November 26, 2018

THE JOURNEY II

Aku dan Rani cukup dekat, baik karena cocok untuk teman ngobrol (setidaknya untuk aku lah), maupun teman berlatih teater.
Rani anak yang cukup cerdas dan menonjol di sekolah; selain memang cantik tentunya (bagiku malah ratu sekolah, di mataku dia lah yang tercantik di sekolah, bahkan mungkin satu kabupaten).
Meskipun terlihat suka bercanda, sesuai kata yang sering terucap dari bibirnya (hhhmm..bibir itu);..”santai sajalah”…, dia orang yang total dan sangat serius kalau sudah mengerjakan sesuatu.
Pokoknya bagiku cewek idaman lah.
Aku memang naksir berat, tetapi aku tidak pernah berani menyampaikan perasaanku.
Mungkin takut ditolak , kurang percaya diri atau aku memang tak bernyali.
Aku cukup merasa senang, betah berlama-lama ngobrol dengannya.
Dan aku pun tahu dia belum punya pacar. Aku tahu karena beberapa kali aku datang ke rumahnya pada malam minggu, dengan alasan yang sangat formal; menyelesaikan tugas sekolah, kalau di luar itu, dengan alasan “wakuncar”, (hehehehehe yang lahir tahun 80 an mungkin tidak kenal istilah itu; artinya wajib kunjung pacar dan istilah yang cukup populer pada saat itu).
Kadang saking asyiknya ngobrol dengan Rani, tak terasa melewati jam malam; ya jam 10.00 waktu itu adalah batas waktu untuk berkunjung ke rumah lawan jenis.
Aku sadar setelah Bapaknya dengan suara berat memanggil Rani; “..Ran… sdh malam Ran…”.
Yah akupun bergegas pulang dan pamit sama Bapaknya Rani, walaupun ayah Rani selalu menjawab dengan gumaman..”hhhmmmm ya”……

Aku kurang tahu apakah jaga wibawa, atau tidak terlalu menyukaiku.
Ayah Rani adalah pejabat yang cukup disegani, orang-orang di sekitarnya memanggil Pak PS (bukan inisial Capres lho, tetapi Penilik Sekolah , pejabat yang mengawasi sekolah-sekolah ; jabatan yang cukup tinggi di daerah kecil seperti di kota kelahiranku).

Aku juga maklum saja kala ayah Rani tidak berkenan dan khawatir anaknya aku pacarin.
Aku tahu diri saya bukan orang berada, dan dr penampilan mungkin juga kurang meyakinkan; badan kurus, baju yang dipakai pun itu-itu saja.
Sementara anaknya cantik, modis, gaul dan cerdas.
Dengan kulitnya yang putih bersih, sepintas orang pun tahu dia dari kelompok “priyayi”.

Lamunanku makin tenggelam jauh, saat aku buka lembar ke dua Buku Merah itu, tertulis puisi dari “si pengagum rahasia”;

SALAM RINDU (SEPI)

Sunyi tergeletak beku di sudut bilik pengapku,
Tiba-tiba angin dingin lewat jendela menyapa dan bertanya;
“Adakah salam yang dititipkan untuk Rani?”

Aku termangu dan menghitung telah berapa kali salam kutitipkan,
Yang mungkin hanya terlantar di halaman atau terserak di taman,
Karena tak berani mengetuk pintumu dan menyampaikan rasaku ,
Atau hanya menengok diam-diam lewat jendela kamarmu dengan wajah rindu,
Lalu kembali mengembara dari Sepi ke sepi.
(5 Juli…).

Setiap jauh dari Rani, rinduku muncul dan berkata dalam hati, aku harus sampaikan pada Rani tentang perasaanku. Di tolak itu atau diterima aku harus terima.
Eeehh tapi nanti kalau ditolak, mungkin aku malah jadi berjarak, tak lagi bebas menyapa dan bercanda dengan Rani.
Selalu ragu dan buyar lagi keberanianku. Dan setiap melihat senyum renyahnya ketika menyapa, malah makin ambyar keberanianku, dan berkata pada diri sendiri;” ah biarlah kasihku tak tersampaikan, yang penting aku masih bisa melihat senyum renyahnya”….

Duh Gusti… kenapa mulutku selalu terkunci ketika ingin menyampaikan rasaku pada Rani….
Dan untuk berlama-lama menatap wajahnya , menikmati gerak bibirnya ketika cerigis berbicara pun aku cuma lakukan secara sembunyi-sembunyi dan tergagap ketika Rani balik menatap mataku.
Duh Gusti aku tak mampu mengendalikan rasaku sendiri…….

(to be continued, kalau lagi senggang).

THE JOURNEY I

Pagi itu masih gerimis, sisa hujan se malam, membuat jadi “mager”. Hari itu memang tidak ada yang urgent ataupun jadwal meeting dengan partner ataupun bertemu klien.
“Mungkin berangkat siang saja, sesudah gerimis mereda”. …aku membathin..

Oh ya, tp minggu depan aku harus presentasi hukum ketenagakerjaan di perusahaan telekomunikasi. Aku harus menyiapkan materi presentasi.
Aku ambil notebook . Sambil cari inspirasi untuk menyusun kata per kata, kalimat per kalimat menjadi narasi materi.

The telah habis setengah cangkir, tapi ketikan baru beberapa paragraf, hmmmm apa ya topik dan materi diskusi yang menarik.
Hmmmmmm..lama aku menengadah kepala, tapi belum ada materi yang nyangkut juga.

“Ohhh ya, ..dulu pernah ada kasus PHK yang complicated dan cukup menarik sebagai bahan diskusi”, ….pikirku.
Aku pun beranjak ke lemari buku dan berkas, awalnya ingin jadi perpustakaan, tetapi karena kalau ada barang cetakan aku tarok disitu , wujudnya lebih terlihat sebagai gudang.
Aku bongkar semua tumpukan berkas dan buku berdebu, ….”aahh aku harus pakai masker”.

Tetapi ketika aku mau beranjak dari jongkok , mataku tertuju pada buku merah yang tergeletak di antara tumpukan yang saya bongkar tadi.
“Hmmmmmmm…..buku merah yang penuh catatan kehidupanku di masa lalu”….
Ya buku merah itu merupakan catatan harian (diary) ku, yang menuliskan peristiwa berkesan, kadang dalam bentuk narasi kadang dalam bentuk puisi.

Aku buka lembar pertama, dengan dan jantungku berdetak lebih cepat, teringat cerita indah masa lalu, dan aku pun terbang jauh ke dunia masa lalu;



SALAMKU UNTUK RANI,

Tiap senja ,
Aku titipkan salam pada angina yang berlalu,
Adakah dia sempat menyapamu atau berbalik malu.

Sekian kali akau titipkan,
Tapi masih saja belum tersampaikan cerita,
Bahwa di kepala dan dadaku telah penuh gambarmu,
Dengan senyum renyahmu ,
Ceriwis bibirmu yang menari ketika berkata-kata.
18 Mei tahun xxxx


Hmmmmm tergambar jelas, wajah Rani yang selalu ceria dengan tawanya.
Selalu menyapa manis ke siapa saja.
Dia memang gadis yang supel, lincah dan luwes bergaul dengan siapa saja.
Aku cukup dekat dengannya karena sama-sama bergabung dalam satu kegiatan teater sekolah.
Ahh Rani, aku ingat ketika betapa dadaku deg-degan tak tak terkira, ketika mengenggam tangan halusmu. (hmmmm jangan salah persepsi, itu bukan scene pacaran yang romantic, tetapi penggalan adegan sebuah latihan drama, di mana aku jadi kekasih yang harus pindah sekolah)…

Aku ingat ketika dia malah berteriak;
”…Ehhh tanganmu kok dingin banget sih? Anggap saja aku pacarmu beneran”…
Ya Gusti …aku pun makin berdebar dan mungkin wajahku pun memerah udang rebus di warung fast food depan sekolah.

Rani memang paling pintar menggoda teman-temannya, begitu lepas, ceria.
Baginya mungkin tidak ada musim hujan atau mendung, tiap hari adalah hari yang cerah penuh warna…..
Hmmmmm.. Rani di manakah engkau sekarang?

(To be continued; kalau ada waktu senggang)