BOM JUM’AT PAGI
Jum’at pagi terasa panas dan pengap,
Tiba-tiba ada tersebar berita,
Jakarta meledak.
Asap mengepul hitam,
Berpuluh jasad berwarna legam,
Menjadi hiasan berita layar kaca.
Tragedi terulang,
Dan semua linglung terhenyak,
Tak percaya tragedi begitu saja terjadi,
Mengusik ketenangan Jum’at pagi.
Siang makin panas, orang-orang menghela nafas,
Seribu tanya menjadi beban, menunggu jawab yang jelas,
Yang terjadi masyarakat makin bingung dengan pidato yang tak cerdas,
Yang membuat fakta semakin kabur dan bias.
Semua terjadi,
mungkin karena kepongahan kemegahan dan pameran kemewahan,
Sementara berjuta orang yang merasa terpinggirkan.
atau sekelompok orang frustasi yang menyaksikan,
Ketidakadilan politik atau penindasan sosial bertopeng demokrasi,
Atau orang lelah berteriak, ketika makin lapar sekedar dihibur BLT basa-basi.
Makin bertebaranlah,
Drakula politik,
Drakula kapitalis,
Drakula angkara,
Yang melahirkan anak drakula teror,
Drakula makelar,
Yang menghisap darah dan keringat awam,
Dan mereka makin bodoh tak berdaya.
Dan kembali disuapi janji dan basa-basi.
Dalam kehidupan panjang, yang sekejap. Dalam riuhnya hidup, yang sepi. Dalam gemerlapnya cinta, yang redup. Ada cerita yang terangkai, Ada puisi yang terurai. Biru langit, biru kehidupan. Birunya hidup, birunya cinta. Aku tenggelam dalam biru yang mengharu biru. Biru nya hidup, biru nya puisiku.
Juli 22, 2009
Juli 10, 2009
KEMENANGAN?
Hari ini semua televisi memetakan pesta kemenangan, Dan pencari berita pun mencari sensasi, memancing kata dari yang kalah, padahal yang terjadi bukan sekedar pesta demokrasi, tapi pilihan dan pertaruhan nasib dan masa depan negeri.
Beberapa orang bersikap seolah telah membeli masa depan, dan semua menjadi cemerlang dengan hasil angka pilihan. Padahal telah menunggu beribu masalah dan beban di pundak sang terpilih. Mestinya kemenangan dilihat sebagai amanah, dipandang sebagai penunjukan tangungjawab. Bukan semata anugrah apalagi rejeki. Dimana rakyat yang memilih berarti mencatat sejuta janji dan memberikan kewajiban yang harus ditunaikan. Janji bukan sekedar slogan kampanye untuk menarik simpati, program bukan sekedar penghias iklan yang menarik hati, tapi semua harus dibayar, semua harus diwujudkan. Karena, ketika janji diciderai,ketika kata sekedar penghias slogan,ketika program sekedar deretan rencana,
Mungkin bencana kadang merupakan pengingat yang Kuasa.
Negeri ini telah berkali didera ujian dan cobaan, namun tak juga sadar, begitu cepat lupa dan kembali alpa. Kalau tak waspada negeri surga bisa menjadi neraka, yang penuh durjana dan kuasa angkara.
Tuhan bisikan kebenaran, kepada mereka yang diberi kekuasaan, berikan cahaya pada yang memiliki wahyu sang Raja.
Tuhan selamatkan negeri dari bencana dan malapetaka.
Beberapa orang bersikap seolah telah membeli masa depan, dan semua menjadi cemerlang dengan hasil angka pilihan. Padahal telah menunggu beribu masalah dan beban di pundak sang terpilih. Mestinya kemenangan dilihat sebagai amanah, dipandang sebagai penunjukan tangungjawab. Bukan semata anugrah apalagi rejeki. Dimana rakyat yang memilih berarti mencatat sejuta janji dan memberikan kewajiban yang harus ditunaikan. Janji bukan sekedar slogan kampanye untuk menarik simpati, program bukan sekedar penghias iklan yang menarik hati, tapi semua harus dibayar, semua harus diwujudkan. Karena, ketika janji diciderai,ketika kata sekedar penghias slogan,ketika program sekedar deretan rencana,
Mungkin bencana kadang merupakan pengingat yang Kuasa.
Negeri ini telah berkali didera ujian dan cobaan, namun tak juga sadar, begitu cepat lupa dan kembali alpa. Kalau tak waspada negeri surga bisa menjadi neraka, yang penuh durjana dan kuasa angkara.
Tuhan bisikan kebenaran, kepada mereka yang diberi kekuasaan, berikan cahaya pada yang memiliki wahyu sang Raja.
Tuhan selamatkan negeri dari bencana dan malapetaka.
Juli 03, 2009
Sesungguhnya negara Indonesia adalah negara yang kaya raya, hampir semua komodoti, mineral, emas semua kita punya. Tetapi sungguh menyedihkan bahwa penduduknya, rakyat yang lahir dan tinggal di pangkuan ibu pertiwi, miskin dan nista.
Sumber alam, Negara lain yang mengexplorasi, Kekayaan yang ada, bangsa lain yang menikmati. Sungguh suatu Ironi. Semua terjadi karena,antara lain:
1. masyarakat kehilangan spirit, etos kerja karena program untuk mengatasi kemiskinan dilaksanakan secara partial, incidental dan “suap” (bantuan langsung tunai).
2. masyarakat kehilangan kreatifitas ini diperparah karena pengambil keputusan terjebak pada ‘konsep salah kaprah’ bahwa sejahtera diwujudkan dengan semua serba murah, bukan peningkatan daya beli.
3. tidak pernah ada program pemberdayaan yang memadai.
4. belum ada keberpihakan pada masyarakat miskin dan masyarakat desa.
5. belum ada program perekonomian atau industri yang berbasis pertanian yang memadai.
6. belum ada penyebaran pembangunan.
7. belum ada program pembangunan yang berdasarkan welfare state-keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia.
Untuk mengentaskan kemiskinan harus dilakukan pembenahan total, dimana antara stabilitas, pembangunan ekonomi dan demokrasi harus dilaksanakan secara berimbang dan untuk itu hanya bisa dilakukan oleh pemimpin yang tegas namun bijak, yang lugas namun tetap demokratis, suatu hal yang memang tidak mudah kita laksanakan.
Sumber alam, Negara lain yang mengexplorasi, Kekayaan yang ada, bangsa lain yang menikmati. Sungguh suatu Ironi. Semua terjadi karena,antara lain:
1. masyarakat kehilangan spirit, etos kerja karena program untuk mengatasi kemiskinan dilaksanakan secara partial, incidental dan “suap” (bantuan langsung tunai).
2. masyarakat kehilangan kreatifitas ini diperparah karena pengambil keputusan terjebak pada ‘konsep salah kaprah’ bahwa sejahtera diwujudkan dengan semua serba murah, bukan peningkatan daya beli.
3. tidak pernah ada program pemberdayaan yang memadai.
4. belum ada keberpihakan pada masyarakat miskin dan masyarakat desa.
5. belum ada program perekonomian atau industri yang berbasis pertanian yang memadai.
6. belum ada penyebaran pembangunan.
7. belum ada program pembangunan yang berdasarkan welfare state-keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia.
Untuk mengentaskan kemiskinan harus dilakukan pembenahan total, dimana antara stabilitas, pembangunan ekonomi dan demokrasi harus dilaksanakan secara berimbang dan untuk itu hanya bisa dilakukan oleh pemimpin yang tegas namun bijak, yang lugas namun tetap demokratis, suatu hal yang memang tidak mudah kita laksanakan.
YOGYAKARTA
Antara Tugu – Kaliurang,
Tercecer banyak kisah,
Begitu banyak mimpi, begitu banyak angan,
Begitu banyak syair dan episode tergubah
Yang sempat membuat tidur gelisah.
Antara Tugu-Kaliurang,
Di mana kucoba rangkai masa depan,
Di mana kucoba menggapai hati dewi,
Di mana kucoba kurangkai mimpi,
Meski akhirnya terjaga,
dan kecewa.
Yogyakarta,
Di mana kusimpan mimpi,
Lewat jalan Malioboro, Solo dan Baciro,
Beribu episode cerita,
Beribu scene-adegan tercipta,
Lewat peran Bi Pariyem, Non Ani dan Sisca,
Terangkai cerita roman dan drama kehidupan.
Yogyakarta kota beribu cerita.
Tercecer banyak kisah,
Begitu banyak mimpi, begitu banyak angan,
Begitu banyak syair dan episode tergubah
Yang sempat membuat tidur gelisah.
Antara Tugu-Kaliurang,
Di mana kucoba rangkai masa depan,
Di mana kucoba menggapai hati dewi,
Di mana kucoba kurangkai mimpi,
Meski akhirnya terjaga,
dan kecewa.
Yogyakarta,
Di mana kusimpan mimpi,
Lewat jalan Malioboro, Solo dan Baciro,
Beribu episode cerita,
Beribu scene-adegan tercipta,
Lewat peran Bi Pariyem, Non Ani dan Sisca,
Terangkai cerita roman dan drama kehidupan.
Yogyakarta kota beribu cerita.
Langganan:
Postingan (Atom)