Desember 22, 2023

THE JOURNEY XV

Hari itu Jum’at ke dua bulan Februari, sudah 2 minggu lewat Bu Wita tidak terlihat batang hidungnya. Seperti menghilang begitu saja. Dan kemaren aku sempat melihat Pram tampak seperti linglung, aku menegur pun tak dijawab. Berita dan gossip antar siswa simpang siur. Ada yang bilang pulang kampung, untuk menenangkan diri. Ada yang bilang pindah mengajar karena sudah tak tahan dengan gossip yang menimpanya. Ada pula yang bilang dipanggil orang tuanya untuk dijodohkan. Mana yang benar aku pun tidak tahu. Saya tanya Adri, tanya Rani, tanya Rusti semua menjawab tidak tahu dan tidak diberi kabar. Kemana dan apa yang terjadi ya, berbagai tanya berkecamuk di kepalaku. Tetapi saya heran juga, tampaknya pihak sekolah; teman-teman guru, kepala sekolah tampaknya tenang-tenang saja. Berarti mereka tahu Bu Wita kemana. Tapi kalau aku bertanya ke teman guru nanti malah jadi janggal. Ahh pasti ada apa-apa. Ah aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. Saya dapat sedikit bocor an dari Pak Riyanto, guru yang cukup dekat dengan Bu Wita, mengatakan bahwa Bu Wita sudah mengajukan pengunduran diri. Ah ada apa gerangan. Pasti ada alasan yang cukup serius kalau sampai Bu Wita memutuskan untuk mengundurkan diri. Selama ini Bu Wita sepertinya nyaman dan menikmati mengajar di sekolah ini. Selain luwes, ramah; Bu Wita juga dekat dengan para siswa. Aku harus mencari tahu apa dengan Bu Wita. Aku pun bergegas ke tempat Bu Wita. Kalau pun Rani marah nanti aku jelaskan belakangan. Sesampainya di rumah Bu Wita, pintu pagar terkunci dan tampak sepi. “Assalamu’alaikum”..aku mengucap salam. Tidak ada yang menyahut. Kamar Bu Wita yang terletak di depan, jendelanya pun tertutup. Tapi jendela tengah tampak terbuka, berarti ada orang di dalam. “Assalamu’alaikum”. Permisiii…aku ulang salam. Aku tunggu beberapa saat, terdengar suara menyahut. “Wa’alaikumsalam, bentar ya” ..sepertinya suara Bu Darmo, ibu induk semang yang menyahut. Ibu Darmo pun keluar. Dan membuka kunci pagar. Aku pun dipersilahkan masuk. “Ya silahkan Nak……”. “Eeehh, ini nak……..murid Bu Wita kaan..?” “iya Bu, saya Topan”… “Bu Wita kemana ya Bu?” “Lho memang Nak Taufan gak tahu, kalau Bu Wita pindah kemana?” “Nggak tahu Bu, memang pindah kemana Bu?”… “Waduh, saya juga gak tahu. Pindahnya mendadak dan tidak memberitahu pindah kemana” “Ehh bentar, kemaren ada titipan surat buat Nak Topan” “Kemaren saya juga bingung, gimana mau menyampaikan surat ini”.. "Untung Nak Topan cepat datang"... Bu Darmo pun masuk ke dalam. Amplop putih tertulis : Dear Taufan pun aku buka, dan aku baca isinya; Buat Taufan yang baik, Mohon maaf saya tidak sempat pamitan , karena semua serba mendadak. Saya mengambil keputusan untuk pergi dari sekolah ini untuk kebaikan semua pihak. Untuk teman-teman guru, murid saya dan juga kamu murid kesayangan Ibu. Saya akan menyepi untuk beberapa waktu dan akan mengabari kamu, apabila saya sudah merasa tenang dan mendapat tempat mengajar lagi. Mungkin kamu juga tahu, selain kabar-kabur itu, saya juga memutuskan untuk menjauh dari Pram. Tadinya Ibu pikir dengan saya mencoba dekat dengannya akan merubah sifatnya, dan bisa membuat lebih dewasa. Ternyata ybs seperti merasa tergantung sama saya, dia malah seperti terobsesi dan menjadikan saya, selain seperti kekasih, kakak bahkan kadang harus seperti ibu yang mengasuhnya. Kalau ada masalah di rumah, selalu saja datang ke rumah jam berapa pun. Tanpa menghiraukan pandangan orang, tanpa melihat situasi Ibu. Ibu menyerah dan tak sanggup menghadapinya, terlebih dengan kejadian terakhir di depan kelas. Kelakuan Pram sepertinya makin menjadi. Selama lima bulan saya menjalin kedekatan dengan Pram terasa menjadi beban, bahkan kadang menyiksa. Atau mungkin nasib Ibu yang memang kurang beruntung dalam masalah hubungan percintaan ya Pan?... Oh ya kamu masih bertanya-tanya tentang MT ya? Suatu waktu mungkin kamu akan tahu, atau bila tidak pun biar saja tetap jadi teka-teki. Karena sepertinya perasaan Ibu tersebut juga seperti misteri. Benar kata orang, perasaan itu pada saat datang , kita tidak dapat mengusirnya, bahkan tidak pula dapat mengabaikannya. Soal apakah perasaan itu wajar, pantas atau tepat tidaknya itu soal lain. Tetapi begitulah Tuhan menciptakan misteri kehidupan yang namanya Cinta. Ehh kok jadi ngelantur ya. Sementara sekian dulu ya To, salam buat teman-teman terutama Adri, Rusti dan Rani. Kamu dan mereka adalah murid-murid kesayangan ibu yang selalu ada di hati Ibu. Salam sukses dan sejahtera selalu. Roswita. Membaca surat itu, dadaku tiba-tiba terasa sakit dan sesak. Tanpa terasa air mata mengalir. Tiba-tiba ada kehilangan yang besar dan merasa kosong. Aku tidak tahu rasa apa itu. Tiba-tiba ada rasa kangen; ingat candanya, ingat ketawanya dan tatapan matanya yang kadang membuatku kikuk, pada saat diskusi bukunya. Bu Darmo mungkin melihat perubahan wajahku dan bertanya; “Memang kenapa nak, dengan Bu Wita? Bu Wita memberitahu kemana kenapa pindah?” “Tidak Bu, Bu Wita tidak memberi tahu. Bu Wita pamit saja dan salam buat teman-teman” “Oh ya Bu, kalau gitu saya pamit. Terima kasih ya Bu”..aku berpamitan. Aku pun bergegas pulang dengan perasaan campur aduk. Rasa kehilangan, kosong, kangen ..ahh entah apalagi. Kenapa Bu Wita pergi begitu saja tanpa pamitan, tanpa ada sepatah kata pun; tanpa memberitahu kemana dan punya rencana apa. . Ahh Bu Wita kemanakah dirimu?????

Desember 21, 2023

THE JOURNEY XIV

Ternyata cerita Rani benar. Bu Wita memang sedang dekat dengan Pram. Saya melihat sendiri kedekatan mereka, waktu itu Bu Wita terlihat berboncengan dengan Pram. Saya menjadi makin kasihan dengan Bu Wita. Tentu saja apa yang dilihat oleh para muridnya dan rekan gurunya, sebagai sesuatu yang “tak elok”. Gossip mengenai Bu Wita dan Pram sepertinya lebih parah dari gossip mengenai aku tertangkap di rumah Bu Wita. Kalau aku hanya berita dari mulut ke mulut. Kalau ini mereka melihat langsung kedekatan antara Pram dengan Bu Wita. Mereka terlihat sering bersama-sama pulang. Pram sering menunggu usai jam sekolah, bahkan ketika Bu Wita pulang sore. Pram sepertinya malah bangga dan seolah mengexpose sedemikian rupa. Aku sampai sekarang belum sepenuhnya percaya, apakah Bu Wita sungguh-sungguh berhubungan dekat dengan Pram. Aku merasa ada yang aneh. Dari dulu Bu Wita tidak pernah dekat dengan Pram. Antara aku, Adri, dan Rani, Bu Wita justru lebih dekat dengan Rani dan aku. Pram tidak pernah ke rumah Bu Wita kecuali bersama salah satu dari kami. Saya masih berpikir mungkin karena guna-guna. Aku menjadi penasaran dan ingin tahu ada apa gerangan. Aku ingin menanyakan langsung kle Bu Wita. Tetapi aku sudah berjanji ke Rani, saya tidak akan ke tempat Bu Wita, setidaknya jangan sendirian; begitu pesan Rani. Saya harus mengajak Rani, mudah-mudahan Rani mau menemaniku. Siang itu aku nunggu di depan kelas Rani. Nunggunya lumayan lama, rupanya pelajaran Fisika, Pak Nurdin memang suka molor jatah jamnya, apalagi kalau pas jam terakhir. Akhirnya Rani keluar juga. Hmmm wajahnya terlihat agak lelah, tapi tetap ceria. “Ehhh To, ada apa?” “Ran, temenin aku ke rumah Bu Wita yuk”.. “Memang mau ngapain To?... “Yuk kita sambil jalan saja ngobrolnya”.. Aku pun mengangguk setuju sambil terus berjalan. “Kayaknya kita perlu klarifikasi ke Bu Wita soal hubungannya dengan Pram”.. “Ahhh gak mau ah, lagian ngapain kita ikut urusan orang”…tolak Rani. “Ran, Bu Wita bukan orang lain Ran”.. “Aku merasa ada yang janggal soal hubungan mereka” “Ya, tapi kan bukan urusan kita To, mereka sudah dewasa”.. “Salah-salah nanti Pram malah ngamuk sama kita”..Rani masih berkukuh menolak. “Ran, kalau ternyata ada sesuatu yang kurang wajar, kamu mau biarkan Bu Wita jadi korban Pram?”… “Maksudnya gak wajar gimana Pram, Bu Wita kena guna-guna?”… “Ya salah satu kemungkinannya”…. “Serius kamu To, kamu berpikir ke sana?.. “Ya gak tahu, makanya kita harus memastikannya Ran”.. “Ok lah, kalau gitu lusa aja ya, hari Jum’at. Jadi agak nyante”.. Meskipun menurutku bisa sore ini atau besok, tapi aku pun mengangguk setuju saja. Jum’at sore aku pun ke tempat Bu Wita. Rani sudah sampai dulu an, karena memang rumahnya tak terlalu jauh juga. Sambil menikmati teh yang dihidangkan Bu Wita, dan rempeyek renyah favorite ku, kami ngobrol dan bercanda. “Btw tumben nih, kalian datang berdua. Takut ada gossip ya?”. Bu Wita sepertinya tahu ada yang akan kami sampaikan. Aku berpandangan dengan Rani. Saling menunggu siapa yang mulai bicara. “Begini Bu, gossip tentang Bu Wita sama Pram , apa itu benar?”..aku mulai bertanya. “Ya bisa bener , bisa nggak” Jawab Bu Wita santai. Jawaban Bu Wita makin membingungkan aku dan Rani. “Maksudnya gimana Bu, jadi Ibu bener pacaran sama Pram?” tukas Rani. “Sebenarnya bukan pacaran juga. Saya memang dekat dengan Pram, tapi bukan pacaran”. Jawaban Bu Wita makin membingungkan. “Ahh, kami gak ngerti Bu”..aku terdiam, sambil menerka-nerka apa maksud Bu Rani. Melihat kami terdiam kebingungan, Bu Wita mencoba menjelaskan. “Gini lho, Ibu lagi mencoba jadi dokternya Pram” “Dokter? Memang Pram sakit? Tanya Rani. “Tentu saja bukan sakit fisik. Tapi sepertinya Pram ada penyimpangan Mental Disorder”. “Penyimpangan gimana Bu? Ibu tahu dari mana?..aku penasaran. “Pram bukan sekedar suka, atau kagum sama Ibu, tapi lebih kompleks dari itu”.. “Sikapnya kekanak-kanakan, cenderung Sosiopat. Egosentris” “Masa’ sih Bu, saya lihat Pram normal saja kecuali memang temperamental” aku masih gak yakin dengan anlisa Bu Wita. “Penyimpangan perilaku, penyakit kejiwaan memang tidak mudah terlihat, bahkan kadang untuk orang tertentu cenderung disembunyikan” Jelas Bu Wita. “Kalian tahu, Pram pernah tidur di emperan situ, gara-gara saya tidak menemuinya”..Cerita Bu Wita sambil menunjuk kea rah depan pintu. “Oh ya? Segitunya Bu?”..aku makin penasaran. “Bukan itu saja, ternyata Pram sering menginap di rumah tetangga sini, demi memata-matai Ibu”…cerita Bu Wita. “Jadi , sebelum Ibu jadi gossip di sekolah, Ibu sudah jadi artis di kampung ini” Kami pun tercengang dengan cerit a Bu Wita. Tak menyangka Pram sejauh itu. “Makanya Ibu coba deket sama Pram, supaya Pram tidak bikin ulahaneh-aneh lagi” “Siapa tahu Ibu, pelan-pelan bisa merubah perilakunya , yang cenderung agak menyimpang itu”.. Bu Wita menerangkan alasannya. “Tapi apa harus segitunya Bu?” Tanya Rani. “Ya itu pilihan Ibu yang anggap terbaik dari yang buruk. Karena kita tidak tahu apa yang sudah dilakukan dan diomongkan Pram di luar sana”.. “Sekarang minimal Pram, tidak lagi berkeliaran di sekitar rumah Ibu. Ibu sekarang juga lebih bisa memonitor apa yang dilakukan Pram” jelas Bu Wita. “Tapi nama Ibu di sekolah kan jadi kurang baik “ jelasku. “Iya saya tahu To, saya juga sudah jelaskan juga kok ke pak Kepala Sekolah” “Pak Wandi bisa mengerti?” tanyaku. “Ibu gak tahu juga. Beliau cuma pesan agar hati-hati dan jaga nama baik Ibu sebagai guru” “Mudah-mudahan Ibu segera bisa cari jalan keluar yang lebih baik” “Dengan berkomunikasi dan mengamati langsung Pram, siapa tahu juga Ibu bisa nulis buku tentang perilaku” terang Bu Wita, sambil menghela nafas. Seperti mecoba membuang beban didadanya. Tampaknya Bu Wita berusaha menghibur diri, atau cari pembenaran? Aku tidak tahu. Yang pasti Bu Wita terlihat berat, sesuatu yang menyesakkan ketika cerita tentang Pram. Seperti yang sudah kuduga hubungan Bu Wita dan Pram tidak seperti yang terlihat , kalau Bu Wita pacaran dengan Pram. Ketika Bu Wita cerita aku lebih banyak mendengar. Sebenarnya saya ingin menyampaikan ketidaksetujuan ku pada pilihan Bu Wita, tapi aku menahan diri. Selain aku tidak yakin tanggapan Bu Wita, aku juga takut kalau Rani malah jadi salah paham. Aku tetap tidak setuju dan makin merasa kasihan dengan Bu Wita. Waktu tak terasa menjelang maghrib, kami pun pamitan pulang. _________________ Saya mencoba memahami apa yang dijelaskan sama Bu Wita tentang hubungannya dengan Pram, dan berharap gosipnya mereda. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Gosip makin kencang. Hal itu juga diperparah sama kelakuan Pram yang secara demonstratif memperlihatkan kedekatannya dengan Bu Wita. Seolah ingin mengumumkan pada seluruh guru,siswa bahkan ke semua orang; Bu Wita milik Pram. Sore itu pada saat sebagian siswa melakukan kegiatan extrakurikuler dibuat heboh, Pram tiba-tiba memeluk Bu Wita ketika dia selesai mengajar drama. Aku tidak melihat langsung karena sedang asyik membaca naskah. Aku Cuma dengar teriakan Bu Wita: “Pram ..kamu jangan ngacau , ini di sekolah!” Akupun bergegas keluar, dan aku lihat muka Bu Wita pucat dan tegang, sepertinya antara takut dan marah. Atau mungkin sedih , kaget, galau campur aduk. Sementara aku melihat Pram malah tersenyum-senyum, seolah malah berbangga diri. Pram memang Eddduunn….. Aku sebenarnya pengen tanya atau menghibur Bu Wita. Tapi kulihat Rani seolah memberi kode untuk tidak ikut campur dan meninggalkan tempat. Kalau bukan karena merasa tidak enak sama Ran pasti aku sudah dekatin Bu Wita. Aku ingin menghibur Bu Wita yang nampak malu dan terluka. Pram sepertinya tidak sadar telah melukai perasaan dan harga diri Bu Wita. Bu Wita orang yang lembut. Siapapun yang dekat dengannya akan merasa nyaman. Bahkan ketika marah tak sekalipun ngomong kasar atau membentak siswanya. Aku juga heran kenapa dia belum punya pacar, padahal cantik, cerdas dan “care” sama orang. Pokoknya saya yakin siapapun yang jadi suaminya akan dimanjakan dan dilayani dengan baik olehnya. Pram? Semoga bukan Pram yang jadi suaminya, begitu aku membatin. Sementara Pram orang yang berangasan, egois dan sangat bangga dengan gender kelakiannya. Pram bilang suka sama Bu Wita, tetapi sepertinya tidak pernah peduli Bu Wita. Pram tidak berusaha menjaga perasaan dan posisi Bu Wita. Kasihan Bu Wita. Benar perkiraan saya. Setelah insiden pelukan Pram gossip mengenai Bu Wita makin kencang. Bu Wita terpojok sendirian. Sementara Pram bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Bahkan aku mendengar kalau teman-teman guru Bu Wita pun ikut mencibir dan menjauhi Bu Wita. Padahal Bu Wita sejatinya korban. Masyarakat sosial kita terkadang memang tidak adil terhadap perempuan. Bu Wita yang biasa rajin muncul dan menyapa anak-anak beberapa hari ini tidak terlihat. Bu Wita juga sudah absen mengajar tiga hari ini. Kemana ya? Mungkin Bu Wita sibuk menulis? Atau stress, tertekan dengan gossip yang makin menjadi-jadi? Aku menduga-duga. Aku ingin tahu tapi tidak tahu bertanya pada siapa. Rasanya mau segera datang ke rumahnya dan mendengan cerita dari Bu Wita. Tapi aku tidak bisa datang sendiri. Akupun harus mengajak Rani. Sore itu se usai jam sekolah , aku samperin ke kelas Rani. “Rani, kamu tahu Bu Wita sudah beberapa hari ini gak ngajar?” tanyaku. “Iya To, kelas Bahasa kemaren kosong” “Kamu tahu Bu Wita kemana?” “Ya gaklah To, memang Bu Wita kalau gak masuk harus ijin ke aku?” “Bukan gitu Ran, kamu kan tahu kejadian kemaren dan gossip yang menimpa Bu Wita” “Iya To, gak ada yang tahu. Saya tanya Rusti yang rumahnya dekat Bu Wita pun tidak tahu” “Kita ke rumahnya yuk” ajakku ke Rani. “Jangan To, kita gak perlu terlalu campur urusan Bu Wita, dan belum tentu juga Bu Wita berkenan”… “Siapa tahu dia memang lagi perlu waktu untuk sendiri” ..,jelas Rani “Hmmmmm gitu Ran… “Iyalah To, kenapa sih kamu pengen tahu Bu Wita kemana…. “Iya Ran, kamu kan tahu gimana cerita nya dia sama Pram”.. “Iya, tapi kayaknya itu konsekuensi pilihan Bu Wita” jelas Rani “Maksudmu Ran?.... “Iya , harusnya Bu Wita tidak menerima Pram sebagai pacarnya. Apapun alasannya”… “Tapi kita kan sudah dengar penjelasan Bu Wita Ran..” “Ya justru itu, aku malah merasa ada sikap oportunis dari Bu Wita”….. “Oportunis ? maksudmu bu Wita ambil kesempatan?....aku gak mengerti ucapan Rani. “Bukan dalam artian ambil kesempatan To. Tapi Bu Wita seperti mencari tantangan, entah alas an experiment kejiwaan atau memang merasa tertantang ingin menaklukkan Pram”… “Ah, masa sih Ran. Aku gak mengerti”….Rani memang sering punya pemikiran yang berbeda. “Iya To, kamu pernah baca kan. Kalau ada beberapa wanita, yang mungkin rasa keibuannya terlalu dominan, malah suka dekat dengan “Bad Boy”… “Ah masa sejauh itu sih Ran”…..aku paham tapi agak kurang sepakat dengan analisa Rani. “Jadi kamu gak mau nih?...aku tanya Rani lagi. “Gak To, kita tunggu kabarnya saja To” Terpaksa aku pun menurut sama Rani, untuk bersabar menunggu kabar dari Bu Wita. Mungkin ada benarnya, memberi kesempatan Bu Wita merenung, berpikir dan mencari jalan keluar sendiri.

THE JOURNEY XIII

Sudah beberapa hari ini aku berusaha bertemu Rani susah sekali. Padahal satu sekolah. Apa Rani menghindariku ya?. Tiap aku ke kelas dia, temannya bilang tidak tahu, atau jam sekolah berakhir selalu sudah pulang. Ya..satu-satunya jalan, aku harus keluar kelas lebih cepat dan menunggu di depan kelasnya. Hari itu pun aku keluar kelas lebih cepat demi menunggu Rani di depan kelasnya. Setelah beberapa saat, Rani yang kutunggu-tunggu pun keluar dari kelas. Dia berjalan cepat dan menunduk, eh kok dia lewat begitu saja, seperti tidak melihatku. “Ran..Rani….” aku panggil cukup keras, sehingga siswa-siswa lain menoleh padaku. “Ehh To,ada apa? Aku mau buru-buru pulang To”..Rani menjawab sambil terus berjalan. “Ran, aku mau bicara Ran”… “Ehhmm apalagi siih, kayaknya gak ada yang perlu dibicarain deh”…Rani bicara sambil terus berjalan cepat, aku pun setengah berlari mengikutinya. “Ran, tolong aku kasih waktu ya Ran, Please?...aku memohon. “Penting?”..Rani menyela. “Penting banget Ran. Please”… “Ya sudah kalau gitu besok ya To. Kita ketemu di warung Es Pak Dullah" Akupun mengganggguk sedkit lega. Rani bersedia mmeberi waktu untuk aku menjelaskan. Akupun jadi tak sabar menunggu besok. Hari dan jam serasa berjalan lebih lambat. Aku menunggu dengan gelisah hari itu. Jam sekolah tidak kunjung usai. Tiap mata pelajaran terasa lama. Penjelasan Bapak Ibu guru hari itu terasa lebih bertele-tele. Ahh lama sekali. Akhirnya…..Bel usai sekolah pun berbunyi. Setengah berlari aku menuju warung es campur tidak jauh dari sekolah, sesuai kesepakatan dengan Rani kemarin. Setelah menunggu beberapa saat, Rani pun datang, dengan muka datar saja. Tak Nampak keceriaan yang selalu ada di wajahnya. “Hai Ran, mau pesen apa ?”.. “Air mineral saja To”. Akupun segera pesankan air mineral dingin. Rani minum pun minum, siang itu memang cuaca cukup panas dan gerah. Kami pun terdiam agak cukup lama. Hmmmm ..akupun bingung mau mulai bicara dari mana… “Hmm gimana To? Mau bicara apa?”..Rani membuka kesunyian kami. “Hmmm gini Ran, soal gossip aku sama Bu Wita kamu percaya?”.. “ Ya ada percayanya juga sih”.. “Kok gitu Ran, kamu tahu aku kan? Gak mungkinlah aku sampai menjalin hubungan denganyya, aku sangat menghargai Bu Wita”sebagai guru kita" jelasku. “Iya, tapi aku jadi merasa ragu sama kamu, kenapa kamu tetap ke sana, meski aku larang?”..Rani memberikan alasan. “Ran, kamu kan tahu. Bu Wita lagi punya proyek nulis buku, dan aku bantu” “Iya, tapi kamu mestinya hati-hati juga. Bagaimana pun Bu Wita kan perempuan muda yang masih sendiri pula. Dan bener kan jadi menimbulkan masalah”… “Iya sih Ran, aku juga tidak mengira , akibatnya akan sejauh itu” “Aku memang salah juga sih, tidak menghiraukan peringatan kamu. Mestinya aku harus berhati-hati, tidak berkunjung sampai malam”. “Tapi kamu tidak percaya apa yang dikatakan orang-orang kan Ran?” Aku tetap yakin kalau Rani masih mempercayaiku. Rani lama terdiam. “Rani..jawab dong”…. Rani masih diam saja. “Ran…kamu masih percaya sama aku kan ?”..aku ingin dengar jawaban Rani. “Iya To, aku percaya. Tapi aku gak suka kalau kamu terlalu dekat sama Bu Wita”.. “Iya Ran, aku tahu. Aku minta maaf Ran”.. Rani mengangguk. Aku pun lega, sepertinya Rani memaafkan ku. “Kamu tahu gimana Bu Wita sekarang Ran?”… “Tuh kan, Bu Wita lagiiiii”….jawab Rani, tapi melihat wajahnya saya tahu tidak sungguh-sungguh marah. “Yak an , Bu Wita lah guru yang selama ini dekat sama kita Ran”.. “Iya Too, minggu lalu sempat ketemu, sepertinya sih baik-baik saja”. “Kamu gak usah khawatir To. Dia kan lebih dewasa dari kita. Profesinya guru lagi, jadi pasti lebih bisa menghadapi masalah lebih dari pada kita-kita”… “Iya sih, tapi kalau dari fitnah yang beredar itu, aku kan kasihan juga” “Iya To, mudah-mudahan gossipnya segera hilang” “Ran, nanti kalau aku mau ke tempat Bu Wita, kamu mau ikut kan?” “Iya nanti kalau memang perlu To. Kalau sekarang kan belum perlu” “Iiya….”,…aku meng iya kan saja , takut Rani masih sensi. “Eh To, kalau misalnya Bu Wita deket sama seseorang, kamu gak masalah?” Aku diam saja , karena tidak mengerti arah pertanyaan Rani. “Too, kok gak dijawab?”… “Hmm…maksudnya gimana Ran?”..aku memang sama sekali tak mengerti. “Memang kamu gak tahu sekarang Bu Wita deket sama seseorang?” “Gak tahu Ran, siapa?” aku penasaran. “Mau tahu aja atau mau tahu banget nih?” goda Rani. “Ya mau tahu aja sih”…. “Memang siapa Ran, kamu kenal orangnya?” “Kenal. Kamu juga kenal kok”…jawaban Rani makin bikin penasaran. “Hmmm ..memang siapa Ran?” aku masih belum bisa menebak siapa yang dimaksud Rani. “Bu Wita sekarang lagi dekat sama Pram”..tukas Rani. “Haahhhhhh!!!”…..aku benar-benar terkejut. “Yang bener Ran?”….. “Kok respon kamu segitunya To”…Rani malah tersenyum-senyum lihat ekspresi kekagetanku. “Ni kaget, galau atau cemburu nih?” Rani malah terus menggoda. “Bukan cemburu Ran, tetapi kamu kan tahu Pram kayak apa”……. “Serius? Memang kamu tahu darimana?” aku tetap masih tak percaya. “Ya, pertama denger dari Rusti aku juga gak percaya. Tapi kemaren aku lihat langsung”.. “Lihat langsung?”…. “Iya kemaren Pram nunggu didepan kelasku waktu pelajaran Bu Wita”.. “Pas aku tanya; ngapain Pram? Pram jawan lagi nunggu pacar,.. sambil tunjuk Bu Wita” “Dan benar, pulangnya Bu Wita mbonceng motor Pram”..Rani menjelaskan. Ahhh..aku tetap tak percaya. Bagaimana mungkin Bu Wita dekat sama Pram. "Pulang berdua Pram?" tanyaku masih kurang percaya. "Iya Toooo, kamu cemburu, gak ikhlas?" tanya Rani. "Ya nggaklah Ran"...Tapi aku masih kurang percaya"....jawabku. Aku terangkan ke Rani, bahwa hubungan Bu Wita dan Pram mungkin didasari sesuatu yang kurang wajar. Dan Pram punya moivasi lain, bukan karena suka ataupun cinta. Tapi menurut Rani aku dan Rani tidak boleh ikut campur. Itu urusan mereka; Pram dan Bu Wita. Walau dalam hati aku kurang setuju, tapi aku tak berani membantah. Takut malah Rani jadi marah dan salah faham lagi. Setelah ngobrol Panjang lebar kami pun pulang. Aku pun lega karena berbaikan kembali dengan Rani. Tetapi sekarang aku tetap pusing. Aku tak habis pikir, bagaimana Bu Wita bisa dekat sama Pram. Bahkan mungkin mereka pacaran? Bagaimana mungkin? Apakah karena guna-guna Pram? Kalau karena itu, alangkah kasihan Bu Wita. Seribu tanya berkecamuk di kepala. Sore itu aku pulang dengan teka-teki baru. yang belum ada jawabannya.

Desember 14, 2023

THE JOURNEY XII

Untuk cooling down, sementara aku pun tidak datang ke rumah Bu Wita, mungkin untuk sebulan dua bulan. Kalau kebetulan lagi ingin ke luar rumah, aku main ke tempat Adri dan bisa baca-baca komik atau novel. Kebetulan dekat rumah Adri ada tempat persewaan komik dan novel. Atau kalau pengen denger musik dengan sound system yang OK, aku main ke tempat Haris. Siang itu saya pun asyik baca komik di kamar Adri. Adri asyik dengan walkmannya sambil geleng-geleng kepala. Kami sibuk dengan ke asyik an sendiri-sendiri. Tiba-tiba Adri nyeletuk; “Kamu beneran ketangkap basah di kamar Bu Wita , To?” Akupun kaget dengan pertanyaan Adri. “Hahh, aku ketangkap basah di kamar? Adri dapat gossip dari mana?”… “Memang kamu gak tahu, dah jadi gossip di sekolah To. Katanya kamu ketangkap berada di kamar berdua Bu Wita sama pemuda kampung”…Ardi menjelaskan. “Ngawur.., para pemuda itu cuma ada di halaman, gak masuk rumah. Darimana tahunya kalau kami ada di kamar?” aku pun menjelaskan. “Eeeh jadi kamu beneran digwrebek pemuda kampung?”..tanya Ardi. "Bukan di gerebek, mereka membawaku ke pos RW pada saat aku mau pulang" jelasku. "Kok bisa?"..tanya Ardi "kepo", sambil melepaskan walkman dari kepalanya. "Iya, aku pulang nya ke malam an, lewat in jam berkunjung" "Jadi benar kamu di kamar berdua di kamar sama Bu Wita"? tanya Ardi. “Ya gaklah, waktu itu kami sedang diskusi , duduk di ruang tamu, pada saat aku bersiap pulang pintu diketuk sama pemuda lingkungan , dan kami keluar”.. aku menjelaskan. “Ya kirain”…eehh tapi gosipnya lain lagi lho To, pokoknya ceritanya seruu”…Ardi menjelaskan sedikit meledekku. “Seru gimana Dri?” “Ya katanya kamu tertangkap basah di kamar berdua sama Bu Wita. Malah ada yang cerita katanya pas pintu kamar gedor, kalian berdua lagi buru-buru pakai baju”…Adri menjelaskan. “Yang bener Dri? Gila.....kamu percaya cerita omong kosong itu?”..tanyaku tak percaya dengan yang kudengar. “Ya percaya gak percaya sih, tapi yang pasti gossip itu makin rame. Memang kamu gak tahu To?”.. “Ya denger juga sih, sekilas aja. Dan aku memang gak mau tahu, karena aku merasa tidak melakukan apa-apa. Tapi saya gak mengira gossipnya sampai sejauh ”.. Hmmmmm…… Kalau gossip itu makin jadi bola liar, apa tanggapan Rani, bagaimana tanggapan Bu Wita. Bagaimana pula sikap Rani. “Eh Dri, kamu sudah pernah tanya Rani, gimana dia menanggapi gossip ini?”… “Baru aja tadi pagi ngobrol. Kayaknya sih dia kecewa sama kamu”… “Jadi dia percaya?”.. “ Ya pikir aja sendiri. Dia bilang kamu sudah berubah, katanya kamu susah dibilangin”… “Serius Dri, Rani bilang begitu?”.. “Iya, tanya sendiri kalau gak percaya”..Adri meyakinkanku. Ya aku memang harus tanya Rani langsung. Saya juga harus tahu bagaimana tanggapan Bu Wita, karena ini mengenai nama baik dia juga. Hmmm ada baiknya aku tanya Haris juga, meskipun mulutnya “agak jahat”, Haris orangnya terbuka dan omongannya dapat dipercaya. Akupun langsung ke rumah Haris, dan kebetulan dia lagi nongkrong di teras. “Assalamu’alaikum..” “Ehh Topan apa kabarnya , sejak jadi artis jarang kelihatan” “Ahh apaan sih lu Ris”..aku menyela candanya. “Ehh ada perlu apa nih? Ibu Guru kesayangan gimana kabarnya?’.. “Asyik ya To, pacaran sama orang yang sudah pengalaman?”..Haris terus meledekku. “Ngarang kamu Ris. Justru aku ke sini mau tanya gossip itu versi kamu” “Cuma gossip nih? Bukannya beneran?”.. “Aku serius Ris, gimana cerita yang berkembang di sekolah?” “Wah kok kebalik? tadinya malah aku mau denger cerita dari kamu” “Ayolah, aku serius nih”..aku menyela candaan Haris yang gak lucu. “Ok, ok To”…Haris pun berubah serius lihat kesungguhanku. “Kalau menurut cerita sih , katanya kamu ketangkap basah lagi berduaan di kamar sama Bu Wita”.. Hmmm ternyata betul cerita Adri. Versi gossipnya memang sudah jadi melebar dan tidak sesuai fakta. “Malah ada yang bilang kamu diseret keluar dari kamar sama pemuda-pemuda disana” “Wah ngacau gossipnya”…aku menyela tak sabar. “Wah, kalau kamu dengar langsung seru To, berbagai versi critanya”…. Aku diam saja, tiba-tiba merasa malu dan juga kasihan dengan Bu Wita. “Tapi intinya, semua sama To. Mereka percaya kamu kepergok ngamar berdua Bu Wita”. “Hahhhh! Ngamaar ?..” aku tetap masih kaget meskipun Adri sempat cerita juga. Tetapi cerita dari mulut Haris menjadikan lebih dramatis. “Iya, gossipnya begitu. Dan sebagian besar dari mereka percaya To”…. Ahhh, bagimana ini. Kenapa bisa jadi begini. Aku tak mengira peristiwa dengan pemuda lingkungan itu menjadi issue liar tak terkendali. Aku mendadak pusing kepala. “Ok Ris, terima kasih informasinya”.. “Aku pamit pulang ya”…. “Eh iya To”…Haris terbengong melihatku tergesa pergi. Ya aku harus segera mengklarifikasi gossip itu. Aku harus bertemu Bu Wita untuk tahu bagaimana Bu Wita menanggapai gossip ini. Aku harus bertemu dengan Rani juga. Aku tak mau Rani makin salah paham mengenai hubunganku dengan Bu Wita. Meskipun aku agak enggan kalau mengingat sifat Rani yang emosi an, aku pasti habis disalah-salahkan, di marah-marah in. Tetapi demi Bu Wita aku harus hadapi. "Eh ..demi Bu Wita?' "Hmmmm, demi memperbaiki hubunganku dengan Rani?... AAh makin pusing kepalaku.

Desember 13, 2023

THE JOURNEY XI

Sejak insiden “kecemburuan Rani” terhadap Bu Wita, komunikasi dengan Rani semakin jarang. Rani masih marah, akupun merasa sebal, aku anggap Rani berlebihan dan kekanakan. Sebaliknya aku makin sering main ke rumah Bu Wita, karena antologi puisinya akan segera selesai. Aku bantu edit dan sedikit kasih ide design sampulnya. Bu Wita oarngnya perfeksionis jadi selalu saja ada yang diubah dan diperbaiki. Dan akupun jadi lebih sering datang ke rumah Bu Wita. Bu Wita bilang sebelum akhir tahun buku antologi puisinya bisa diterbitkan. Aku pun jadi sering melewati batas jam berkunjung di kost an Bu Wita. Aturannya cukup ketat, jam 09.30 malam tamu harus sudah pulang. Dengan toleransi setengah jam, jadinya maksimal jam 10.00 malam. Belakangan aku jadi sering lewat dari jam 10.00 gara-gara ke asyikan ngobrol. Itu pun biasanya karena tersadar setelah bunyi gorden ditarik ; “sreek, sreeeeekkk, dan sepertinya disengaja ditarik lebih keras sama Bu Darmo, sebagai alert. Malam itu Ibu induk semang sudah membunyikan alert. Aku pun minta pamit sama Bu Wita; “Bu sudah malam, saya pulang dulu ya”…. “Bentar lagi To, nanggung. Ini puisi penutup harus beres malam ini”.. “Bentar lagi ya ..” akupun Cuma mengangguk saja. Kami pun meneruskan diskusi dan mengedit beberapa kalimat pengantar dan puisi penutup. Ahhh..akhirmnya selesai juga. Jam berapa ini. Hahhhh!..sudah hamper jam 12………waduuuhhh.. Belum sempat pamit, tiba-tiba ada suara gaduh dari luar. Tampaknya banyak orang di luar rumah. Wah ada apa ya? “Mas, Mbak yang di dalam keluaarrr!!....begitu salah satu dari mereka teriak. “Bu Wita, ada apa ya? Siapa yang disuruh keluar?”.. “Ya udah, saya antar kamu keluar pulang, sambil lihat ada apa”…Bu Wita pun beranjak dari tempat duduknya. Dan kami keluar rumah. Ternyata sudah ada puluhan orang berdiri di depan pintu, sebagian di luar pagar rumah. “Maaf bapak-bapak, ini ada apa ya?...Bu Wita bertanya ke mereka. “Gini ya Mbak, maaf nama siapa ya?” salah seeorang maju ke depan Bu Wita. “Saya Roswita, panggil Bu Wita”…jawab Bu Wita berusaha tegas. Aku yang tadi agak berdiri di belakan Bu Wita, maju ke samping Bu Wita. “Saya Taufan Pak, kebetulan saya muridnya beliau”…saya ikut mengenalkan diri. “Oh ya, saya Bambang ketua Karang Taruna kampung ini”..dia pun mengenalkan diri. “Gini ya Bu Wita, Mas Taufan , saudara tahu kan di kampung ini ada batas waktu berkunjung?”.. “Udaaah di arak aja!”….teriakan dari sala h seorang pemuda dari balik pagar menimpali pembicaraan kami. “Begini Pak, kami mohon maaf atas kejadian ini” “Tapi tolong dimengerti kami ini guru dan murid, yang gak akan melakukan sesuatu yang kurang baik Pak” Bu Wita menjelaskan kepada pemuda bernama Bambang. “Ya Mas Bambang, saya kebetulan juga mau pulang Mas, jadi mohon maafkan kami dan saya mohon untuk tidak diperpanjang Mas”..saya coba menjelaskan ke Mas Bambang. “Tidak bisa selesai begitu saja Mas Taufan, nanti mereka akan complain ke saya”..sahut Mas Bambang sambil menunjuk ke rekan-rekannya. “Jadi sebaiknya Mas Taufan ikut kami ke kantor RW, kita selesaikan masalahnya di sana” “Lho, memang kenapa lagi Pak, kok diselesaikan di kantor RW”.. sergah Bu Wita. “Kok kesannya kami melakukan kesalahan besar saja”..suara Bu Wita menaik. “Begini Bu Wita, yang ikut kami hanya Mas Taufan saja, dengan Ibu sudah selesai” Mas Bambang mencoba menenangkan Bu Wita. “Gak bisa, kalau dianggap salah. Saya juga ikut salah”…Bu Wita mencoba mendebat. “Gak Bu, kami akan selesaikan baik-baik dengan Mas Taufan”.. Aku lihat Bu Wita sudah emosi, aku pun khawatir persoalannya malah jadi berkepanjangan. Akupun coba menenangkan Bu Wita. “Sudahlah Bu, biar saya yang ikut mereka ke Kantor RW. Saya yakin bisa diselesaikan dengan baik”… “Kamu yakin To?”..Bu Wita tampak khawatir. “Iya Bu, toh kantor RW juga gak jauh dari sini, kalau nanti Ibu khawatir bisa cek langsung” Mas Bambang mencoba meyakinkan Bu Wita. Akhirnya saya bersama puluhan pemuda menuju kantor RW. Tempatnya memang tidak jauh dari kost Bu Wita, hanya ratusan meter. Setelah diinterogasi oleh beberapa orang yang sok jadi reserse, bergaya penyidik polisi yang bikin neg dan menyebalkan “Apakah benar Saudara pacaran dengan salah satu penghuni kost Gang Mawar? Tanya Bambang ketua Karang taruna. “Gak Mas, kan tadi saya sudah jelaskan saya murid dan beliau guru saya” jelasku kesal. “Dalam rangka apa Saudara berkunjung sampai malam-malam” “Menulis buku pak…nanti kalau sudah selesai kalau perlu saya kirim ke bapak” aku makin kesal karena pertanyaannya banyak hal yang bersifat pribadi. “Apakah saudara menyukai Bu Wita?...wah pertanyaan macam apa ini. “Tidak Mas.….aku jawab singkat. Setelah menjawab pertanyaan yang banyak bersifat pribadi dan bertele-tele, aku diminta tanda tangan surat pernyataan bermeterai yang intinya: saya dilarang berkunjung ke tempat Bu Wita di atas jam Delapan malam. Meskipun isinya “aneh” aku tandatangani saja, daripada berkepanjangan. Dan aku pun dilepaskan dari “sandera” mereka dan diijinkan pulang. Ketika aku keluar dari kantor RW dan mau pulang, di ujung jalan aku lihat sepintas Pram yang menstater motornya. Ternyata apa yang dikatakan Pram waktu itu benar; Pram memang benar mengawasi Bu Wita. Ahh Pram, kelakuanmu makin aneh saja. Apakah harus segitunya?

November 29, 2023

THE JOURNEY X

Sudah sebulan aku tak bertemu dan ngobrol sama Rani. Hanya melihat sesekali, itupun dari kejauhan dan tak sempat bertegur sapa. Kami menjadi makin berjarak, Rani sibuk dan focus belajar. Kangen ku yang makin menumpuk pun menjadi terserak begitu saja. Ah itu dia, baru saja dibenakku, orang muncul. Rani gegap berjalan cepat ke arahku. “To, ke samping yuk. Ada yang mau aku omongin sama kamu” Akupun ikut saja tanpa bertanya apapun, karena mukanya terlihat serius sekali. Setelah di samping sekolah, akupun duduk di bangku yang ada. “Ada apa Ran?” tanyaku. Rani tidak menjawab, mukanya pun terlihat serius, malah seperti sedang marah. “To, kamu kok susah dibilangin sih”..Rani memulai bicara dengan nada sedkit marah. “Bilangin apa Ran, ini soal apa sih?”..jawabku tak mengerti. “Kamu sekarang makin deket sama Bu Wita kan?”..tanya Rani. “Deket gimana Ran. "Biasa saja kok”.. Jawabku. “Biasa gimana? Kamu sekarang lebih sering ke rumah Bu Wita kok”..suara Rani menaik. Aku terdiam karena tidak tahu mau bilang apa. “Tahu gak To, kamu sama Bu Wita sudah jadi gossip. Tidak saja di sekolah, tapi dilingkungan Kost Bu Wita juga ”.. muka Rani terlihat marah. Aku masih diam saja. “To, jangan diam saja. Kamu tahu kan apa yang aku bilang?”… “Iya tahu Ran, tapi memang aku gak ada apa-apa”.. “Kalau gak ada apa-apa, ya sudah jangan ke rumah Bu Wita lagi”.. potong Rani. “Aku hanya diminta tolong untuk bantu Bu Wita sedang siapkan antologi puisinya”… “Ah itu alas an saja”…sergah Rani. “Bener Ran, aku memang Cuma mau bantu”… “Kalau gitu berarti Bu Wita yang gunakan untuk alasan” .. Rani makin tampak makin marah. “Ran, kamu kok tega sampai nuduh Bu Wita sih" keluhku. ”… “ Ya bisa saja To, Bu Wita kan masih muda. Lajang”.. “Memang menurutmu gak bisa suka sama kamu?”….tanya Rani retoris. “Bukan gitu Ran. Wong Bu Wita sikapnya biasa saja kok”.. “Ahh perasaanmu kan memang gak peka. Bolot”..Rani makin marah. “Saya tahu Ran, tapi Bu Witan menurutku juga tahu jaga posisi dia”… “Ahh kamu malah belain dia sih To”.. “Bukan belain Ran”.. “Kayaknya Bu Wita lagi deket atau suka sama orang initialnya MT”..jelasku. “Kamu tahu darimana?” “Iya ada salah satu puisinya tertulis, buat MT”.. “Ohh gitu..” Rani menggumam.. “Ehh tapi bisa saja, MT itu Mas Taufan”…..tukas Rani. “Ahh masa’ Bu Wita panggil aku mas Taufan, ada-ada saja kamu Ran”,..aku tepis kecurigaan Rani. “Yah Namanya juga puisi, bisa saja kan”….terang Rani. “Gaklah Ran, sejauh ini gak ada yang macem-macem kok”.. “Gini saja lah To, aku minta kamu tidak lagi ke rumah Bu Wita” “Lho, aku mesti bilang apa ke Bu Wita, kalau pas diminta ke rumahnya” “Ya, bilang saja gak bisa. Simple”…. “Duh Rani, ya gak bisa gitu Ran”.. “Kamu, gak bisa atau gak mau?”..Suara Rani menaik, sepertinya makin marah. Aku pun makin bingung. “To, aku tak mau bertele-tele. Aku minta kamu tidak lagi ke rumah Bu Wita. Titik”..lanjut Rani. “Kalau masih ke rumah Bu Wita, ya berarti kamu mengabaikan aku, dan sepertinya memang ada apa-apa dengan Bu Wita”…Rani bilang begitu langsung meninggalkanku. Aku pun terbengong-bengong, dan baru tersadar oleh bunyi bel sekolah, tanda harus kembali masuk kelas. Aku bergegas ke sekolah, takut gerbang sekolah ditutup. Tapi baru masuk pagar, Pram menghentikan langkahku. “To, bentar aku aku bicara!” “Duh Pram, ini sudah bel Pram" "Lain kali saja”.. “Bentar saja, lagian pelajaran Sejarah kan, saya yakin Pak Syawal gak akan marah”..tukas Pram sambil berdiri di depanku. “Ok, 1 menit saja ya”.. “ "Hmmm, Rani sudah bilang sama kamu kan?”…. “Ehhmm… bilang apa?” aku tak mengerti. “Bilang kalau kamu jangan datang ke rumah Bu Wita lagi”…Pram menjelaskan. “Lalu apa hubungannya sama kamu Pram?” ..aku sedikit tersinggung. “Kamu jangan pura-pura bego To. Kamu tahu kan kalau aku suka sama Bu Wita?”..suara Pram menaik. “Rani juga bilang kalau dia khawatir tentang hubunganmu sama Bu Wita”… Duuhh, kenapa Rani bawa-bawa Pram dalam persoalan Bu Rani ya. Aku jadi merasa kecewa dengan Rani. Karena Rani kan tahu gimana perangai Pram. “Aku tuh gak ada apa-apa Pram”..aku menjelaskan. “Whatever To, kamu kan tahu aku sedang mendekati Bu Wita” “Jadi sebaiknya kamu menjauh dari Bu Wita”.. “ya sudah lah Pram, aku masuk kelas dulu”. “Ehh ingat ya To, kamu jangan kesana lagi. “Aku juga sudah minta sama sama Ketua Karang Taruna untuk ngawasin rumah Bu Wita. Jadi kamu harus hati-hati juga”…Pram sedikit mengancam. Aku tidak peduli lagi apa kata-kata Pram, aku begegas masuk kelas. Aku juga menjadi tidak mengerti dengan sikap Rani. Rani sudah terlalu jauh dan berlebihan. Aku merasa bingung dan merasa marah sama Rani. Kenapa dia malah “bersekongkol” dengan Pram. Aku pun menjadi tidak bisa focus dengan pelajaran pak Syawal. "Ahhh wes mbuhlah….

THE JOURNEY IX

Tanpa terasa sekolah masuk tahun ajaran baru. Kami sudah kelas III sekarang. Kami harus mempersiapkan diri masuk perguruan tinggi. Kami harus belajar lebih giat. Sebagian ada yang belajar secara mandiri, ada yang masuk bimbel , sebagian malah ada yang les privat di rumahnya. Ada orang tua yang merasa lebih yakin dengan mengundang guru les ke rumah, seperti orang tua Rani. Makanya aku pun menjadi jarang bertemu dengan Rani. Aku heran juga, sejak kami memproklamirkan diri dengan status pacaran , justru malah jarang bertemu. Aku pun justru merasa jauh. Waktu aku complain ke Rani, Rani mengulang lagi “ceramahnya”; pacaran itu soal perasaan, bukan fisik dan tidak harus sering bertemu. Ahh mbuh lah…. -------------------- Sore itu cukup panas. Aku pun bingung tidak tahu apa yang mesti aku kerjakan. Bikin puisi, cerpen atau pun tulisan lain tidak ada ide yang nyantol di kepala. Oh iya, Bu Wita kemaren bilang kalau sedang menyusun antologi Puisi, dan mungkin sewaktu-waktu perlu diskusi denganku. Ah jadi Ge E aku. Bagaimana tidak Ge Er, seorang siswa diajak diskusi untuk penulisan bukunya. Hmmmm….gimana kalau aku ke rumah Bu Wita saja. Aku pun meluncur ke kost an Bu Wita. Sampai rumah Bu Wita, aku lihat Bu Wita sedang menyirami tanaman. Dan dia menoleh. “Hai To, tumben sore-sore main ke sini” “Duduk dulu ya To, aku selesaikan dulu ini” Aku pun duduk di teras. Rumah ini memang terasa nyaman. Asri dan hijau. Meskipun tidak jauh dari jalan raya, tetapi terasa tenang dan jauh dari kebisingan. Setelah aku menunggu sekitar 10 menitan, Bu Wita keluar dengan blouse warna putih bermotif bunga. Hmmm..Bu Wita memang cantik, wajahnya sumringah secerah cuaca sore itu. “Hmmm..gimana To?”…Bu Wita memulai percakapan. “Ehh….gimana apanya Bu?” aku tergagap merasa tatapan mataku tertangkap basah. “Maksud hamba, ada perlu apa gerangan kedatangan Tuan kemari?” Bu Wita meledeku. “Ehh…bagaimana antologi puisi Ibu, maksudku sudah sampai mana?..aku masih agak gugup, terlebih melihat Bu Wita menatapku dengan senyum-senyum kecil. “Gak sampai mana-mana To”..Bu Wita masih terus meledeku. Hmmm…kenapa Bu Wita sore ini terlihat lebih cantic, muda dan fresh ya.. “ Baru beberapa puisi To, masih seperti kemaren terakhir kamu lihat”..Bu Wita melanjutkan. Iya aku inget judulnya, agak unik; “RASA INI TAK BIASA DAN TAK BISA” “Sudah kamu baca kan?” “Atau jangan-jangan kamu langsung buang ketikannya?”.. “Gaklah Bu, aku masih simpan kok. Begini puisinya: RASA INI TAK BIASA DAN TAK BISA Ternyata rasa bisa datang begitu saja, Tanpa tanda, tanpa gejala. Tunas tumbuh, lalu merimbun begitu saja. Tapi aku tahu, rasa itu tak boleh ada. Ada nilai, koridor norma yang tak boleh dilanggar begitu saja. Biarlah warna itu membias, menghias jiwa yang sepi, Biarlah lagu rindu bersenandung dalam diam, Biarlah sajak-sajak liris dibaca dalam tangis. Biarlah setiap bintang, menyinari bintang yang lain, memberikan sinar, berbagi cinta, memaknai masing-masing sinarnya, Aku hanya bisa berharap aku masih bisa dekat sosokmu, Sesekali beriring tanpa bisa menggapai genggammu. Melihat dirimu dari jauh tanpa bisa merengkuh. Mudah-mudahan dada ringkihku bisa teguh, Menahan rasa yang terus menggebu. Aku harap imsonia tak makin menggila, karena bayangmu yang terus menggoda. Aku hanya berharap kamu tetap tak menjauh jarak, Seandainya suatu waktu, rahasia hati ini terkuak. Karena hati dan rasa tak bisa berdusta. Segala rindu dan rasa aku titipkan purnama, Dengan harap dan doa; Semoga dirimu mendapat yang terbaik dan selalu terjaga (Buat MT) Aku malah sedikit hapal di luar kepala, karena sering aku baca. “Menurut Topan puisi itu bagaimana?” tanya Bu Wita mengagetkanku. “Ehh…bagus..” jawabku. “Ya bagus tuh yang gimana?”…Bu Wita tahu aku sekedar jawab. “ya bagus, simple tapi isinya dalam”..kataku mencoba kasih komen untuk puisinya. “hmmm..gitu”..Bu Wita sepertinya ingin komen yang Panjang. “ Tapi boleh tahu Bu?” tanyaku. “Boleh, ingin tanya apa?”… “Itu puisi buat siapa ya? “ “Lho , kan aku tulis juga buat MT” “ Ya maksudku MT itu siapa?” Bukan Mas Tukiran kan? ..aku meledeknya dengan menyebut nama Penjaga Sekolah kami. “hahahahahaha, enak aja”…Bu Wita tergelak. “ Ya pokoknya ada deehh”… Bu Wita makin mebuatku penasaran. “Penasaran ya?”..Bu Wita meledeku lagi. “PR buat Topan aja, nanti kalua bisa jawab saya kasih hadiah. Kami pun asyik ngobrol banyak hal, selain tulisan puisinya. Saat ngobrol begini kami lupa jarak antara guru dan siswa. Dan tak terasa hari beranjak malam. “Eehh.. sudah malam Bu. Aku pamit pulang ya Bu”… “Iya To, jangan bosen, sering-sering main kesini ya”…Bu Wita basa-basi. “Beneran Bu? Ntar MT cemburu gimana?”…ledekku. “Ah kamu bisa aja To, tenang saja To. Dia gak mungkin cemburu sama kamu”…Bu Wita jawab dengan senyum meledek. Sambil jalan pun aku bertanya-tanya, siapa MT? …. Ahhh wes mbuh bukan urusanku juga..tapi tetap penasaran juga… Siapa ya?....

THE JOUNEY VIII

Aku menjadi tidak sabar untuk bertemu Rani. Selain memang sudah kangen berat, akupun segera ingin bercerita tentang perkembangan cerita guna-guna. Memberi tahu siapa yang mengirim guna-guna ke Rani dan tentang guna-guna ke Bu Roswita. Aku mereka-reka , kalimat apa yang aku sampaikan ke Rani. Aku harus bisa menyampaikan secara hati-hati, agar Rani tidak emosi dan meledak-ledak. “Tapi apa mungkin ya, Rani bisa tenang?”..aku berpikir keras. Soal siapa yang mengirim guna-guna ke Rani, mungkin biar aku saja yang tahu. Toh keadaannya sudah tenang, dan sepertinya tidak ada efek apa-apa ke Rani. Tapi soal bu Wita?, sepertinya tidak mungkin aku biarkan. Kasihan Bu Wita, seandainya guna-guna itu berakibat kurang baik kepada Bu Wita. Bu Wita hidup seorang diri di kota ini, dan tidak pernah tahu ada familinya atau temannya berkunjung ke kostnya. Setahu saya yang mengunjungi kostnya, ya hanya kami-kami para siswa yang dekat dengannya. Aku, Adri dan Rani mungkin siswa yang paling dekat dengan Bu Wita. Di luar jam sekolah, kami bisa ngobrol apa saja, bercanda, saling ledek selayaknya teman. Aku bolak-balik gak bisa tidur memikirkan hal tersebut. “Ah, ada baiknya aku minta pertimbangan Adri”…. Esoknya akupun ke rumah Adri. Kebetulan Adri sedang nongkrong , main gitar depan rumah. “EEhh To, dari mana aja”….. “Dari rumah aja, masuk yuk Dri, ada yang penting”..aku menarik tangan Adri mengajak masuk. “Eh ada apa tho, ini rumah gue kok kamu yang ngajak masuk”..Adri meledekku. “Aku serius Dri.., aku tak menanggapi candanya. Melihat mukaku yang serius, Adri pun berhenti main gitar dan mengikutiku ke kamar Adri. “Hmmm..memang ada apa To?”..tanya Adri begitu kami duduk di tempat tidur Adri. “Dri, kamu tahu siapa yang ngirim guna-guna ke Rani?”.. “Gak tahu , memang siapa?”…Tanya Adri. “Tahu gak? Ternyata Pram Dri”…..saya menceritakan dengan agak tegang, karena memang tidak mengira.. “oooh Pram, kirain siapa?”…komentar Adri datar saja. Justru saya yang kaget dengan ketenangan Adri. “Lho , memang kamu sudah tahu?”.. tanyaku ke Adri. “Belum sih, tapi saya sudah menduga.”…jawab Adrimasih kalem. “Tapi kamu tahu, sekarang siapa yang mau di guna-guna?”…tanyaku. “Heh, Pram masih cari sasaran lain?”..Adri sedikit terkejut dan kepo. Aku pun diam. Sambil berpikir apa Adri perlu diberitahu. “Siapa To?..tanya Adri penasaran. Terlebih dengan sikap saya yang diam. “Rusti? “….tebak Adri sebut nama anak 2 IPS 1 yang manis , anak ketua DPRD. Aku menggeleng. Adri makin penasaran. “Ayo lah To, jangan bikin penasaran. Anak kelas berapa?”… “Kali ini bukan teman kita Dri”..aku masih ragu sebut nama. “Maksud kamu anak sekolah lain atau gimana”..tanya Adri s mendekat , menghadap mukaku, seolah sangat menunggu ucapan yang keluar dari mulutku. “Bu Roswita, Dri..aku sebut saja. “Hahh!!!!...teriak Adri kaget hampir meloncat, dan menggeleng-geleng tak percaya. “Pram, gemblung!...komen Adri, memaki Pram. Kami lalu terdiam sesaat. Dan aku masih belum dapat jawaban bagaimana memberitahu ke Bu Wita. “Dri, aku ke sini untuk minta pertimbangan ke kamu, bagaimana memberitahu ke Bu Wita”….. “Hmmmm.. gimana ya?”..Adri pun menjawab bingung. “Kalau menurut aku sih gak perlu dikasih tahu, nanti akibatnya bisa kemana-mana.”.. Adri memberi pertimbangan. Aku pun diam, memikirkan jawaban Adri. “Hmmmm…benar juga, pasti akan membuat kehebohan baru”….pikirku. “Jadi mau kita biarkan Pram mengguna-guna Bu Wita?”… “Ya gak juga sih, tapi sementara kita cooling down dulu, sambil cari cara terbaik”.. terang Adri bijak. Aku pun setuju, tetapi tidak mungkin membiarkannya. Aku pun pulang tanpa mendapat keputusan apa-apa. Aku masih berpikir bagaimana menyampaikan ke Bu Wita. Hari itu semua tampak semangat masuk ke sekolah, maklum hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang. Seperti biasanya, hari ini belum ada pelajara Teman-teman ngobrol seru, menceritakan kisah liburannya. Saya hanya duduk saja di kelas sambil corat-coret di buku merah yang sering aku bawa dalam tas. “Ah..mau nulis apa ya, mau nulis puisi pun otakku buntu”....ahh aku masih memikirkan Bu Roswita, bagiamana keadaannya, apakah baik-baik saja. “To, ngelamunin apa tho?”..sapa Bu Wita mengagetkanku. “Bb baik Bu”....orang yang aku pikirkan terlihat baik-baik saja, terlihat segar malah. Terlihat cantik dengan setelan blous biru putihnya. Berarti liburannya menyenangkan. “Gimana liburanmu To?”.... “Saya di rumah saja Bu, sesekali mancing aja”.. “Wah asyik tuh, mancing perhatian cewek atau mancing beneran?”..Bu Wita menggod\aku. “Mancing beneran lah Bu”.....jawabku. “Kok gak ngajak-ngajak, saya juga di rumah aja lho”...canda Bu Wita. “Oooh di rumah saja”....jawabku asal saja. Aku berpikir gimana kasih tahunya ya. “Tapi Ibu baik-baik saja kan?”..aku keceplosan. “Iya, saya baik-baik saja, ....” jawab Bu Wita sedikit heran dengan pertanyaan saya. Aku pun terdiam, bingung mau ngomong apa. “Memang ada apa To, kenapa kamu khawatirkan Ibu?”...Bu Wita pun ikut bingung. “Eehhh..gak ada apa-apa Bu” jawabku asal saja. “To, kamu kalau ada apa-apa harus cerita sama Ibu To...” Bu Wita sedikit memaksa. Aku pun terdiam. Makin bingung dengan sikap Bu Wita yang seperti bingung dan penasaran. “Lho, kok malah diam To, berarti memang ada apa-apa, dan kamu sembunyikan ya To?”.. “Ayolah ceritakan saja ke Ibu To”....desak Bu Wita. “Bu Wita, saya belum bisa cerita sekarang Bu, besok kalau saya sudah siap saya cerita ke Ibu”.. “Ahh Taufan, kamu malah bikin Ibu bingung, ayolah To..” desak Bu Wita. Akupun kaget karena Bu Wita sambil pegang tanganku, ahhh gimana ini. “Eehh maaf Bu”...aku gugup dan mencoba melepaskan tangan dari genggaman Bu Wita. Ahhh aku makin gugup dan bingung. Aku mencoba menenangkan diri. “Begini Bu”....aku sambil mencari kalimat yang tepat. “Ya , apa To ceritakan saja”..wajah Bu Wita terlihat cemas. “Bu, sepertinya ada orang yang bermaksud kurang baik terhadap Ibu”.... “Maksudnya gimana To?”...Bu Wita makin terlihat cemas. “Saya belum bisa cerita detilnya Bu...” “Tetapi ibu sebaiknya Ibu harus rajin sholat dan banyak dzikir Bu”.. “Aduh ...Ibu makin bingung, ini ada apa?”.....Bu Wita makin bingung. “Saya belum yakin juga Bu, tapi untuk jaga-jaga saja Bu. Supaya Ibu terjaga dari sesuatu yang jahat Bu”...aku berusaha menenangkan Bu Wita dan “ngeles” juga. “Ahhh...jangan mutar-mutar To, bikin Ibu pusing saja.” “Iyau Bu, tenang saja. Saya janji kalau semua sudah jelas pasti saya ceritakan semua pada Ibu”...aku pun keceplosan berjanji, karena melihat kecemasan Bu Wita. “Iya, Bu.....” saya menangguk memastikannya. “Cie..Cie Taufan pacaran sama Bu Wita”..celetuk Hari mengagetkanku, masuk bersama beberapa teman yang lain. “Eh Hari jangan ngawur kamu”..tegur Bu Wita. “Ibu lagi memberi advis ke Taufan, supaya lebih semangat, jangan suka menyepi dan melamun”...Bu Wita memang pintar untuk kembali menguasai suasana. “Dan kamu ya To, ingat janji kamu” kata Bu Wita sambil meninggalkan kelas. “Tuuhh kan ada janji-janji segala,janji apa nih Bu”..goda Hari. Bu Wita tak menjawab dan berlalu meninggalkan kelas. Aku pun termangu, tambah bingung. Dan saya sudah berjanji ke Bu Wita untuk menceritakan semua. ------------------- Hari itu sudah dimulai lagi aktif belajar. Dan pelajaran pertama adalah pelajarannya Bu Wita, Bahasa Indonesia. Sudah 15 menit tidak muncul juga, padahal biasanya Bu Wita tidak pernah terlambat. Saya baru mau keluar kelas untuk melihat ke ruang guru, masuk Pak Prio. Namanya Priambodo, tapi biasa dipanggil Pak Prio. “Anak-anak hari ini saya diminta menggantikan Bu Wita yang sedang sakit”… “Terakhir Bu Wita menyampaikan hal apa?”..tanya Pak Prio. Bu Wita sakit. Saki apa ya? Jangan-jangan……pikiranku melantur , apakah sakitnya karena guna-guna Pram?..aahhh Pram kan mengirim guna-guna pengasihan, pellet. Bukan agar Bu Wita sakit. Aku jadi khawatir... Apa aku harus menengoknya ya? Tetapi aku masih punya hutang, untuk menceritakan tentang guna-guna Pram, dan aku belum siap. Ahh , gimana ini….Bu Wita sakit apa ya?,… Mudah-mudahan cuma tidak enak badan aja, dan besok bisa masuk mengajar. Keesokan harinya, aku cek ke kelas lain, ternyata Bu Wita belum masuk juga. Sakit apa ya? Berarti sakitnya serius, bukan sekedar tidak enak badan atau ke capek an. Aku pun kembali ke kelas, sambil terus berpikir tentang keadaan Bu Wita. Tiba-tiba Rani berdiri di depanku dan mengagetkanku; “Kamu cari Bu Wita kan?” “Iiyaa, kok tahu Ran?”.. “Tahu lah, kemaren Bu Wita telp ke rumah ku, titip pesan ke kamu, agar ke rumahnya”.. “Kok kemaren kamu gak kasih tahu aku?”.. “Aku lupa!”..jawab Rani sedikit ketus. Aku heran dengan sikapnya. “Kamu sudah tengok?”, atau mau bareng aku?..tanyaku. “Gampang, aku nanti aja. Kamu buruan kesana, sudah ditungguin kemaren”..jawab Rani datar. Akupun heran, kenapa dengan Rani. “Kamu ada apa Ran?”….aku masih heran dengan sikapnya yang dingin. “Gak apa-apa, daah ya To”..dia berlalu begitu saja. Aku bengong, dan bertanya-tanya; kenapa dengan Rani.. Sore harinya aku ke tempat kost Bu Roswita, suasana nya sangat sepi. Sepertinya kosong. “Assalamu’alaiku”…aku menyapa tuan rumah. Aku ulang beberapa kali tidak ada yang menyahut. Baru yang kelima ada yang menjawab lirih , suara perempuan; sepertinya suara Bu Wita. “Bentaar…. Benar dugaan ku Bu Wita, keluar dengan langkah lemah dan pucat. “Ehhm Taufan, maaf tadi lama ya? Saya tadi tidur”.. “Iya Bu. Gak apa-apa”.. “Silahkan duduk To,…” Aku pun duduk di ruang tamu. Bu Wita duduk bersender masih lemas, tanpa make up, dan masih pakai baju tidur. Baru kali ini aku melihat Bu Wita apa adanya, tanpa polesan make up dengan baju seadanya. Hmmm..ternyata malah terlihat lebih cantik. “Kenapa To, liatin begitu? Kelihatan kurus ya?”…. “Iya, kurusan dikit,..aku jawab sekenanya. “Iya To, aku tuh mudah turun berat badan, tapi susah naiknya”..hmmm tumben Bu Wita ber aku-aku .. “Maaf ya To, Ibu tidak sempat ganti baju, jadi terlihat berantakan dan keliahatan asli jeleknya”..Bu Wita bercanda.. “Hmmm..Bu Wita tetap cantik kok…” uups aku keceplosan, tapi memang begitu adanya. “Bisa aja kamu To, ntar ada yang marah lho, kamu puji-puji Ibu”… “Ahh siapa yang cemburu”..jawabku sedikit malu. “Kamu pura-pura gak tahu, atau memang gak tahu?”…Bu Wita meledekku. “Bener Bu, saya gak tahu”.. “Emang ada yang cemburu sama kau Bu?”...tanyaku mulai Ge eR “Hmmmm…kasih tahu gak ya”…Bu Wita makin jadi meledekku. “Kemaren Rani marah-marah sama Ibu”..celetuk Bu Wita.. “Hah?.yang bener Bu. Memang kenapa Bu, dia marah?”… “Kemaren saya telpon ke rumah Rani, mau titip pesan Taufan untuk pimpin latihan drama minggu ini”..Bu Wita memulai cerita. “Rani malah lebih banyak bertanya tentang Ibu ke kelas waktu Senin pagi itu”.. Iya aku ingat waktu teman menggodaku pacaran dengan Bu Wita di kelas. “Rani sepertinya cemburu sama Ibu To”... Ahh Rani kenapa harus marah-marah sama Bu Wita. Aku jadi kesal. Dan tiba-tiba rasa kagumku, rasa suka ku ke Rani menyusut cepat. Rani memang emosional, tetapi kenapa begitu mudah terprovokasi teman-teman, dan tidak menanyakan ke aku lebih dulu. Setelah ngobrol dengan Bu Wita cukup lama, dan memastikan Bu Wita demam biasa bukan karena guna-guna saya pun menjadi tenang. Siang usai jam sekolah, aku lihat Rani jalan terburu-buru. “Ran….”..panggilku. “Ada apa To?”..sahut Rani cuek. “Ran, kamu kenapa sih?”..tanyaku. “Aku gak apa-apa kok, memang menurutmu kenapa?”..jawab Rani masih ketus. “Ran, kita harus bicara Ran…..desakku. “Ok, ntar sore di bakso Karso ya”…Rani menjawab sambil berlalu begitu saja. ____ Sore itu Baso Karso tidak se ramai biasanya. Aku menunggu tidak lama, Cuma beberapa menit, Rani datang. Rani meskipun dengan muka tanpa senyum, tetap terlihat cantik dengan dress code favoritnya; T-shirt putih dan Jeans nya. Rani pun lalu duduk disebelahku dan pesan 2 mangkok baso dan es teh manis. Kami masih diam. Aku pun bingunng mulai darimana. Rani mendahului buka suara. “Kemaren jadi ke rumah Bu Wita?”.. “Iya jadi, Bu Wita sakit lumayan serius” jawabku. “Kamu suka sama Bu Wita ya To?”..tanya Rani mengejutkanku. “Kok kamu Tanya begitu Ran?”.. “Iya temen2 nggosip in kamu, katanya kamu deket sama Bu Wita”.. “Teman2 lihat kamu pegangan tangan sama Bu Wita”.. “Aduh, kamu kok percaya gossip sih Ran”… “Waktu di kelas itu Bu Wita minta aku untuk cerita sama Bu Wita”..jelasku. “Cerita apaan To?”….. Aduh, aku keceplosan, aku mesti cerita apa nih. Kepala ku tiba-tiba terasa gatal. “Gini Ran, ada anak yang suka sama Bu Wita; dia titip untuk menyampaikan ke Bu Wita”… “Lhoh ya sampe in aja To, .atau kamu gak rela Bu Wita ada yang suka?”.. Adduhh, Rani ke situ lagi. “Bukan gitu Ran, saya takutnya anak itu ditolak, dan dia marah sama aku”..aku jawab sekenanya. Karena tudak mungkin juga cerita tentang Pram yang mengguna-guna Bu Wita. Bisa-bisa makin melebar kemana-mana. “Lho, kamu kan gak tahu, kalau belum disampe in”… “Iyaaa, nanti aku sampein”…aku iya in saja, biar Rani lega. “Ehhm, To..btw kami mau ngomong apa yak e aku?”… Ahh iya, aku kan mesti klarifikasi soal Rani marah sama Bu Wita…tp darimana ya?.... “Ran….., lalu aku bingung. “Ya To, kamu mau ngomong apa?”… “Mau bilang kamu suka sama aku? Itu aku udah tahu”…..ledek Rani. Rani memang suka ceplas-ceplos, dan kali ini tetap saja bikin aku mati kutu. “Ahh ..kamu Ran”… “Ya, habisnya dari tadi diam saja, sok cerita atau tanya apa saja, hamba siap mendengarkan”..ledek Rani. “Ran, benar kamu marah sama Bu Wita?”…tanyaku. Muka Rani, mendadak berubah dan diam. “Bener Ran?”..desakku. “Iya. Lagian ngapain sih kamu pegang-pegangan tangan sama Bu Wita di kelas?” “Aku gak suka juga, denger teman-teman heboh gosipin kamu”….Rani nyerocos begitu saja. Aku diam, karena memang gak tahu harus bilang apa. “Aku tuh tidak apa-apa sama Bu Wita” jelasku. “Aku bukan murid kurang ajar, yang nglunjak sama gurunya”..aku meyakinkan Rani. “Bener kamu gak ada apa-apa? Gak ada perasaan suka sedikit pun?...tanya Rani seperti menginterogasi. Aku menggeleng. “Tapi menurutmu menarik, cantik kan?”…..tanya Rani gak tahu arahnya kemana. Aku pun diam saja. “Kok diam saja. Bu Wita cantik kan?..Rani seperti mendesak. “Iya cantik”..aku jawab asal saja. “Berarti Taufan suka dong”…Rani menyimpulkan sendiri. “Cowok tertarik sama cewek bukan karena cantik saja Ran”…aku mecoba memotong pembicaraan Rani yang terus kemana-mana. “Berarti aku gak cantik?”…Rani menyela. Haddehhh, bicara dengan perempuan memang harus lapang dada. “Bukan begitu Ran, kamu cantik, cerdas dan aku suka”..terang aku sedikit kesal. “Hmmm..gitu dong To, kalau suka bilang suka. Jangan cuma pakai bahasa perasaan” …goda Rani dengan senyum lebarnya. “Ran, kemaren kamu bener marahin Bu Wita?”..aku berani tanyakan hal itu lagi , melihat Rani yang sudah tersenyum renyah lagi. “Iya To, aku gak suka kamu jadi gossip. Dan gak suka juga kalau kamu dekat sama Bu Wita”…jelas Rani. “Kenapa Ran?”…aku ingin tahu. “Duuhh , kamu bodoh atau pura-pura gak tahu nih?”..tanya Rani, sambil mencubit gemas pinggangku. “Duuh Ran,.. aku mau tahu Ran”….jawabku sambil mengaduh, karena sakit bercampur geli. “Tadi kamu bilang suka sama aku kan?”..tanya Rani. Aku mengangguk. “Aku juga sama kamu, sayangnya kamu suka bolot”..Rani sedikit bersungut. “Bolot, maksudnya aku bodoh?” “Iya bolot perasaan, gak peka”….Rani masih sedikit bersungut. “Aku juga suka sama kamu To”, dan aku batasi diri untuk dekat dengan siapa saja”..Rani nyerocos.. “Ya, maaf Ran, aku gak tahu tentang perasaanmu”..aku tidak bisa berkata lain. “Itulah makanya , aku bilang hati mu bolot”…..balas Rani. “Berarti kamu jadi pacar aku?”..aku menegaskan. “Lho, menurutmu?”….Rani balik tanya. “Atau kamu gak mau?”..goda Rani. “Ahh kamu Ran..”..aku acak-acak rambut Rani, gemes. “Jadi kita hari ini mulai jadian?”..tanyaku menggoda Rani. Rani mengangguk. “Terus ayah kamu gimana?”..tanyaku ragu. “Ya elaahh To, memang kamu mau melamar aku sekarang?”.. “..Ya kita jalani saja”… “Dan kita musti bersikap biasa saja, jangan terlalu kelihatan”…jelas Rani. “Gak kelihatan gimana Ran?... “Terus apa bedanya dengan sebelumnya?” ..tanyaku penasaran. “Gini lho To..” Rani berkata sambil hela nafas. “Bedanya sekarang kamu tahu, kalau aku suka sama kamu juga”.. “Yang penting kan perasaan kita nyambung. Memangnya mau kamu yang gimana?”.. Aku cuma mengangkat bahu dan tersenyum, tidak tahu mau menjawab apa.] “Niih, tandanya….”..tiba-tiba Rani mencium pipiku. Tentu saja aku kaget, dan kelimpungan toleh kiri kanan, malu kalau ada yang melihatnya. Rani orangnya memang suka spontan dan kadang tak terduga. “Sudah mau maghrib To, pulang yuk”..ajak Rani. Setelah dari kasir, kami pun pulang. Aku merasa sore ini udara terasa lebih segar dan sejuk dari biasanya.

THE JOURNEY VII

Aku laporkan tugas “hasil kunjungan” ke Adri. Dan kusampaikan juga bahwa Adri tidak ada “hard feeling” sama Rani, Rani pun terlihat lega. Dan cerita tentang pelaku guna-guna pun mereda. Terlebih kami kemudian disibukan oleh kegiatan belajar untuk menghadapi ujian semester an. Aku dan Rani pun sementara jarang ketemu, hanya sesekali jajan bareng di kantin sekolah.. Ulangan semester lewat, dan hari-hari kami pun menjadi santai karena lepas dari “tekanan” pelajaran sekolah. Kami hanya disibukan oleh “class meeting”, aku tidak tahu istilah darimana, lebih tepatnya pertandingan olah raga antar kelas. Tiba-tiba kami dihebohkan oleh berita; “Hari dipanggil ayah Danang”. Kalau Adri, Tono atau teman lain dipanggil mungkin tidak akan jadi berita. Dan menjadi heboh karena Hari adalah anak Pak Pramono seorang perwira TNI. Menurut informasi Hari menolak datang atas perintah ayahnya. Ayah Hari bukanlah orang tua yang memabi buta membela kesalahan anaknya, kami tahu ayah Hari termasukorang tua yang cukup fair. Kami ingat ketika “Kasus Kemah” antara Hari dan Endang. Kami sebut kasus karena ceritanya waktu itu menghebohkan sekolah. Gara-gara Hari menghilang bersama Endang pada waktu kemah, dan baru kembali keesokan harinya. Kami juga tidak tahu mereka “menghilang” kemana. Berita spekulasi pun bermunculan. Ketika itu orang tua Endang datang ke rumah Hari. Dan kasus itu bisa diselesaikan oleh ayah Hari. Kami pun tidak tahu bagaimana penyelesaian antara orang tua Hari dan orang tua Endang. Kami dapat informasi kalau Hari dihajar ayahnya samapai babak belur, dan katanya bahkan sempat ditempeleng di depan orang tua Endang. Dari cerita itu kami tahu, bahwa ayah Hari orang yang cukup fair dan menutup mata ketika anaknya memang bersalah. Kali ini sepertinya ayah Hari merasa bahwa tindakan ayah Danang sudah terlalu jauh, makanya menyarankan Hari untuk menolak datang. Sepertinya telah terjadi “ketegangan tingkat tinggi”. Hal itu merembet pada hubungan antara Hari dan Danang yang menjadi tegang pula. Pada acara sesudah class meeting Danang hampir berkelahi. Hari memaki Danang dan menyebutnya; anak orang tidak tahu aturan. “Hai pengecut, bilang sama bapakmu, jangan sok kuasa dan tidak tahu aturan; main panggil orang seenak udelnya”... Danang pun tidak terima, “Jangan bawa-bawa urusan orang tua ke sekolah” “Gimana gak bawa-bawa urusan ini, yang dipanggil tuh gueeee”..serang Hari tambah emosi. Untung teman-teman segera melerai, Pak Gatot guru olah raga pun membawa mereka ke ruang guru. Kepala Sekolahpun turun tangan. Setelah menginterogasi mereka, Kepala Sekolah menjadi tahu duduk permasalahannya. Dan beberapa hari kemudian, Kepala Sekolah memanggil orang Hari dan orang tua Danang. Kami pun tidak tahu bagaimana prosesnya. Urusannya sudah “diambil alih” oleh para orang tua. Kami dapat “berita tidak resmi” dari Pak Hasan, si tukang kebun katanya, masalahnya sudah diselesaikan secara “adat”. Kepala Sekolah berhasil mendamaikan orang tua Hari dan orang tua Danang. Dan berita tentang guna-guna Rani pun ikut “menghilang”, apalagi tak lama dari peristiwa itu, tiba saat libur sekolah. Masing-masing dari kami pun sibuk dengan acara liburan. Ada yang keluar kota, ada yang di rumah saja seperti aku. Akupun tidak bisa bertemu Rani. Keluarga Rani berlibur ke Australia, mungkin ayah Rani bermaksud sekalian menenangkan Rani. Libur sekolah terasa panjang dan membosankan. Teman-teman kebanyakan punya acara masing-masing bersama keluarganya. Sementara aku lebih banyak berdiam diri di rumah, atau ketika bosan, pergi memancing sendirian, sambil menikmati alam terbuka. “Ah..seandainya Rani menemaniku”..lamunanku melambung membayangkan senyum Rani. Tengah melamun, tiba-tiba Kakak mrembuyarkan lamunanku; “To, tadi Pram mencarimu, minta kamu ke rumahnya, katanya ada yang penting” “Ah penting apa, paling mau curhat lagi pedekate cewek, atau minta dibuatkan surat cinta”....begitu aku membathin. Ya, Pram memang sering minta dibuatkan surat untuk dikirim ke cewek yang lagi disukainya. Rani pernah memarahiku, ketika tahu aku menuliskan surat buat Pram. “To, ngapain kamu bikin surat buat orang lain?” “Itu sama saja kamu membantu orang dalam kebohongan”... “Kok?..waktu itu aku protes. “Iyalah, karena orang yang kamu buatkan surat, tidak menjadi diri sendiri, menipu; dan kamu terlibat dalam kebohongan itu”...hhmmm benar juga kata Rani. Saya pun berniat untuk menolak Pram, atau orang lain yang meminta untuk dibuatkan surat cinta. Kepada orang lain saya bisa menolak, tetapi entah mengapa saya susah sekali mengelak dari “paksaan” Pram, termasuk kali ini; untuk datang ke rumahnya. Sebenarnya malas, tetapi aku pun berangkat juga. Menjelang Maghrib aku sampai di rumah Pram. Ibunya ada di depan sedang menjaga toko sembakonya. “Assalamu’alaikum Bu. Pa kabar?” sapaku pada ibunya Pram. “Eeeh Nak Taufan, lama gak kelihatan kemana aja?” “Gak kemana-mana Bu, karena kemaren pas ujian semesteran Bu. Jadi gak main”.. “Ooh iya, kamu kan anak rajin ya, silahkan masuk aja. Kayaknya Pram ada di kamarnya”..ibunya Pram mempersilahkan ku. Aku memang sudah dekat dengan keluarga Pram, dan sesekali diminta menginap sama ibunya. Ia Kata ibunya Pram ketika minta aku menginap; “Nak Taufan nginep saja di sini, sekalian temanin Pram biar semangat belajar”.. Pram memang pemalas dan kurang berprestasi di sekolah, banyak nilainya di bawah rata-rata. Pram pun malas belajar, dia malah lebih rajin baca buku Primbon, Ilmu Klenik dibanding baca buku pelajaran. Akupun langsung masuk ke kamar Pram. Pram sepertinya sedang mandi karena terdengar suara cebar-cebur suara gayung beradu dengan air bak. Saya pun langsung duduk di dipan yang ada di kamar Pram, sambil lihat buku koleksi Pram, tentu saja hampir semua tentang primbon dan klenik. Buku-buku itu berserakan saja di tempat tidurnya, beberapa malah bertebaran di lantai. Judulnya pun aneh-aneh; KARAKTER MANUSIA BERDASAR HARI PASARAN, KECOCOKAN PASANGAN MENURUT PRIMBON, hmmmm ada yang menarik pada salah satu buku yang tergeletak di lantai; “MANTERA DAN AJIAN PEMIKAT WANITA”....akupun berjongkok untuk mengambil buku itu. “Heeh!..ada benda yang menarik perhatianku, ya kelapa muda bertuliskan nama dan huruf Jawa!”...... “Haahh jadi selama ini pelaku guna-guna yang aku cari, Pram lah orangnya”. …. Dengan gemetar aku pun pegang kelapa muda itu, dan aku makin kaget dengan nama yang tertulis di kelapa muda itu; ..”Roswitaa!”.....apakah maksudnya Bu Roswita guru Bahasa Indonesia kita?...dadaku makin gemuruh, perasaan gugup, marah, bingung campur aduk. Dan tiba-tiba suara Pram mengejutkanku: “Eh lu To, dah lama ?”.... Aku masih gugup dan bingung, dan tak menjawab pertanyaannya. “Eh Topaan kenapa malah bengong, kayak lihat setan aja”... “Ya aku memang lihat setan di mukamu”. ..jawabku dalam hati. Salah satu orang yang aku curigai memang Pram, sesuai dugaan Adri. Tetapi tetap saja fakta itu tetap membuat aku shock, hampir pingsan. Setelah berusaha menenangkan diri, akupun bertanya ke Pram; “Itu benda yang ada di kolong, apa maksudnya Pram?”.. “Benda apa To?”..jawab Pram dengan muka nyante. Saya tidak mengerti sikap Pram belagak bego atau memang benar- benar tidak tahu maksud pertanyaanku. “Ii tuu.. kelapa muda yang ada di kolong”...tanyaku masih gugup. Duh kenapa aku malah yang gugup dan nervous, bukannya semestinya Pram yang harus merasa gugup. Dia yang bersalah, bukan aku. “Oohh itu, ...kamu gak perlu tahu, dan jangan ikut campur ya To”...Pram masih menjawab dengan tenang, meskipun nada bicaranya sedikit berubah, tidak se santai tadi. Kami pun terdiam beberapa lama. Dengan jalan pikiran masing-masing. Aku masih bingung. Saya yakin Pramlah yang juga mengguna-guna Rani, tapi kenapa? Karena setahu saya Pram bersikap biasa saja terhadap Rani dengan guna-guna? Dan tidak pernah terlihat kalau Pram suka dengan Rani. Kalau benar Pram suka sama Rani, kenapa harus dengan guna-guna? Dan selama kehebohan soal Rani di antara teman-teman, Pram selama ini tenang-tenang saja, seolah dia tidak ada hubungannya guna-guna Rani? Luar biasa. Atau ada orang yang satu ilmu dengan Pram? Dan sekarang Pram akan mengguna-guna Bu Wita? Seribu tanya berkecamuk di kepala dan membuatku makin linglung. Kami terdiam cukup lama, dan pecah keheningan oleh sapaan ibu Pram; “Kalian sholat dulu, habis itu makan”... “Eh..iiyaa Bu”..jawabku agak tergagap kaget. “To, kamu sholat dulu, ntar kita terusin ngobrol abis makan” Saya pun beranjak untuk berwudlu, dan sholat di mushola samping rumahnya. Sementara Pram masih berada di kamar tidak tahu apa yang dikerjakannya. Seusai sholat aku pun berpikir keras. Aku harus memastikan Pram sebagai pelaku guna-guna Rani dan memastikan juga apa maksud Pram terhadap Bu Wita, dengan kelapa muda itu. Pulang dari mushola aku dan Pram pun makan malam. Kami makan dengan diam, tidak seperti biasanya yang selalu makan sambil ngobrol. Meskipun tidak mengurangi enaknya masakan ibunya Pram. Ibunya Pram memang jago masak, meskipun mungkin hanya tumis kangkung, tempe goreng dan sambel bawang; tetapi kalau ibunya Pram yang masak rasanya menjadi berbeda. Seusai makan kami pun kmbali masuk kamar, masih dengan diam. Tetapi aku sudah bertekad; harus mendapat klarifikasi tentang cerita di balik kelapa muda itu. “Pram aku mau tanya, dan tolong jawab dengan jujur”...aku membuka percakapan. “Silahkan, kalau sekedar ingin tahu, tapi seperti yang aku bilang lu jangan ikut campur”..tegas Pram. . “Nama yang tertulis di kelapa muda itu, Bu Wita guru kita?”…aku bertanya hati-hati. “Iya, benar memang Bu Wita guru bahasa Indonesia”...jawab Pram dengan tenang. “Maksudnya kamu suka sama Bu Wita? Atau ada maksud lain?...jujur aku masih belum percaya dengan apa yang aku dengar. “Iya, memang aku suka sama Bu Wita. Memang salah?”....tanya Pram dengan suara meninggi. “Aku laki-laki dan dia perempuan, dan sama-sama lajang pula”....Pram menjawab defensif. “Lalu kamu minta aku kesini untuk apa?” agar aku tahu kamu suka sama Bu Wita?....tanyaku. “Tadinya aku mau minta bikinin surat sama puisi untuk Bu Wita, tapi saya tahu sekarang, kamu pasti menolak lah”...rupanya Pram paham ketidaksetujuanku... Aku pun terdiam, sambil berpikir untuk memilih kalimat yang tepat untuk menanyakan tentang guna-guna ke Rani. “Lalu, yang tarok kelapa muda di tempat Rani kamu juga?..tanyaku to the point saja. “Iya....” Jawab Pram pendek. “Maksudnya kamu suka Rani juga?.lalu sekarang bu Wita?...tanyaku sambil berusaha menahan emosi. “Aku tidak jatuh cinta sama Rani, jadi kamu tenang saja”..rupanya Pram tahu juga kalau aku suka sama Rani. “Maksudmu kirim guna-guna iseng saja?”..aku pun tambah emosi melihat sikapnya yang seenaknya. “Bukan gitu To,..waktu aku itu aku lagi emosi sama Rani, karena dia terlalu ikut campur masalahku”...terang Pram, mungkin dia membaca wajah saya yang mulai emosi. “Ikut campur masalah apa-apa?” ..aku makin tak mengerti. “Soal aku suka sama Bu Wita, Rani orang yang pertama tahu. Sepertinya Bu Wita cerita ke Rani tentang perasaanku”.....Pram terlihat mulai serius. “Lalu Rani ikut campur bagaimana?”...tanyaku penasaran. “Begitu tahu saya lagi pendekatan ke Bu Wita, Rani marah ke saya, bahkan maki-maki”...terang Pram. “Rani bilang saya merusak masa depan Bu Wita lah, saya dibilang Oedipus Complex lah, saya dibilang sakit lah”...kamu tahu kan kalau Rani sudah ngomel. Aku pun mengangguk , mengakuinya. “Tapi kan gak harus sejauh itu Pram”....aku berusaha bersabar. “Iya waktu aku emosi sekali, jadi aku merasa agar Rani merasakan bagaimana rasanya tergila-gila sama orang, saya ingin membalas Rani”.....jelas Pram dengan emosi. “Astaghfirullah..Pram, Pram.....” aku geleng-geleng kepala tak percaya. “Ya aku minta maaf To, aku tahu kamu suka sama Rani”...ucap Pram dengan pelan. “Toh guna-guna ku gak ngefek kan?....Pram bertanya. “Maksudnya gak ngefek gimana Pram, guna-guna itu gak berakibat apa-apa?”...aku ingin dengar penjelasan Pram. “Sepertinya kelapa itu sudah dilangkahi orang lain, bukan Rani”.... “Jadi tidak berakibat apa-apa ke Rani”…jelas Pram “Terus keadaan orang yang melangkahi bagaimana?”..aku makin penasaran. “Kalau dia wanita ya dia jadi suka sama aku”..jelas Pram. “Kalau laki-laki?” tanyaku. “Ya efek guna-guna nya akan hilang begitu saja, apalagi kalau kebetulan yang melangkahi orang yang cukup alim. Begitu guruku bilang”.....terang Pram. “Hmmmmm..mungkin Ayah yang lebih dulu melangkahi kelapa itu?..hhmmm entahlah..” ...aku membathin saja. “Tetapi kenapa kamu harus pakai guna-guna ke Bu Wita?”....tanyaku lagi. “Aku sudah beberapa kali menyatakan perasaanku ke Bu Wita, tetapi tidak menjawab, bahkan cenderung menolakku”....jelas Pram. “Ya kamu kan bisa bersabar, atau lebih baik menunggu kita tamat sekolah”… “Ahh ntar keburu Wita, dilamar orang”..Pram bahkan cuma menyebut nama Bu Wita, seolah sudah jadi pacarnya saja. “Tetapi menurutku batalkan saja Pram”...saranku pada Pram. “Gak semudah itu To, aku sudah tirakat segala untuk mempersiapkan ini”.....Pram menolak saranku. Pram memang sering tirakat. Ada tirakat MUTIH; cuma makan nasi dan air putih saja. Ada “NGEBLENG, berdiam diri di kamar, dalam gelap sehari semalam. Pernah juga PUASA BISU; selama beberapa hari Pram tak bicara. Cuma menangguk dan menggeleng. Tirakat sebenarnya bagus-bagus saja, tetapi ketika dengan niat kurang baik, menjadi kurang baik juga, begitu kata mendiang Ayahku Aku berusaha membujuk Pram untuk membatalkan guna-guna ke Bu Wita, tapi sia-sia. Pram tak bergeming, dia bilang harus mendapatkan Wita bagaimana pun caranya; begitu katanya. Pram memang egois dank eras kepala, susah sekali mendapat masukan dari orang lain. Aku pun merasa tak berguna lama-lama di tempat Pram, aku pun pamit sama ibu Pram seolah tak terjadi apa-apa. Ahhh...di dunia ini memang banyak orang aneh, dan salah satunya Pram temanku. Aku pun tambah pusing.

THE JOURNEY VI

Pagi itu jam belajar terasa lama, dan akupun tidak bias konsentrasi pada pelajaran sekolah. Akhirnya setelah menunggu sangat lama, bel istirahat pun berbunyi. Seperti biasanya aku menuju kantin dan bertemu Rani untuk ngobrol dan jajan. Aku jarang jajan, tetapi sejak dekat Rani jadi sering ke kantin, dan kadang aku agak gak nyaman, selain sering ada teman meledek; pacaran tersu niih yee.,gak enak jg sama Rani; karena Rani yang lebih sering mentraktir. Tetapi Rani rupanya sudah menunggu depan kelasnya dan bergegas setengah berlari ke arahku; “To kita ke taman samping sekolah saja To, ada yang perlu saya sampaikan ke kamu” Wah ada apalagi nih, saya pun mengikuti langkah Rani. Sampai taman kami berdua pun duduk. Rani masih berwajah serius dan tegang. “To, soal guna-guna itu ternyata masih berbuntut panjang “..Rani memulai ceritanya. “Panjang gimana? Ya kan memang belum ketahuan pelakunya”..kataku masih bingung. “Ternyata Ayahku masih penasaran” “Dia minta tolong Ayah Danang untuk menemukan pelakunya”.. “Ya bagus dong, kan di polisi”…aku masih bingung, dengan kegusaran Rani. “Bukan itu Tooo”…Rani malah tambah gusar. “Kamu tahu, siapa yang dipanggil dan diintegorasi ?”….. Aku menggeleng, tambah bingung. “Adri, kemaren minggu dipanggil ayah Danang, bahkan sempat ada kekerasan”…. “Hahh!...kekerasan gimana?..Kok bisa Adri?....aku makin bingung “Ya, Ayah ku memang pernah tanyain nama-nama teman yang deket sama aku” “Aku gak tahu,kalau nama-nama itu itu dijadikan obyek penyelidikan sama ayah Danang”.. Pantesan Adri hari ini gak masuk, tertulis di papan absen sakit. Sakit beneran karena ayah Danang? Masa sih separah itu. Aku bertanya-tanya dalam hati. “Hari ini Adri gak masuk sekolah kan?”..tanya Rani mengagetkanku. “Heh..I iya..gak masuk”.. “Tuh, kan, ntar Topan mesti tengok dia ya, dan cari tahu bagaimana”.. “Iya, ntar sore. Kalau nggak ya bisa besok” jawabku. “Tuh kan Topaan”…sergah Rani. “Kenapa Ran?”… “Kamu sama teman kok gak perhatian” “Jangan nunggu besok, nanti sore kamu harus tengok Adri dan pastikan Adri baik-baik aja”. Ranu mulai cerewet dan bawel. Dan itu salah satu kekurangannya, dibalik senyum renyahnya. Cerewet dan segala sesuatu harus sesuai dengan kemauannya. Hal itu yang harus dirubah, atau mau gak mau ya harus menyesuaikan; kalau kelak Rani jadi istriku….”AAhh jadi kemana-mana lamunanku”.. “Iya Ran, nanti pulang sekolah, aku akan mampir ke rumah Adri”. Sekitar Jam 5 an saya pun samapi rumah Adri. Rumah tampak lengang dan sepi. Adri sebenarnya keluarga besar, 7 bersaudara, tetapi rumah selalu sepi, karena keluarganya punya kesibukan sendiri-sendiri dan jarang di rumah. Ayahnya seorang pengemudi perusahaan kargo, Ibunya pedagang yang sering ke luar kota pula. “Assalamualaikum”..aku menguap salam, tapi tidak ada yang menjawab.. “Adriiii……” aku panggil Adri. Baru panggilan ke lima kalinya , Adri muncul dan astahgfirullah. Mukanya ada lebam di matanya. “Adri, mukamu kenapa?”, meskipun Randi sudah cerita, tapi aku tetap terkejut juga. “Ayo masuk To..”, Adri tidak menjawab pertanyaanku. Kami pun masuk di ruang tengah, Adri tetap diam. Setelah beberapa saat, Adri baru buka suara. “Ada keperluan apa To?”…… “Mau ngobrol Dri, da nada yang salam dari Rani, dia minta maaf”….. “Ohhh, berarti kamu sudah tahu dong ceritanya, kenapa mukaku begini?”.. “Iya Rani cerita sebagian, makanya aku ke sini ingin tahu secara lebih jelas”…. “Ahh..udah lah To, gak usah diperpanjang, aku juga males ceritanya”..Adri tampak kesal. “Bukan begitu Dri, kita harus bisa menemukan pelakunya, dan namamu juga jadi clear”.. “Tapi gimana ceritanya kok ayah Danang, sampai menuduhmu?”.. “Aku juga gak tahu, siang itu Danang menyampaikan pesan ayahnya di sekolah, agar aku datang ke rumahnya.. “Sampai di rumah, langsung di bawa masuk ke ruang pribadinya, dan diberondong pertanyaan tentang guna-guna”… “Kamu jawab apa?” aku penasaran. “ Ya , berpuluh kali bertanya, di bentak-bentak, aku pun jawab gak tahu, sepertinya ayah Danang emosi dan memukulku”..cerita Adri, seperti menahan marah. “Terus kamu mengaku?”…tukasku. “Ya nggaklah, pas habis dipukulpun aku bilang ke ayah Danang; silahkan bunuh saya sekalian Pak, saya memang gak tahu apa-apa”…..cerita Adri menahan marah, seolah di depan ayah Danang. “kalau menurut kamu siapa Dri?”…. “Aku baru tahu kalau ada yang kirim guna-guna setelah dipanggil ayah Danang; jadi saya gak tahu apa-apa dan tidak tahu siapa pelakunya”…. “ya sekarang kan sudah tahu, kalau menurut kamu siapa yang mungkin melakukan”.. “Kalau menurut aku, mungkin Hari atau Pram”… “Alasannya atau apa motifnya?”..aku tertarik perkiraan Adri. “Kalau Hari ya pasti sekedar nakut-nakutin dan iseng”.. Aku jadi ingat dia pernah memasukan bangkai tikus dengan tulisan ancaman ke dalam laci pak Marwanto guru Matematika, karena dia pernah dimarah-marahi ketika tidak mengerjakan PR. Seluruh sekolah heboh, dan Hari pun di panggil kepala sekolah. Tetapi tidak berlanjut ketika ayah Hari, yang perwira TNI datang ke sekolah untuk minta maaf. Dan saya dengar pula, Hari pun di hajar oleh ayahnya di rumah, dan beberapa hari tidak masuk sekolah. “Terus kalau Pram, menurut kamu kenapa Dri?” aku ingin tahu alasan Adri, menyebut nama Pram. “Kamu kan tahu, Pram suka mempelajari ilmu klenik dan perdukunan”,..Adri menjelaskan. Iya ,Pram memang suka mempelajari ilmu mistik, dia mengaku badannya kebal dari pisau bahkan peluru. Tetapi saya tidak tahu benar tidaknya. Dan tidak ada yang mecoba membuktikannya juga. Tetapi memang pernah dia dikeroyok oleh tiga orang, dan dia baik-baik saja, sementara lawanya babak belur. Makanya Pram menjadi sombong, suka membanggakan ilmunya ke teman-teman dan cenderung suka bersikap “aneh”. Setelah bertanya banyak hal tentang kasus interogasi illegal ayah Danang, dan ngobrol ngalor ngidul aku pun pulang. Perkiraan Adri masuka akal juga. Hari memang Bengal, jahil dan bisa jadi jahat ketika merasa tersinggung. Tetapi kemaren dia bilang tidak tahu apa-apa dan rasanya dia jujur. Pram? Mungkin juga, karena memang dia suka yang berbau klenik. Tetapi apa motifnya. Karena selama ini, hubungan pertemanan Pram dan Rani sepertinya wajar-wajar saja. Ahhh teka-teki masih belum terjawab juga.

THE JOURNEY V

Setelah insiden guna-guna, aku dan Rani justru semakin dekat. Dan Rani pun sudah tahu tentang perasaanku padanya. Hampir tiap jam istirahat selalu bertemu untuk ngobrol dengan Rani. Selain memang ngobrolin dan mencari siapa yang kirim guna-guna ke Rani, saya bisa ngobrol apa saja, termasuk tentang makin ketatnya “penjagaan” ayahnya. Sekarang kemanapun Rani pergi akan selalu diantar dan dikawal bapaknya. Bagiku sih baik-baik saja, karena berarti Rani menjadi aman, termasuk dari gangguan apel pada malam minggu dari Danang. Ya selama ini yang bisa “apel atau kunjungan resmi malam minggu” cuma Danang. Menurut cerita Rani sih sudah dekat sejak SMP, karena orang tuanya juga saling kenal akrab. Dan saya merasa “besar hati” juga ketika Rani cerita, bahwa Rani yang sampaikan ke ayahnya; bahwa ayahnya harus konsisten dengan larangannya Rani pacaran, maka Rani pun tidak bisa menerima kunjungan Danang di malam minggu. Dan ayah Rani terpaksa menyetujuinya. Ya terpaksa, karena sebenarnya ayah Rani sepertinya menyetujui kalau Danang dekat dengan Rani . Selain orang tua Danang yang cukup terpandang, ayah Danang juga pernah menolong kakak Rani yang terlibat dalam kenakalan remaja, yang mengarah ke perbuatan criminal. Dalam rangka mencari informasi pengguna-guna Rani, sore itu aku mampir ke riumah Adri. Setelah berbasa-basi, akupun Tanya ke Adri: “Rani ada cerita ke kamu gak Dri?”.. “Memang ada apa To, kemaren aku ketemu Rani gak cerita apa2 tuh.. jawab Adri. “Gak ada apa-apa sih, Cuma belakangan Rani kayaknya ada masalah, tapi aku gak tahu apa masalahnya”…aku blm ingin terbuka ke Adri, sambil menyelidiki apa dia tahu sesuatu. “Saya juga gak tahu, To…..”… Aku tatap mukanya dan lihat matanya dalam-dalam, sepertinya Adri jujur. Karena tidak mendapat informasi setelah ngobrol ringan masalah sekolah, film Mandarin , dan seputar issue yang lagi update, saya pun pulang. Selanjutnya besok saya harus ngobrol dan cari informasi ke Hari. Sehabis jam sekolah aku pun bilang ke Hari; “Har, se pulang sekolah aku mampir ke rumah ya” “haa? Tumben To, main ke rumahku memang ada apaan?£ “Ntar ngomngnya pas di rumah aja”. “ Ahh bikin penasaran aja”. “ Elo sudah ganggu istirahat gue, awas ya kalau gak penting!”..Hari mengancam, tapi aku tahu Cuma bercanda. Sehabis Jam sekolah aku membonceng motor Hari ke rumahnya. Sampai rumahnya yang cukup besar, bertemu Ayahnya yang sedang membaca Koran di teras. Dan aku pun menyapanya; “Sore Om”… “Met sore..” ….silahkan masuk saja ke dalam. Akupun langsung ke kamar Hari, yang penuh poeter artis music barat; dari Roling Stone, Deep Purple, Led Zeppelin sampai Suzi Quatro. “Nah sekarang kamu sdh masuk Istanaku, ada apa gerangan hamba sahayaku”..Hari tetap dengan gaya tengilnya. “Hmmm..Har, tolong jawab pertanyaanku, dan jangan tersinggung ya”..saya berucap hati-hati. “No, problem, silahkan”…. “Har, kamu tahu nggak masalahnya Rani?”.. “ Wah gak tahu, memang kenapa dengan Rani?..jawab Hari. Aku menatap Hari dengan cermat, dan sepertinya Hari jujur dan memang gak tahu. “Kamu tahu gak, kalau ada yang mengirim guna-guna ke Rani?”.. “HhahHH !...guna-guna”, Hari berteriak kaget…. Setealh itu malah dia sendiri, yang menutup mulut degan jarinya, “Ssttt…nanti Bokap denger bisa berabe”. Ayah Hari seorang perwira ABRI dan sangat keras mendidik anaknya. Hari yang badung pun sangat takut sama Ayahnya. “hari gini, masih ada guna-guna?”…tukas Hari pelan. “Lagian apa urusanmu To?, emang elo pacarnya?” “Bukan gitu Har, saya diminta ayah Rani untuk mencari pelakunya”.. “oooh gitu, tapi sumpah samber gledek, gue gak tahu apa-apa soal itu”. “Sueeerr”….tegas Hari sambil menunjuk dengan dua jari, bersumnpah untuk meyakinkanku. Kami pun ngobrol hal lain, menikmati sebotol soft drink dan kacang garing. Saya bertanya tentang poster yang terampang di kamrnya dan music. Kalau soal musik Hari jagonya, sementara untuk pelajaran sekolah Hari lebih banyak tidak tahunya, dan sering nyontek sama teman sebelahnya. Tanpa terasa sudah menjelang maghrib, aku pun pamit pulang ke rumah. Dan belum ada bayangan , siapa pengirim guna-guna ke Rani.

THE JOURNEY IV

Sore itu, meskipun sudah waktu Ashar, matahari masih terik. Aku bergegas mandi. “Le, mau kemana kok tumben jam segini sudah mau mandi?” sapa Nenek, mungkin agak heran karena biasa aku mandi ketika menjelang maghrib. “Mau ke rumah teman Nek”…. Aku memang tinggal dengan Nenek, sementara Ibu tinggal dengan adik-adikku yang masih kecil . Nenek meskipun cerewet dan kalau sudah marah susah berenti mulutnya, tetapi sesungguhnya baik dan loma, suka memberi uang saku dan makanan kalau pergi ke pasar. Nenek Cuma ditemani anak angkat yang sekaligus bantu masak dan beres-beres rumah. Rumah Nenek berada dipinggir jalan raya, jadi lebih mudah transportasi dan lebih dekat ke kota. Selain itu rumah nenek yang cukup besar itu ada beberapa kamar kosong, sementara kalau saya masih di rumah Ibu hrs se kamar dengan adikku, yang tidurnya suka malang melintang. Kalau malam tahu-tahu kakinya sudah mampir di muka. Dengan baju yang aku rasa paling bagus aku punya, aku bergegas ke rumah Rani. Karena hari masih cukup panas, aku pun naik angkot. Kalau naik sepeda, keringetan..bertemu Rani kan malu… Angkot siang ini perasaan berjalan lebih lambat dari biasanya, dan lebih sering berenti pula.. “Aahhhh ini ibu-ibu juga lambat naik turunnya..” gerutu saya dalam hati. AAhhhh...akhirnya sampai rumah Rani juga. Aku selalu betah kalau di duduk di teras rumah Rani, selain karena faktor tuan rumah. Halamannya asri, hijau penuh tanaman dan bunga. Jadi terasa adem, apalagi kalau di temani Rani. Baru saja kupencet bel , Rani sudah keluar dan senyum tipis. Dengan kaos shirt dan jeans yang modis. Di mataku Rani sudah bak model-gadis sampul majalah GADIS. …”hmmmm senyummu Raan…” “To kita ngobrol di Baso CIPTO ya”..ajak Rani. “Hmmmmmm………kenapa gak di sini saja.” Aku ragu sambil garuk-garuk kepala. “Ak yang traktir Too……” ahhhhh tertebak isi kepalaku. Tapi aku senang, wajah Rani sudah kembali, tampak lebih riang daripada tadi siang. Hmmm mudah-mudahan masalahnya tidak terlalu serius. “Oke lah”….aku mengiyakan berasa sedikit maluu. Warong bakso Cipto memang paling enak, kenyal bakso nya pas gurih kuahnya maknyus, gak enek. Minumnya es campur, tidak kalah nikmatnya, buah, es , santan dan susu menjadi minuman yang segar dan kaya rasa, manis pas; seperti senyum Rani hehehehehe... Sesampai di Bakso Cipto, kami pesan dua menu favorit itu. Setelah terdiam lama, sambil menikmati gurihnya bakso. Rani pun membuka suara; “To, kayaknya saya diguna-guna” “Hhhhaahh!! Di guna-guunaa?... aku pun tersedak karena saking kagetnya. Rani mengangguk pelan, mengiyakan. “Bagaimana kamu tahu, kalau diguna-guna Ran?”...aku masih kurang yakin dan berharap tidak benar. “Kemaren ada barang-barang aneh ditaruh di bawah jendela kamarku”..Rani menjelaskan dengan suara pelan. “Barang apa Ran?”... “Ada kelapa muda, di luar tertulis namaku, lengkap lagi; Suci Maharani, selain itu ada tulisan dengan huruf Jawa pula”.... “Terus,..ada apa lagi?..tanyaku penasaran dan perasaankupun mulai tak nyaman. “Ya kelapa itu , aja, Tetapi ada isinya macam-macam”...jelas Rani. “ Apa itu?... “Macam-macam bunga dan daun-daun gitu”. Jelas Rani “Dan seremnya di dalamnya ada katak mati”..jelas Rani, wajah Rani pun terlihat tegang seolah sedang melihat buah kelapa itu. “Ayahmu tahu?”.. “Justru Ayah yang menemukannya lebih dulu, aku pun tahu juga dari Ayah” ..jelas Rani, muka Rani kembali murung seperti tadi pagi. Sisa bakso yang gurih itu menjadi tidak mengundang selera lagi. “Waduuuhhhh”..aku setengah bergumam.. “Ya itulah To, masalahnya....”...Rani menjawab dengan menghela nafas, dan memegang tanganku; “To, maafin aku ya”...... “Maaf kenapa Ran?... tanyaku gugup dan tak mengerti. “Eeehhm....Ayah mengira kamu yang mengirimi barang-barang itu To....” terang Rani pelan. Dyuaarrrrrrrrrr..!!....terasa petir menyambar di kepalaku, dan tiba-tiba dunia terasa berputar. Rani sepertinya memahami kekagetan dan kegundahanku, genggaman tangannya makin erat. “Tapi aku sudah bilang ke Ayah kalau kamu tidak mungkin melakukan itu” hibur Rani. Aku bingung , kalut dan galau. Aku pikir masalah Rani tidak ada hubungannya denganku. Aku dan Rani terdiam, dengan jalan pikiran masing-masing. Dengan kekalutan masing-masing. Dan tangan Rani masih menggenggam erat tanganku. “Raniiiii.......!!!...suara berat itu tiba-tiba mengagetkan ku, dan juga Rani, Rani pun cepat-cepat melepaskan tanganku. Hahhh!, ayah Rani tiba-tiba sudah ada di dekat kami duduk. “Ngapain kalian di sini!” “Rani cepat pulang!!... Rani pun cepat-cepat ke kasir dan cepat berjalan ke arah kami. “Rani naik ke mobil Papa!” perintah Ayah Rani. Rani pun tertunduk, dan berjalan ikuti saja apa yang diperintah ayahnya. Aku masih bengong dan tidak mengerti harus bernuat apa, dan tambah kaget ketika Ayah Rani, menghardikku; “Kamu ikut naik!”....., aku masih bengong, melihat mereka buru-buru naik ke mobil. “Cepat, kamu naik..”, hardik ayah Rani tidak sabar melihat kebengonganku. Aku seperti orang linglung berjalan cepat ke arah mobil. Rani dan Ayahnya duduk di depan, aku di belakang. Aku gugup dan takut, berpegangan erat , karena Ayah Rani mengemudikan mobil dengan kencang. Kami bertiga diam. Aku dan Rani dengan wajah gugup dan takut. Ayah Rani dengan muka marah, merah padam. Akhirnya mobil sampai di pekarangan rumah Rani yang asri. Biasanya aku merasa adem di sini, tapi kali ini terasa gerah. Kami bertiga turun dari mobil. “Kalian masuk ke rumah” ..Ayah Rani membuka suara, sesudah kami berdiam selama perjalanan. Aku pun masuk ke ruang tamu, hmmmmm ternyata ruang tamunya pun adem, furniture dekorasi tertata rapi. Selama ini aku cuma bertamu dan duduk di terasnya saja. Ayah Rani masuk ke ruangan di sebelah ruang tamu, seperti kamar luas, tetapi di tata layaknya ruang kantor. Ayah Rani langsung duduk di kursi kerja nya, dan langsung memberi perintah ; “ Kamu ke sini.” Ayah Rani mukanya menoleh ke saya dan menunjuk kursi di depan meja kerjanya dan siap menerima apapun. “Bb..baik Oom....” wah kenapa lagi ini. Hari ini benar-benar hari yang penuh kejutan dan menjadi hari yang panjang. Akupun segera duduk dikursi depan meja Ayah Rani “Rani tunggu di luar” Ayah Rani masih menjadi boss yang memberikan perintah. “ Dengar baik-baik ya, saya akan memberikan beberapa pertanyaan dan tolong jawab dengan jujur” ..Ayah Rani bersuara lebih ‘kalem’ daripada tadi, tetapi tetap tegas..dan saya cuma mengangguk pelan. Ayah Rani terdiam , akupun menunggu ucapannya dengan cemas. “Kamu suka sama Rani kan?”, tanya Ayah Rani mengagetkanku. “Dan kamu tahu juga kan, Rani putriku satu-satunya?” Aku terdiam dan bingung mau menjawab apa. Rani memang anak perempuan satu-satunya. Kakak lakinya sekolah di luar negeri , dan adek lakinya di pesantren kan, karena sangat bandel luar biasa. “Hei jawab!, jangan diam saja..” “Iyyyaaa ,.Oom.” “Jadi benar kan kamu suka sama Rani dan ingin jadi pacarmu?” “Iya Om....” aku menjawab pelan. “Terus karena takut Rani menolakmu, dan kamu mengguna-guna Rani?!!.....Ayah Rani suaranya meninggi lagi. “Tidak Om, sama sekali tidak Om..”..saya menjawab sambil geleng-geleng kepala ingin meyakinkan ayah Rani. “Jangan Bohong!!..suara ayah Rani berteriak. “Bb..benar Om,...saya sama sekali tidak melakukan itu”..aku pun bersuara agak keras karena ingin meyakinkan dan sedikit emosi karena dituduh yang bukan-bukan. “Berani sumpah?!!” “Iya Om sumpah dengan Qur’an pun saya bersedia”... Ayah Rani lalu terdiam lama, dan menengadahkan kepala sambil menghela nafas. Terlihat betapa gusar dan pusingnya. “Baik, saya percaya omongan kamu, karena Rani pun bilang kamu tidak mungkin melakukan itu”..Ayah Rani membuka suara dengan lebih pelan. “Tapi kamu harus berjanji ke saya” “Iya Om, apa itu Om”..aku pun sudah berangsur tenang. “Rani, sekarang kamu masuk juga”...ayah Rani meminta Rani untuk masuk ke kamar, dan langsung duduk di kursi sebelahku. Ayah Rani tampak melihat tak suka, tapi memang kursi itu yang tersisa. “Pertama aku tidak ijinkan kamu memacari Rani, dan memang aku tidak ijinkan pacaran selama Rani masih sekolah”....jelas ayah Rani. “Kedua kamu harus bantu kami, untuk mencari pelaku guna-guna itu”... “Baik Om....” aku memang tidak punya jawaban lain, selain mengiyakan. “Nah, kau pegang janji itu baik-baik, kalau kamu ingkar, saya tak segan=segan mengeluarkanmu dari sekolah”....ancam ayah Rani. “Iya Om....” saya juga tahu Ayah Rani bisa mewujudkan ancamannya. “Sekarang kamu pulang, dan sebaiknya jangan datang lagi ke rumah ini.....” Akupun beranjak pulang dengan perasaan kacau, lelah dan pusing tak terkir. Kali ini bukan saja pusing kepala, tapi seluruh badan terasa panas dingin tiba-tiba. Seperti kena demam malaria afrika dan habis kesetrum pula. Kaki pun terasa lemah untuk sekedar berjalan. “Ahhh apalagi ini” “Benarkah Rani diguna-guna?” “Lalu siapa yang mengguna-guna Rani?” Pram, yang memang suka belajar hal-hal yang gaib? Atau Adri yang pendiam itu? Hari yang badung itu, atau Danang putra perwira polisi yang sombong itu? Aku harus bisa tahu siapa yang melakukannya, dan kenapa. Bukan sekedar untuk membantu ayah Rani, tetapi demi Rani, sehingga keriangan Rani, senyum renyah Rani pun bisa kembali.