CAMAR
Ketika putih senja bertabur sepi
Di tepinya meleret segaris luka
Burung camar kecil, menggigil
Mencoba terbang menyusur pelangi
mimpi
Meski camar berdiri di kaki langit
camar kecil masih tetap hitam
dan makin nyata
kekerdilannya.
Dalam kehidupan panjang, yang sekejap. Dalam riuhnya hidup, yang sepi. Dalam gemerlapnya cinta, yang redup. Ada cerita yang terangkai, Ada puisi yang terurai. Biru langit, biru kehidupan. Birunya hidup, birunya cinta. Aku tenggelam dalam biru yang mengharu biru. Biru nya hidup, biru nya puisiku.
Juni 26, 2008
Juni 25, 2008
PERIH
Tiba-tiba sepi datang menyergap,
Dalam senyap,.
Rasa sunyi begitu menusuk dalam,
Kalbu ku meradang.
Lukaku makin parah.
Cinta seperti menjauh,
Hatiku kering dan kosong,
Seperti dermaga,
Tak ada kapal berlabuh.
Tanpa warna, hampa.
Aku jatuh,
Dalam kesunyian,
Dalam kekeringan,
Dalam kekosongan,
Lukaku makin dalam,
Perihku makin parah.
Dalam senyap,.
Rasa sunyi begitu menusuk dalam,
Kalbu ku meradang.
Lukaku makin parah.
Cinta seperti menjauh,
Hatiku kering dan kosong,
Seperti dermaga,
Tak ada kapal berlabuh.
Tanpa warna, hampa.
Aku jatuh,
Dalam kesunyian,
Dalam kekeringan,
Dalam kekosongan,
Lukaku makin dalam,
Perihku makin parah.
PENGAP
PENGAP
Semua berjalan lambat, menyebalkan.
Semua berlalu lalang, menyesakkan
Semua berbaur padu warna norak, memuakkan.
Mestinya pada saat begini.
Ada yang memberikan bunga
untuk kuhirup wanginya.
Ada yang melantunkan lagu cinta
untuk aku nikmati merdunya.
Ada yang ulurkan tangan semampai
untuk kunikmati lembut belainya.
Aku begitu rindu,
Warna semburat biru,
Aku begitu rindu
Senandung nada smara
Aku begitu rindu
Dalam suasana damai dan cinta.
Semua berjalan lambat, menyebalkan.
Semua berlalu lalang, menyesakkan
Semua berbaur padu warna norak, memuakkan.
Mestinya pada saat begini.
Ada yang memberikan bunga
untuk kuhirup wanginya.
Ada yang melantunkan lagu cinta
untuk aku nikmati merdunya.
Ada yang ulurkan tangan semampai
untuk kunikmati lembut belainya.
Aku begitu rindu,
Warna semburat biru,
Aku begitu rindu
Senandung nada smara
Aku begitu rindu
Dalam suasana damai dan cinta.
Juni 23, 2008
JAKARTA ULTAH
Selamat pagi Jakarta,
Masih bertumpuk sampah.
Sumpah serapah.
Masih penuh ribut riuh,
Semua berpacu,
berburu dalam gemuruh,
Dan gaduh.
Selamat pagi Jakarta,
ada yang pulang dari mengais malam,
Ada yang berpacu,
Berebut waktu dengan matahari.Selamat pagi Jakarta,
masih banyak yang menangis di pelukmu,
masih banyak yang berteriak di jalanan,
Masih ada yang tertatih di keramaian.
Selamat Pagi Jakarta,
Wajahmu masih memerah,
Pengap dengan segala gairah yang serakah.
Masih tak berhati,
Tak peduli ada bermandi darah,
Bahkan mati.
Langkahmu
masih gempita,
tapi tak jelas akan kemana,
Jakarta wajah seribu rupa,
tapi datar dan tak ramah.
Masih bertumpuk sampah.
Sumpah serapah.
Masih penuh ribut riuh,
Semua berpacu,
berburu dalam gemuruh,
Dan gaduh.
Selamat pagi Jakarta,
ada yang pulang dari mengais malam,
Ada yang berpacu,
Berebut waktu dengan matahari.Selamat pagi Jakarta,
masih banyak yang menangis di pelukmu,
masih banyak yang berteriak di jalanan,
Masih ada yang tertatih di keramaian.
Selamat Pagi Jakarta,
Wajahmu masih memerah,
Pengap dengan segala gairah yang serakah.
Masih tak berhati,
Tak peduli ada bermandi darah,
Bahkan mati.
Langkahmu
masih gempita,
tapi tak jelas akan kemana,
Jakarta wajah seribu rupa,
tapi datar dan tak ramah.
Juni 20, 2008
IRONI
IRONI
Kadang aku menerka,
apa yang sembunyi di balik matahari
barangkali mampu menjelaskan banyak misteri,
aku bosan
merenungi puisi tak jadi,
mendengar lagu-lagu sumbang,
aku sesali
mereka bicara cinta kasih
tapi tangannya hitam dan mengepal geram,
mereka membagikan bunga dengan tangan kanannya,
tapi di tangan kirinya menghunus belati,
dan terjadi lagi,
sekian nyawa berlalu begitu saja,
tanpa upacara kecuali secuil berita di koran pagi.
Kadang aku menerka,
apa yang sembunyi di balik matahari
barangkali mampu menjelaskan banyak misteri,
aku bosan
merenungi puisi tak jadi,
mendengar lagu-lagu sumbang,
aku sesali
mereka bicara cinta kasih
tapi tangannya hitam dan mengepal geram,
mereka membagikan bunga dengan tangan kanannya,
tapi di tangan kirinya menghunus belati,
dan terjadi lagi,
sekian nyawa berlalu begitu saja,
tanpa upacara kecuali secuil berita di koran pagi.
Juni 19, 2008
LOVE, PEACE AND GRATITUDE
Kita bisa terus-menerus mengangkat peradaban sebuah bangsa lewat cinta dan nilai-nilai luhur dan universal yang masih terdapat dalam budaya kita. Namun, kita juga bisa menghancurkan bangsa kita dengan menyebarluaskan kebencian, kekerasan dan sikap intoleran kepada sesama manusia. Kita dapat membangkitkan dan membuat kita jaya. Namun, kita juga dapat membiarkannya terus terpuruk, dan akhirnya musnah dari catatan sejarah. Kita dapat menciptakan surga, kita juga bisa menciptakan neraka. Semua tergantung dari kesadaran kita (dikutip dari "MENGUNGKAP MISTERI AIR" Ir Triwidodo dkk-Wandy N Tutorong, One Earth Media).
Lalu kenapa kita masih saja menyebarkan kebencian, dan lebih menyedihkan mengatasnamakan Tuhan Illahi Rabbi yang Maha Suci??? Kenapa kita tidak berkaca, sudah bersihkah kita? Sudah luruskah jalan kehidupan kita? Sebelum menuding dan menghakimi orang lain dan menganggap dirinya sumber kebenaran? Kita sering melupakan rasa Cinta dan syukur, dan merusak kedamaian.
Lalu kenapa kita masih saja menyebarkan kebencian, dan lebih menyedihkan mengatasnamakan Tuhan Illahi Rabbi yang Maha Suci??? Kenapa kita tidak berkaca, sudah bersihkah kita? Sudah luruskah jalan kehidupan kita? Sebelum menuding dan menghakimi orang lain dan menganggap dirinya sumber kebenaran? Kita sering melupakan rasa Cinta dan syukur, dan merusak kedamaian.
KECEWA
KECEWA
Aku kecewa
kembang merah yang kuikat rapi
kau buang di serak sampah
kukira kau memiliki vas indah
ternyata palsu dan murah
kuukir namamu disudut hati
ternyata malah jadi luka yang
bernanah.
Aku kecewa.
Aku kecewa
kembang merah yang kuikat rapi
kau buang di serak sampah
kukira kau memiliki vas indah
ternyata palsu dan murah
kuukir namamu disudut hati
ternyata malah jadi luka yang
bernanah.
Aku kecewa.
Juni 18, 2008
TIDAK JELAS
Aku lihat di layar kaca, berita demo beribu orang. Mereka berteriak lantang sambil menenteng gambar seseorang. Aku jadi tertegun. Makin tak jelas siapa pahlawan, siapa pecundang. Siapa yang dicaci, siapa dipuji. Siapa preman jalanan, siapa teladan. Orang begitu mudah berganti baju, berganti peran. Semua wajah bertopeng kemunafikan. Lain bicara, lain pula tindakan. Semua sudah seperti sinetron murahan. Tuhan, kenapa semua makin tak jelas, adakah ini tanda akhir zaman.
KELABU
Langit menjelang gelap,
Dingin kadang menusuk, senyap.
Aku hela nafas, pengap.
Dari Menara tampak beribu kendara, melintas.
Semua berlarian tak jelas,
Mau kemana,
Mencari apa,
Penuh warna, tanpa makna.
Semua semu,
semua tak tentu,
langitpun makin kelabu.
Ah, begitu tak jelaskah kehidupan,
Begitu gelapkah tujuan,
Seperti langit di atas
Semua makin tak jelas,
Semu dan kelabu.
Dingin kadang menusuk, senyap.
Aku hela nafas, pengap.
Dari Menara tampak beribu kendara, melintas.
Semua berlarian tak jelas,
Mau kemana,
Mencari apa,
Penuh warna, tanpa makna.
Semua semu,
semua tak tentu,
langitpun makin kelabu.
Ah, begitu tak jelaskah kehidupan,
Begitu gelapkah tujuan,
Seperti langit di atas
Semua makin tak jelas,
Semu dan kelabu.
TANDA TANYA
Pagi-pagi, aku dengar woro2 di radio, mengajak demo depan istana.
Aksi damai sejuta umat katanya.
Bubarkan "organisasi agama ttt".....aku jadi bertanya;
Benarkah pesan Tuhan disampaikan dengan kemarahan?
Benarkah menjaga kesucian seraya melampiaskan kemurkaan?
Benarkah pesan Tuhan disampaikan dengan sorak-sorai dan teriakkan?
Aku sedih, bingung dan bertanya-tanya, kemana wajah Sang Utusan yang santun dan memuliakan nurani dan kemanusiaan?
Ataukah karena ajaran telah bercampur dengan berbagai kepentingan?
Tanda tanya sangat besar di benakku????????????
Aksi damai sejuta umat katanya.
Bubarkan "organisasi agama ttt".....aku jadi bertanya;
Benarkah pesan Tuhan disampaikan dengan kemarahan?
Benarkah menjaga kesucian seraya melampiaskan kemurkaan?
Benarkah pesan Tuhan disampaikan dengan sorak-sorai dan teriakkan?
Aku sedih, bingung dan bertanya-tanya, kemana wajah Sang Utusan yang santun dan memuliakan nurani dan kemanusiaan?
Ataukah karena ajaran telah bercampur dengan berbagai kepentingan?
Tanda tanya sangat besar di benakku????????????
Juni 17, 2008
AKU TAK MENGERTI
Aku tak mengerti
Bagaimana mungkin,
Atas nama cinta, mereka mencaci dan
Menumpahkan sumpah serapah.
Bagaimana mungkin,
Atas nama Tuhan yang penuh kasih,
dia meneriakan kebencian,
dan menumpahkan darah.
Bagaimana mungkin,
Atas nama agama,
Berbuat aniaya,
pada saudara dan sesama hamba.
Aku tak mengerti,
Mereka telah pisahkan cinta dari hati,
Pisahkan agama,
Dari Tuhannya,
Pisahkan kesantunan, dari peradaban
Aku tak mngerti
Bagaimana mungkin,
Atas nama cinta, mereka mencaci dan
Menumpahkan sumpah serapah.
Bagaimana mungkin,
Atas nama Tuhan yang penuh kasih,
dia meneriakan kebencian,
dan menumpahkan darah.
Bagaimana mungkin,
Atas nama agama,
Berbuat aniaya,
pada saudara dan sesama hamba.
Aku tak mengerti,
Mereka telah pisahkan cinta dari hati,
Pisahkan agama,
Dari Tuhannya,
Pisahkan kesantunan, dari peradaban
Aku tak mngerti
Juni 16, 2008
CINTA
CINTA
Aku tlah berjalan jauh,
Tak jua juga sua kedamaian,
Perjalanan masih kering,
kelabu dan tak berwarna
Aku tlah lelah melangkah,
Masih tak mengerti, sejatinya cinta,
Yang ku tahu kadang lebih pada emosi birahi,
kebutuhan dan
ingin memiliki.
Aku tlah berjalan jauh,
Perih dan lelah,
Cinta mungkin Cuma sebait puisi,
Dan sepenggal kisah,
Yang Cuma indah dalam syair dan kata,
Dan kehilangan makna,
Ketika digenggam ego dan harga diri.
Aku tlah berjalan jauh,
Tak jua juga sua kedamaian,
Perjalanan masih kering,
kelabu dan tak berwarna
Aku tlah lelah melangkah,
Masih tak mengerti, sejatinya cinta,
Yang ku tahu kadang lebih pada emosi birahi,
kebutuhan dan
ingin memiliki.
Aku tlah berjalan jauh,
Perih dan lelah,
Cinta mungkin Cuma sebait puisi,
Dan sepenggal kisah,
Yang Cuma indah dalam syair dan kata,
Dan kehilangan makna,
Ketika digenggam ego dan harga diri.
TENTANG CINTA
Percayalah pada cinta pandangan pertama
Katakan “aku cinta padamu” bila memang hatimu berkata demikian.
Menikahlah dengan orang yang dengannya engkau dapat bercanda, menikmati percakapan, semakin tua umurmu hal tersebut semakin penting.
Rumah yang di dalamnya penuh cinta adalah fondasi kehidupan, maka berusahalah untuk mewujudkan hal tersebut.
Bila harus bertengkar dengan pasangan dirumahmu, batasilah persoalannya pada soal yang sekarang, jangan bawa-bawa persoalan masa lampau.
Jangan pernah lupa mengunjungi ibumu.
Katakan “aku cinta padamu” bila memang hatimu berkata demikian.
Menikahlah dengan orang yang dengannya engkau dapat bercanda, menikmati percakapan, semakin tua umurmu hal tersebut semakin penting.
Rumah yang di dalamnya penuh cinta adalah fondasi kehidupan, maka berusahalah untuk mewujudkan hal tersebut.
Bila harus bertengkar dengan pasangan dirumahmu, batasilah persoalannya pada soal yang sekarang, jangan bawa-bawa persoalan masa lampau.
Jangan pernah lupa mengunjungi ibumu.
Juni 12, 2008
BUAT PUTRI
CATATAN KECIL BUAT PUTRI
Kadang aku gagap ketika mau bercerita di depanmu,
Karena tidak semestinya aku memendam rasa untukmu,
Tapi nurani tak pernah berdusta,
Biarlah dia bicara lewat mata,
Biarlah bicara lewat angin senja,
Bahwa di hati terpatri nama putri
Kadang aku gagap ketika mau bercerita di depanmu,
Karena tidak semestinya aku memendam rasa untukmu,
Tapi nurani tak pernah berdusta,
Biarlah dia bicara lewat mata,
Biarlah bicara lewat angin senja,
Bahwa di hati terpatri nama putri
PERJALANAN
PERJALANAN
Usia makin kering,
tua,
makin legam garis hidup,
makin lunglai langkah kaki,
makin penuh belukar perjalanan ini.
Aku rindu cerita masa lalu,
ketika aku masih jadi bocah manja,
jalan yang yang dilewati kaki kecil
terlihat putih dan sederhana.
kening masih putih belum ternoda,
hati masih berwarna merah muda
belum kotor oleh dosa dan murka,
di bawah terik matahari
main gundu semangat berlari,
di bawah purnama,
bercanda dengan teman sebaya.
Makin dalam aku lewati,
makin aku tak mengerti,
mau kemana kereta hitam ini.
Usia makin kering,
tua,
makin legam garis hidup,
makin lunglai langkah kaki,
makin penuh belukar perjalanan ini.
Aku rindu cerita masa lalu,
ketika aku masih jadi bocah manja,
jalan yang yang dilewati kaki kecil
terlihat putih dan sederhana.
kening masih putih belum ternoda,
hati masih berwarna merah muda
belum kotor oleh dosa dan murka,
di bawah terik matahari
main gundu semangat berlari,
di bawah purnama,
bercanda dengan teman sebaya.
Makin dalam aku lewati,
makin aku tak mengerti,
mau kemana kereta hitam ini.
Juni 11, 2008
GERIMIS
GERIMIS
dalam gerimis
beribu cerita lalu rapi berbaris
berkisah segala manis,
segala tangis
Betapa di sana
tercipta nuansa
tercipta cinta
Tercipta dosa
semua telah lebur dalam sapuan
debu
kini tinggal seberkas sisa
erat melekat
pada jiwa yang terlipat
memendam gelisah,
menahan asa.
dalam gerimis
beribu cerita lalu rapi berbaris
berkisah segala manis,
segala tangis
Betapa di sana
tercipta nuansa
tercipta cinta
Tercipta dosa
semua telah lebur dalam sapuan
debu
kini tinggal seberkas sisa
erat melekat
pada jiwa yang terlipat
memendam gelisah,
menahan asa.
MEMO
Terus terang adalah sikap pahlawan, tetapi berani mengakui kesalahan adalah lebih kesatria (Hamka).
Sabar adalah ibu dari segala akhlak ( Muhammad Abduh).
Bahan ramuan dalam percakapan , pertama adalah Kebenaran, kedua Akal sehat, ketiga Humor yang baik, dan keempat Kecerdasan otak (Sir William Temple).
Banyak ilmu dapat mendatangkan teman, banyak harta dapat jadi banyak bahaya (musuh) ( Sayyidina Ali).
Sabar adalah ibu dari segala akhlak ( Muhammad Abduh).
Bahan ramuan dalam percakapan , pertama adalah Kebenaran, kedua Akal sehat, ketiga Humor yang baik, dan keempat Kecerdasan otak (Sir William Temple).
Banyak ilmu dapat mendatangkan teman, banyak harta dapat jadi banyak bahaya (musuh) ( Sayyidina Ali).
Juni 10, 2008
DUSTA
Pagi ini semua kelihatan kelabu,
Dingin dan beku,
Pucat tanpa warna,
Hujan masih mengucur , gerimis
Cerita kemarin tergambar jelas.
Yang terangkai sirna, tersaput lepas.
Mengapa persahabatan dinodai dengan dusta,
Mengapa perhatian tulus berbalas ketidakjujuran
Hujan mengucur, gerimis
Bumi menangis,
Makin rimbun hutan penghianatan,
makin subur dusta dan keculasan.
Dingin dan beku,
Pucat tanpa warna,
Hujan masih mengucur , gerimis
Cerita kemarin tergambar jelas.
Yang terangkai sirna, tersaput lepas.
Mengapa persahabatan dinodai dengan dusta,
Mengapa perhatian tulus berbalas ketidakjujuran
Hujan mengucur, gerimis
Bumi menangis,
Makin rimbun hutan penghianatan,
makin subur dusta dan keculasan.
Juni 09, 2008
PRINSIP
Manusia yang berjalan di atas kebenaran memang kadang-kadang tersandung, namun sebagian besar dari mereka akan segera bangkit dan berjalan kembali seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa
(W. Churchil).
(W. Churchil).
MEMO
Untuk melawan ketakutan, Hadapilah !
Untuk melawan kekhawatiran, Lupakan !
Untuk melawan kepelitan, Berikanlah !
Untuk melawan kegelisahan, Berdoalah ! (29/12/99)
Untuk melawan kekhawatiran, Lupakan !
Untuk melawan kepelitan, Berikanlah !
Untuk melawan kegelisahan, Berdoalah ! (29/12/99)
MANUSIA
MANUSIA
Manusia sering jual diri,
Padahal semua bukan kita yang punya.
Manusia sering khianati nurani,
Padahal didalamnya ada bisikan Tuhan
Manusia sering membanggakan diri,
Padahal berawal dari tumpahan sperma.
Manusia sering lupa diri,
Padahal semua akan sirna dan mati,
Manusia…..
Padahal………..
Manusia sering jual diri,
Padahal semua bukan kita yang punya.
Manusia sering khianati nurani,
Padahal didalamnya ada bisikan Tuhan
Manusia sering membanggakan diri,
Padahal berawal dari tumpahan sperma.
Manusia sering lupa diri,
Padahal semua akan sirna dan mati,
Manusia…..
Padahal………..
NURANI
HARGA DIRI
Dalam situasi yang sulit, kompetitif kadang menggiring kita kembali pada filsafat jaman prasejarah : Berkelahi untuk bertahan, mengalahkankan yang lain untuk menang. Bahkan sering dengan cara menghalalkan segala cara.
Hanya modus, dan bungkusnya yang berubah. Ada berapa contoh :
- Kita sering mendengar bahwa kita perlu strategi/trik, padahal substansinya bungkus dari perilaku licik.
- Kita sering mendengar bahwa kita perlu siasat, padahal didalamnya terkandung perlaku khianat.
- Kita sering beralasan bahwa kita harus kompromi, padahal sejatinya kita sedang menggadaikan prinsip/harga diri.
Sesungguhnya kalau kita mau mendengar suara hati, kita bisa membedakan antara kalimat pertama dan kedua (beda trik atau licik dst). Karena dalam hati kita tersimpan bisikkan Tuhan yang berorientasi pada KEBENARAN, bukan PEMBENARAN.
Tetapi kita sendiri yang sering menafikkan, menutup telinga kita dari bisikan nurani, dengan alasan kompromi, keadaan dst.
Dan kita memang sudah terbiasa dengan mengedepankan alasan.
Tetapi mestinya kita tidak boleh lupa, bahwa pada saat kita menghadapi pengadilan sejati, yang bicara adalah hati, yang menjawab dengan fakta, data dan bukti. Sedangkan mulut kita yang mungkin sudah terbiasa beralasan untuk membela diri, atau mencari kambing hitam untuk melepas dari tanggungjawab, akan terkunci.
Semua kembali pada diri kita masing-masing, apakah kita mau terus bermain logika (yang sejatinya lebih pada akal-akalan) atau mendengar suara hati, suara kebenaran.
Dan memang pada saatnya nanti kita bertanggungjawab secara pribadi, langsung di depan ILLAHI.
Dalam situasi yang sulit, kompetitif kadang menggiring kita kembali pada filsafat jaman prasejarah : Berkelahi untuk bertahan, mengalahkankan yang lain untuk menang. Bahkan sering dengan cara menghalalkan segala cara.
Hanya modus, dan bungkusnya yang berubah. Ada berapa contoh :
- Kita sering mendengar bahwa kita perlu strategi/trik, padahal substansinya bungkus dari perilaku licik.
- Kita sering mendengar bahwa kita perlu siasat, padahal didalamnya terkandung perlaku khianat.
- Kita sering beralasan bahwa kita harus kompromi, padahal sejatinya kita sedang menggadaikan prinsip/harga diri.
Sesungguhnya kalau kita mau mendengar suara hati, kita bisa membedakan antara kalimat pertama dan kedua (beda trik atau licik dst). Karena dalam hati kita tersimpan bisikkan Tuhan yang berorientasi pada KEBENARAN, bukan PEMBENARAN.
Tetapi kita sendiri yang sering menafikkan, menutup telinga kita dari bisikan nurani, dengan alasan kompromi, keadaan dst.
Dan kita memang sudah terbiasa dengan mengedepankan alasan.
Tetapi mestinya kita tidak boleh lupa, bahwa pada saat kita menghadapi pengadilan sejati, yang bicara adalah hati, yang menjawab dengan fakta, data dan bukti. Sedangkan mulut kita yang mungkin sudah terbiasa beralasan untuk membela diri, atau mencari kambing hitam untuk melepas dari tanggungjawab, akan terkunci.
Semua kembali pada diri kita masing-masing, apakah kita mau terus bermain logika (yang sejatinya lebih pada akal-akalan) atau mendengar suara hati, suara kebenaran.
Dan memang pada saatnya nanti kita bertanggungjawab secara pribadi, langsung di depan ILLAHI.
FRUSTASI
FRUSTASI
Terasa bertalu, godam memalu kepalaku
Terasa ngilu segala syaraf fikirku,
Aku termangu,
Mengapa semua jadi merimbun kendala,
Aku ingin memaki,
Aku ingin menuangkan segala sumpah serapah,
Aku ingin melumatkan semua kebekuan,
Tapi kepada siapa?
Tuhan,
Jaga tanganku dari kekonyolan,
Jaga hatiku dari keangakaramurkaan,
Jaga nuraniku dari kesumat dendam,
Tuhan ampuni aku.
Yang sering tak mampu menahan diri.
Terasa bertalu, godam memalu kepalaku
Terasa ngilu segala syaraf fikirku,
Aku termangu,
Mengapa semua jadi merimbun kendala,
Aku ingin memaki,
Aku ingin menuangkan segala sumpah serapah,
Aku ingin melumatkan semua kebekuan,
Tapi kepada siapa?
Tuhan,
Jaga tanganku dari kekonyolan,
Jaga hatiku dari keangakaramurkaan,
Jaga nuraniku dari kesumat dendam,
Tuhan ampuni aku.
Yang sering tak mampu menahan diri.
SEPI
SEPI
Tak ada lagi perawan manis di sisiku,
yang tersipu waktu aku puja dengan sebait puisi dan
senandung lagu
yang kupeluk adalah seonggok sepi,
yang menggumpal dingin dan beku,
Aku bungkam dalam beban dendam dan rindu
Aku masih di sini
bercerita sendiri dengan sepi,
nglangut.
Tak ada lagi perawan manis di sisiku,
yang tersipu waktu aku puja dengan sebait puisi dan
senandung lagu
yang kupeluk adalah seonggok sepi,
yang menggumpal dingin dan beku,
Aku bungkam dalam beban dendam dan rindu
Aku masih di sini
bercerita sendiri dengan sepi,
nglangut.
MEMO
Jangan jadikan kebiasaan sebagai kebenaran, tapi jadikan sesuatu yang benar menjadi kebiasaan (Soenoto, pengusaha)
Dengan mengeluh berarti menyakiti diri sendiri, dengan mengeluh berarti menularkan rasa tidak nyaman kepada orang lain, dengan mengeluh berarti tidak bersyukur pada nikmat Tuhan.
Dengan mengeluh berarti menyakiti diri sendiri, dengan mengeluh berarti menularkan rasa tidak nyaman kepada orang lain, dengan mengeluh berarti tidak bersyukur pada nikmat Tuhan.
Juni 06, 2008
HIKMAT
- HIKMAT UMUM
Bukalah tanganmu untuk menerima perubahan, tetapi tetaplah prinsip dan karakter, jangan sampai tergadai.
Biasakan berpikir cepat tetapi bicara lambat dan teratur
Hiduplah dengan terhormat karena kenikmatan hidup seperti itu seperti berganda.
Cintailah apa yang harus kau cintai dengan segenap hatimu, mungkin akan kecewa tetapi engkau akan sungguh-sungguh memiliki hidup.
Usahakan selalu bersikap lembut kepada bumi dan seisinya.
Menahan diri dari mengambil apa yang kau inginkan, kadang lebih menguntungkan .
Jangan percaya semua apa yang didengar, jangan belanjakan semua yang dipunyai dan jangan ucapkan semua yang ada dipikiranmu dan perasaanmu.
Jika kau kehilangan usahakan untuk tidak kehilangan hikmahnya juga.
Sadarilah watakmu adalah nasibmu.
Prestasi besar selalu mengandung resiko yang besar.
Ukurlah keberhasilanmu dengan menimbang apa yang kau berikan untuk memperolehnya.
Juni 05, 2008
SKETSA
SKETSA
Aku masih teruskan langkah
karena berhenti berarti mati,
luka makin parah,
jiwa makin gerah,
peduli amat dan persetan
dengan segala basa-basi,
warna kini adalah warna bias
penuh kemunafikan,
warna kini adalah warna darah,
penuh iri, dendam dan dengki,
kelembutan dan ketulusan,
telah pergi,
pelahan tapi pasti.
Aku masih teruskan langkah
karena berhenti berarti mati,
luka makin parah,
jiwa makin gerah,
peduli amat dan persetan
dengan segala basa-basi,
warna kini adalah warna bias
penuh kemunafikan,
warna kini adalah warna darah,
penuh iri, dendam dan dengki,
kelembutan dan ketulusan,
telah pergi,
pelahan tapi pasti.
JALAN KEHIDUPAN
Jalan kehidupan,
begitu berkelok liku,
begitu liar terjal,
Jalan kehidupan,
begitu panjang kisah,
begitu berwarna rupa.
Jalan kehidupan
harus terus terlewati,
sampai menuju mati.
begitu berkelok liku,
begitu liar terjal,
Jalan kehidupan,
begitu panjang kisah,
begitu berwarna rupa.
Jalan kehidupan
harus terus terlewati,
sampai menuju mati.
Langganan:
Postingan (Atom)