Oktober 22, 2012

JOKOWI


Fenomena Jokowi

Tiada hari tanpa berita tentang Jokowi. Tidak pernah ada tokoh terlebih pejabat pemerintah yang begitu menyita perhatian jurnalis sefenomenal jokowi. Sebagian menyebutnya sebagai “media darling”. Saya tidak sepenuhnya setuju karena saya yakin dia menjadi kesayangan media, karena ybs disayangi masyarakat terlebih dahulu. Kalau masyarakat tidak suka , media pun pasti enggan menyorotnya.

Ada beberapa alasan, mengapa Jokowi begitu menyita perhatian masyarakat.

  1. Bicara apa adanya. Tanpa basi-basi. Dalam setiap wawancara resmi, atau pertanyaan wartawan di jalan, Jokowi selalu menjawab dengan bahasa lugas. Tanpa basa-basi dan kemasan bahasa yang “tinggi”.
  1. Berusaha bicara langsung. Layaknya teman.Jokowi selalu dekat dengan masyarakat, dan tidak menjaga jarak. Sehingga semua orang bisa nyaman dan merasa sebagai teman.
  1. Berpenampilan sederhana dan bersahaja.Jokowi selalu berpenampilan sederhana. Bahkan seringnya menggunakan baju lengan panjang digulung, tanpa dimasukkan. Dia tidak berpenampilan pejabat pada umumnya yang selalu berpenampilan parlente, dengan jas dan dasi. Dia tunjukkan bahwa kinerja lebuh penting dari sekedar penampilan.
  1. Mau bekerja.Jokowi menunjukkan pemimpin yang siap bekerja dan turun ke lapangan kapan saja, di mana saja. Dia mau mendengar dan mencari solusinya.
  1. Tidak gila hormat. Tanpa protokoler.Jokowi pergi kemana saja tanpa protokoler kaku dan tanpa pengawalan. Dia tunjukan seperti yang dia sampaikan bahwa, pemimpin pada hakekatnya melayani masyarakat bukan sebaliknya.
Kita juga tahu bahwa pemimpin “model Jokowi” lah yang lebih disukai masyarakat. Mahfud MD, Dahlan Iskan adalah tokoh lain yang popular di masyarakat. Dan mereka semua berpenampilan sederhana dan bersahaja. Mungkin masyarakat sudah bosan pada penampilan pemimpin yang mengandalkan penampilan, mengedepankan pencitraan. Masyarakat lebih suka pada pemimpin yang tampil apa adanya tapi berbuat nyata.

Oktober 16, 2012

LUKA


Tiba-tiba ada darah luka merembes pedih,
Luka lama kembali memerah dan memerih,
Aku pun terdiam dalam sepinya luka,

Aku masih berbaring di ranjang sepi,
Nglangut dan kalut.
Cerita duka masih berlanjut.

Entah sampai kapan…….

Oktober 15, 2012

Aku harus bilang WOW......?



CATATAN DARI COFFE SHOP (menikmati kopi sambil mengamati yang lewat)

Sebenarnya menganggap dirinya cantik itu wajar dan PD sebuah keharusan. Tetapi akan menjadi kelihatan tidak menarik manakala menjadi “kecentilan”, atau terkesan menganggap dirinya cantik sekali dan “ke pede an”. Saya tidak tahu itu karena kursus kepribadian yang selalu mengajarkan harus selalu “confidence”, atau bawaan lahir. Tetapi saya melihat makin banyak saja makhluk “kecentilan” dan “ke pede an”. Salah satu cirri yang menonjol  adalah menarik perhatian dengan memakai baju yang aneh (mungkin maksudnya sih unik), dan suka tertawa-tawa (cekakakan) nyaring di tempat umum, seolah memberi maklumat:…..Nih loh kita/gue ada di sini……, dan aku jadi tergelitik untuk menanggapi :…terus, gue harus bilang WOWW gitu,..sambil koprol?....." (tentu saja dalam hati saja, secara umur dan kepribadian, saya menyadari tidak akan cocok kalau berucap kalimat itu)….
Karena yang selalu amati adalah perilaku cewek (..risih juga kalau harus mengamati cowok..), maka saya mencoba bertanya ke temen cewek, kenapa mereka berperilaku seperti itu. Ternyata ada beberapa jawaban:
1.       Orang OKB, mungkin mereka orang kaya baru (baru punya duwit), sehingga seolah-olah ingin mengumumkan kepada dunia,; gw mampu lho……Sehingga mereka berusaha exist di mana-mana. Berburu barang ber merk (baca; berburu sale). Pantes atau tidak pantes urusan belakangan, pokoknya ber merk dan lagi trend. Sehingga penampilan mereka pun makin aneh dengan pakaian kebanggaannya.
2.       ABG, Anak Baru gaul. Sebagian makhluk ke PD an tadi, kalau dilihat latar belakangnya adalah anak baru gaul.  Misalnya, dari baru pindah dari luar daerah atau pinggiran kota (umumnya pindah kerja, karena kalau sekolah atau kuliah belum ber “modal”). Sehingga begitu di kota besar punya temen gaul, dia menjadi euphoria dan “berlebihan”.
3.       Krisis, Kurang Perhatian/kurang kasih sayang. Mungkin mereka orang yang kurang perhatian , apakah dari orang tuanya, pasangan hidupnya, sehingga di kompensasikan di lingkungan gaulnya. Sehingga tujuannya adalah; mencari perhatian.
4.       Jomblo Senior. Sebagian, adalah orang yang sudah lama “menjomblo”, ini mirip dengan nomor 3, tujuannya mencari perhatian, tetapi dengan maksud mendapat perhatian lebih dari “seseorang”. Tentu saja jauh panggang dari api, orang yang akan mendekat pun akan mikir, untuk menjadi “orang dekat” makhluk aneh ini.
5.       Dari sono nya. Yang ini memang sudah bawaan lahir. Dari kecil memang sudah punya bakat untuk tampil unik, dan selalu menjadi pusat perhatian. Harusnya menjadi artis atau bintang showbiz, tapi karena tidak kesampaian, dia pun menjadi makhluk unik dan aneh. yang suka tampil ke pede an.
Tentu saja saya tidak ingin mendikte gaya seseorang, dan tindakan mereka juga tidak melanggar undang-undang, apa yang saya tulis, hanya sekedar keisengan saya, sambil nunggu waktu temen yang belum datang (ini  salah satu kebiasaan jelek yang sering membuat saya "illfeel" dan membatalkan suatu hubungan kerjasama ataupun hubungan yang lebih akrab)...



Oktober 11, 2012

POLITIK2AN


Setiap pagi aku sempatkan waktu untuk baca berita politik, baik melalui website maupun Koran.  Sebenarnya “jenuh” juga dengan berita  dan sumber berita yang “itu-itu saja”, apalagi kalo baca komentarnya “RP”, “SB”.  Tapi kalau sehari saja tidak baca, rasanya ada sesuatu yang hilang. Semacam benci tapi rindu kayaknya.
Dunia politik di Indonesia, adalah dunia yang “norak’ banyak politikus kagetan, yang kemampuan dan wawasannya “minimal” tapi dapat kesempatan “tampil”. Maka para politikus kagetan tersebut akan menjadi over acting dan “norak”,“kampungan”.
Dunia politik Indonesia menjadi “hingar-bingar” sejak era reformasi (Tahun 1998). Tetapi rupanya sebagian  besar masyarakat tidak siap secara psikologis, maupun secara budaya.  Panggung perpolitikan di Indonesia menjadi  “tidak enak dilihat”, penuh dengan "politik2-an, seperti rekaya cerdas, padahal vulgar dan norak, "ibarat show, pentas tanpa konsep, sehingga yang terjadi “asal bunyi”, "asal tampil", ibarat pentas musik mungkin lebih norak dari “pentas dangdut koplo pantura”, yang susah dibedakan mana unsur seni mana unsur syahwat.
Dalam Suasana perpolitikan yang masih belum dewasa sesungguhnya diperlukan “leader” yang berwibawa namun bijak. Pemimpin yang tegas namun tetap santun. Dan sayangnya kita kekurangan, atau bahkan “langka” tokoh-tokoh seperti itu.
Tapi itu fakta yang ada, dan kita tidak bisa apa-apa. Tetapi ada sedikit pencerahan manakala membaca “kicauan” di media social yang menggelitik dan cerdas. Dan saya menjadi diingatkan, bahwa masih ada lapisan masyarakat kita yang cukup “cerdas” dan “cukup berwawasan”
So, saya tetap membaca berita politik dan mengikuti kicauan politik di social media, jadi semacam balance. Dan menguarangi ke-muak-an saya pada tokoh politik semacam “SB”, “RP”, karena terhibur oleh para penulis, kicauan yang cerdas di social media.