Dalam kehidupan panjang, yang sekejap. Dalam riuhnya hidup, yang sepi. Dalam gemerlapnya cinta, yang redup. Ada cerita yang terangkai, Ada puisi yang terurai. Biru langit, biru kehidupan. Birunya hidup, birunya cinta. Aku tenggelam dalam biru yang mengharu biru. Biru nya hidup, biru nya puisiku.
Januari 26, 2024
The Journey XX
Ujian akhir semakin dekat. Aku harus makin rajin belajar. Kalau lulus mungkin tidak terlalu khawatir, karena nilai raportku tidak pernah keluar dari lima bersar di kelas. Yang harus ekstra belajar adalah memastikan diterima di peguruan tinggi negeri.
Untungnya buku latihan soal masukl PT sudah lengkap dan edisi terbaik juga. Bu Wita memang the best. Aku pun jadi semangat untuik belajar.
Belakangan aku jarang keluar rumah. Kalaupun istirahat dari belajar, aku punya kegiatan yang menyenangkan; bantu Nenek berkebun di belakang rumah.
Kalau mau tanaman baru Nenek selalu memanggilku, katanya tanganku dingin; apapun yang ditanam bisa tumbuh subur. Saya gak tahu itu trik Nenek untuk memotivasiku atau memang “percaya” sama tanganku. Tetapi semua tanaman Nenek memang tumbuh subur dan berbuah ranum. Di kebun belakang ada buah papaya, sirsak, sawo sampai buah pace.
Sore itu aku lagi asyik menyiangi tanaman ubi jalar, tiba -tiba ada yang menepuk dari belakang;
“Heei, asyik banget nih pak tani”..
“Ehh kamu Pram, tumben ada apa nih?”
Aku sedikit heran karena Pram tampak ceria dan sikapnya bersahabat. Mungkin dia sudah menyadari kekeliruannnya.
“Ya main aja…”
“Eehh kamu punya buku-buku soal kan To?...tanya Pram.
“Ada, kemaren aku beli di Yogya, memang kamu gak ikut Bimbngan Test?..tanyaku.
“Ikut sih, tapi kayaknya masih kurang mantap”..
“Iya, kamu masuk aja dulu. Aku selesain dulu kerjaan ini dan sekalian mandi.
Buku ada di meja kamarku” tukasku.
Selesai menyiangi kebun, akupun mandi.
Pram kenapa tidak ada suaranya, ..oh mungkin lagi asyik baca-baca atau belajar soal-soal.
Aku pun masuk kamar. Aku lihat lagi termenung, buku-buku ada tegeletak dimeja.
Sepertinya Pram tidak menyadari ketika aku masuk kamar. Baru setelah aku tegur;
“Gimana Pram, sudah baca soal-soalnya?.
Pram pun menoleh, tapi dengan mata merah, nyalang penuh kemarahan.
Akupun tercekat ada apa ini?..aku pun terdiam , heran.
“kamu tuh bajingan ya!!!.....Pram tiba-tiba mengumpat.
“Eehhh ini ada apa Pram?..
“Kamu lihat ini? ..tukas Pram sambal menyerahkan selembar kartu.
Kamu ketemu Bu Wita di jogja kan? Knp diam-diam?...Maksud Lu apa ha?...Pram terus nyerocos.
Aku pun pungut kertas biru yang dilempar Pram. Aku pun bingung kenapa selembar kertas itu membuat Pram marah. Aku memang baru lihat.
Rupanya kartu dr Bu Wita;
Adekku Taufan
Selamat belajar ya, semoga sukses.
Jangan lupa pesan Kakakmu ini, jangan pernah kehilangan semangat dan berdoa selalu.
GBU,
Rooswita.
Pram pasti sangat marah. Pram pasti cemburu berat. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana dadanya berkecamuk dendam.
“Le, kalian itu kenapa tho. Kok bisa rebut begitu?”..suara Nenek mengagetkanku.
“Salah paham aja Mbah, mudah-mudahan nanti bisa baik lagi”..jawabku.
“Bukan rebut karena “wedok an” tho? Tanya Nenek.
“Bbu..bukan Mbah? Jawabku agak gugup.
“Wong lanang jangan rebut Cuma karena urusan wedokan, “ora ilok”..Nenek menasehatiku.
Aku pun Cuma mengangguk, sambal berpikir bagaimana caranya aku bisa meredam kemarahan
Pram.
Har-hari selanjutnya sungguh tak nyaman setiap datang ke sekolah, apalagi ketika berpapasan
dengan Pram. Setiap ketemu tatap mata Pram selalu menyiratkan kemarahan, seolah mau
memakan mangsa.
Semakin lama, kemarahan Pram bukannya makin surut, tetapi makin menjadi; seperti pagi itu,
aku temukan kertas ukuran folio bertulis:
TEMPAT DUDUK PENGHIANATT!!!!!...
aku hapal dengan tulisan Pram yang kayak cakar ayam itu.
Dengan begini maka niat ku untuk meminta maaf aku batalkan. Dari awalpun aku enggan, karena akau merasa tak bersalah. Urusan putus dan berjaraknya dia dengan Bu Roswita tidak ada hubungannya denganku.
Menyikapi itu, aku berusaha tenang dan cuek saja. Saya masih berharap Pram masih menghargai pertemanan, bahkan relative dekat, termasuk dengan keluarga masing-masing.
Tetapi Pram tampaknya semakin gencar bikin terror. Setelah ditemukan kalimat makian pertama, esoknya aku temukan tulisan:
BAJINGAN, KELAKUANMU TAK SEPOLOS TAMPANGMU…
Dalam seminggu tiap hari saya mendapat kiriman “surat cinta” dari Pram.
Ada yang agak Panjang, bunyinya seperti ini;
Mestinya sebagai teman harus jujur. Katanya kemaren Elo gak ngerti dan gak ada kabar tentang Wita, ternyata malah janjian di Jogja..Bangsaaatttt. Kalau Elo suka sama Roswita ya terus terang aja . Kenapa main belakang…...Anj….(sensor).
Sebenarnya ada keinginan juga untuk mengklarifikasi dan menjelaskan semuanya pada Pram, tetapi aku gak yakin Pram bisa menerima penjelasan ku.
Jadi sementara akau biarkan menerima banyak lembaran yang berisi segala makian dan umpatan Pram.
Januari 10, 2024
The Journey XIX
Sejak kasus “Ngamuknya Pram” , aku lama tak bertemu dengannya .
Aku juga gak tahu, apakah dia sudah ngobrol dengan ibunya. Tetapi mudah-mudahan Pram sadar, bahwa Pak Hasan lah yang menanyaiku, bukan aku yang mengadu, dan dia memang ber ” masalah”.
Apalagi aku disibukkan dengan belajar untuk ujian, sekaligus seleksi masuk PTN.
Teman-teman bahkan ada yang sudah mulai dengan bimbingan test sejak awal semester, begitu menginjak ke kelas tiga.
Ibu juga menyarankan ke aku untuk ikut salah satu lembaga bimbingan tes, tapi aku merasa sayang untuk mengeluarkan biayanya. Jadi aku bilang ke Ibu, bisa belajar sendiri saja.
Menurutku yang penting kan mengenal dan latihan soal. Itu bisa dipelajari sendiri.
Untuk itu aku pun berniat pergi ke Jogja untuk mencari berbagai contoh soal masuk PTN.
Dan tidak lain, “Shoping” lah tempat yang paling pas untuk cari buku. Itu tempat yang tidak jauh dari Keraton dan
terkenal dengan pusat loak buku. Dari buku bografi, contoh soal dan skripsi.
Dan aku berpikir; eh siapa tahu aku bisa ketemu Rani, ahhh rinduku jadi bertunas dan tumbuh kembali.
Di Shoping Center ternyata ramai sekali. Sepertinya banyak orang luar kota, sepertiku. Mereka semua sibuk memilih-milih buku. Akupun mencoba mendatangi kios buku yang tidak terlalu ramai. Koleksinya cukup lengkap, untuk buku soal pun banyak sekali jenisnya; dari yang tipis sampai yang hampir setebal koper ada.
Aku sedang menimbang-nimbang buku mana yang harus aku beli. Aku bingung memilih mana yang lebih bagus dan pas sesuai kebutuhanku. Tentunya pas dengan kantong juga.
Sedang asyik-asyik menimbang, terdengar suara perempuan di belakangku;
“Sudah ambil yang itu saja Mas” ….aku pun menoleh.
“Degggggg…. Bu Wita!!” …..aku pun bengong dan campur kaget, melihat Bu Wita tersenyum, berdiri di belakangku, terlihat lebih gemukan, putih dan cantik.
“Apa kabarnya To? Kok bengong begitu.” Bu Wita meledekku.
Aku memang masih kaget tiba-tiba bertemu Bu Wita di sini.
“Bbaik Bu, ..Bu Wita apa kabar?..aku menjawab tergagap.
“Seperti yang kamu lihat, aku baik dan sehat”…
"Iya Bu, terlihat lebih gemukan dan cantik" kataku menggoda Bu Wita.
"Wah, sekarang dah pintar merayu ya".....canda Bu Wita. Aku pun cuma nyengir aja.
“Oh ya Pak, berapa harga buku itu Pak”..tanya Bu Wita pada pemilik kios buku.
“Lima belas Ribu Mbak”….
Bu Wita pun membayar buku yang aku pilih itu.
“EEhhh kok jadi Ibu yang bayar?”..
“Sudah To, hari ini kau jadi adekku, jadi biarkan Mbak yang bayar”
“ Dan kamu bukan siswaku lagi, jadi kamu jangan panggil Ibu. Panggil saja Mbak” tegas Bu Wita.
Aku pun Cuma tersenyum saja lihat sikap, gaya bicara Bu Wita yang berubah sama sekali,
beda dengan Bu Wita yang saya kenal waktu mengajar di sekolahku.
“Eh kamu belum makan kan To, kita cari makan yuk”…ajak Bu Wita.
Mau cari makan di mana Bu?
“Ehh kok panggil Bu, selama di sini kamu harus panggil Mbak!...Bu Wita membentak, bercanda.
“Iiyaa Mbaakkkk Wita”….
“Nah gitu dong..kan enak”
“Iyaa Bu, tapi aku masih kagok”….jawabku terus terang.
“Ntar juga terbiasa, ayok naik becak aja, kita cari gudeg paling enak di Wijilan” ajak Bu Wita ehh Mbak Wita.
Kami pun naik becak menuju Wijilan. Sepanjang jalan Bu Wita , eeh mbak Wita tak berenti cerita.
Awalnya tanya kabar teman-teman, tapi malah tak bertanya soal Pram. Selanjutnya bercerita bagaimana dia berjuang dan memulai perjuangan di Jogja. Tentang pekerjaannya sekarang, mengajar di tempat bimbingan belajar dan sesekali menjadi Guide turis asing.
Sesampainya di Warung Gudeg Bu Lis kami pun pesen gudeg komplit dan wedang beras kencur. Gudegnya memang “buket” (enak, gurih dan maknyus) walau sedikit terasa manis.
Sambil makan Mbak Wita masih terus asyik bercerita. Tampaknya dia sekarang lebih happy, ceria, confident, dan tentu saja tambah cantik.
“Rencana mau berapa hari di Jogja?” tanya Bu Wita.
“Sore ini saya pulang Bu..ehh mbak” jawabku.
“Lho kok cepet, mbok nginep aja. Nanti aku ajak muter-muter menikmati kota Jogja”..
“Nggak Mbak, buku sudah aku dapat dan aku tidak bilang kalau mau nginep”.
“Ahhh sudah gede ini, kalau cuma 1, 2 hari mosok dicariin”…
“Dah kamu nginep saja, satu dua hari ini. Kamu gak kangen sama Mbakmu ini ?...
“Urusan nginep dan makan biar mbak yang urus ,gak usah khawatir”…..Bu Wita terus nyerocos meyakinku.
Aku pun terdiam, aku ragu. Kemaren aku tidak bilang mau nginep sama Nenek. Tapi menolak Bu Wita tidak enak juga.
“Mikir lagiiii, udahlah To, nanti biar Mbak yang telpon keluarga kamu , kalau kamu nginep di Jogja”
Aku pun diam saja, masih bingung.
“Udah yok kita ke kost-an ku dulu. Kamu mandi dulu, ganti baju. Habis itu kita cari penginapan”..ujar Bu Wita sambal menarik tanganku.
Ahh Bu Wita aku jadi tak bisa menolaknya.
Kita pun naik angkotan kota kearah Nggayam, tempat kost Bu Wita.
Sampai lah di rumah kost Bu Wita. Tempatnya tenang dan asri. Bu Wita memang pintar memilih tempat.
Akupun dikenalkan dengan ibu kost sebagai adiknya.
“Bu ini adek saya, mau numpang mandi bentar”
“Oh iya, silahkan nak. Keluarga Bu Wita
cakep-cakep ya. Sing wedok ayu, sing lanang bagus” Bu Wita Cuma tersenyum, aku pun jadi Ge Er.
Sesudah selesai mandi, aku minum teh wangi melati yang dibuatkan Bu Wita.
Hmmmmm …sedap dan wanginya menyegarkan…..
“To, sebelum ke sore an kita ke daerah Sosrowijayan, di situ banyak losmen atau hotel murah”..
Kamipun bergegas cari bus ke Malioboro.
Kamipun turun di halte depan Hotel Garuda.
“To, kita jalan-jalan dulu ya”.. ajak Bu Wita. Akupun mengangguk saja.
Sore itu Malioboro, untuk jalan pun harus berdesak-desakan. Langkahku pun sering ketinggalan dari Bu Wita yang berjalan cepat, dan mungkin juga karena terbiasa.
“Ahhh To, kamu ketinggalan melulu. Sini biar gak ketinggalan”…ujar Bu Wita, dan akupun kaget karena Bu Wita tiba-tiba menggamit lengan dan menggenggam tanganku. Aku memandang heran ke Bu Wita.
“Sudah jangan bengong gitu ah. Aku kan kakakmu, jadi gak apa-apa menggandeng tanganmu” ..ujar Bu Wita sambil tersenyum.
Akupun diam saja, meskipun sungguh merasa kagok dan canggung. Tapi ada rasa bangga juga digandeng orang cantik..he.he..he...
Aku pun ditarik masuk ke toko baju yang rame karena lagi Super Sale alias Obral Besar, tertulis diskon 30% - 70%.
Aku ikut saja, Bu Wita langsung menuju counter pakaian pria. Aku pun heran dan bertanya:
“Kok ke sini Mbak, mau beli baju buat siapa Mbak?”..
“Ya buat adekku lah”…
“Adek Bu Wita, bukannya dulu cerita adek Bu Wita perempuan?....
“Iya To, adeku yang cakep ini”..jawab Bu Wita sambal cubit hidungku, aku pun jadi malu dan rishi karena dilihatin orang.
“Ahh gak usah mbak”….aku merasa gak enak juga. Sudah ditraktir makan, disiapin penginapan, dibeliin baju pula"
“Kamu kan gak bawa baju ganti kan?.......kamu cari yang cocok 2-3 baju To”…
“Satu kaos aja cukup Mbak”…aku menyela.
“Udah ..nurut Mbak aja, lagi an mumpung lagi sale”……
Akupun menurut saja dan diam saja. Bu Wita pun memilih-milihkan baju dan kaos untukku. Dia ambil 1 baju kotak- kotak dan 2 kaos warna biru, warna kesukaanku.
“Ini Mbak pilihin , gimana To? Ukuran mu M kan Atau mau milih yang lain? .
“Gak Mbak, itu bagus. Saya suka”….
“Mau dicoba?”
Aku menggeleng, karena saya lihat kamar pas pun ngantri, lagian aku merasa sudah pas.
Bu Wita pun ke kasir dan membayar baju itu.
“Oke To, sekarang kita cari penginapan ya. Kita jalan kaki saja, deket kok”..
Akupun mengangguk saja. Aku sebenarnya meras tidak nyaman, tapi aku kan sudah meng iya kan untuk menginap di Yogyakarta.
Setelah berjalan sekitar 10 menit kami pun sampai di hotel RAPI, hotel melati tapi memang rapi sesuai namanya dan bersih.
Bu Wita pun langsung ke receptionist.
“Eehh mbak Wita , apa kabar? Ada yang bias dibantu Mbak?..sapa receptionist yang bertugas. Staff yang lain pun terlihat mengangguk menyapa Bu Wita.
Rupanya front office hotel tersebut sudah mengenal Bu Wita.
“Oh ya Mbak Endang, saya pesen kamar standard buat adikku ini , untuk 2 malam ya” ujar Bu Wita.
“Bu…kok 2 hari Bu?...tanyaku berbisik sama Bu Wita.
“EEhh.. kok Ibu lagi sih. Udah kamu nurut saja, hari ini kan kita belum sempat jalan-jalan.
Besok kita seharian jalan-jalan” terang Bu Wita.
Setelah beres urusan di reseption, kami pun di antar oleh petugas menuju kamar .
Kamarnya ber nuansa krem dan putih, sehingga terkesan bersih.
Bu Wita pun langsung cek ini itu; lemari bajunya, toiletnya, perlengkapan
mandinya dll dah kayak emak-emak ehh mbak ku beneran saja.
“Cukup nyaman kan To, mudah-mudahan kamu betah dan nyaman. Besok kamu bisa sarapan di bawah deket reseptionis tadi. Kalau ingin yang lain, di sekitar sini banyak yang jualan gudeg, pecel dll”..
“Iya Bu, terima kasih ya Bu”
“Lho, ibu lagi. Kamu gak boleh panggil aku ibu lagi. Aku kan bukan ibumu dan bukan guru mu lagi”….ujar Bu Wita.
"Iya Mbak" jawabku.
Setelah mengobrol beberapa saat, aku pun mulai menguap beberapa kali, mengantuk mungkin karena ke capek an.
“Wah, kamu dah ngantuk To, ya sudah Mbak pulang dulu. Besok agak siangan saya ke sini lagi. Jadi jangan lupa mandi pagi dan sarapan, setelah itu kita jalan-jalan”….
Bu Wita pun pamit pulang. Karena sudah ngantuk aku pun segera terlelap tidur.
_________________
Jam 6 saya baru terbangun. Ah subuh kesiangan, harus mandi keramas lagi. Mungkin karena terlalu nyenyak atau kemaren banyak makan bergizi, malam ini aku “mimpi’. Aku mimpi "bercumbu" dengan Bu Wita, hmmm mungkin karena tadi banyak melihat dia yang makin cantik dan "berisi." hmmmmmmm
Aku pun buru-buru mandi , jam 6.30 aku bergegas sarapan .
Selesai sarapan aku buat teh dan aku nikmati sendiri, sambil lihat lalu Lalang orang jalan pagi lewat jendela.
Belum habis tehku, terdengan ketokan di pintu. Sepertinya Bu Wita. Benar, Bu Wita dengan jeans ber kaos putih. Bu Wita terlihat segar , dan lebih muda, cantik dan …hhmmm wangiii aroma bunga segar.
“ Wah Bu Wita terlihat modis dan cantik” aku tak tahan untuk memuji.
“Iya To? Mbak nya siapa duluuuu”…canda Bu Wita sambal tersenyum genit.
“Ayo, To kita langsung jalan saja. Kita putar kota saja, Kraton dan Monjali”
Aku pun mengangguk saja, karena saya juga tidak terlalu tahu seputaran kota Jogja.
Saya hanya tahu Malioboro dan Jalan Solo saja.
Seharian kami pun jalan-jalan menikmati kota Yogyakarta. Bu Wita tampak ceria dan ceriwis bercerita sepanjang jalan. Kadang tertawa lepas, aku pun menjadi merasa lebih dekat dan tidak canggung lagi.
Aku pun kadang membalas menggoda Bu Wita , dan reaksi Bu Wita spontan, mencubit lenganku. Aku pun meringis dan muka memerah, karena selain sakit, kaget dan jengah juga.
Tetapi selanjutnya, lama-lama menjadi biasa saja.
Hari itu kami merasa sebagi teman. Jarak sebagai murid dan guru tidak terasa lagi.
“To, kamu dengan Rani gimana To?” tanya Bu Wita tiba-tiba.
“Gak tahu Mbak, saya malah tidak tahu kabarnya lagi”….
“Lho kok bisa, memang Rani kemana?”
“Pindah sekolah Mbak, katanya sih ke Jogja”..
“Alamatnya di mana? Mbak bisa bantu cari”..
“Itulah Mbak, justru aku gak tahu…”
“Oooh gitu”..
“Waduh Sorry ya To, kamu jadi sedih gitu”..
“Ya udah kita cerita yang lain saja, jangan sedih gitu dong” ..hibur Bu Wita sambil mengusap-usap kepalaku.
Aku pun Cuma menggeleng.
“Kalau mbak Wita gimana? Sudah ada pacar di Jogja?”..
“Belum To. Mungkin seperti yang pernah Mbak bilang, saya kurang beruntung dalam hal asmara” keluh Bu Wita sambal menghela nafas.
“Nggak lah Mbak. Mbak cantik, pintar dan care, cuma mungkin belum ketemu saja Mbak” aku mencoba menghiburnya.
“Iya To. Aamiin”…
“Aku gak muluk-muluk kok, kalau ada orang yang kayak kamu, yang se umuran atau lebih tua dari Mbak ,,cukuup”…ujar Bu Wita sambil memandangku. Aku tidak tahu becanda atau serius, makanya aku Cuma diam
saja.
“ Kok mukanya mendadak serius gitu To? Udah kita jangan ngomongin itu lagi. Sekarang kita cari makan”..
Dalam dua hari di Jogja aku benar-benar jadi adiknya Bu Wita yang dimanja.
Kalau mau makan, di tanya mau makan apa. Kalau lihat baju atau souvenir ditanya mau beli atau tidak.
Waktu sangat terasa cepat, kami melalui dengan makan, jalan dan bercanda. Dua hari terasa sekejap.
Siang itu aku pun pamit pulang. Bu Wita mengantarku ke stasiun Tugu. Biasanya aku naik bus, karena bisa turun depan rumah, tetapi ternyata Bu Wita sudah pesan tiket kereta buatku. Aahh Bu Wita memang orangnya cantik dan baik.
Mudah-mudahan mendapat pasangan yang baik pula,
bukan seperti Pram , bukan pula pak Hasan yang “kaku” itu.
Kalau se-umuran atau lebih muda dari aku,mungkin bisa jadi pacarku..
Ahhh lamunanku mulai ngaco…..kereta pun berjalan, dan wajah cantik Bu Wita lama-lama menjauh dan hilang dari pandangan.
Terima kasih Bu Wita, Terima kasih Yogyakarta.
Ctt penulis :
‘Shoping : lokasi para penjual buku bekas di Jogja, kalau di Jakarta seperti di pasar Senen atau Kramat deket pertokoan Gunung Agung.
Januari 09, 2024
The Journey XVIII
Sudah seminggu sejak ibunya Pram berkunjung,aku belum memenuhi janji untuk bertemu Pak Hasan untuk menyampaikan masalah Pram. Aku masih bingung harus mulai dari mana.
Mungkin Pak Hasan juga akan menanyakan; kalau Pram ada masalah kenapa bukan keluarganya datang.
Kalau aku menyampaikan tentang hubungannya dengan Bu Wita, mungkin Pak Hasan malah lebih “confused”
lagi, apa hubungannya dengan mereka? Bahkan menurut informasi beberapa teman, Pak Hasan sebenarnya menaruh hati dengan Bu Wita. Jadi Pak Hasan bisa salah paham.
Pak Hasan berumur hampir kepala empat, tapi masih melajang.
Sebenarnya aku sudah 2 kali datang ke ruang Pak Hasan, tetapi begitu di depan pintunya, aku ragu dan tak jadi.
Kali ini harus aku samp aikan, mungkin tentang keluhan orang tua Pram tentang masalah belajar dan disiplin Pram saja.
Cerita tentang hubungannya dengan Bu Wita, ke sekolah suka bawa pisau, biar orang lain yang cerita atau nanti pihak sekolah menemukan fakta sendiri.
Tapi sampai depan ruang Pak Hasan, aku ragu. Ahhh bagaimana aku ceritanya ya.
Kalau masalah belajar Pram, kenapa aku yang harus sampaikan ke Pak Hasan…
“Eehh To, ada apa To?” suara Pak Hasan mengagetkanku.
“Eehhmmm..gak Pak, gak ada apa-apa”..aku beranjak meninggalkan depan ruang Pak Hasan.
“Ehh,..masuk saja To. Bapak ada yang mau bicarakan sama kamu”..
“Masalah apa ya Pak”..aku tidak mengerti dan jadi deg-degan.
“Masuk dulu, nanti kita ngobrol di dalam”….Pak Hasan mempersilahkan masuk, lihat dari roman mukanya sih sepertinya tidak ada yang terlalu serius.
“Bbaaik Pak”…aku pun masuk ke ruang Pak Hasan, dan dipersilahkan duduk di sofa.
Ruang Pak Hasan memang terbilang nyaman dan lumayan mewah dibanding ruang guru lain.
Mungkin agar yang datang konsultasi merasa nyaman dan rileks.
Setelah duduk Pak Hasan pun memberiku se botol air mineral. Wah tumben nih, ada apa ya.
“To, kamu cukup deket sam Pram kan?”..
Aku pun kaget, kenapa Pak Hasan menanyakan Pram, apa ibu Pram sudah datang ya?….
“Ya gak terlalu deket juga sih pak, memang kenapa pak?” aku bertanya hati-hati.
“Dengan Bu Wita kamu dekat juga kan?”..
“Hmmm ya bisa dibilang cukup dekat pak, tapi ada apa ya pak?” aku tambah bingung. Aku gak mugkin bilang gak deket, karena semua orang di sekolah tahu, aku cukup dekat dengan Bu Wita.
“ Kamu tahu sebabnya Bu Wita keluar dari sekolah kita?”..
“Wah gak tahu Pak” aku jawab asal saja untuk menghindari pertanyaan lebih banyak.
“Ah, masa sih kamu gak tahu To?” Pak Hasan tidak menyerah begitu saja. Aku menggeleng.
Benar Pak, saya sungguh tidak tahu"
“Menurut kamu kenapa To?”
“Bapak tanya pendapatmu saja, bukan tanya tahu apa nggak”..Pak Hasan mendesak.
“Hmmmm..mungkin sudah gak nyaman pak”..aku jawab apa yang ada melintas di kepalaku.
“Gak nyaman? Memang kenapa?” Pak Hasan masih terus mengejar.
“Ya pak, gak nyaman karena banyak issue yang beredar tentang Bu Wita”
“Lho itu kan issue sudah lama To. Dan sejauh ini Bu Wita sepertinya bisa menghadapi dan tidak terlalu peduli”..Pak Hasan membantah alasanku, atau tepatnya memancing lebih dalam.
“Wah itu saya gak tahu Pak”..aku tetap menghindar untuk bicara lebih jauh.
“Apa bukan karena Pram?”..Degggg..wah Pak Hasan mulai to the point.
"Karena Pram?" maksudnya bagaimana Pak.
“Ya salah satunya Bu Wita mungkin ingin menghindar dari Pram" jelas Pak Hasan.
"Maksudnya Bu Wita ingin putus degan Pram" tanyaku.
“Putus, memang menurut kamu Bu Wita pacaran sama Pram?”..tukas Pak Hasan, mukanya memperlihatkan ketidaksukaannya.
“Ya ..kata teman-teman sih begitu Pak”..
“Gak To, Bu Wita cerita sendiri sama saya, Bu Wita tidak pacaran. Pram saja yang ke GR an”…Pak Hasan tampak kesal.
“Jadi menurut Bapak , karena apa?”…aku mencoba tanya, ingin tahu Pak Hasan tahu se jauh mana,=.
“Ahh kamuu To, saya cari info dari kamu, kok kamu malah nanya balik ke saya”…
Kamu pun terdiam, dengan jalan pikiran kami masing-masing. Yang pasti kami ingin tahu alasan Bu Wita mengundurkan diri.
“Ehh To, beberapa bulan lalu sebelum Bu Wita pergi, katanya Pram peluk bu Wita di depan anak-anak?”…Pak Hasan menyelidik.
“Saya tidak melihat Pak, tapi kata teman-teman begitu. Dan saya lihat bu Wita terlihat sangat marah”
“Lho katanya kamu tidak melihat”..tukas Pak Hasan.
“Iya pak, saya keluar kelas setelah kejadian, dan melihat Bu Wita tampak marah dan menangis. Mungkin merasa malu dan merasa di kurang ajari Pram"
“Ahh anak itu..memang brengsek” Pak Hasan setengah bergumam.
“Jadi peristiwa itu benar terjadi ya To?”..
“Sepertinya begitu pak, teman-teman yang bilang waktu itu”…
“Terus yang lihat langsung siapa?”
“Kayaknya Haris lihat langsung pak”..
“Ahh kemaren saya tanya Haris katanya tidak tahu apa-apa”..keluh Pak Hasan.
Ah Haris berbohong, mungkin Haris tidak mau ribet dan jadi terbawa-bawa persoalan.
Kami pun terdiam lagi, dengan pikiran masing-masing.
Akupun mengira-ngira, apa ya yang akan dilakukan Pak Hasan? bertanya langsung ke Pram? Apa dia tahu keberadaan Bu Wita? Apa dia ada komunikasi dengan Bu Wita? Aku bertanya-tanya dalam hati.
“Kamu tahu gak kabar Bu Wita To?” tanya Pak Hasan.
“Saya gak tahu Pak. Saya tanya Ibu Kostnya juga tidak ada informasi apa-apa”.
“Hmmmmmm..siapa yang tahu ya?....Pak Hasan seperti bicara dengan diri sendiri.
"Pak Hasan tidak tahu keberadaan Bu Wita?" tanyaku ingin menegaskan.
"Nggak To" jawab Pak Hasan sambil menggeleng.
“Mungkin teman guru ada yang tahu Pak”
“Nggak To, saya sudah tanya ke semua guru, teman-temannya, mereka tidak ada yang tahu”..
“Begitu ya pak?. Saya juga tidak dengar kabar apapun Pak”….
“Iya To, Bu Wita tidak bicara apa-apa pun sebelum pergi”..keluh Pak Hasan.
“Oke lah To. Terima kasih waktunya”...
“Sama-sama Pak”...
Akupun keluar ruang Pak Hasan dengan sedikit lega. Cuma ada yang masih mengganjal,
Aku belum sempat menyampaikan keluhan Ibu Pram...Ahh biar nanti saja.
____
Sudah minggu ke dua aku belum siap juga menyampaikan keluhan ibunya Pram.
Sejujurnya aku malas berurusan dengan Pram. Bisa dipastikan kalau dia tahu, pasti akan salah paham dan marah. Belum lagi persoalan Bu Wita yang ditanyakan Pak Hasan.
Tapi aku kasihan juga dengan ibunya Pram. Beliau sangat berharap banyak sama Pram.Tapi juga juga ada kesalahan ibunya Pram, yang “overprotective" dan memanjakan Pram.
Saya tidak tahu apakah karena kakaknya yang putus sekolah dan kawin muda, atau hal lain. Tetapi ibunya Pram terlihat pilih kasih dan cenderung menganakemaskan Pram.
Saya sering ibunya marah dan berucap kasar pada kakaknya, tetapi saya belum pernah melihat ibunya marah sama Pram. Mungkin itu yang membuat Pram menjadi tidak dewasa dan cenderung semaunya.
Dan saya mengerti ibunya sangat sedih dengan keadaan Pram sekarang yang sperti tidak peduli pada masa depannya sendiri.
Atau aku harus cerita juga tentang sikap ibunya Pram yang terlalu memanjakan Pram pada Pak Hasan? Ahhh bukannya nanti malah tambah rumit dan membuat aku terlibat terlalu jauh? Ahhh entahlah……
Aahh kapan ya? Atau aku berterus terang saja ke ibunya Pram, aku tidak bisa menolongnya. Atau dengan sedikit berbohong, kalau Pak Hasan meminta beliau datang sendiri.. HHmmm bagimana ya………………………..
“Hai, bangsaaat” ..suara teriakan mengagetkanku.
Aku pun menoleh ke arah suara itu, ternyata Pram dengan muka marah. Wah kenapa lagi.
“Hai Loe ke sini”…Pram sepertinya menunjuk ke arahku.
“Kamu panggil aku?” aku sedikit beteriak ke Pram.
“iyaaaa…….kamu To!!”…
“Ya tadi kan kamu panggil bangsat, bukan nama” aku menjawab sambal mendekat ke arah Pram.
“Kamuuu tuh ya” teriak Pram, tanpa ba bi bu tiba dia mencengkram krah leherku.
“Prraaamm,, apa app...apaan sih”…aku kesulitan
bersuara, antara kaget dan takuut.
“Ngapain kamu lapor ke Pak Hasan?”..
“Aku tidak lapoor Praam”..tangan Pram masih di krah leherku..
Aku pun makin sesak napas.
“Kalau gitu siapa yang ngasih tahu, kamu kan…”
“Praam, lepas dulu tanganmu, baru aku jelasin”..
“Nggak, kamu harus bilang dulu, bagaimana Pak Hasan tahu tentang kejadian beberapa bulan lalu”..Tangan Pram masih pegang krahku, meskipun tidak se ketat tadi.
“Tentang itu, aku gak bilang apa-apa. Mungkin saja ibu mu sudah menghadap Pak Hasan”..
“Ibu ku,..apa urusannya dengan Ibuku ?” tanya Pram kaget, dan dia pun melepaskan cengkramannya.
“Iya, beberapa hari yang lalu, ibumu ke rumahku . Minta tolong menyampaikan masalahmu ke Pak Hasan.”..
"Masalah apa?"
"Ya intinya, Ibumu cerita kalau kamu sekarang tidak fokus belajar"
“Lalu kamu bilang apa?”….Pram masih mencurigaiku.
" Ya aku bilang, aku tidak tahu masalahnya dan menyarankan untuk konsultasi dengan Pak Hasan" aku sedikit berbohong. karena aku bilang apa adanya, pasti makin marah padaku.
"Terus kamu melapor ke Pak Hasan?"
“Tidak, aku tidak melaporkan apa-apa”….jawabku.
“Kok ada yang bilang kalau kamu beberapa hari lalu melihatmu di ruang Pak Hasan?”..
“Iya , beberapa hari lalu. Saya dipanggil, tanya tentang kamu dan Bu Wita, tapi saya bilang gak tahu”….
Kami pun terdiam, aku yakin Pram tidak mengira kalau ibunya ke rumahku dan menceritakan masalah Pram. Kalau ibunya Pram tidak ke rumah, aku pasti tidak mau terbawa-bawa urusan Pram. Aku jadi merasa kesal.
“Kalau begitu sampaikan ke ibumu sekalian Pram, aku tidak bisa menolongnya”…keluhku kesal, sambil meninggalkan Pram yang masih bingung.
Aku berharap setelah Pram tahu bahwa ibunya minta tolong ke aku, mudah-mudahan Pram menyadari kesalahannya, dan bisa memperbaiki diri, tanpa harus melibatkan guru BP.
Biar urusan tidak tambah panjang, dan aku pun jadi ikut pusing…
Januari 05, 2024
THE JOURNEY XVII
Sudah 2 bulan Rani pindah ke Jogya. Tak ada kabar sama sekali dari Rani. Rani seperti menghilang begitu saja.
Sementara Aku juga tak tahu bagaimana harus menghubungi Rani.
Saya tanya Rusti jugag tidak tahu. Rusti hanya memberikan alamat saudara Rani, tapi aku kirim surat ke alamat tersebut, pun tidak terbalas. Kangenku pada Rani sudah menumpuk dan membebaniku. Aku pun corat-coret sebuah puisi:
Aku merasa sangat sepi dan sendiri;
Aku di sini makin terpaku dalam bisu dan sepi,
Aku nikmati sendiri,
Ceritaku,mimpiku dan diamku.
Hanya tanganku berteriak lantang,
Mencari wajahmu. Yang tergambar di kaca buram,
Aku makin tenggelam dalam sepi yang dalam.
Siang itu panas sekali, aku pun tidur dan di balai-balai belakang rumah.Di situ agak dingin karena masih banyak pohon. Dari pohon mangga, pace, papaya samapi pisang, pokoknya lengkap.
Nenek selalu menjaga pohon-pohon itu. Kalau ada yang di tebang, pasti besoknya nenek minta aku menanam pohon baru sebagai pengganti.
Sedang asyik melamun, tiba-tiba ada suara salam, dari pintu depan.
“Assalamu’alaikum”….
“Walaikumsalam” aku menyahut sambal berjalan ke depan. Lho, Ibunya Pram,… ada apa ya..
“Ehhh Ibu, tumben Bu. Ada apa nih mampir ke rumah Taufan?”..
“Iya Nak Taufan, apa kabar? Nak Taufan kok gak pernaih main ke rumah”.
“Iya Bu, kita lagi sibuk belajar menghadapi EBTANAS”…sahutku.
“Silahkan masuk Bu”..akupun mempersilahkan ibunya Pram masuk dan duduk di ruang tamu.
Setelah duduk dan memberikan air putih. Ibu Pram terdiam, wajahnya terlihat kusut dan banyak beban. Aku pun bertanya;
“ Bagaimana Bu, ada yang bisa saya bantu?”…
“Gini Nak Taufan, apa Nak Taufan tahu bagaimana Pram sekarang?..
“ Maksud ibu gimana ya? Saya kebetulan jarang ketemu juga Bu”….
“Nak Taufan tahu kalau Pram pernah dekat dengan Ibu Gurunya?”
“Iya , saya tahu Bu, kenapa Bu?”..
“Dari awal saya agak kurang sreg dengan kedekatan mereka, karena kurang elok dan pasti menganggu belajar Pram.
Ketika Ibu mengingatkan hal itu ke Pram, Pram beralasan justru akan menjadi penyemangat untuk belajar”…Ibu
Pram menjelaskan. Saya pun mendengarkan saja.
“Awalnya benar, Pram benar terlihat mau belajar dan baca buku"
“Tetapi sesudah itu malah berantakan. Apalagi sekarang setelah Ibu gurunya pindah, Pram seperti tidak peduli dengan sekolahnya”.
“Kalau malam lebih sering nongkrong sama anak kampung, pulangnya pagi. Dia jadi sering bolos sekolah. Kadang malah pulangnya mabuk”..Ibu Pram bekeluh kesah.
Aku masih diam mendengarkan keluh kesah ibunya Pram. Melihat wajah tua nya yang murung , kasihan juga.
“Terus bagaimana Bu?”..aku mencoba menanggapinya.
“Saya minta tolong Nak Taufan, selama ini Pram kan cukup dekat dengan Nak Taufan"
Dalam hatiku membathin, ah gak terlalu dekat juga. Sifat egois dan temperamental Pram yang membuat saya tidak terlalu nyaman untuk bersahabat dengan Pram.
“Minta tolong gimana Bu, saya bisa bantu apa?...aku kurang faham.
“Tolong bilangin Pram agar lebih serius sekolahnya. Ajak Pram untuk belajar”..
“Saya ingin Pram bisa sekolah tinggi. Jangan mengulang kesalahan abangnya yang cuma tamat SMA dan kawin muda”….
“Wah sepertinya itu susah Bu, saya ragu Pram mana mau denger omongan saya Bu”..
“Kebetulan sejak dekat sama Bu Wita, kami juga jarang sekali ketemu” aku menjelaskan.
“Terus bagaimana dong Nak Taufan. Pram tidak bisa dibiarkan begitu”.
Aku terdiam, ibunya Pram pun diam. Kami tidak tahu mesti harus bagaimana.
“Ibu mungkin harus bicara sama guru BP”..aku mencoba memberi alternative.
“Guru BP? Itu mengajar apa Nak, wali kelas?”. Ibu Pram sepertinya tak mengerti istilah itu.
Pada jaman ibunya Pram sekolah mungkin belum ada.
“Itu guru Bimbingan dan Penyuluhan, guru yang khusus membantu siswa kalau ada masalah. Tempat siswa berkonsultasi Bu” aku mencoba memberi penjelasan.
“Apa Ibu bisa menceritakan masalah Pram juga pada guru itu?Bukannya hanya murid yang bisa konsultasi?…ibunya Pram masih terlihat bingung.
“Tidak juga Bu, kalau ada siswa bermasalah kadang guru BP panggil orangtuanya, dan sebaliknya orang tua juga bisa datang kepada guru BP Bu” ..jelasku.
“Wah, saya gak paham nak, gimana kalau saya minta tolong Nak Taufan yang bicara sama guru BP?”…
“Wah gimana ya Bu? Saya bisa saja sampaikan ke guru BP, tapi saya takutnya Pram malah tersinggung. Karena saya ikut campur urusan Pram”..saya mencoba memberi pengertian ke Bu Pram.
“Saya yang tanggungjawab Nak, kalau Pram sampai marah. Bilangin saya yang minta” Ibu Pram tetap keukeuh.
Aku pun terdiam, karena saya tahu Pram pasti tidak akan suka kalau aku ikut campur urusannya.
“Tolong ya Nak”…ibunya Pram seperti memohon, aku pun tidak tega.
“Baiklah Bu, nanti saya pertimbangkan dan cari cara gimana yang terbaik Bu”..
“Terima kasih sebelumnya ya Nak”. Mudah-mudahan Pram bisa berubah”..
Aku pun mengangguk , ya mudah-mudahan Pram bisa berubah.Meskipun saya tahu itu hal yang sulit.
Ibunya Pram tampak sedikit lega, dan beliau pun pamit pulang. Pada waktu pulang, Ibu Pram menggenggam tanganku erat:
"Tolong Pram ya Nak"...tanmpak matanya berkaca-kaca. Ah sungguh kasihan ibu Pram yang sudah tua ini masih harus banyak memikirkan Pram.
Tinggal aku yang bingung, bagaimana saya harus bicara dengan Pak Hasan, guru BP.
Tapi aku kasihan juga dengan ibunya Pram. Beliau sangat berharap banyak sama Pram.
Mungkin karena terlalu berharap pada Pram, ibunya Pram menjadi “overprotective dan berlebihan”, cenderung memanjakan Pram.
Saya tidak tahu apakah karena kakaknya yang putus sekolah dan kawin muda, atau hal lain. Tetapi ibunya Pram terlihat pilih kasih dan cenderung memberikan apapun yang diminta Pram. Apalagi kalau sudah dengan alasan keperluan sekolah. Aku sering ibunya marah dan berucap kasar pada kakaknya, tetapi Aku belum pernah melihat ibunya marah sama Pram. Mungkin itu yang membuat Pram menjadi tidak dewasa dan cenderung semaunya.
Dan Aku mengerti ibunya sangat sedih dengan keadaan Pram sekarang yang seperti tidak peduli pada masa depannya sendiri.
Atau aku harus cerita juga tentang sikap ibunya Pram yang terlalu memanjakan Pram pada Pak Hasan? Ahhh bukannya nanti malah tambah rumit dan membuat aku terlibat terlalu jauh?
Tetapi sepertinya aku harus menolong Ibunya Pram, Ibu Pram sikapnya sangan baik padaku, meskipun mungkin akan menimbulkan kesalahpahaman Pram padaku.Biarlah, prioritasku menolong ibunya Pram.
Januari 04, 2024
THE JOURNEY XVI
Sudah beberapa bulan tak ada kabar lagi dari Bu Wita. Kabar dan gossip tentang Bu Wita di mana, kenapa dan cerita hubungannya dengan Pram pun mereda, dan senyap begitu saja.
Orang kadang masih membicarakan Pram, tetapi mengenai perilakunya yang makin aneh. Pram seperti "topo bisu". Jarang sekali bersuara. Mukanya selalu tegang, bahkan gelap. Tanpa senyum tanpa keramahan sama sekali. Mukanya sudah seprti robot. Sepanjang yang terlihat muka seperti marah dan menyimpan dendam. Entah sama siapa…
Rusti, Adri , Rani punya cerita sama tentang Pram. Haris bilang Pram kelakuan sekarang “kayak wong gemblung” (seperti orang gila).
Awalnya aku teman-teman cuek saja, karena itu urusan Pram sendiri. Tetapi kita mnjadi was-was ketika tahu Pram sekarang keman-mana bawa pisau belati. Aku pun berusaha menghindar dari Pram.
Seperti siang itu sepulang sekolah aku berpapasan dengan Pram.
Meskipun agak males, mau tak mau aku tegur Pram…
“”Pram, ..gimana kabar?” aku berbasa-basi.
“Jelek!!....tanya kabar kayak orang baru ketemu aja”…jawab Pram ketus.
“Ya namanya juga teman, ya tanya kabar lah, mosok tanya ramalan”..aku berusaha menanggapi dengan canda.
Kali aja kamu bisa ngramal Pan. Bisa ramal gak, nih pisau akan masuk ke perut siapa?...Pram masih tetap ketus.
Deg Plaasss..gila Pram malah keluarin pisau, aku pun jadi terkejut dan merasa ketakutan.
“Hehh Pram ,eehh ngapain bawa-bawa pisau?..aku masih terkejut..
“Buat nusuk orang yang bikin aku susah!!.....Jawab Pram dengan ketus.
Darpiada repot dan bikin urusan panjang, aku menghindar secepatnya, aku pun berpisah jalan dengan Pram. Benar teman-teman bilang, Pram makin ngacau dan gila.
Mungkin Pram bingung , kacau frustasi karena tidak tahu Bu Wita kemana dan tidak tahu kabarnya.
Aku pun menjadi kepikiran, siapa yang dimaksud Pram menyusahkan hidupnya. Pram akan menusuknya. Jangan-jangan aku termasuk orang yang dimaksudkan Pram? Hmmmm serem juga.
Ahh…..aku jadi was-was juga. Setiap bertemu Pram aku menjadi tidak tenang. Mau ngobrol in hal ini ke Adri atau Rani jangan-jangan malah di ketawain atau dianggap ber;ebihan.
Akupun memndam rasa was-was ini sendiri. Aku jadi tidak tenang. Ketika masuik sekolah ataupun pulang sekolah aku selalu toleh kiri kanan, waspada.
Setiap melihat Pram malah semakin deg-deg an.
Seperti siang itu, aku melihat Pram melangkah gontai keluar dari kelas. Dan dia melihatku juga.
“Pannnn…. “…aku kaget Pram memanggilku sambal melambai tangan minta aku mendekat.
Ahh ada apa ini.
Akupun berjalan mengarah ke Pram.
“Pan, ada yang mau aku tanyain”..
“Ya mau tanya tentang apa Pram?”..
“Kita ke kantin aja , kita ngobrol di sana aja jam segini bisanya sepi”
Aku pun mengangguk meng iya kan dan mengikuti langkah Pram.
Sesampainya di kantin aku pesen es teh manis dengan beberapa potong bakwan goreng.
Kebetulan cuaca sangat panas, segelas es teh cukup melegakan tenggorokan yang kering.
“Pram, kamu mau tanya soal apa?” aku memulai pembicaraan karena kami terdiam lama.
“Kamu tahu Bu Wita di mana Pan? Tanya Pram.
“ Aku gak tahu Pram” jawabku.
“Serius, kamu gak tahu Pan. Kalau kamu tahu harus bilang, jangan bohong”..Pram bertanya dengan suara lebih keras.
“ Serius Pram, sumpah demi Tuhan aku gak tahu Bu Wita di mana”…aku meyakinkan Pram.
Sepertinya Pram percaya. Pram hanya diam, sambil meremas-remas tangannya.
Kemudian dengan suara lemah, dan dengan mata berkaca-kaca iya berucap;
Iya, Pan, aku sudah mencari kemana-mana tapi tidak tahu juga dia dimana"
“Bu Wita gak pernah bilang apa-apa? Misalnya tentang aku?”..Pram mendesak.
“Gak Pram, Bu Wita gak bilang apa-apa tentang kamu”.aku merasa tidak nyaman karena berbohong. Faktanya Bu Wita cerita tentang Pram, dan salah satu alasan kepergian Bu Wita adalah Pram.
Pram lama tertunduk diam, dan kulihat air matanya menetes.
Hmmm, ternyata orang sekeras Pram bisa menangis juga. Tampak lemah dan frustrasi.
Apakah Pram sungguh-sungguh mencintai Bu Wita? atau hanya perasaan ter obsesi, ketergantungan yang akut pada Bu Wita? Hanya Pram dan Tuhan yang tahu.
Sepertinya aku harus cerita dan ngobrol sama Rani tentang kondisi Pram dan keberadaan Bu Wita.
Esok harinya aku pun nyamperin ke kelas Rani. Aku tunggu kelas usai.
Tapi sampai semua siswa keluar semua Rani tak terlihat. Aku tengok kelasnya sudah kosong. Aku pun tanya Sigit, teman sekelasnya.
“Git, Rani gak masuk?...
“Iya To, dari kemaren Rani gak masuk sekolah”..
Wah ada apa ya, setahu saya Rani termasuk siswa paling rajin. Setahu aku, selama ini tidak pernah absen,
bahkan ketika flu batuk pun masih masuk sekolah.
Ahh Rani kenapa ya? Aku pun buru-buru langsung ke rumah Rani.
Sesampainya di rumah Rani, keadaan sangat sepi.
Pintu pun tertutup. Hanya jendela yang terbuka, berarti ada orang.
“Assalamu’alaikum “,..aku mengucap salam.
“Waalaikum salam”…..aahh sepertinya suara Rani.
Benar Rani pun keluar. Dengan celana pendek dan T-shirt putih kostum favoritnya ketika di rumah.
Rani tampak sehat-sehat saja dan wajah tampat charming seperti biasanya. Syukurlah Rani tak sakit.
“Ehh Topan, langsung dari sekolah ya?”…sapa Rani sambil melihat aku masih pakai seragam putih abu-abu.
“Iya Ran, kamu kok gak masuk kenapa?”..
“Iya To, masuk dulu. Nanti aku certain Pan”..
“Ehhmm Bapakmu belum pulang kan?”..jam segini memang ayah Rani belum pulang, tapi aku ingin memastikan saja.
“Belum, To. Memang kenapa, takut? Memang Ayahku makan orang apa?...canda Rani.
Aku pun duduk di ruang tamu. Aku jarang sekali masuk ke ruang tamu, biasanya cuma di teras.
Selang aku duduk beberapa menit Rani masih diam saja.
Sepertinya Rani mau ngomongin hal yang cukup serius. Hmm Rani mau ngomong in apa ya?
Aku pun buka suara.
“Ran, mau cerita apa Ran?”….
“Too,..”…Rani memanggilku. Setelah itu terdiam lagi..
“Ya Ran…” aku harap-harap cemas apa yang Rani akan sampaikan.
“Kita kayaknya harus berjauhan To..” Rani memulai bicara pelan.
“Maksudnya gimana Ran?” aku masih kurang mengerti apa yang dimaksud Rani.
“Ayahku dinasnya pindah ke Yogya. Dan aku diminta pindah sekolah”….lanjut Rani pelan.
“Maksudmu kamu akan sekolah di Yogya?”….tanyaku kaget. Rani cuma mengangguk.
Kami pun terdiam. Aku membayangkan aku akan jauh dengan Rani.
“Hmmm, bukannya waktunya nanggung Ran, kan satu semester lagi kita semua juga kan selesai”…aku masih gak mengerti dengan keputusan ayah Rani.
Apakah ini trik agar aku jauh dengan Rani.
“Apa Ayahmu memutuskan ini agar kita berjauhan Ran?”..tanyaku.
“Sepertinya bukan To, karena selama ini tidak pernah menyinggung soal kita. Tetapi katanya agar aku segera bisa menyesuaikan dengan kota di mana aku kuliah. Ayah memang ingin aku bisa kuliah di perguruan tinggi terbaik di Yogya”…jelas Rani.
“Terus kita gimana Ran?...tanyaku bingung.
“Ya masih seperti biasanya lah To. Kita kan masih bisa saling kirim surat To”….
“Ya ambil hikmahnya saja, kita kan perlu konsentrasi belajar untuk ujian”
“Lagian kalau kamu kangen, kamu bisa kirim in aku puisi.”…Rani mencoba becanda.
Aku diam saja tak menanggapi candaan Rani.
Ahh kenapa mendadak begini. Orang-orang dekat pergi ke luar kota meninggalkanku.
Kemaren belum lama Bu Wita, sekarang Rani.
Langit sore pun terlihat gelap, mendung tebal.
Segelap dan se kelabu perasaanku. Tiba-tiba aku merasa sangat sepi. Merasa
sendiri . Dan aku pun pamit pulang dengan langkah gontai dan perasaan galau.
Langganan:
Postingan (Atom)