Banjir telah meluluhlantakan kota yang begitu angkuh dan
tampak “sangar”. Jakarta menjadi tampak tak berdaya. Jalanan yang biasanya
macet dengan deretan mobil mewah, menjadi
lautan air bah. Banjir telah mengajarkan pada kita , bahwa manusia
sesungguhnya “kecil” dan merupakan bagian partikel dari alam semesta. Tetapi
kita sering lupa, dan menganggap dirinya berkuasa dan serakah; ingin mengambil
semuanya. Selama ini kita hanya mau mengambil.
Alam dilihat sebagai sumber exploitasi dari keserakahan . Dan kita lebih sering merusak daripada
memelihara.
Lihatlah kelakuan keseharian kita. Dari hal kecil, membuang
sampah sembarangan, sampai pada merusak bukit dan gunung demi pertimbangan
ekonomi (uang) semata.
Hal lain yang terlihat pada peristiwa banjir adalah sikap kurang
mawas diri (tahu diri). Ada beberapa
kali pengungsi yang menjawab penuh nada protes pada saat ditanya oleh
jurnalis;..'apa keluhan di pengungsian.."Jawabnya ketus:…..” bantuan tidak merata”, ..”makan tidak teratur”……., pembagian
selimut yang kurang merata…. dll. Bukankah memang keadaan dalam musibah, yang
tentu saja jauh dari ideal. Belum lagi
kebanyakan mereka memang tinggal di area yang secara legal bisa dipertanyakan, di pinggiran sungai,
yang secara tidak langsung berkontribusi atas timbulnya banjir.
Kita makin kekanak-kanakan.
Sikap kita sama dengan anak balita, yang berada pada masa “egosentris”.
Melihat segala sesuatu hanya pada diri sendiri. Tak pernah memikirkan orang
lain, apalagi lingkungan kita.
Saatnya lah kita meulai bersikap dewasa. Melihat,
memperhatikan dan memelihara lingkungan kita.
Kita tidak bisa mengabaikan apa yang ada di sekitar kita, jika kita
ingin hidup lebih baik.Karena kita hanya sebagian kecil dari alam semesta, maka
kita harus menyesuaikan dengan hukum alam> dalam bahasa sederhana;… kita
harus bersahabat dengan alam...