17 Agustus 2011'
Hari ini 66 tahun kemerdekaan, pagi-pagi aku masih tergolek di tempat tidur, masih bermalas-malasan, sambil sedikit berpikir; apa arti sebuah kemerdekaan? Bebas dari penjajahan? Secara fisik mungkin sudah bebas, tetapi bukankah secara politik dan sosial, bahkan budaya kita masih terjajah? bahkan kita tidak bebas untuk menggunakan kekayaan yang kita miliki?......dan para pemimpin kita pun masih menghamba pada "kekuatan asing", bahkan konon untuk memilih menteri pun harus meminta restu dan petunjuk?.....................................................,
ketika aku masih asyik melamun dan berpikir, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah. Pak RT rupanya...pagi-pagi begini ada apa ya. Aku membukakan pintu dan bertanya: Ada apa pak?...Pak RT menjawab; ..sekedar mengingatkan bapak belum pasang bendera...., hmmm iya Pak,...aku menjawab sambil garuk-garuk kepala sedikit gagap. Aku tidak pasang bendera, karena "sedikit sengaja", ya....kebetulan tiang benderanya ilang, gak tahu kemana, dan bendera nya pun sudah tampak lusuh dan belum sempat beli yang baru (mungkin malah menggambarkan nasib bangsa Indonesia kini). Tapi sedemikian pentingkah pasang bendera depan rumah?...saya kadang merasa malah jadi rutinitas dan "kering", aku sering merasa upacara bendera dan pidato sang inspektur upacara lebih banyak basa-basi (bahkan isi do'a, yang seharusnya merupakan "dialog" dengan Tuhan,..isinya pun basa-basi). Meskiun aku hari ini tidak memasang bendera, aku merasa rasa nasionalisme ku masih utuh,...dimana aku akan merasa sedih, bila melihat sebagian bangsa ku ternyata masih kumal dan kumuh...aku suka merasa jerih, ketika melihat sebagian bangsaku, sudah bernasib baik, memiliki mobil mewah, tapi masih belum tahu aturan lalu-lintas..bahkan ups..masih membuang sampah dan meludah dari balik jendela mobilnya.....aku merasa marah, bila melihat orang yang didaulat menjadi pemimpin, ternyata malah banyak berdusta dan berkhianat. Aku sangat sedih ketika membaca:
" (Seharusnya dengan ‘umur kemerdekaan’ yang sudah 66 tahun (atau 68 tahun hijriyah), idealnya bangsa ini telah banyak meraih impiannya. Apalagi segala potensi dan sumber daya untuk itu dimiliki oleh bangsa ini. Sayang, fakta lebih kuat berbicara, bahwa negeri ini belum merdeka dari keterjajahan pemikiran, politik, ekonomi, hukum, budaya, dll. Bangsa ini belum merdeka dari kemiskinan, kebodohan, kerusakan moral dan keterbelakangan. Perubahan nasib rakyat negeri ini ke arah yang lebih baik -antara lain rakyat menjadi sejahtera, adil dan makmur- sebagai cita-cita kemerdekaan masih jauh panggang dari api.
Buktinya, angka kemiskinan di negeri ini masih tetap tinggi. Dari 237 juta lebih penduduk negeri ini,menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) masih ada 31,02 juta jiwa yang terkategori miskin, yaitu yang pengeluarannya kurang dari Rp 211.726,-/bulan atau Rp 7 ribu/hari. Padahal jumlah itu hanya cukup untuk membeli sebungkus nasi dengan lauk yang ala kadarnya.
Sungguh ironis, meski sudah puluhan tahun merdeka, negeri yang kaya ini, jutaan penduduknya masih terus dililit problem kemiskinan. Satu masalah yang sering kali membuat orang memilih untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena tak kuasa menghadapi tekanan kemiskinan. Adalah pasangan Kaepi (41) dan Yati Suryati (31) warga kelurahan Bekasi Jaya kecamatan Bekasi Timur kota Bekasi yang pada Sabtu (13/8) memilih gantung diri diduga akibat tekanan kemiskinan (Kompas, 15/8). Itu seolah mengulang apa yang dilakukan pasangan Samad (45) dan Titik (40) warga desa Sirnajaya, kec. Serang Baru, kab. Bekasi pada 12 Mei 2007 lalu juga akibat himpitan kemiskinan. Jumlah kasus yang sama diperkirakan sangat banyak. Mengingat WHO pada tahun 2005 melansir, sekitar 50.000 orang Indonesia bunuh diri setiap tahun, atau 1.500 orang perhari )"-(Kompas, 15/8).....
Hari ini aku memang tidak memasang bendera depan rumah, tapi di dadaku, berkibar merah putih dengan gagah. Merdeka!!!!!! Enyahlah para penjajah, matilah para koruptor dan penjarah........................