Hidup adalah anugerah. Sebelum engkau mengeluh tentang suami atau isterimu -Ingatlah akan seseorang yang menangis kepada Tuhan meminta pasangan hidup.
Dan ketika engkau lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu -Ingatlah akan para penganguran, orang cacat dan mereka yang menginginkan pekerjaanmu.
Dan ketika beban hidup tampaknya akan menjatuhkanmu -Pasanglah senyuman di wajahmu dan berterima kasihlah pada Tuhan karena engkau masih hidup dan ada di dunia ini.Hidup adalah anugerah, jalanilah, nikmatilah, rayakan dan isilah itu.
Dalam kehidupan panjang, yang sekejap. Dalam riuhnya hidup, yang sepi. Dalam gemerlapnya cinta, yang redup. Ada cerita yang terangkai, Ada puisi yang terurai. Biru langit, biru kehidupan. Birunya hidup, birunya cinta. Aku tenggelam dalam biru yang mengharu biru. Biru nya hidup, biru nya puisiku.
Juli 31, 2008
KOSONG
KOSONG
Di tengah pesta yang riuh,,
kesunyian datang tiba-tiba,
di mataku
semua seperti film bisu
Bergerak tanpa kata.
Tak ada lagi bunyi
Tak ada lagi nyanyi
Kosong memenuhi ruang
Aku merasa sendiri,
Semua terasa jauh,
Tanpa salam,
Tanpa sapa.
Sunyi,
Sendiri,
Kosong,
Hampa.
Di tengah pesta yang riuh,,
kesunyian datang tiba-tiba,
di mataku
semua seperti film bisu
Bergerak tanpa kata.
Tak ada lagi bunyi
Tak ada lagi nyanyi
Kosong memenuhi ruang
Aku merasa sendiri,
Semua terasa jauh,
Tanpa salam,
Tanpa sapa.
Sunyi,
Sendiri,
Kosong,
Hampa.
Juli 22, 2008
TRAGEDI
DI SEBUAH DUSUN
Pada senja yang makin menua,
saat sayap kelelawar berkepak bau apek,
seperti akan menyingkap gelap,
dari balik bilik bambu,
terdengar tangis bocah cilik lapar,
nasi jagung dan ikan asin sisa kemarin,
tandas dilahapnya,
Bunda berkemak-kemik berdo’a,
dengan sisa harapan’
merintih , nyaris tak berbunyi,
menanti laki membayar janji.
Pada senja yang makin menua,
saat sayap kelelawar berkepak bau apek,
seperti akan menyingkap gelap,
dari balik bilik bambu,
terdengar tangis bocah cilik lapar,
nasi jagung dan ikan asin sisa kemarin,
tandas dilahapnya,
Bunda berkemak-kemik berdo’a,
dengan sisa harapan’
merintih , nyaris tak berbunyi,
menanti laki membayar janji.
Juli 21, 2008
SAHABAT
Meski dengan tersenyum bercerita,
Tapi matamu berkaca-kaca,
Dan aku tahu ada segaris luka,
Dalam dan memerah.
Meski dengan bercanda bercerita,
Tapi di dadamu gemuruh menahan duka.
Aku tahu jantung hatimu, lebam membiru
Menahan dendam laksana sekam.
Aku ingin merengkuhmu,
Biar berbagi rasa,
Berbagi hati,
Tapi terasa jauh,
Tak tergapai dan sekedar iba,
Dan mencoba menghibur dengan canda,
Tapi jadi terasa garing,
Dan kaupun tersenyum hampa.
Tapi matamu berkaca-kaca,
Dan aku tahu ada segaris luka,
Dalam dan memerah.
Meski dengan bercanda bercerita,
Tapi di dadamu gemuruh menahan duka.
Aku tahu jantung hatimu, lebam membiru
Menahan dendam laksana sekam.
Aku ingin merengkuhmu,
Biar berbagi rasa,
Berbagi hati,
Tapi terasa jauh,
Tak tergapai dan sekedar iba,
Dan mencoba menghibur dengan canda,
Tapi jadi terasa garing,
Dan kaupun tersenyum hampa.
Juli 15, 2008
GERSANG
Panas menatap tajam,
Bumi meranggas,
Jiwa pun garing,
Semua jadi kerontang.
Debu berbaur gelap dosa,
Angin membawa anyir,
berbaur kemunafikan,
Polusi asap pekat,
Berbaur dusta dan penghianatan.
Jiwa kering kerontang,
Wajah datar dan sangar
Bibir terkatup diam, dalam dendam,
Senyumpun telah berbalut sinis
Dan kepalsuan.
Bumi meranggas,
Jiwa pun garing,
Semua jadi kerontang.
Debu berbaur gelap dosa,
Angin membawa anyir,
berbaur kemunafikan,
Polusi asap pekat,
Berbaur dusta dan penghianatan.
Jiwa kering kerontang,
Wajah datar dan sangar
Bibir terkatup diam, dalam dendam,
Senyumpun telah berbalut sinis
Dan kepalsuan.
Juli 10, 2008
PESTA
Kawan,
kita telah hadiri bersama pesta-pesta,
di mana kita kenakan baju kebesaran,
dengan segala perhiasan kepalsuan.
Warna pesta, warna lampion penuh warna,
malam ini semarak,
esok pagi jadi sampah berserak,
Kawan,
mengapa kita terlena pada cahaya wari-warna,
yang tak seriang kerlip bintang,
kita terlena malam ini,dan nyaris lupa pada matahari esok hari.
kita telah hadiri bersama pesta-pesta,
di mana kita kenakan baju kebesaran,
dengan segala perhiasan kepalsuan.
Warna pesta, warna lampion penuh warna,
malam ini semarak,
esok pagi jadi sampah berserak,
Kawan,
mengapa kita terlena pada cahaya wari-warna,
yang tak seriang kerlip bintang,
kita terlena malam ini,dan nyaris lupa pada matahari esok hari.
Juli 04, 2008
MEMO
"Usia, status sosial, jabatan; memang tidak menjamin kita menjadi bijaksana, kitalah yang memilih untuk menjadi bijaksana atau tidak".
“Memang baik menjadi orang penting, tetapi lebih penting menjadi orang baik”.
“Kita sesungguhnya tidak memiliki apa-apa, tetapi sering bertingkah seolah-olah kita memiliki segalanya”
“Memang baik menjadi orang penting, tetapi lebih penting menjadi orang baik”.
“Kita sesungguhnya tidak memiliki apa-apa, tetapi sering bertingkah seolah-olah kita memiliki segalanya”
Juli 02, 2008
PAK KARYO
Siang itu aku makan siang bersama teman2 di sebuah kedai pinggir jalan. Kami menyebutnya Gubuk Derita. Kami menyebut begitu karena memang mirip gubuk, bangunan sederhana dari gedeg bamboo, tetapi di dalamnya tersedia macam-macam makanan. Aku sering makan gado2, karena enak, murah dan sehat (non kolesterol). Penjualnya seorang bapak tua, sebut saja Pak Karyo. Orang nya sangat santun dalam melayani dan senyumnya begitu tulus, meskipun para pembeli menggerutu dan mengomelinya karena tidak sabar menunggu, dia Cuma tersenyum dan menjawab ; “sebentar ya Bu”.. "sabar ya Pak..."
Aku melihat senyumnya selalu tulus dan menyejukkan, seolah hidupnya tak pernah ada masalah, wajahnya begitu jernih, seolah tak pernah menyimpan benci dan dendam. Aku berpikir; ditengah kehidupan Jakarta yang keras, ditengah gemuruh lalu-lalang manusia Jakarta yang "sibuk” ternyata masih ada Pak Karyo, yang begitu sederhana, santun, tulus dan apa adanya (jauh dari basa-basi apalagi kemunafikan). Barangkali "ruang " Pak Karyo di Surga lebih lapang dan nyaman daripada Si Fulan, anggota DPR yang sedang diperiksa KPK, yang pasti senyum dan wajahnya lebih jernih dan tulus daripada Si Fulan-Si Suto yang tinggal Di Komplex Kalibata.
Aku melihat senyumnya selalu tulus dan menyejukkan, seolah hidupnya tak pernah ada masalah, wajahnya begitu jernih, seolah tak pernah menyimpan benci dan dendam. Aku berpikir; ditengah kehidupan Jakarta yang keras, ditengah gemuruh lalu-lalang manusia Jakarta yang "sibuk” ternyata masih ada Pak Karyo, yang begitu sederhana, santun, tulus dan apa adanya (jauh dari basa-basi apalagi kemunafikan). Barangkali "ruang " Pak Karyo di Surga lebih lapang dan nyaman daripada Si Fulan, anggota DPR yang sedang diperiksa KPK, yang pasti senyum dan wajahnya lebih jernih dan tulus daripada Si Fulan-Si Suto yang tinggal Di Komplex Kalibata.
Juli 01, 2008
MASIH
MASIH SEPERTI KEMARIN
Seperti cerita usang kemarin,
bayang wajahmu cuma jadi mimpi,
yang wanginya pudar di pagi hari,
dan aku kecewa,
ketika aku bercermin pada matahari,
mataku terlalu kelam
untuk menatap kenyataan yang garang,
hari-hari yang kumiliki
adalah malam hitam yang panjang
tapi betapapun lelapnya mimpi,
betapapun pahitnya kenyataan,
aku mesti terjaga,
hadapi hari ini, hari lusa
dengan telanjang dada,
walau mungkin akan tertikam duka,
yang menjadi banyak luka.
Seperti cerita usang kemarin,
bayang wajahmu cuma jadi mimpi,
yang wanginya pudar di pagi hari,
dan aku kecewa,
ketika aku bercermin pada matahari,
mataku terlalu kelam
untuk menatap kenyataan yang garang,
hari-hari yang kumiliki
adalah malam hitam yang panjang
tapi betapapun lelapnya mimpi,
betapapun pahitnya kenyataan,
aku mesti terjaga,
hadapi hari ini, hari lusa
dengan telanjang dada,
walau mungkin akan tertikam duka,
yang menjadi banyak luka.
KITA BUKAN SIAPA2
Cobalah merenung sejenak,
Mengapa kadang kita lupa,
Bahwa kita awalnya bukan siapa-siapa
Bahkan bukan apa-apa,
Mengapa sering lupa dan jumawa?
Cobalah berpikir sejenak,
Kita awalnya tidak tahu apa-apa,
Dan tak bisa apa-apa,
Menagapa tiba-tiba,
Merasa diri seperti ulama
menjadi pemilik kebenaran?
Cobalah diam sejenak,
Akan tiba masanya,
Kita kembali menjadi bukan apa-apa,
Bukan siapa-siapa.
Tak berdaya,
Berbaur debu dan musnah.
Kita memang bukan apa-apa.
Mengapa kadang kita lupa,
Bahwa kita awalnya bukan siapa-siapa
Bahkan bukan apa-apa,
Mengapa sering lupa dan jumawa?
Cobalah berpikir sejenak,
Kita awalnya tidak tahu apa-apa,
Dan tak bisa apa-apa,
Menagapa tiba-tiba,
Merasa diri seperti ulama
menjadi pemilik kebenaran?
Cobalah diam sejenak,
Akan tiba masanya,
Kita kembali menjadi bukan apa-apa,
Bukan siapa-siapa.
Tak berdaya,
Berbaur debu dan musnah.
Kita memang bukan apa-apa.
Langganan:
Postingan (Atom)