Pagi aku mengemudi di tengah kemacetan,
Tiba-tiba suara menderum dari samping kiri, motor besar melaju,
Bermanuver, serobot kiri, serobot kanan bergaya raja jalanan.
Ah, aku lihat di depan dia meludah sambil memaki yang dianggap merintang jalan.
Aku masih melaju pelan,
Di depan macet lama, karena ada kerumunan,
Pada saat kulewati kerumunan,
Aku lihat si jagoan jalanan terkapar bersimbah darah,
Aku masih melaju pelan,
Dan tercenung,
Begitu dekat jarak keangkuhan dan ketidakberdayaan,
Begitu dekat jarak kehebatan dan kelemahan,
Begitu dekat jarak hidup dan kematian.
Jalan kehidupan begitu dekat dengan jalan kematian.
Dalam kehidupan panjang, yang sekejap. Dalam riuhnya hidup, yang sepi. Dalam gemerlapnya cinta, yang redup. Ada cerita yang terangkai, Ada puisi yang terurai. Biru langit, biru kehidupan. Birunya hidup, birunya cinta. Aku tenggelam dalam biru yang mengharu biru. Biru nya hidup, biru nya puisiku.
Januari 31, 2009
Januari 27, 2009
ELEGI PAGI
Aku terbangun tersapu panas mentari yang menerobos kisi jendela kamar,
Sinarnya makin panas dan nanar.
Bumi makin tua, makin renta
Waktu terus mengalir,
Jaman terus bergulir,
Kisah manusia dan nafasnya makin bau anyir.
Aku termenung, menghitung usia yang makin tua.
Meneliti kembali jalan yang telah terlewati
Begitu banyak peristiwa terjadi,
Manis, getir..
Tawa canda, tangis pahit
Cinta, dosa
Sinarnya makin panas dan nanar.
Bumi makin tua, makin renta
Waktu terus mengalir,
Jaman terus bergulir,
Kisah manusia dan nafasnya makin bau anyir.
Aku termenung, menghitung usia yang makin tua.
Meneliti kembali jalan yang telah terlewati
Begitu banyak peristiwa terjadi,
Manis, getir..
Tawa canda, tangis pahit
Cinta, dosa
Januari 16, 2009
PERPISAHAN
Saat kulepas kepergianmu,
kusadar ternyata namamu telah begitu dalam terpatri dihatiku,
Saat aku mencoba tersenyum mengiring kepergianmu,
Malah menjadi luka yang paling perih.
Aku sadar,
Kamu terlalu merah untuk kusimpan dalam warna kelabu,
Kamu terlalu rimbun, untuk kutanam di tanah gersang.
Hidup bukan rangkaian cerita cerpen,
Hidup bukan pula cerita telenovela,
Dan cinta bukan sekedar seribu nyanyian puisi,
Hidup dan cinta
Terkadang jadi pahit dan hitam.
Dan ternyata aku sadar,
Hatiku begitu mudah terluka,
Jiwaku begitu mudah larut,
Dalam haru biru warna kehidupan,
Dan untuk kesekian kalinya
Aku kebali merasa kalah,
Dan jatuh dalam jurang kesepian,
Yang dalam dan kosong.
kusadar ternyata namamu telah begitu dalam terpatri dihatiku,
Saat aku mencoba tersenyum mengiring kepergianmu,
Malah menjadi luka yang paling perih.
Aku sadar,
Kamu terlalu merah untuk kusimpan dalam warna kelabu,
Kamu terlalu rimbun, untuk kutanam di tanah gersang.
Hidup bukan rangkaian cerita cerpen,
Hidup bukan pula cerita telenovela,
Dan cinta bukan sekedar seribu nyanyian puisi,
Hidup dan cinta
Terkadang jadi pahit dan hitam.
Dan ternyata aku sadar,
Hatiku begitu mudah terluka,
Jiwaku begitu mudah larut,
Dalam haru biru warna kehidupan,
Dan untuk kesekian kalinya
Aku kebali merasa kalah,
Dan jatuh dalam jurang kesepian,
Yang dalam dan kosong.
Langganan:
Postingan (Atom)