun Bu Wita kan perempuan muda yang masih sendiri pula. Dan bener kan jadi menimbulkan masalah”… “Iya sih Ran, aku juga tidak mengira , akibatnya akan sejauh itu” “Aku memang salah juga sih, tidak menghiraukan peringatan kamu. Mestinya aku harus berhati-hati, tidak berkunjung sampai malam”. “Tapi kamu tidak percaya apa yang dikatakan orang-orang kan Ran?” Aku tetap yakin kalau Rani masih mempercayaiku. Rani lama terdiam. “Rani..jawab dong”…. Rani masih diam saja. “Ran…kamu masih percaya sama aku kan ?”..aku ingin dengar jawaban Rani. “Iya To, aku percaya. Tapi aku gak suka kalau kamu terlalu dekat sama Bu Wita”.. “Iya Ran, aku tahu. Aku minta maaf Ran”.. Rani mengangguk. Aku pun lega, sepertinya Rani memaafkan ku. “Kamu tahu gimana Bu Wita sekarang Ran?”… “Tuh kan, Bu Wita lagiiiii”….jawab Rani, tapi melihat wajahnya saya tahu tidak sungguh-sungguh marah. “Yak an , Bu Wita lah guru yang selama ini dekat sama kita Ran”.. “Iya Too, minggu lalu sempat ketemu, sepertinya sih baik-baik saja”. “Kamu gak usah khawatir To. Dia kan lebih dewasa dari kita. Profesinya guru lagi, jadi pasti lebih bisa menghadapi masalah lebih dari pada kita-kita”… “Iya sih, tapi kalau dari fitnah yang beredar itu, aku kan kasihan juga” “Iya To, mudah-mudahan gossipnya segera hilang” “Ran, nanti kalau aku mau ke tempat Bu Wita, kamu mau ikut kan?” “Iya nanti kalau memang perlu To. Kalau sekarang kan belum perlu” “Iiya….”,…aku meng iya kan saja , takut Rani masih sensi. “Eh To, kalau misalnya Bu Wita deket sama seseorang, kamu gak masalah?” Aku diam saja , karena tidak mengerti arah pertanyaan Rani. “Too, kok gak dijawab?”… “Hmm…maksudnya gimana Ran?”..aku memang sama sekali tak mengerti. “Memang kamu gak tahu sekarang Bu Wita deket sama seseorang?” “Gak tahu Ran, siapa?” aku penasaran. “Mau tahu aja atau mau tahu banget nih?” goda Rani. “Ya mau tahu aja sih”…. “Memang siapa Ran, kamu kenal orangnya?” “Kenal. Kamu juga kenal kok”…jawaban Rani makin bikin penasaran. “Hmmm ..memang siapa Ran?” aku masih belum bisa menebak siapa yang dimaksud Rani. “Bu Wita sekarang lagi dekat sama Pram”..tukas Rani. “Haahhhhhh!!!”…..aku benar-benar terkejut. “Yang bener Ran?”….. “Kok respon kamu segitunya To”…Rani malah tersenyum-senyum lihat ekspresi kekagetanku. “Ni kaget, galau atau cemburu nih?” Rani malah terus menggoda. “Bukan cemburu Ran, tetapi kamu kan tahu Pram kayak apa”……. “Serius? Memang kamu tahu darimana?” aku tetap masih tak percaya. “Ya, pertama denger dari Rusti aku juga gak percaya. Tapi kemaren aku lihat langsung”.. “Lihat langsung?”…. “Iya kemaren Pram nunggu didepan kelasku waktu pelajaran Bu Wita”.. “Pas aku tanya; ngapain Pram? Pram jawan lagi nunggu pacar,.. sambil tunjuk Bu Wita” “Dan benar, pulangnya Bu Wita mbonceng motor Pram”..Rani menjelaskan. Ahhh..aku tetap tak percaya. Bagaimana mungkin Bu Wita dekat sama Pram. "Pulang berdua Pram?" tanyaku masih kurang percaya. "Iya Toooo, kamu cemburu, gak ikhlas?" tanya Rani. "Ya nggaklah Ran"...Tapi aku masih kurang percaya"....jawabku. Aku terangkan ke Rani, bahwa hubungan Bu Wita dan Pram mungkin didasari sesuatu yang kurang wajar. Dan Pram punya moivasi lain, bukan karena suka ataupun cinta. Tapi menurut Rani aku dan Rani tidak boleh ikut campur. Itu urusan mereka; Pram dan Bu Wita. Walau dalam hati aku kurang setuju, tapi aku tak berani membantah. Takut malah Rani jadi marah dan salah faham lagi. Setelah ngobrol Panjang lebar kami pun pulang. Aku pun lega karena berbaikan kembali dengan Rani. Tetapi sekarang aku tetap pusing. Aku tak habis pikir, bagaimana Bu Wita bisa dekat sama Pram. Bahkan mungkin mereka pacaran? Bagaimana mungkin? Apakah karena guna-guna Pram? Kalau karena itu, alangkah kasihan Bu Wita. Seribu tanya berkecamuk di kepala. Sore itu aku pulang dengan teka-teki baru. yang belum ada jawabannya.

Desember 14, 2023

THE JOURNEY XII

Untuk cooling down, sementara aku pun tidak datang ke rumah Bu Wita, mungkin untuk sebulan dua bulan. Kalau kebetulan lagi ingin ke luar rumah, aku main ke tempat Adri dan bisa baca-baca komik atau novel. Kebetulan dekat rumah Adri ada tempat persewaan komik dan novel. Atau kalau pengen denger musik dengan sound system yang OK, aku main ke tempat Haris. Siang itu saya pun asyik baca komik di kamar Adri. Adri asyik dengan walkmannya sambil geleng-geleng kepala. Kami sibuk dengan ke asyik an sendiri-sendiri. Tiba-tiba Adri nyeletuk; “Kamu beneran ketangkap basah di kamar Bu Wita , To?” Akupun kaget dengan pertanyaan Adri. “Hahh, aku ketangkap basah di kamar? Adri dapat gossip dari mana?”… “Memang kamu gak tahu, dah jadi gossip di sekolah To. Katanya kamu ketangkap berada di kamar berdua Bu Wita sama pemuda kampung”…Ardi menjelaskan. “Ngawur.., para pemuda itu cuma ada di halaman, gak masuk rumah. Darimana tahunya kalau kami ada di kamar?” aku pun menjelaskan. “Eeeh jadi kamu beneran digwrebek pemuda kampung?”..tanya Ardi. "Bukan di gerebek, mereka membawaku ke pos RW pada saat aku mau pulang" jelasku. "Kok bisa?"..tanya Ardi "kepo", sambil melepaskan walkman dari kepalanya. "Iya, aku pulang nya ke malam an, lewat in jam berkunjung" "Jadi benar kamu di kamar berdua di kamar sama Bu Wita"? tanya Ardi. “Ya gaklah, waktu itu kami sedang diskusi , duduk di ruang tamu, pada saat aku bersiap pulang pintu diketuk sama pemuda lingkungan , dan kami keluar”.. aku menjelaskan. “Ya kirain”…eehh tapi gosipnya lain lagi lho To, pokoknya ceritanya seruu”…Ardi menjelaskan sedikit meledekku. “Seru gimana Dri?” “Ya katanya kamu tertangkap basah di kamar berdua sama Bu Wita. Malah ada yang cerita katanya pas pintu kamar gedor, kalian berdua lagi buru-buru pakai baju”…Adri menjelaskan. “Yang bener Dri? Gila.....kamu percaya cerita omong kosong itu?”..tanyaku tak percaya dengan yang kudengar. “Ya percaya gak percaya sih, tapi yang pasti gossip itu makin rame. Memang kamu gak tahu To?”.. “Ya denger juga sih, sekilas aja. Dan aku memang gak mau tahu, karena aku merasa tidak melakukan apa-apa. Tapi saya gak mengira gossipnya sampai sejauh ”.. Hmmmmm…… Kalau gossip itu makin jadi bola liar, apa tanggapan Rani, bagaimana tanggapan Bu Wita. Bagaimana pula sikap Rani. “Eh Dri, kamu sudah pernah tanya Rani, gimana dia menanggapi gossip ini?”… “Baru aja tadi pagi ngobrol. Kayaknya sih dia kecewa sama kamu”… “Jadi dia percaya?”.. “ Ya pikir aja sendiri. Dia bilang kamu sudah berubah, katanya kamu susah dibilangin”… “Serius Dri, Rani bilang begitu?”.. “Iya, tanya sendiri kalau gak percaya”..Adri meyakinkanku. Ya aku memang harus tanya Rani langsung. Saya juga harus tahu bagaimana tanggapan Bu Wita, karena ini mengenai nama baik dia juga. Hmmm ada baiknya aku tanya Haris juga, meskipun mulutnya “agak jahat”, Haris orangnya terbuka dan omongannya dapat dipercaya. Akupun langsung ke rumah Haris, dan kebetulan dia lagi nongkrong di teras. “Assalamu’alaikum..” “Ehh Topan apa kabarnya , sejak jadi artis jarang kelihatan” “Ahh apaan sih lu Ris”..aku menyela candanya. “Ehh ada perlu apa nih? Ibu Guru kesayangan gimana kabarnya?’.. “Asyik ya To, pacaran sama orang yang sudah pengalaman?”..Haris terus meledekku. “Ngarang kamu Ris. Justru aku ke sini mau tanya gossip itu versi kamu” “Cuma gossip nih? Bukannya beneran?”.. “Aku serius Ris, gimana cerita yang berkembang di sekolah?” “Wah kok kebalik? tadinya malah aku mau denger cerita dari kamu” “Ayolah, aku serius nih”..aku menyela candaan Haris yang gak lucu. “Ok, ok To”…Haris pun berubah serius lihat kesungguhanku. “Kalau menurut cerita sih , katanya kamu ketangkap basah lagi berduaan di kamar sama Bu Wita”.. Hmmm ternyata betul cerita Adri. Versi gossipnya memang sudah jadi melebar dan tidak sesuai fakta. “Malah ada yang bilang kamu diseret keluar dari kamar sama pemuda-pemuda disana” “Wah ngacau gossipnya”…aku menyela tak sabar. “Wah, kalau kamu dengar langsung seru To, berbagai versi critanya”…. Aku diam saja, tiba-tiba merasa malu dan juga kasihan dengan Bu Wita. “Tapi intinya, semua sama To. Mereka percaya kamu kepergok ngamar berdua Bu Wita”. “Hahhhh! Ngamaar ?..” aku tetap masih kaget meskipun Adri sempat cerita juga. Tetapi cerita dari mulut Haris menjadikan lebih dramatis. “Iya, gossipnya begitu. Dan sebagian besar dari mereka percaya To”…. Ahhh, bagimana ini. Kenapa bisa jadi begini. Aku tak mengira peristiwa dengan pemuda lingkungan itu menjadi issue liar tak terkendali. Aku mendadak pusing kepala. “Ok Ris, terima kasih informasinya”.. “Aku pamit pulang ya”…. “Eh iya To”…Haris terbengong melihatku tergesa pergi. Ya aku harus segera mengklarifikasi gossip itu. Aku harus bertemu Bu Wita untuk tahu bagaimana Bu Wita menanggapai gossip ini. Aku harus bertemu dengan Rani juga. Aku tak mau Rani makin salah paham mengenai hubunganku dengan Bu Wita. Meskipun aku agak enggan kalau mengingat sifat Rani yang emosi an, aku pasti habis disalah-salahkan, di marah-marah in. Tetapi demi Bu Wita aku harus hadapi. "Eh ..demi Bu Wita?' "Hmmmm, demi memperbaiki hubunganku dengan Rani?... AAh makin pusing kepalaku.

Desember 13, 2023

THE JOURNEY XI

Sejak insiden “kecemburuan Rani” terhadap Bu Wita, komunikasi dengan Rani semakin jarang. Rani masih marah, akupun merasa sebal, aku anggap Rani berlebihan dan kekanakan. Sebaliknya aku makin sering main ke rumah Bu Wita, karena antologi puisinya akan segera selesai. Aku bantu edit dan sedikit kasih ide design sampulnya. Bu Wita oarngnya perfeksionis jadi selalu saja ada yang diubah dan diperbaiki. Dan akupun jadi lebih sering datang ke rumah Bu Wita. Bu Wita bilang sebelum akhir tahun buku antologi puisinya bisa diterbitkan. Aku pun jadi sering melewati batas jam berkunjung di kost an Bu Wita. Aturannya cukup ketat, jam 09.30 malam tamu harus sudah pulang. Dengan toleransi setengah jam, jadinya maksimal jam 10.00 malam. Belakangan aku jadi sering lewat dari jam 10.00 gara-gara ke asyikan ngobrol. Itu pun biasanya karena tersadar setelah bunyi gorden ditarik ; “sreek, sreeeeekkk, dan sepertinya disengaja ditarik lebih keras sama Bu Darmo, sebagai alert. Malam itu Ibu induk semang sudah membunyikan alert. Aku pun minta pamit sama Bu Wita; “Bu sudah malam, saya pulang dulu ya”…. “Bentar lagi To, nanggung. Ini puisi penutup harus beres malam ini”.. “Bentar lagi ya ..” akupun Cuma mengangguk saja. Kami pun meneruskan diskusi dan mengedit beberapa kalimat pengantar dan puisi penutup. Ahhh..akhirmnya selesai juga. Jam berapa ini. Hahhhh!..sudah hamper jam 12………waduuuhhh.. Belum sempat pamit, tiba-tiba ada suara gaduh dari luar. Tampaknya banyak orang di luar rumah. Wah ada apa ya? “Mas, Mbak yang di dalam keluaarrr!!....begitu salah satu dari mereka teriak. “Bu Wita, ada apa ya? Siapa yang disuruh keluar?”.. “Ya udah, saya antar kamu keluar pulang, sambil lihat ada apa”…Bu Wita pun beranjak dari tempat duduknya. Dan kami keluar rumah. Ternyata sudah ada puluhan orang berdiri di depan pintu, sebagian di luar pagar rumah. “Maaf bapak-bapak, ini ada apa ya?...Bu Wita bertanya ke mereka. “Gini ya Mbak, maaf nama siapa ya?” salah seeorang maju ke depan Bu Wita. “Saya Roswita, panggil Bu Wita”…jawab Bu Wita berusaha tegas. Aku yang tadi agak berdiri di belakan Bu Wita, maju ke samping Bu Wita. “Saya Taufan Pak, kebetulan saya muridnya beliau”…saya ikut mengenalkan diri. “Oh ya, saya Bambang ketua Karang Taruna kampung ini”..dia pun mengenalkan diri. “Gini ya Bu Wita, Mas Taufan , saudara tahu kan di kampung ini ada batas waktu berkunjung?”.. “Udaaah di arak aja!”….teriakan dari sala h seorang pemuda dari balik pagar menimpali pembicaraan kami. “Begini Pak, kami mohon maaf atas kejadian ini” “Tapi tolong dimengerti kami ini guru dan murid, yang gak akan melakukan sesuatu yang kurang baik Pak” Bu Wita menjelaskan kepada pemuda bernama Bambang. “Ya Mas Bambang, saya kebetulan juga mau pulang Mas, jadi mohon maafkan kami dan saya mohon untuk tidak diperpanjang Mas”..saya coba menjelaskan ke Mas Bambang. “Tidak bisa selesai begitu saja Mas Taufan, nanti mereka akan complain ke saya”..sahut Mas Bambang sambil menunjuk ke rekan-rekannya. “Jadi sebaiknya Mas Taufan ikut kami ke kantor RW, kita selesaikan masalahnya di sana” “Lho, memang kenapa lagi Pak, kok diselesaikan di kantor RW”.. sergah Bu Wita. “Kok kesannya kami melakukan kesalahan besar saja”..suara Bu Wita menaik. “Begini Bu Wita, yang ikut kami hanya Mas Taufan saja, dengan Ibu sudah selesai” Mas Bambang mencoba menenangkan Bu Wita. “Gak bisa, kalau dianggap salah. Saya juga ikut salah”…Bu Wita mencoba mendebat. “Gak Bu, kami akan selesaikan baik-baik dengan Mas Taufan”.. Aku lihat Bu Wita sudah emosi, aku pun khawatir persoalannya malah jadi berkepanjangan. Akupun coba menenangkan Bu Wita. “Sudahlah Bu, biar saya yang ikut mereka ke Kantor RW. Saya yakin bisa diselesaikan dengan baik”… “Kamu yakin To?”..Bu Wita tampak khawatir. “Iya Bu, toh kantor RW juga gak jauh dari sini, kalau nanti Ibu khawatir bisa cek langsung” Mas Bambang mencoba meyakinkan Bu Wita. Akhirnya saya bersama puluhan pemuda menuju kantor RW. Tempatnya memang tidak jauh dari kost Bu Wita, hanya ratusan meter. Setelah diinterogasi oleh beberapa orang yang sok jadi reserse, bergaya penyidik polisi yang bikin neg dan menyebalkan “Apakah benar Saudara pacaran dengan salah satu penghuni kost Gang Mawar? Tanya Bambang ketua Karang taruna. “Gak Mas, kan tadi saya sudah jelaskan saya murid dan beliau guru saya” jelasku kesal. “Dalam rangka apa Saudara berkunjung sampai malam-malam” “Menulis buku pak…nanti kalau sudah selesai kalau perlu saya kirim ke bapak” aku makin kesal karena pertanyaannya banyak hal yang bersifat pribadi. “Apakah saudara menyukai Bu Wita?...wah pertanyaan macam apa ini. “Tidak Mas.….aku jawab singkat. Setelah menjawab pertanyaan yang banyak bersifat pribadi dan bertele-tele, aku diminta tanda tangan surat pernyataan bermeterai yang intinya: saya dilarang berkunjung ke tempat Bu Wita di atas jam Delapan malam. Meskipun isinya “aneh” aku tandatangani saja, daripada berkepanjangan. Dan aku pun dilepaskan dari “sandera” mereka dan diijinkan pulang. Ketika aku keluar dari kantor RW dan mau pulang, di ujung jalan aku lihat sepintas Pram yang menstater motornya. Ternyata apa yang dikatakan Pram waktu itu benar; Pram memang benar mengawasi Bu Wita. Ahh Pram, kelakuanmu makin aneh saja. Apakah harus segitunya?